Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
20. Peringatan Kematian


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu dari kejadian percobaan penculikan yang di alami oleh Rainun. Kini semuanya sudah kembali berjalan normal seperti sedia kala.


"Bang, bagai mana rencana acara peringatan tiga tahun kepergian ayah dan bunda lusa?" Tanya Rainun.


"Seperti biasa, kita adakan di rumah saja. Mengundang keluarga dan tetangga komplek" Jawab Raihan. Mereka sedang duduk bersantai di halaman samping rumah.


"Abang sudah memberi kabar pada keluarga?" Tanya Rainun.


"Sudah, abang sudah mengabari semuanya. Tetapi pakde Yusuf dan keluarga tak bisa hadir karena bersamaan dengan acara pengajian akbar di pondok pesantrennya" Ujar Raihan. "Apa makanan untuk acara sudah di pesan?" Lanjutnya.


"Sudah beres semua bang" Ucap Rainun. Mereka kemudian sama - sama diam sambil menikmati pemandangan langit malam hari.


Flashback.....


"Ayah, bunda jadi kan mengantar Rainun ke tempat KKN?" Tanya Rainun setelah melaksanakan sholat subuh bersama.


"Iya nak. Nanti ayah dan bunda akan mengantarmu" Jawab ayahnya.


"Bang Ehan ikut juga?" Tanya Rainun.


"Maaf ya, abang tidak bisa ikut mengantar karena ada meeting penting di kantor" Jawab Raihan.


"Yaah, enggak seru!" Ucap Rainun sambil mengerucutkan bibirnya.


"Sudah - sudah. Sana segera bersiap. Bunda akan menyiapkan sarapan dan bekal yang akan kamu bawa" Kata bunda.


Mereka lalu membubarkan diri dan menyiapkan keperluan. Tepat pukul delapan semua sudah siap.


"Ayah tak mengajak pak Maman?" Tanya Raihan. Pak Maman adalah suami mbok Surti yang sudah lama menjadi supir mereka.


"Tidak. Ayah ingin berkendara sendiri. Sudah lama ayah tak berkendara" Jawab ayah.


"Han, uruslah perusahaan dengan baik. Jangan lupa untuk selalu menomor satukan kesejahteraan pegawaimu" Pesan ayah.


"Baiklah yah. Ayah kan selalu berada di sampingku untuk mengawasi" Kata Raihan tersenyum.


"Baiklah aku berangkat ya yah, bun" Ucap Raihan lalu bersalaman takzim pada ke dua orang tuanya.


Kedua orang tua Raihan adalah orang yang ramah. Walaupun sibuk, ayah Raihan kerap kali mengajak tetangga yang lewat untuk mengobrol sejenak.


"Rai ayo kita berangkat" Panggil ayah dari ruang tamu.


"Iya yah" Jawab Rainun. Gadis itu berlari kecil menuju sumber suara yang memanggilnya.


Ayah melajukan kendaraannya santai, sesekali melemparkan candaan yang memecah tawa seisi mobil. Waktu itu mereka sangat bahagia. Tak pernah terbayangkan akan kejadian naas hari itu.

__ADS_1


Sesampainya di tempat KKN, ayah dan bunda beristirahat terlebih dahulu setelah menempuh perjalanan selama dua jam. Mereka beristirahat sambil mengobrol dengan kepala desa juga beberapa dosen yang mengantar rombongan.


Hanya Rainun yang di antar oleh ayah dan bundanya ke tempat KKN. Sedangkan kawan - kawan yang lain berangkat bersama menggunakan bus dari kampus.


Rombongan dosen yang mengantar sudah pamit pulang sejak satu jam yang lalu. sementara ayah dan bunda masih asyik melihat air terjun yang ada di sana.


"Sudah pukul lima. Ayo kita pulang" Ajak ayah. Mereka lalu berpamitan pada Rainun dan kawan - kawannya juga pada kepala desa yang rumahnya di jadikan pos penginapan mahasiswa KKN.


"Rai, bunda dan ayah pulang dulu ya. Jaga dirimu baik - baik. Jaga kesehatan dan makan yang teratur. Bersikaplah baik dan sopan pada semua orang" Pesan bunda pada anak perempuannya yang akan tinggal di tempat orang lain selama tiga bulan.


"Sesekali ayah dan bunda akan berkunjung, nanti kami akan mengajak abangmu" Ucap ayah menghibur putrinya yang mulai memunculkan awan mendung di wajahnya.


"Baiklah. Ayah dan bunda hati - hati di jalan. Kabari Rainun saat sudah sampai" Pinta Rainun.


Mereka kemudian melajukan mobilnya pelan meninggalkan halaman rumah kepala desa. Rainun tetap berdiri di tempatnya hingga ia tak lagi melihat mobil yang di tumpangi ayah dan bundanya itu.


Pukul delapan malam...


Took...


Tok...


Suara ketukan di pintu rumah pak kades. Pak kades membukakan pintu dan mempersilahkan tamunya masuk. Mereka berbincang sesaat. Kemudian pak kades meminta istrinya untuk memanggilkan Rainun.


"Nduk, ayo kita pulang dulu" Ajak pakdenya lembut.


"Rainun kan baru sampai pakde. Lagi pula esok baru akan memulai KKN" Ucap Rainun bingung.


Pakde dan mas Surya saat itu kebingungan bagai mana cara menyampaikan kalau kedua orang tua Rainun meninggal dalam kecelakaan saat akan pulang kerumah setelah mengantarnya.


"Nak Rainun, sebaiknya ikut pakde pulang dulu" Ucap pak kades.


"Memangnya ada apa pak? Pakde, mas Surya ada apa sebenarnya?" Tanya Rainun yang mulai merasakan perasaan tidak enak. Namun mereka hanya diam. Tak sanggup menjelaskan apa yang terjadi.


"Nak, yang sabar ya. Ayah dan bundamu meninggal dalam kecelakaan petang tadi" Ujar bu kades yang mulai terisak sambil memeluk Rainun.


Seketika tubuh Rainun membeku. Ia berteriak histeris tak percaya dengan apa yang di katakan bu kades hingga mengundang perhatian dari semua teman - temannya yang kini berada di dekatnya.


Rainun menangis sejadi - jadinya di pelukan pakdenya. Semua orang yang ada disana larut dalam kedukaan yang di rasakan Rainun. Mereka masih tak menyangka bahwa dua orang ramah yang hari ini bersama mereka telah berpulang.


Rainun yang tak sadarkan diri, akhirnya di gendong menuju ke dalam mobil untuk di bawa pulang.


Melihat kedatangan sang adik di rumah. Raihan berlari memeluk adiknya yang lemah itu. Air mata tak henti - hentinya mengucur dari kedua pelupuk mata Rainun. Raihan yang hatinya tak kalah hancur dari Rainun, berusaha menguatkan diri demi adik tersayang. Ia menggendong sendiri adiknya menuju ke samping ayah dan bundanya di semayamkan. Raihan terus memeluk erat adiknya, memberi kekuatan untuk adik dan dirinya sendiri.


Mereka berdua berusaha kuat melawan duka yang sangat dalam. Semua itu juga terbantu karena adanya keluarga dari almarhum ayah dan bundanya yang bergantian menemani mereka hingga empat puluh hari kepergian kedua orang tuanya.

__ADS_1


Flashback off...


Rainun memejamkan mata merasakan kepedihan yang masih menjalar. Doa - doa yang dilantunkan bersama sedikit mengurangi sesak di dada yang di rasakan Rainun. Sofia yang berada di sampingnya menggenggam erat tangan calon adik iparnya itu, berusaha mengalirkan kekuatan. Ia tau bagai mana perasaan gadis di sebelahnya walaupun tiga tahun telah berlalu dari kejadian itu.


Acara hari ini berjalan lancar. Setelah para tamu undangan pergi, Raihan meminta semua keluarganya untuk berkumpul karena ia akan menyampaikan kabar mengenai pernikahannya.


"Bude, pakde, om, tante semua kakak dan adikku terima kasih sudah meluangkan waktu untuk datang mendoakan almarhum ayah dan bunda malam hari ini." Raihan kemudian menarik nafas dalam sebelum mengumumkan berita pernikahannya


"Malam ini juga aku ingin mengabarka berita bahwa In syaa Allah dua minggu lagi aku akan menikahi Sofia." Ucap Raihan.


"Alhamdulillah" Terdengar suara semua orang kompak mengatakannya.


"Mohon berikan doa restu untuk kami. Kami pastinya juga mengundang semua keluarga untuk menemani kami di acara bahagia kami" Lanjutnya.


"Alhamdulillah le, akhirnya kamu akan menikahi gadis pilihan hatimu mengingat usiamu sudah matang dan memang sudah waktunya untuk menjalankan ibadah pernikahan. Semoga Allah melancarkan segala sesuatunya untuk kalian melaksanakan sunnah pernikahan ini. In syaa Allah, kami pasti akan memberikan doa terbaik juga restu untuk pernikahan kalian. Semoga kita semua diberikan kesehatan dan umur panjang oleh gusti Allah sehingga kita semua dapat berkumpul lagi di acara pernikahan nak Raihan dan nak Sofia" Ujar Pakde Awal, kakak paling tua dari ayah Raihan dan Rainun.


"Dimana pernikahanmu akan di selenggarakan le?" Tanya pakde Awal.


"In syaa Allah di resort milik adik angkat Sofia. In syaa Allah semuanya nanti akan di siapkan kamar untuk menginap karena resepsi akan di adakan sore hingga malam hari" Jelas Raihan.


"Wahh asyiikk kita sekalian liburan" Celetuk salah satu sepupu Raihan yang memecah gelak tawa.


"Kak Sofia, adik angkatmu itu maksudnya pak Sakha?" Tanya Indah yang saat itu ada di sana pada Sofia.


"Iya ndah. Resort itu milik Sakha" Jawab Sofia.


"Rai, kenapa kau tak mengundang Sakha juga malam ini?" Tanya mas Surya.


"Mmm itu mas dia sedang berada di luar kota" Jawab Rainun.


"Memangnya Rainun kenal dengan adik angkat nak Sofia?" Tanya tante Asih, ibunda Bara.


"Ekhm, bukan hanya kenal bu. Mereka bahkan dekat" Celetuk Bara.


"Ahh itu, kami hanya sebatas teman" Jawab Rainun malu.


"Teman tapi mesra. Wajah merahmu itu tak bisa di tutupi kak." Kata Fitri yang mengundang tawa seluruh keluarga.


"Walah, kalau sudah dekat mbok ya di kenalkan pada keluarga yang belum kenal ini" Ujar bude Nur menggoda.


"Bude tau, pak Sakha itu sangat tampan. Bude akan silau saat melihatnya nanti" Ujar Indah memberi gambaran.


"Wah bude jadi semakin penasaran" Jawab bude Nur.


"Kita doa kan saja yang terbaik untuk nak Rainun. Kalau memang jodohnya, semoga di segerakan menyusul abangnya yang akan segera menikah." Ujar pakde Awal menengahi. Semua yang ada di sana kompak mengaminkan.

__ADS_1


__ADS_2