
"Selamat pagi bu, pak" Sapa pegawai lobi kantor.
"Pagi" Jawab Rainun tersenyum. Para pegawai silih berganti menyapa Rainun dan Sakha saat mereka berjalan menuju ruangan Rainun.
"Pagi mbak Salma. Pagi ndah" Sapa Rainun pada asisten dan sekretarisnya itu.
"Pagi Rai" Jawab mbak Salma
"Pagi juga kak" Jawab Indah semangat.
"Selamat pagi pak" sapa mbak Salma dan Indah berbarengan. Sakha hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala untuk menjawabnya.
"Oh iya ndah, tolong minta pada OB untuk membawakan juga segelas kopi ke ruanganku" Pinta Rainun.
"Untuk pak Sakha?" Tanya Indah yang jawab anggukan oleh Rainun.
"Ok siap" Ujar Indah.
Sakha dan Rainun lalu masuk ke ruangan Rainun yang berada tepat di depan ruangan Salma dan Indah. Sakha mengambil tempat duduk di Sofa lalu membuka laptop yang ia bawa sedangkan Rainun duduk di kursi kerjanya.
"Apa arti dari RR pada nama perusahaanmu?" Tanya Sakha membuka percakapan. Matanya masih tertuju pada pekerjaan yang ada di laptopnya.
"Rainun dan Rekan" Jawab Rainun yang juga sibuk dengan tumpukan kertas di mejanya.
"Kamu terlihat sangat akrab pada rekanmu. Apa kalian bersahabat sebelumnya? Panggilan kalian juga informal saat di kantor" Tanya Sakha
"Delapan orang rekanku itu semua sepupuku. Anak - anak dari kakak dan adik dari ayahku. Ya, aku memang sengaja memakai panggilan itu agar lebih nyaman saja." Jawab Rainun
"Hmmm tak salah jika kalian terlihat sangat kompak" Puji Sakha.
"Saat kau di sini, siapa yang mengerjakan sebagian pekerjaanmu?" Tanya Rainun.
"Ada Toni dan sekretarisku" Jawab Sakha.
"Pukul sepuluh nanti aku akan mengunjungi rumah produksi makanan ringan" Ujar Rainun.
"Hm baiklah, aku akan mengawalmu nona" Kata Sakha.
Rainun terkekeh mendengar jawaban Sakha yang menurutnya menggelikan. Mereka mengobrol sambil tetap mengerjakan pekerjaan masing - masing.
Sementara kehebohan terjadi di luar ruangan Rainun. Beberapa rekan membicarakan Rainun yang datang bersama Sakha hari ini.
"Hey guys. Apa kalian tau dengan siapa kak Rainun di dalam ruangannya?" Ucap Fitri memulai perghibahan.
"Ada siapa?" Tanya Bara polos.
"Sepertinya pak Sakha. Aku melihat mobilnya di halaman parkir" Kata mas Surya yang sudah pernah melihat kendaraan yang di gunakan Sakha.
"Yups benar. Hari ini kak Rainun di antar oleh pak Sakha. Bahkan ia menunggui kak Rainun di ruangannya" Ujar Fitri.
"Apa pak Sakha sudah tak memiliki pekerjaan hingga sempat mengantar dan menunggui kak Rainun" Tanya Bara polos.
"Dia pasti punya asisten yang membantu menghandel pekerjaannya lah. Kau ini macam tak tau saja" Ucap mas Surya.
"Lalu, apa yang mereka lakukan sehingga pak Shaka ada disini sepagi ini?" Kata Fitri.
"Entah lah. Kenapa kau tak masuk ruangan kak Rainun saja untuk bertanya" Jawab Bara.
"Apa mereka menjalin hubungan lebih dari sekedar rekan kerja?" Tanya mbak Ani yang juga berada di ruangan itu.
__ADS_1
"Yaa mungkin saja begitu. Wah bayangkan jika CEO HC, perusahaan yang besar itu bisa menjadi suami dari CEO RR Eksportir. Pasti perusahaan kita akan menjadi lebih di kenal" Ucap Fitri.
"Tapi yang aku dengar pak Sakha adalah adik angkat dari kak Sofia, calon istri bang Ehan" Ucap Bara.
"Lalu kenapa kalau mereka juga menjalin hubungan. Kan hanya adik angkat" Kata mas Surya.
"Jadi ceritanya kau mendukung mereka berdua?" Ujar mbak Ani.
"Iyalah aku mendukungnya. Memangnya kau tak mendukung?" Tanya mas Surya.
"Kalau sikapnya dingin seperti itu aku sih NO! Kasihan kan Rainunku yang manja itu jika mendapat suami yang dingin bin kaku" Jawab mbak Ani.
"Ah mbak Ani ini. Mbak kan tidak tau bagai mana pak Sakha yang sebenarnya. Don't judge the book from the cover" Bela Bara.
"Lihat saja sikapnya dingin pada semua orang tuh" Ujar mbak Ani mempertahankan argumennya.
"Bisa saja sikap Rainun yang hangat akan menncairkan si es batu" Ujar mas Surya
"Buktinya dia nurut - nurut saja waktu Rainun memintanya menjadi model untuk promosi produk kita" Imbuhnya.
"Ya mungkin ada kesepakatan di antara mereka berdua sebelumnya" Jawab mbak Ani yang tak mau kalah.
"Kesepakatan apa? Kesepakatan cinta?" Kata bara yang akhirnya memecah tawa di antara mereka.
"Tapi aku setuju banget kalau mereka bersama. Perpaduan yang pas antara kecantikan dan ketampanan" Ujar Fitri.
"Sudah - sudah. Siapapun yang nantinya akan bersama Rainun. Kita doakan yang terbaik saja. Nih berkas yang harus kalian kerjakan." Ucap mbak Salma yang dari tadi mendengar keseruan ghibah mereka.
"Tuh di bawah ada produk yang harus kalian sortir dan ini berkasnya" kata Mbak Salma.
"Siap laksanakan nyonya Adi Prasetiawan" kata Bara memberi hormat. Semua yang ada di sana terkekeh melihatnya.
...****************...
Tokk...
"Ya masuk" Kata Rainun yang masih berkutat dengan tumpukan kertas.
"Kak Rai, hari ini ada janji untuk mengunjungi rumah produksi makanan ringan" Ujar indah mengingatkan.
"Baiklah, aku akan berangkat satu jam lagi. Terima kasih ndah" Ucap Rainun.
Indah kemudian keluar sambil melirik Sakha yang sedang duduk di sofa.
"Pantas saja tak bersuara lagi. Ternyata mereka sibuk dengan pekerjaan masing - masing. Tapi kenapa pak Sakha bekerja di kantor ini? Ah entah lah" Gumam indah sambil berjalan kembali ke ruangannya.
"Ada apa ndah?" Tanya mbak Salma saat melihat rekan di ruangannya itu tampak berfikir keras.
"Tak ada mbak. Hanya aneh saja, mereka berdua sedang sama - sama bekerja. Kenapa pak Sakha tak bekerja di kantornya saja?" Ucap Indah.
"Mungkin mereka ada janji meeting bersama" Jawab mbak Salma asal.
"Tetapi kenapa kak Rainun tak bilang padaku jika ada jadwal meeting bersama. Ia tak biasanya seperti ini" Ujar Indah yang masih nampak berfikir.
Mbak Salma hanya menaikan ke dua bahunya menanggapi perkataan Indah.
"Kau tau? Di ruangan sebelah mereka sedang membicarakan Rainun dan pak Sakha" Kata mbak Salma.
"Benarkah? Apa yang mereka bicarakan?" Tanya Indah ingin tau.
__ADS_1
"Mereka menerka - nerka apa yang terjadi pada ke dua CEO itu" Jawab mbak Salma tersenyum.
"Ahh ruang sebelah memang ruangan netizen gosip" Ujar indah yang membuat mereka berdua tertawa.
...****************...
Sakha menatap Rainun dalam. Sulit baginya kini mengalihkan pandangan dari gadis yang berada di depannya. Ia masih tak menyangka akan bisa sedekat ini pada Rainun.
"Jangan menatapku begitu" Ujar Rainun yang menangkap basah Sakha saat berlama - lama memandangnya.
"Tidak, aku menatap lukisan di belakangmu" Kilah Sakha. Rainun hanya tersenyum mendengar jawaban asal dari Sakha.
"Mmm kira - kira pukul berapa kau akan selesai kunjungan?" Tanya Sakha.
"Mungkin sebelum jam makan siang karena rumah produksinya dekat. Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai disana. Ada apa?" Tanya Rainun yang kini sudah menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku ada meeting penting dengan salah satu relasiku. Ikutlah saja bersamaku nanti" Ujar Sakha.
"Eh, memangnya tidak apa - apa?" Tanya Rainun yang tidak enak.
"Tak apa. Ikutlah saja, aku tak ingin meninggalkanmu sendiri di situasi yang masih belum kondusif" Perintah Sakha sambil menyeruput kopinya yang sudah dingin.
"Baiklah kalau begitu" Ucap Rainun menurut. Sejujurnya saat ini Rainun sangat nyaman berada di dekat Sakha karena ia merasa ada yang melindunginya di saat abangnya tak berada di dekatnya.
Mereka kemudian bersiap menuju ke rumah produksi yang berada tak jauh dari kantor Rainun. Hanya butuh waktu sepuluh menit berkendara.
Rainun kemudian mampir ke ruangan Indah dan mbak Salma sebelum keluar dari kantornya. Sedangkan Sakha langsung saja menuju ke parkiran.
"Mbak, ndah. Aku berangkat ke rumah produksi ya" Pamit Rainun.
"Iya hati - hati ya. Mas Adi sudah menunggu di sana." Jawab mbak Salma.
"Ndah, setelah ini aku tak ada jadwal penting kan?" Tanya Rainun.
"Tak ada kak, tapi ada beberapa berkas pengiriman yang harus di periksa" Jawab Indah.
"Kirimkan saja ke emailku ya. Setelah kunjungan rumah produksi aku tak kembali ke kantor" Ujar Rainun.
"Kenapa?" Tanya Indah dan mbak Salma kompak.
"Mmm aku di ajak menemui relasi kak Sakha" Jawab Rainun malu - malu.
"Uuuuhhhhhh ada sesuatu sepertinya dengan dua insan ini" Kata indah meledek. Mbak Salma terkekeh mendengar tuduhan Indah.
"Sssttttt. Tidak tidak - tidak. Ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Kami masih sebatas teman" Ucap Rainun.
"Masih? Berarti akan menjadi lebih ya?" Goda Indah lagi. Ia terlihat sangat senang saat menggoda Rainun. "Wah wah lihat, wajahmu memerah kak" Imbuh Indah cengengesan.
"Aaah sudahlah. Aku pergi dulu ya" Kata Rainun lalu pergi meninggalkan ruangan.
"Iya, berlarilah kak. Jangan sampai dia menunggu terlalu lama di mobil" Kata Indah masih meledek. Rainun hanya menggelengkan kepala mendengar ledekan dari sepupunya itu.
...****************...
"Sudah siap?" Tanya Sakha pada Rainun yang baru saja duduk di mobil.
"Sudah kak" Ujar Rainun sambil tersenyum manis pada Sakha.
"Astaga jantungku mau meledak melihat senyum manisnya" Batin Sakha yang kini jantungnya berdegub kencang.
__ADS_1
"Bersiaplah, kau mungkin akan lelah hari ini" Ujar Sakha.