Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
43. Hilang!


__ADS_3

"Kalian cuma berdua?" tanya Bara yang melihat Indah dan Fitri datang. Indah dan Fitri saling menatap bingung.


"Aku kira kak Rainun sudah ke sini" jawab Indah bingung.


"Aku bahkan belum melihatnya pagi ini" kata mas Surya heran.


"Apa dia dengan kak Sakha?" tanya Fitri.


"Tidak mungkin. Kak Sakha ke sini bersama kami dan sekarang dia sedang mandi" Tukas Bagas.


"Kak Rainun tak ada di kamar kok" kata Indah. "Wah, perasaanku enggak enak nih. Kita cari yuk?" Indah terlihat khawatir.


Indah dan Fitri membatalkan rencananya untuk sarapan. Sedangkan mas Surya, Bagas dan Bara bergegas mencari tanpa menghabiskan sarapan mereka.


Mereka berpencar menjadi dua kelompok. Mulai berkeliling di area glamping dan bertanya kepada beberapa staf yang ada di sana.


"Loh, mereka pada kemana? Kok tidak menghabiskan sarapannya?" Batin Sakha yang akan bergabung setelah mandi.


"Permisi mbak. Teman - teman saya pergi ke mana ya?" tanya Sakha pada seorang staf yang hendak membereskan meja.


"Ah mereka tadi pergi, nampaknya terburu - buru" jawab staf itu.


"Mereka bertiga saja?" tanya Sakha lagi.


"Tidak, ada dua orang wanita bersama mereka" jawab staf.


"Dua orang? Bukankah ada tiga wanita seharusnya" batin Sakha. "Baiklah terima kasih kalau begitu" ucap Sakha. Ia kemudian berjalan mencari sepupu - sepupu Rainun.


"Kalian di mana? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Sakha pada body guardnya melalui sambungan rahasia.


"Nona Rainun tak ada di sekitar lokasi glamping tuan. Kami sedang mencarinya" jawab si body guard.


"Apa? Kenapa kalian tak mengabariku?" Bentak Sakha.


"Maaf tuan, kami tadi tak bisa menghubungi tuan lewat saluran ini. Kami menelfon ponsel tuan tetapi tak mendapat jawaban" jawab body guard itu.


"Ah Si*l. Aku mematikan saluran ini tadi saat mandi" ujar Sakha. Ia kemudian membuka ponselnya, benar saja ada lebih dari sepuluh panggilan dari body guardnya.


"Cepat lakukan pencarian. Aku juga akan mencarinya" perintah Sakha.


"Baik tuan" jawab body guard dari saluran rahasia itu.


Sakha kemudian bertemu dengan mas Surya, Indah dan Fitri.


"Sakha! Rainun tak bersamamu?" tanya mas Surya yang berjalan cepat ke arah Sakha. Tak lama datanglah Bara dan Bagas yang juga tak menemukan Rainun


"Tidak. Apa kalian menemukannya?" Tanya Sakha khawatir. Mereka semua menggeleng. Indah dan Fitri terduduk lemas, mereka takut terjadi apa - apa dengan Rainun.


"Beberapa staf glamping dan body guardmu sedang mencari Rainun juga" kata mas Surya. Sakha mengangguk mengerti.


"Kalian duduklah dulu" pinta Sakha yang melihat Indah dan Fitri yang wajahnya memucat. "Kalian beristirahatlah dan tenangkan diri kalian" lanjut Sakha yang melihat kekhawatiran di wajah lelah sepupu - sepupu Rainun itu.


Pada situasi ini Sakha mulai menenangkan diri agar dapat berfikir lebih jernih. Ia kemudian menghubungi Eriko, si master IT asisten Sakha.

__ADS_1


"Iya tuan" jawab Eriko ketika menerima panggilan telefon dari Sakha.


"Lacak keberadaan Rainun sekarang dan kirimkan padaku" perintah Sakha.


"Baik tuan" jawab Eriko. Sakha kemudian menutuskan panggilan telefonnya. Tak lama, Eriko mengirimkan keberadaan Rainun yang terlacak lewat GPS.


"Kalian tunggulah di sini. Aku akan menyusul Rainun" Ujar Sakha yang sudah mendapatkan lokasi Rainun.


"Tunggu kak aku ikut" teriak Bara namun tak di dengar oleh Sakha. Sakha berlari sekencang angin hingga Bara tak mampu mengikutinnya. Bara memutuskan untuk kembali dari pada ia malah tersesat nanti.


Sakha menyusuri jalan setapak menuju ke dalam hutan.Sepuluh menit ia mengikuti arahan dari GPS namun belum juga mencapai tempat dimana Rainun berada.


"Berhentilah berjalan sayang. Aku akan menyusulmu" lirih Sakha yang melihat GPS Rainun terus bergerak berpindah - pindah.


Sakha mempercepat langkahnya. Jalan yang ia lalui sedikit licin karena berlumut. Namun, jalan setapak itu terlihat jelas.


"Mungkin ini jalan yang biasa di lewati warga sekitar" gumam Sakha lagi. Sakha mulai meneriakkan nama Rainun berkali - kali. Suaranya menggema namun tak mendapat jawaban. Ia terus melihat ponselnya yang tersambung dengan GPS Rainun.


"Ah si*l. Sinyalnya hilang" Sakha sedikit geram. Ia semakin masuk ke dalam hutan. Sakha mematahkan ranting - ranting pohon untuk memberi tanda pada jalan yang ia lalui agar tak tersesat.


Dia mempercepat langkahnya, kabut ke khawatiran menebal di wajahnya


...****************...


"Wah, dingin sekali" Rainun mengeratkan jaket yang ia pakai. Pagi - pagi sekali ia sudah bangun. Ingin merasakan udara segar di sekitar.


Ia berjalan - jalan sendirian di sekitaran lokasi glamping.


"Ah seperti suara air terjun" batinnya. Ia menajammkan lagi pendengarannya, mengikuti suara khas air terjun yang ia dengar.


Mencari Air terjun yang suaranya lewat di telinganya. Dua puluh menit ia berjalan menyusuri jalan setapak itu.


"Ah kenapa jauh sekali, tadi terdengar dekat" keluh Rainun. Ia berhenti dan melihat sekeliling. "Hutan yang lebat. Apa aku salah jalan?" Rainun memutuskan untuk kembali, namun sialnya ia lupa jalan mana saja yang sudah ia lalui karena adanya banyak percabangan jalan.


Wajahnya memucat, keringatnya bercucuran. Satu jam sudah dia berjalan namun tak menemukan jalan kembali ke tempat glamping.


"Aah aku lelah sekali. Kakiku sakit" Ia kemudian duduk. Berharap ada yang menemukannya. Matanya mulai berembun. Ia memegang gelangnya, memastikan gelang itu tetap berada di tangannya. Ia teringat chip di gelangnya yang bisa melacak keberadaannya.


"Kak Sakha, tolong aku!!!. aku tak tau jalan pulang" Lirihnya. Ia berharap kekasihnya itu menemukannya. Tanpa putus asa ia kembali berjalan, mengingat jalan mana saja yang ia lewati, namu nihil. Ia merasa seperti hanya berputar di tempat itu.


"Aku haus, perutku lapar" Ia mulai terisak. Ia memutuskan duduk di dekat sebuah batu besar, berharap ada yang datang menyelamatkannya.


...****************...


Tiga puluh menit sudah Sakha berjalan. Namun belum melihat keberadaan Rainun. Ia mengecek setiap percabangan yang ia lewati namun hasilnya nihil.


"Tuan" teriak seorang body guardnya saat melihat Sakha. Sakha menengok ke belakang. Ia melihat dua orang body guardnya bersama seorang staf glamping.


"Apa kalian menemukan Rainun?" tanya Sakha.


"Maaf tuan, kami belum menemukannya. Lokasi GPS yang di kirim tuan Eriko terputus" jawabnya. Sakha mengangguk mengerti karena hal yang sama terjadi kepadanya.


"Baiklah kalau begitu kita berpencar, jangan lupa tandai jalan kalian" pesan Sakha. Ia pergi bersama seorang body guardnya. Sementara seorang lagi pergi bersama staf glamping.

__ADS_1


Mereka meneriakkan nama Rainun berkali - kali. Mata mereka menajam, mengawasi sekitar.


"Ah sudah satu jam lebih" Sakha semakin khawatir.


"Tuan, minumlah dulu" si body guard memberikannya sebotol minum. Ia menenggak habis air di dalam botol itu.


"Ayo kita cari lagi" ajaknya pada si body guard. mereka kembali melangkahkan kaki.


"Tuan" seru si body guard. Ia melihat ada kain di balik bebatuan.


Sakha langsung berjalan ke arahnya.


"Rainun!!!!" seru Sakha. Rainun membuka matanya.


"Kak Sakha" ia menangis, memeluk erat kekasihnya itu. "aku tersesat, aku takut" katanya sesenggukan.


"Tenanglah, aku sudah disini sayang" kata Sakha menenangkan. Ia lalu memberikan sebotol air mineral pada Rainun. "Minumlah dulu" perintahnya. Rainun minum beberapa teguk air dalam botol itu.


"Hubungi rekanmu, kita sudah menemukannya" perintah sakha. Si Body guard langsung menghubungi rekannya dengan sambungan khusus.


Sakha kembali memeluk kekasihnya yang pucat pasi itu. "Aku takut" lirih Rainun terisak. Ia mengucapkannya berkali - kali.


"Tenanglah sayang, aku sudah di sini bersamamu. Kau akan baik - baik saja" Sakha kembali menenangkan.


"Ayo kita kembali" ajak Sakha. Ia kemudian menarik tubuh kekasihnya untuk berdiri.


"Kakiku sakit kak" keluh Rainun.


"Naiklah" katanya. Sakha menggendong Rainun di pundaknya. Berjalan menyusuri jalan setapak yang ia lewati tadi.


...****************...


"Kak Rai" seru Indah saat melihat seseorang di gendongan Sakha.


Sakha kemudian membaringkan kekasihnya di sofa restoran, tim kesehatan glamping dengan sigap memeriksa keadaan Rainun. Mereka kemudian membalut kaki Rainun yang terkilir.


Staf glamping juga mengantarkan segelas teh hangat dan meminta Rainun untuk meminumnya.


"Apa yang terjadi kak? Kau ke mana saja?" tanya Indah. Ia dan Fitri menangis memeluk Rainun karena khawatir.


"Kak Rai, kau benar - benar membuat jantung kami hampir pindah ke ginjal" kata Bara yang tak kalah khawatir.


"Apa yang terjadi?" tanya mas Surya pada Sakha.


"Aku belum tau mas. Sepertinya Rainun masih shock. Kemungkinan besar dia tersesat karena kami menemukannya cukup jauh di dalam hutan" jawab Sakha.


"Kenapa kau ceroboh sekali. Kenapa tak membangunkan jika ingin jalan - jalan? Kami bisa menemani" mas Surya mengusap - usap pundak adik sesepunya itu.


Setelah beristirahat cukup, mereka memutuskan untuk pulang. Rainun ikut di mobil Sakha bersama supirnya, sedangkan yang lain menaiki mobil yang di bawa Bagas.


Sepanjang perjalanan, Rainun menyenderkan kepalanya di dada Sakha, melingkarkan tangannya erat di pinggang Sakha.


"Maafkan aku karena merepotkanmu kak" lirih Rainun. Air mata meluncur dari ujung matanya.

__ADS_1


"Tak apa sayang, tak apa. Yang penting sekarang kau selamat. Jangan menangis, itu menghancurkan hatiku" Sakha menghapus air mata Rainun.


"Terima kasih sudah menyelamatkanku" kata Rainun. Sakha membelai lembut kepala Rainun yang bersandar pada dada bidangnya.


__ADS_2