Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
31. Masa lalu


__ADS_3

"Kau sudah selesai membereskan barang - barangmu?" Tanya Sofia yang kini berada di homestay yang di tempati Rainun.


"Sudah. Tinggal berangkat saja" Jawab Rainun.


"Tak ada yang tertinggal?" Tanya Sofia memastikan.


"Kalau ada yang tertinggal, aku tinggal menelfon kak Sofia. Kalian kan masih di sini" Kata Rainun. Sofia terkekeh mendengar jawaban adik iparnya itu.


"Berhati - hatilah nanti di rumah. Kami akan segera kembali" Kata Sofia. "Mmm supirku akan memindahkan barang - barangku ke rumah, mungkin sore nanti atau besok pagi" Lanjutnya.


"Benarkah? Berarti kalian nanti langsung pulang ke rumah?" Tanya Rainun bahagia. Sofia mengangguk.


"Jangan khawatir. Kalian bersenang - senanglah. Bawakan aku oleh - oleh calon keponakan yang lucu nanti" Lanjut Rainun menggoda.


"Aah kau ini" Kata Sofia sembari melempar bantal ke wajah Rainun.


"Dimana abang?" Tanya Rainun.


"Sedang bersama Sakha. Sepertinya Sakha ingin mengubah desain interior penthousenya." Kata Sofia. Rainun mengangguk mengerti.


"Ayo kita Sarapan" Lanjut Sofia. Mereka berdua kemudian berjalan bersama menuju ke resto untuk sarapan.


     Sesampainya di resto.....


"Kalian ada di sini?" Tanya Sofia saat melihat Sakha dan Raihan berada di restoran.


"Kami baru saja tiba" Jawab Raihan. Rainun dan Sofia kini bergabung bersama Raihan dan Sakha.


"Kalian tak mengambil makanan?" Tanya Sofia.


"Aku dan Sakha sedang memesan tempe mendoan, bakwan jagung juga pisang goreng" Raihan lalu menyeruput kopi di hadapannya.


"Kebetulan aku ingin sekali makan tempe mendoan hangat" Kata Rainun.


"Wahh kalian berdua memiliki telepati? Tadi juga Sakha bilang ingin makan tempe mendoan hangat" Ujar Raihan. Sakha hanya tersenyum sambil mengusap usap puncak kepala kekasih yang berada di sampingnya.


"Permisi tuan, nyonya. Ini pesanannya" Kata pelayan yang membawakan tiga buah piring gorengan yang masih berasap.


"Ahh tempe mendoan" Seru Rainun. Ia hendak mengambil tempe itu namun tangannya keburu di cekal oleh Sakha.


"Hati - hati. Ini masih panas" Kata Sakha. Ia kemudian mengambil piring kecil lengkap dengan sendok dan garpu. Kemudian ia mengambil tempe mendoan dan memotongnya menjadi beberapa bagian.


"Kau itu selalu saja ceroboh Rai" Kata Raihan memelototi adiknya. Rainun hanya nyengir saat melihat mata bulat abangnya yang hampir keluar.


"Ini makanlah" Ujar Sakha sambil memberikan piring kecil berisi mendoan.


"Terima kasih kak" Kata Rainun.


"Wah sepertinya kita jadi obat nyamuk di sini" Ujar Sofia yang melihat pemandangan kedua sejoli di hadapannya.


"Apa kita harus pindah? Ayo bawa semua gorengan ini pindah" Kata Raihan. Mereka semua akhirnya terkekeh.


Mereka berempat menikmati gorengan hangat juga kopi dan teh sembari mengobrol santai. Tepat pukul sembilan mereka menyelesaikan sarapan ringan itu.


"Di mana barang - barangmu?" Tanya Sakha.


"Masih di homestay. Semua sudah selesai di kemas. Tinggal mengambilnya saja" Jawab Rainun.


"Kalau begitu biar staf yang mengambilnya. Kita tunggu di sini saja" Ujar Sakha. Rainun hanya mengangguk.


Sakha kemudian mengambil HT lalu menghubungi salah satu staf untuk membawakan barang - barang Rainun yang berada di homestay.


"Tolong kau siapkan mobilku sekalian masukan barang - barang ini ke mobil" Pinta Sakha lalu memberikan kunci mobilnya pada seorang staf sementara seorang staf lainnya menyeret koper besar Rainun. 


Lima belas menit kemudian seorang staf menghampiri Sakha untuk memberi tau bahwa mobilnya sudah siap di depan lobi hotel. Mereka lalu berjalan menuju ke mobil Sakha yang sudah terparkir rapi.


"Bang, kak, aku pulang duluan ya" Pamit Rainun.


"Hati - hati. Lusa kami akan pulang" Jawab Raihan. "Oh ya, tolong minta simbok untuk membereskan barang - barang Sofia yang akan datang sore nanti" Pinta Raihan.

__ADS_1


"Siap bos" Jawab Rainun. Rainun lalu bersalaman dengan Raihan juga Sofia.


"Kau hati - hati Rai. Jangan lupa kabari saat sudah sampai" Pinta Sofia sambil memeluk adik iparnya itu.


"Iya kak. Jangan lupa bawakan pesananku tadi" Kata Rainun meledek Sofia. Sofia tersipu malu dengan ledekan dari Rainun itu.


"Hati - hati bro. Titip adikku, kau tenang saja aku akan menjaga resort sementara kau pergi" seloroh Raihan pada Sakha yang di balas anggukan dan acungan ibu jari. Sakha kemudian melajukan mobilnya pelan, mulai meninggalkan resortnya.


"Ada yang ingin kau beli?" Tanya Sakha.


"Sepertinya tidak untuk sekarang" Jawab Rainun. "Fokus kemudikan mobilmu kak, jangan menatapku terus" Rainun mengingatkan Sakha.


"Huft, kenapa terasa berat saat mengantarmu pulang" Keluh Sakha "Rasanya aku ingin terus menatapmu" Imbuhnya.


"Kenapa tidak membawa supir saja kalau kau ingin terus menatapku?" Tanya Rainun.


"Tidak, aku lebih suka hanya berdua denganmu saja" Sakha kemudian mengambil tangan kekasihnya dan menggenggamnya erat.


"Bagaimana kau akan menggunakan tuas persneling itu jika kau menggenggam tanganku?" Tanya Rainun.


"Tenang saja, aku sudah pro" Jawab Sakha enteng.


"Kau sudah sering seperti ini ya dengan wanita lain?" Tanya Rainun yang mulai merasa cemburu.


"Tidak, aku bahkan merasa aneh" Kata Sakha.


"Maksudmu?" Desak Rainun.


"Sebelum denganmu aku memang pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita. Tetapi aku tak pernah merasa senyaman saat di dekatmu" Ujar Sakha.


"Gombal" Kata Rainun lalu memalingkan wajah. "Sikapmu sangat halus padaku, pasti kau juga begitu dengan mantan kekasihmu itu" Lanjut Rainun yang masih memalingkan wajah.


"Tidak, aku tak pernah berbohong padamu sayang" Kata Sakha lembut "percayalah padaku" Lanjutnya sembari membelai lembut tangan Rainun yang masih ia genggam.


"Kalau begitu ceritakan padaku apa saja yang telah kau lakukan dengan mantan kekasihmu" Pinta Rainun.


"Kalau begitu, jangan palingkan wajahmu seperti itu" Pinta Sakha. Rainun kemudian menatap Sakha, memperhatikan pria tampan yang ada di sebelahnya itu.


"Aku bertemu dia di sebuah bursa bisnis di luar negri. Dia adalah anak dari salah satu teman bisnis papi" Sakha mulai bercerita.


"Kami menjalin hubungan hanya sekitar satu tahun. Tanpa pertemuan yang intens karena aku dan dia sama - sama sibuk juga karena LDR. Dia mengurus cabang perusahaan ayahnya yang berada di Paris" Jelas Sakha. Rainun mendengarkan dengan seksama.


"Dia hanya memanfaatkanku dan menginginkan apa yang aku miliki" Cerita itu kemudian mengalir hingga berakhir pada mantan kekasih Sakha yang selingkuh.


"Lalu, kau benar - benar mencintainya?" Tanya Rainun. Ada rasa getir di sudut hatinya saat ini.


"Tidak. Dulu aku hanya mengaguminya" Jawab Sakha.


"Apa yang membuatmu kagum?" Tanya Rainun.


"Ku pikir dia cantik, pintar dan pekerja keras. Sebelum aku tau dia adalah orang yang penuh tipu daya" Jawab Sakha.


"Lalu apa yang dia inginkan darimu? Bukankah dia sudah punya kekayaan?" Telisik Rainun.


"Mungkin ketampananku" Gurau Sakha.


"Aku serius bertanya padamu kak" Ketus Rainun.


"Ya dia memanfaatkanku untuk memudahkan bisnisnya. Dia ingin mengambil alih klien - klien yang selama ini setia padaku" Jelas Sakha. Rainun mengangguk mengerti.


"Apa kalian tak pernah menghabiskan waktu seperti ini?" Tanya Sakha.


"Tidak. Kami hanya sesekali datang bersama di acara undangan pesta atau peresmian perusahaan baru milik kolega" Jawab Sakha.


"Formal sekali hubungan kalian" Kata Rainun. Sakha hanya mengangguk.


"Maka dari itu, aku baru menemukan kehangatan perasaan dari mu yang membuat aku akhirnya benar - benar jatuh cinta" Kata Sakha. Rainun tersenyum mendengar itu.


"Kau tau? Bahkan aku selalu merindukanmu saat tak melihatmu" Tambah Sakha.

__ADS_1


"Jadi itu alasanmu sering melakukan panggilan vidio padaku. Padahal kita sama - sama sedang di resort" Rainun terkekeh geli.


Mereka berbincang - bincang di sepanjang perjalanan hingga tak terasa kini sudah berada di halaman rumah Rainun.


"Sayang. Bukalah laci itu" Perintah Sakha.


"Apakah kau akan memberikanku coklat?" Tebak Rainun yang sudah tau tempat dimana Sakha menyimpan coklat dan permen.


"Buka saja" Pinta Sakha sambil tersenyum.


Rainun lalu membuka laci itu


"Benar kan, tumpukan coklat ada di sini." Kata Rainun.


"Kau tak menemukan yang lain di sana?" Tanya Sakha lagi.


"Mmmm ini?" Tanya Rainun yang kaget saat menemukan sebuah kotak perhiasan.


"Hm. Bukalah" Kata Sakha. Rainun lalu membuka kotak itu.


"Wah gelang" Seru Rainun. Sakha kemudian mengambil gelang yang terdapat simbol SR itu dan memakaikan di tangan kiri Rainun.


"Ternyata pas" Ujar Sakha yang terlihat senang.


"Ini untukku?" Tanya Rainun memastikan.


"Tentu saja sayang. Kau suka?" Tanya Sakha.


Rainun mengangguk sambil memandangi gelang indah di tangannya itu.


"Terima kasih kak" Ujar Rainun yang tersenyum manis.


"Baiklah, ayo kita turun nona" Ajak Sakha. Ia kemudian turun dan membukakan pintu untuk kekasihnya.


"Kau tak mau membagi coklatmu?" Tanya Rainun yang masih duduk di dalam mobil. Sakha terkekeh mendengar pertanyaan dari gadisnya itu.


"Ambilah sebanyak yang kau mau sayang" Katanya. Rainun tersenyum kemudian mengambil beberapa coklat. Sakha kemudian menurunkan koper besar milik Rainun dari mobil dan membawanya ke rumah.


Rainun kemudian memencet bel. Terdengar seseorang berjalan dari dalam dan langsung membukakan pintu.


"Assalamualaiakum mbok" Sapa Rainun ketika melihat wanita paruh baya yang membukakan pintu.


"Waalaikum salam non. Non hanya berdua? Di mana den Raihan dan nyonya Sofia?" Tanya Simbok yang masih celingukan.


"Mereka masih di sana mbok. Mungkin lusa baru pulang" Kata Rainun.


"Ayo masuk non, den. Sini biar simbok yang bawakan kopernya" Pinta simbok.


"Jangan mbok, biar saya saja. Ini berat" Kata Sakha.


"Di mana pak Maman dan Anggit?" Tanya Rainun.


"Pak Maman sedang menyusul Anggit di sekolah" Jawab Simbok. "Ayo makan dulu den, non. Simbok sudah masak banyak" Kata Mbok Surti.


"Aah aku sudah rindu masakan simbok" Kata Rainun yang kini matanya berbinar. "Kak, ayo kita makan siang dulu." Ajak Rainun.


Sakha mengangguk lalu mengekor pada Rainun menuju ruang makan. Rainun kemudian menyendokkan nasi untuk Sakha.


"Makan lah yang banyak. Kau tadi hanya sarapan gorengan, itu tidak mengenyangkan" Kata Rainun yang sibuk mengambilkan lauk untuk Sakha.


"Sudah - sudah. Ini sudah cukup" Kata Sakha. Mereka kemudian makan siang bersama.


"Ah, aku akan mengabarkan abang dan kak Sofia kalau kita sudah sampai" Kata Rainun yang teringat pesan dari Sofia. Ia lalu membuka ponsel dan mengirim pesan ke Sofia.


Mereka makan siang lalu bersantai sebentar sebelum akhirnya Sakha kembali menuju resort.


"Hati - hati kak. Kabari aku saat sudah sampai" Pinta Rainun.


"Baiklah sayang" Jawab Sakha. Ia lalu mengemudikan mobilnya meninggalkan halaman rumah Rainun.

__ADS_1


__ADS_2