
Rainun mengedarkan pandangannya. Menatap wajah orang - orang yang ada di sana. Tatapannya lalu berhenti pada abangnya seolah meminta izin. Abangnya yang mengerti, menganggukkan kepala. Menyerahkan semua keputusan pada adik tersayangnya.
Rainun menarik nafas panjang. Ia menatap dalam pria tampan yang berada di hadapannya dengan wajahnya yang penuh kekhawatiran. Ia lalu menganggukkan kepala. "Aku mau kak" Jawaban Rainun.
Staf dan kru yang ada di sana bersorak setelah ikut merasakan ketegangan menantiĀ jawaban dari Rainun. Sakha menengadahkan kepala merasakan kebahagiaan. Ia kemudian membelai lembut kepala Rainun yang masih berdiri mematung. Mengalirkan kehangatan di hati Rainun.
Papa Sofia menjabat tangan sahabatnya itu.
"Selamat, kau akan segera menyusul kami" Ujar papa Sofia.
"Rainun kemari lah nak" Mami Sakha memanggilnya lembut. Rainun berjalan mendekati calon mertuanya. Mami Sakha mencium pipi kanan dan kiri kekasih anaknya itu lalu memeluknya. Sofia yang melihat itu lalu berlari ikut memeluk Rainun dan tantenya.
"Selamat tante. Selamat Rai, semoga kalian selalu rukun dan bahagia" Kata Sofia.
"Aku titipkan adikku padamu bro. Jangan coba - coba menyakitinya" Ujar Raihan yang di jawab anggukan dari Sakha. Sakha lalu memeluk Raihan yang sudah resmi menjadi calon kakak iparnya itu.
"Dengarkan mami nak. Laporkan pada mami kalau Sakha berani menyakitimu. Akan ku hajar anak itu" Pesan mami Sakha yang membuat semuanya terkekeh.
keempat pasangan berbeda generasi itu lalu duduk bersama dan kembali berbincang santai.
"Bukankah kalian belum makan malam?" Tanya Sofia.
"Ah iya. Aku sampai lupa" Jawab Sakha.
"Pasangan satu ini terlampau bahagia hingga lupa memberi jatah makanan pada cacing di perut" Gurau mama Sofia.
Mereka berdua tersenyum. Sakha lalu berdiri menggandeng Rainun untuk mengambil makan malam di dalam restoran.
Mereka lalu masuk ke dalam restoran dan mengambil makan malam. Memilih tempat duduk yang berada di pojok.
"Makanlah, jangan menatapku seperti itu. Kau akan membuatku benar - benar pingsan. Kau barusan hampir saja membuatku pingsan" Ucap Rainun.
"Maafkan aku sayang" Ujar Sakha.
Rainun menatap Sakha.
"K k kau memanggilku apa?" Tanya Rainun yang belum terbiasa.
"Sayang" Jawab Sakha singkat sembari menatap lembut netra Rainun.
"Kau benar - benar mencintaiku atau karena hal lain?" Tanya Rainun yang kini balik menatap tajam netra Sakha.
Sakha menggenggam tangan Rainun erat. "Aku benar - benar mencintaimu hingga aku ingin mereka semua mengetahuinya" Ucap Sakha tulus.
Rainun tersipu mendengar jawaban dari Sakha. Sejujurnya ia merasa nyaman saat berada di dekat Sakha. Sakha selalu tau cara membuat Rainun tak merasa canggung saat bersamanya.
Mereka kemudian menyelesaikan makan malam lalu kembali bergabung bersama tiga pasangan yang sedang menikmati keindahan pantai di malam hari.
Rainun menikmati malam manis penuh kebahagiaan bersama keluarga barunya. Canda dan tawa sering kali terlontar di obrolan kali ini. Sesekali pembicaraan akan serius saat membahas tentang perusahaan.
"Andai ayah dan bunda ada di sini. Pasti akan jauh lebih sempurna" Batin Rainun.
__ADS_1
"Bagaimana dengan perusahaanmu nak? Apakah berjalan lancar?" Tanya papa Sofia pada Rainun.
"Semua berjalan lancar pa" Jawab Rainun.
"Apa kau memiliki perusahaan sendiri? Om kira kau bekerja di perusahaan milik abangmu." Ujar papi Sakha.
"Iya om, saya sedang merintis satu perusahaan di bidang pengeksporan produk UMKM. Sekarang sudah berkembang juga mengekspor beberapa produk pertanian" Jawab Rainun sopan.
"Gadis yang hebat" Puji papi Sakha. "Apa nama perusahaanmu nak?" Tanya nya lagi.
"RR Eksportir om" Jawab Rainun. Papi Sakha mengangguk mengerti.
"Sepertinya aku pernah membaca file proposal tentang RR Eksportir. Apa jangan - jangan kau bekerja sama dengan HC?" Tanya papi Sakha.
"Iya benar om" Jawab Rainun.
"Kakao yang kita kirim ke Ausie pekan lalu adalah hasil dari petani di bawah naungan RR Eksportir" Jelas Sakha pada papinya. Papinya mengangguk mengerti.
"Sudah larut. Ayo kita kembali ke kamar dan beristirahat. Kita harus dalam kondisi fit untuk acara besok" Ajak mama Sofia.
Mereka akhirnya membubarkan diri menuju ke kamar masing - masing. Papi dan mami Sakha tinggal di penthouse. Papa, mama, juga Sofia memutuskan untuk menempati salah satu homestay yang memiliki dua kamar. Sakha, dan Rainun masing - masing menempati homestay yang hanya ada satu kamar sementara Raihan memilih untuk tidur di kamar hotel.
Malam itu mata Rainun masih terjaga. Ia masih memikirkan kejadian malam ini. Semua seperti tak nyata untuknya.
Drrtttt....
Getar ponsel menyadarkannya dari lamunan. Ia kemudian membuka sebuah pesan yang masuk.
[Kau belum tidur? Lampumu masih menyala] isi pesan dari Sakha.
[Keluarlah, aku ada di balkon kamarku] pesan dari Sakha.
Rainun kemudian memakai jaket juga hijabnya. Ia membuka pintu kaca yang besar lalu keluar menuju hammock yang ada di balkon di temani dengan sinar lampu berwarna kekuningan.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Sakha yang juga berada di hammock. Jarak mereka hanya sekitar tiga meter. Terpisahkan oleh pagar kayu dan juga air laut.
"Aku belum mengantuk" Jawab Rainun.
"Apa ada hal yang mengganjal di fikiranmu?" Tanya Sakha.
"Tak ada. Aku hanya sedang bahagia" Ucap Rainun sambil tersenyum. Sakha lalu bangun dari posisi tidur di hammock. Kini dia menatap lurus ke arah Rainun.
"Lihat aku. Aku ingin menatap wajahmu" Pinta Sakha.
"Wajahku pasti merah sekarang" Jawab Rainun yang menutup wajahnya dengan dua tangannya.
"Ayolah lihat aku sayang. Atau kau ingin aku melompat kesana" Ancam Sakha.
"Baiklah baiklah tetap di posisimu" Ujar Rainun. Ia kemudian duduk dan menghadap ke Sakha.
Sakha tersenyum melihat pemandangan indah di depannya. Wajah cantik yang meneduhkan hati. Netranya memancarkan kenyamanan.
__ADS_1
"Aku ingin segera menghalalkanmu" Ujar Sakha.
"Bersabarlah kak. Kita jalani saja dulu pelan - pelan" Ucap Rainun tersenyum.
"Apa kau tak ingin menikah denganku?" Tanya Sakha.
"Bukan menolak. Aku masih ingin memantaskan diriku untuk berada di sampingmu. Sejujurnya aku juga masih ingin fokus dengan perusahaan. Jika aku menikah nanti, aku akan lebih fokus denganmu di banding perusahaan" Ujar Rainun. Sakha hanya diam mendengar kata - kata Rainun. "Tolong mengertilah kak. Jangan terburu - buru. Kita nikmati saja dulu masa - masa pacaran ini. Sambil kita sama - sama memantapkan hati dan memantaskan diri" Pinta Rainun hati - hati. Ia tak ingin ada kesalah pahaman di antara mereka berdua.
Sakha tersenyum "Baiklah. Aku akan menunggumu siap. Berjanjilah untuk selalu berada di sisiku" Pinta Sakha. Rainun mengangguk menyetujui.
"Apakah selesai acara kau akan langsung kembali ke rumah?" Tanya Sakha.
"Mmm aku belum tau kak. Masih menunggu kabar dari Indah, sampai kapan aku bisa libur." Jawab Rainun. "Bagaimana denganmu?" Tanyanya.
"Aku masih harus disini dua atau tiga hari lagi. Karena ada beberapa hal yang harus ku pantau" Ucap Sakha.
"Kau akan sendiri kalau begitu? Pengantin baru itu masih akan di sini tiga hari kedepan" Lanjutnya. Kini hati Sakha mulai resah mengetahui gadisnya akan sendirian di kotanya.
"Tak apa. Aku sudah terbiasa. Lagi pula ada mbok Surti, pak Maman juga anak bungsu mereka di rumah" Jawab Rainun.
"Apakah esok mereka akan kesini?" Tanya Sakha.
"Tentu saja. Mereka akan berangkat bersama keluargaku esok pagi. Bagiku mereka juga sama pentingnya karena merekalah yang selalu menemani hari - hariku" Jawab Rainun.
Sakha dan Rainun mengobrol banyak malam itu. Tentang pribadi masing - masing bahkan hingga keluarga.
"Apa kau sudah mengantuk? Kau sudah menguap berkali - kali" Ujar Sakha
"Aku mengantuk. Mau kah kau menelfonku?" Tanya Rainun.
Sakha mengernyitkan dahi tak mengerti. "Untuk apa menelfonmu?" Tanyanya.
"Aku ingin mendengar kau bernyanyi. Aku pernah mendengarmu bernyanyi. Suaramu dalam dan merdu" Pinta Rainun.
"Kapan dan di mana kau mendengarku bernyanyi?" Tanya Sakha penasaran.
"Waktu aku tertidur di kantormu. Aku mendengarkanmu bernyanyi" Jawab Rainun.
"Jadi kau sudah bangun saat itu?" Sakha mengernyitkan dahi.
"Iya. Tapi aku tetap memejamkan mata karena masih ingin mendengar suara merdumu" Kata Rainun tersenyum.
"Baiklah masuklah ke kamarmu. Aku akan menelfonmu" Perintah Sakha. Sesuai permintaan kekasihnya. Ia lalu menelfon Rainun.
"Kau ingin mendengar lagu apa?" Tanya Sakha lewat sambungan telefon.
"Apa saja terserah kau" Jawab Rainun.
Sakha kemudian menyanyikan lagu romatis. Ia menyanyikan dengan sangat merdu.
Rainun tersenyum mendengarkan lagu itu. Karena merdu dan dalamnya suara Sakha, mampu menghantarkan Rainun ke alam mimpi.
__ADS_1
"Apakah kau sudah tidur?" Tanya Sakha setelah menyelesaikan nyanyiannya. Ia terdiam beberapa saat, mendengar nafas halus milik Rainun.
"Sepertinya kau sudah tidur. Selamat malam sayang. Aku mencintaimu" Ucap Sakha lalu mematikan panggilan ponselnya.