Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
75. Pernikahan Sakha dan Rainun


__ADS_3

Rainun sudah siap di dalam kamarnya. Ia tampak begitu cantik dengan balutan kebaya berwarna putih yang di taburi manik - manik.


"Kak Rai, aku tak menyangka kau terlihat sangat berbeda" seru Fitri yang masuk ke kamar Rainun. Fitri kemudian mengambil foto bersama Indah dan Rainun.


"Kau cantik sekali kak" puji Indah yang terkagum - kagum dengan kecantikan Rainun.


"Terima kasih ya sudah datang" ujar Rainun.


"Kau sudah siap nduk? Sebentar lagi rombongan mempelai pria sampai" kata bude Nur.


"Iya bude, Rainun sudah siap" jawab Rainun. Ia menggenggam tangan Indah dan Fitri yang ada di sebelahnya.


"Kau gugup ya kak?" tanya Indah.


"Iya aku semakin gugup" jawab Rainun.


"Tenangkan dirimu kak. Tanganmu sangat dingin" Fitri memijat - mijat tangan Rainun yang dingin.


"Bisa tolong panggilkan bang Raihan dan kak Sofia?" pinta Rainun. Saat ini ia merasa sangat membutuhkan dua orang itu.


"Baiklah, aku akan memanggil mereka" Indah berjalan keluar dari kamar Rainun untuk mencari Raihan dan Sofia. Tak lama, Raihan dan Sofia muncul bersamaan di kamar Rainun.


"Ada apa Rai?" tanya Raihan.


"Kau pasti gugup ya?" Sofia menghampiri dan memeluk adik iparnya itu.


"Iya aku sangat gugup sampai - sampai ingin menangis" kata Rainun.


"Tenanglah, semua pasti akan berjalan lancar" Raihan berjongkok dan menggenggam tangan adiknya. Rainun mengangguk, kini ia merasa sedikit lebih tenang.


"Abang harus ke depan bersama kakakmu untuk menyambut tamu. Kau tak apa?" tanya Raihan.


"Lili di mana?" tanya Rainun.


"Lili bersama oma nya" jawab Sofia.


"Baiklah kalau begitu" kata Rainun.


"Abang akan memanggil simbok untuk menemanimu" Raihan dan Sofia lalu keluar dari kamar Rainun.


"Ada apa non? Non gugup ya?" Simbok duduk di sebelah Rainun.


"Iya mbok, aku sangat gugup" Rainun menyandarkan kepalanya pada wanita paruh baya yang bertubuh sedikit gempal itu. Simbok sudah dia anggap seperti ibunya.


"Banyak - banyak istighfar cah ayu. Simbok doakan non dan den Sakha bahagia selalu, hidup rukun berumah tangga hingga ajal yang memisahkan." Simbok mengusap - usap punggung Rainun. Matanya berkaca - kaca melihat gadis di sebelahnya.


"Aamiin. Terima kasih banyak mbok. Terima kasih karena sudah merawat Rainun" Rainun memeluk simbok kemudian mengikuti saran dari simbok. Ia terus saja beristighfar hingga hatinya menjadi semakin tenang.


...****************...


"Kau sudah siap boy?" Tanya papi Sakha pada putranya yang masih berada di dalam mobil.

__ADS_1


"Iya pi, Sakha siap" jawabnya tanpa keraguan. Ia kemudian turun dari mobilnya. Iring - iringan rombongan keluarga Sakha yang tak lebih dari dua puluh orang itu baru saja tiba di kediaman Rainun.


Mereka secara otomatis membuat barisan untuk mengiringi Sakha masuk. Sakha berada di depan, di gandeng oleh ke dua orang tuanya, diikuti Toni dan keluarga lain di belakangnya.


Mereka di sambut oleh Raihan dan Sofia juga keluarga besar Rainun yang sudah berjajar Rapi. Perlahan, Sakha mulai memasuki rumah Rainun. Ia kemudian masuk ke dalam bersama kedua orang tuanya, Toni juga beberapa orang perwakilan keluarga.


Kini Sakha sudah berhadapan langsung dengan Raihan dan penghulu. Tak lama, Rainun masuk dan berjalan menuju ke sebelah Sakha.


"Cantik sekali" Batin Sakha, netranya tak bisa ia palingkan dari wanita yang akan menjadi istrinya. Raihan yang berada di depannya itu tersenyum melihat Sakha yang bahkan tak mengedipkan matanya saat memandang Rainun.


"Baiklah, mempelai pria dan wanita sudah ada di sini. Apakah maharnya sudah disiapkan sesuai dengan yang tertulis di sini?" tanya si penghulu.


"Sudah pak" jawab Sakha. Toni kemudian meletakkan mahar itu di meja. Penghulu kembali mengecek maharnya. Semua orang di sana terperangah dengan apa yang mereka lihat, tak terkecuali Rainun yang juga kaget melihat mahar yang cukup fantastis dari calon suaminya itu.


"Baiklah, sekarang bisa kita mulai karena mahar dan saksi juga sudah siap. Silahkan mas Raihan, menjabat tangan mas Sakha" pinta si penghulu. Ia kemudian mengajarkan apa yang harus di ucapkan Raihan dan di jawab Sakha.


"Bismillahhirrahmannirrahim. Sakha Putra Hendrawan bin Hendrawan" ujar Raihan


"Ya saya" jawab Sakha.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan adik kandung saya yang bernama Rainun Naifa Wiraja binti almarhum Akbar Wiraja dengan mas kawin cincin berlian sepuluh karat, uang tunai sepuluh juta, emas seratus gram, dan kepemilikan Resort Menara Karang di bayar tunai"


"Saya terima nikah dan kawinnya Rainun Naifa Wiraja dengan mas kawin tersebut tunai" ujar Sakha lantang dan tegas.


"Bagai mana saksi?" tanya penghulu.


"Sah!" jawab dua saksi bersamaan.


Sakha kemudian memakaikan cincin berlian untuk Rainun yang kini sah menjadi Istrinya. Ia memegang kepala Rainun dan mendoakan istrinya itu. Tak lupa Rainun mencium tangan Sakha dengan khidmad.


Saat yang paling mengharukan tiba. Sakha dan Rainun meminta restu pada kedua orang tua Sakha juga pada Raihan dan Sofia sebagai wali dari Rainun. Tangis haru tak bisa di bendung pada momen ini.


Kemudian Sakha memberikan pelangkah untuk Toni, kakanya. Ia memberikan sebuah emas seberat seratus gram sebagai pelangkah karena mendahului kakaknya untuk menikah. Setelah itu mereka semua secara bergantian berfoto bersama pengantin.


Acara di lanjutkan dengan makan siang bersama. Semua tamu tampak menikmati hidangan yang sudah di siapkan keluarga Rainun.


Setelah makan siang selesai, rombongan keluarga Sakha berpamitan untuk pulang. Satu persatu keluarga Rainun juga berpamitan untuk kembali ke rumah masing - masing.


Raihan, Sofia dan Lili memutuskan masuk ke kamar untuk beristirahat. Begitupun dengan Sakha dan Rainun, menyisakan orang - orang yang di sewa untuk membereskan rumah setelah acara.


"Kau cantik sekali" Sakha membantu Rainun melepas hijabnya.


"Benarkah?" tanya Rainun


"Hm. Aku sampai - sampai hampir tak mengenali istriku" Sakha duduk di depan Rainun. Ia mengambil kapas dan pembersih wajah. Perlahan ia membantu membersihkan wajah Rainun dari make up.


"Kak. Kau tak salah memberiku mahar sebanyak itu? Hingga resortmu juga kau berikan padaku" tanya Rainun yang sudah selesai membersihkan wajahnya dan berganti pakaian. Kini mereka duduk bersandar di tempat tidur.


"Tidak sayang, semuanya sudah ku fikirkan matang - matang" jawab Sakha. Ia lalu mengecup puncak kepala istrinya.


"Itu semua terlalu banyak untukku. Belum lagi seserahan yang kau bawa" ujar Rainun.

__ADS_1


"Tak apa, bagiku itu semua belum apa - apa. Aku ingin semua yang terbaik untukmu" Sakha tersenyum. "Terima kasih karena sudah mau menjadi istriku" kata Sakha tulus.


"Aku yang berterima kasih karena kau mau menerimaku kak" Rainun memeluk suaminya.


"Kau suka cincinnya?" tanya Sakha. Ia memegang tangan istrinya.


"Tentu saja, lihatlah betapa cantiknya cincin ini" Rainun memamerkan tangannya yang di hiasi cincin kawin.


"Cantik karena ada di jarimu" kata Sakha


"hmmm gombal" Rainun terkekeh.


"Apa keluargamu langsung kembali kerumahnya masing - masing kak?" tanya Rainun.


"Mereka akan ke apartemen dulu untuk membereskan barang - barang mereka" jawab Sakha.


"Apartemenmu itu di tempati mereka semua? Memang cukup?" tanya Rainun kaget.


"Tidak, mereka menempati unit apartemen kak Toni yang kosong" jawab Sakha.


"Apa? Jadi apartemen itu semua milik kak Toni?" Rainun kaget.


"Gedung apartemen di sebrang gedung apartemenku itu milik kak Toni, dan dia tinggal di salah satu unitnya" jawab Sakha.


"Jangan - jangan, apartemen yang kau tempati juga semua unitnya milikmu?" Rainun menebak. Sakha hanya mengangguk menjawab pertanyaan istrinya.


"Wuah, ternyata seperti itu caramu berinvestasi?" tanya Rainun.


"Iya, aku lebih suka berinvestasi pada real estate" jawab Sakha. Rainun hanya menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti.


Sakha berdiri, kemudian ia mengambil sebuah map yang berisi berkas.


"Ini surat hak milik resort menara karang. Semuanya sudah ku balik nama kepemilikan atas namamu dan semua keuangan yang akan di hasilkan resort, per bulan ini sudah ku alihkan ke rekeningmu, manajer keuangan di sana akan mengirimkan hasil dari resort setiap akhir bulan. Simpanlah ini" ujar Sakha.


"Kenapa kau berikan ini padaku? Inikan salah satu usahamu?" Rainun penasaran.


"Karena di resort menara karang ini banyak kenangan kita" Sakha tersenyum.


"Apa aku akan mampu mengurusnya?" Rainun pesimis.


"Ada aku di sini sayang" Sakha membelai rambut panjang istrinya.


"Rasanya masih seperti mimpi, aku bisa menikah denganmu secepat ini. Padahal rencananya kita akan menikah pada pertengahan tahun depan" Rainun menatap pria yang kini sudah menjadi suaminya.


"Benarkah? Kau tak bermimpi kok" Sakha mengecup bibir istrinya.


"Astaga kak Sakha" Rainun memegang bibirnya, kaget.


"Kenapa? Kita kan sudah sah" ujar Sakha santai. Ia kemudian memeluk dan kembali mengecup bibir Rainun.


pergumulan panas pertama mereka terjadi di siang hari yang cukup terik.

__ADS_1


__ADS_2