Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
54. Lili


__ADS_3

Sofia makan sup buntut buatan simbok dengan begitu lahap. Tiga puluh menit yang lalu mama dan papanya pulang untuk beristirahat. Raihan duduk di dekat box berisi bayi mungil yang tertidur. Menatap penuh cinta sosok kecil yang membawa kebahagiaan begitu besar untuknya.


"Aku merasa benar - benar di duakan" kata Sofia yang melihat tatapan cinta suaminya untuk putri mereka itu.


"Apa sekarang kau cemburu pada anakmu kak?" Rainun terkekeh mendengar kata - kata Sofia.


"Sepertinya aku cemburu dengan putriku sendiri" Sofia juga terkekeh.


"Bagaimana bisa aku tak jatuh cinta dengan putri kecil ini. Aku akan menjadi cinta pertamanya nanti" Kata Raihan yang tak melepas pandangan dari bayi mungil itu.


"Kapan kak Sofia boleh pulang bang?" tanya Rainun.


"Besok, setelah kunjungan dokter" jawab Raihan.


"Sebentar lagi magrib. Angkat putrimu dan pangku dia. Bukankah simbok sudah mengajarkan?" ujar Rainun. Raihan mengangguk lalu mengangkat putrinya dari box. Ia memangkunya sambil menimang - nimang.


"Nanti malam jangan pulang ya Rai. Temani abang di sini" pinta Raihan. "Abang khawatir kalau - kalau keponakanmu ini rewel nanti" lanjutnya.


"Baiklah, malam ini aku akan menginap" jawab Rainun. "Apakah abang dan kak Sofia sudah menyiapkan nama untuk tuan putri kita ini?" tanya Rainun.


"Tentu saja. Kami sepakat menamainya Calista Qiana Wiraja. Artinya wanita cantik berkah dari tuhan untuk keluarga wiraja" jelas Raihan.


"Nama yang bagus. Lalu apa panggilannya?" tanya Rainun.


"Mmm apa ya? Apakah ada yang punya ide?" Raihan balik bertanya.


"Bagaimana jika Lili dari kata Calista? sepertinya mudah juga cantik seperti bunga lili" usul Sofia.


"Ah aku setuju dengan kak Sofia. Kita akan memanggilnya Lili. Kau tau kak, kalau bunga lili itu adalah simbol dari cinta, pengabdian juga kemurnian" jelas Rainun.


"Baiklah, itu panggilan yang bermakna" jawab Raihan.


Tok..


Tok...


Ceklek.


Terdengar suara ketukan. Lalu orang yang mengetuk itu membuka pinta dan masuk.


"Assalamualaikum" sapanya.


"Waalaikum salam" mereka bertiga menjawab serempak. Tamu kali ini adalah Sakha. Ia datang dengan membawa kantung belanjaan berisi banyak makanan.


"Banyak sekali yang kau bawa" kata Raihan.


"Hanya sekedar buah tangan" jawab Sakha. Ia lalu menuju ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya setelah meletakkan kantung yang ia bawa di meja makan.


"Ku kira kau akan datang malam kak?" ujar Rainun.

__ADS_1


"Pekerjaanku selesai lebih cepat sayang" jawabnya tersenyum.


"Bagaimana keadanmu kak?" tanya Sakha yang menghampiri Sofia.


"Sudah lebih baik. Aku juga sudah bisa jalan - jalan" jawab Sofia.


"Ah ini ternyata keponakan kecil uncle" Sakha berjalan ke arah Raihan yang memangku putrinya.


"Tuan putri kecil. Siapa namanya bang?" tanya Sakha.


"Calista Qiana Wiraja dipanggil Lili. Kami baru saja memutuskan nama panggilannya" jawab Raihan.


"Nama yang bagus. Boleh aku menggendongnya?" tanya Sakha.


"Kamu bisa? Hati - hati Sakha" kata Sofia sedikit khawatir.


"Tenang saja kak, aku sudah berlatih" Sakha tersenyum. Raihan lalu memberikan Lili ke gendongan Sakha. Sakha berjalan lalu duduk di sofa tempat Rainun duduk.


Rainun tersenyum memandang kekasih di sebelahnya yang menggendong Lili. Rainun mengambil ponselnya lalu memotret Sakha yang menggendong Lili.


"Kenapa menatapku begitu?" tanya Sakha.


"Tak apa, aku hanya terkejut ternyata kau bisa juga menggendong bayi, kak" kata Rainun.


"Kan kau yang mengajari waktu kita di panti" ujar Sakha. Ia kemudian kembali menatap bayi mungil di pelukannya.


"Wajahnya persis seperti bang Raihan" kata Sakha.


"Aku kebagian di titipi selama sembilan bulan" jawab Sofia. Sakha terkekeh mendengarnya.


"Sayang, lihatlah rambutnya sangat lebat" Sakha mengusap lembut rambut Lili.


"Kau benar, sepertinya kak Sofia akan kebagian rambutnya. Rambutnya hitam dan lebat seperti kak Sofia" kata Rainun.


"Kenapa tidak di pakaikan topi? Apa tidak kedinginan?" tanya Sakha.


"Dia terus merengek saat di pakaikan topi" jawab Rainun.


"Coba ambilkan, biar aku yang membujuknya" pinta Sakha.


"Memang bayi mengerti di bujuk?" tanya Rainun.


"Ya kita coba saja" jawab Sakha. Rainun kemudian mengambil topi mungil dengan hiasan bunga milik Lili.


"Lili cantik, pakai topinya ya. Kepalamu akan kedinginan jika tak memakai topi. Jika Lili menurut, uncle akan berikan hadiah untuk Lili" ujar Sakha membujuk. Rainun kemudian memakaikan topi pada Lili. Anehnya Lili diam saja saat memakai topi setelah di bujuk Sakha.


"Hah bagaimana bisa? Apakah Lili benar - benar mengerti?" Sofia kaget.


"Bahkan Lili menangis saat aku yang memakaikan topi" timpal Raihan.

__ADS_1


"Waah sepertinya aku juga akan memiliki saingan kak. Dia bahkan klepek - klepek dengan rayuan kak Sakha" ujar Rainun.


"Sepertinya dia menurut karena di iming - imingi hadiah" Raihan terkekeh.


"Lili, jangan mudah terhasut oleh rayuan pria tampan seperti unclemu itu nak. Ayo menangislah" Sofia mulai mengompori. Tetapi Lili tetap tidur dengan nyaman di pelukan Sakha dengan memakai topinya.


"Sepertinya kau harus menginap di sini juga bro untuk membantu menenangkan Lili jika dia rewel seperti sore tadi" ujar Raihan.


"Itumah mau ayahnya agar tidak repot menenangkan saat Lili menangis. Kasihan kekasihku ini sudah bekerja dari pagi, di malam hari masih harus lembur untuk membantu merawat bayi. Lili juga pasti akan menurut dengan aunty nya kok, iya kan Lili" omel Rainun. Raihan meringis mendengar omelan adiknya itu.


"Lili, uncle janji akan memberikan dua hadiah untuk Lili jika malam ini Lili juga tidak rewel" ujar Sakha. "Lihatlah sayang, dia tersenyum" seru Sakha saat melihat Lili tersenyum. Rainun lalu memotret wajah Lili yang sedang tersenyum lebar.


"Bukankah itu lesung pipi?" Rainun menunjuk cekungan di pipi kanan Lili yang ada pada foto di ponselnya.


"Iya itu lesung pipi" ujar Sakha.


"Memang ada? Aku bahkan tak melihatnya saat ia tersenyum tadi" Raihan berjalan ke arah Rainun untuk melihat hasil jepretan kamera ponsel Rainun.


"Ah kau benar. Lihatlah foto ini sayang" Raihan menunjukannya pada Sofia.


"Cantik sekali tuan putri ini" Sofia kembali kagum melihat foto Lili. "Kirimkan pada kakak, Rai" pinta Sofia.


Tepat pukul sembilan, Sakha berpamitan untuk pulang.


"Lili, ingat pesan uncle ya" kata Sakha saat berpamitan pada bayi mungil yang tertidur lelap di box nya. Rainun lalu mengantarkan kekasihnya menuju ke pintu.


"Hati - hati ya kak, jangan lupa kabari aku jika sudah sampai di apartemen. Terima kasih sudah berkunjung dan membujuk Lili untuk memakai topinya" Rainun memeluk Sakha.


"Iya sayang. Hati - hati di sini ya" kata Sakha.


"Tentu saja, lagi pula di sini ada abang dan kak Sofia juga" Rainun tersenyum. Ia melihat Sakha pergi hingga menghilang di balik tembok besar.


Malam ini terasa begitu damai. Lili hanya terbangun tiga kali dan menangis karena haus. Topi yang ia pakaipun tak terlepas dari kepalanya.


Pada pukul lima pagi Lili kembali terbangun. Rainun segera bangkit dan mengangkat Lili yang tidur bersamanya. Dalam kamar suite yang di tempati Sofia terdapat salah satu fasilitas yaitu kamar khusus untuk keluarga yang menginap. Malam tadi Rainun tidur di sana bersama Lili sedangkan Raihan tidur di sofabed dekat dengan ranjang Sofia.


"Kau haus ya sayang?" Rainun lalu memberikan Lili pada Sofia yang juga terbangun karena tangisan Lili.


"Sepertinya aku akan tidur denganmu saja Rai di rumah nanti" Sofia tersenyum. "Lihatlah ayahnya bahkan tak terusik saat Lili menangis" Sofia menggelengkan kepala.


Rainun tersenyum mendengar kata - kata Sofia. Memang sedari tadi malam Raihan hanya terbangun sekali saat Lili menangis.


"Kau penurut sekali dengan unclemu ya. Tidak rewel dan hanya menangis saat haus atau saat popokmu penuh" puji Sofia. "Sihir apa yang di pakai Sakha sehingga Lili lebih anteng begini" lirih Sofia.


"Sepertinya setiap anak kecil memang nurut dengan kak Sakha. Bahkan Talita yang aktif seperti itu saja bisa sangat tenang hingga tertidur di pangkuan kak Sakha" Rainun tersenyum.


"Benarkah? Memang kapan dia bertemu Talita?" tanya Sofia yang tentu saja tau bagaimana aktifnya bocah kecil itu.


"Waktu kami famget. Mbak Ani kan membawa serta Talita" jelas Rainun. Sofia mengangguk - anggukan kepala. Setelah tiga puluh menit, Lili selesai menyusu. Rainun kemudian menggendong Lili dan meletakkannya di kasur berukuran queen tempat mereka tertidur semalam.

__ADS_1


Rainun mengambil foto selfie dengan Lili yang tertidur pulas, lalu ia mengirimkan foto itu pada Sakha.


[Lili menuruti pesan unclenya, ia tak rewel sama sekali sehingga kami bisa tidur dengan nyenyak] pesan yang di kirim Rainun pada Sakha.


__ADS_2