Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
32. Kerinduan


__ADS_3

Tringggg....


Tringgg......


Dering ponsel mengalihkan perhatian Rainun dari laptop di hadapannya.


"iya kak?" kata Rainun begitu mengangkat panggilan vidio itu. Jangan di tanya itu sudahlah pasti Sakha yang menelefon.


"aku sudah sampai sepuluh menit lalu" Sakha mengabari.


"syukurlah. Apa semuanya baik - baik saja?" tanya Rainun.


"tidak!" jawab Sakha singkat.


"apa yang terjadi kak?" tanya Rainun yang mulai serius menanggapi jawaban singkat Sakha.


"aku tak baik - baik saja, karena sekarang aku sudah rindu kamu" kata Sakha memasang wajah sedih. Rainun terkekeh mendengar kata - kata Sakha itu.


"aku kira ada hal buruk yang terjadi" ujar Rainun tersenyum.


"ini adalah hal buruk sayang" kata Sakha serius.


"tak akan ada hal buruk kak. Aku akan selalu di hatimu, dimanapun kau berada" kata Rainun. Sakha tersenyum mendengar kata - kata kekasihnya itu.


"kau sedang apa?" tanya Sakha.


"sedang memeriksa pekerjaan yang baru di kirimkan oleh Indah" kata Rainun.


"sepertinya kakak sudah kembali ke penthouse?" tanya Rainun yang melihat latar tempat duduk Sakha.


"iya, aku kembali menempati penthouse. Tadi aku meminta staf untuk membereskannya saat aku mengantarmu" jelas Sakha.


"bagaimana dengan pengantin baru itu?" tanya Rainun.


"aku belum melihat mereka. Mungkin mereka sedang berolah raga di homestay" kata Sakha cuek.


Rainun terkekeh mendengarnya.


"kau bilang ada pekerjaan di sana? Pekerjaan apa kak?" tanya Rainun.


"mm esok aku akan bertemu klien yang mengelola tempat wisata di dekat sini. Aku akan berinvestasi di sana" jelas Sakha.


"sepertinya kau mulai tertarik dengan dunia pariwisata?" kata Rainun. Sakha tersenyum mendengarnya.


mereka kemudian mengobrol panjang mengenai tempat wisata yang akan menjadi tempat Sakha berinvestasi.


...****************...


"Selamat pagi bu" sapa staf lobi perusahaan yang sudah stand by.


"Selamat pagi" balas Rainun.


"Wah wah, ada yang sudah kembali ke kantor nih" tegur mbak Salma dari belakang Rainun.


"eh mbak Salma. Iya nih mbak. Aku takut kalian merindukanku jika aku terlalu lama libur" gurau Rainun.


"Sepertinya pekerjaanmu yang sangat merindukanmu Rai" goda mbak Salma. "kau berangkat sendiri?" lanjutnya.


"aku minta antar pak Maman tadi. Aku sedang malas berkendara" jawab Rainun.


"ku kira kau di antar kekasihmu" ledek mbak Salma.


"Dia masih berada di resort mbak" jawab Rainun.


"Lalu, kamarin kau pulang naik apa? Bukankah kau tak bawa mobil?" telisik mbak Salma.

__ADS_1


"Aku di antar kak Sakha. Tapi kemudian dia kembali lagi ke resort" jawab Rainun.


"uuuhh so sweet sekali kekasihmu itu. Rela menempuh perjalanan pulang pergi selama empat jam hanya untuk mengantarmu" goda mbak Salma. Rainun tertawa mendengarnya.


"Baiklah aku akan ke ruanganku mbak. Dahh" kata Rainun lalu berjalan menuju ke Ruangannya.


Rainun duduk di kursi kebesarannya. Membuka laptop keramatnya lalu kembali memeriksa pekerjaan yang masuk ke emailnya.


Took...


Toook..


Took...


"Ya masuk" jawab Rainun.


"Pagi kak. Aku mengantarkan sarapan untukmu" Gurau Indah. Ia lalu meletakan tumpukan berkas yang ia bawa di meja Rainun.


"Astaga. Sebanyak ini berkas yang harus ku periksa?" tanya Rainun kaget.


"iyaps. Sebagian sudah di kerjakan mbak Salma dan aku. Ini hanya tersisa berkas paling penting yang harus kau periksa sendiri dan kau tanda tangani" jelas Indah.


Rainun menarik nafas panjang.


"Baiklah terima kasih banyak ndah. Aku seperti mendapat hukuman sekarang" kata Rainun sedikit lemas.


"Kalau begitu aku permisi dulu. Semangat kak!" seru Indah menyemangati.


Rainun kembali fokus memeriksa lembar demi lembar berkas yang berada di hadapannya itu. Hingga tak terasa waktu makan siang sudah tiba.


Tok..


Tok..


"Kak Rai, kau tak makan siang?" tanya Indah yang hanya menyembulkan wajahnya dari balik pintu.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan ke cafetaria dengan mbak Salma" kata Indah. Ia lalu menutup pintu ruangan CEOnya itu perlahan.


Rainun mengambil ponsel hendak memeriksanya


"tumben kak Sakha tak menelfonku. Sepertinya dia sibuk" batin Rainun. Ia kemudian meletakkan kembali ponselnya.


Tok...


Took..


"Ya masuk" perintah Rainun.


"Bu, ini ada kiriman makan siang" kata seorang staf kebersihan.


"Dari siapa?" tanya Rainun bingung karena ia tak merasa memesan makanan.


"Maaf saya tidak tau bu. Tadi ada ojek yang mengantarkannya" jawab staf itu.


"Tolong letakkan di meja itu saja. Terima kasih" ucap Rainun.


"Baik bu. Saya permisi" pamit staf yang di balas dengan anggukan oleh Rainun.


Ia kemudian berjalan menuju meja yang terdapat sekotak makanan. Rainun membuka makanan yang di kemas rapi dalam papper bag. Terdapat sebuah surat di dalamnya.


[Jangan lupa makan siang] tulisan di surat itu. Rainun mencari nama pengirim tetapi tidak ada.


"apa kak Sakha yang mengirimkannya?" batin Rainun. Hatinya sedikit curiga, namun melihat makanan kesukaannya yang seolah memanggilnya membuat Rainun menyingkirkan perasaan curiganya. Ia menyantap makan siang geratis itu dengan lahap.


Selesai makan, Rainun membereskan sampahnya lalu kembali ke mejanya untuk melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Hari ini di lalui Rainun dengan tumpukan berkas. Ia sama sekali tak keluar dari ruangannya hingga jam kerja usai.


tookk...


Toook...


"Rai, kau baik - baik saja? Kau tak keluar dari ruanganmu dari tadi" Tanya mbak Salma yang khawatir.


"Aku baik - baik saja mbak. Hanya pekerjaanku yang tak baik" seloroh Rainun.


"Apa perlu aku bantu? Pekerjaanku sudah selesai" mbak Salma menawarkan bantuan. Mbak Salma yang dari awal menjadi asisten Rainun itu memang selalu tak tega jika melihat Rainun mengerjakan banyak pekerjaan sendiri.


"Tidak usah mbak. Mbak Salma pulang saja, kasihan Bima pasti sudah menunggu ummi nya pulang. Lagi pula ini tinggal sedikit lagi" kata Rainun.


"Baiklah kalau begitu mbak duluan ya" pamit mbak Salma. Rainun mengangguk lalu kembali fokus ke map di hadapannya setelah mbak Salma menutup pintu ruangannya.


Cekleek....


Terdengar pintu ruangan kembali terbuka.


"Ada apa mbak?" Tanya Rainun yang tak menoleh dari berkas yang ia teliti. Ia mengira mbak Salma yang kembali pasalnya hanya berselang beberapa detik dari mbak Salma menutup pintu.


"Aku bukan mbak Salma, sayang" terdengar suara pria yang sangat familiar di telinga Rainun.


"kak Sakha?" Rainun lalu berdiri dan menghambur memeluk kekasihnya itu.


"kapan kakak Sampai? Katanya masih dua hari lagi di resort?" tanya Rainun yang terlihat bahagia.


"Baru saja. Aku langsung kemari dari resort" jawab Sakha. Mereka lalu duduk di Sofa panjang yang berada di ruangan Rainun.


"lalu pekerjaanmu?" tanya Rainun lagi.


"Sudah ku selesaikan. Aku sudah rindu padamu" jawab Sakha. Ia lalu membelai puncak kepala Rainun yang dilapisi hijab itu. "Bukankah jam kerjamu sudah berakhir?" tanya Sakha.


"Aku masih mengerjakan beberapa berkas lagi. Lihatlah hari ini aku di sambut dengan tumpukan berkas itu" adu Rainun sambil menunjuk tumpukan berkas yang sudah ia selesaikan.


"Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu saja. Aku akan menemanimu di sini" kata Sakha yang tersenyum melihat ekspresi kesal Rainun.


Rainun kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaan yang tinggal sedikit. Sakha terus menatap gadisnya, sesekali tersenyum melihat ekspresi orang yang ia cintai itu.


"Baru kali ini aku merasakan benar - benar jatuh cinta setiap harinya pada gadis di hadapanku. Dia mampu merubah suasana hatiku" gumam Sakha.


Dua puluh menit berlalu, Rainun akhirnya menyelesaikan pekerjaannya.


"Ayo kita pulang kak" ajak Rainun yang sedang memebereskan barang - barangnya.


"Kau sudah selesai?" tanya Sakha yang sedang mengecek layar ponselnya. "Apa kau mau makan?" lanjut Sakha.


"Aku masih kenyang. Bukankah kakak tadi mengirimkanku makan siang?" tanya Rainun yang kini sudah berdiri di hadapan Sakha.


"Makan siang? Tidak, aku tidak mengirimkan makan siang untukmu. Di jam makan siang bahkan aku masih zoom meeting di resort" ujar Sakha yang tampak serius.


Rainun kaget mendengar jawaban Sakha. "Kau tidak sedang bercanda kan kak?" tanya Rainun serius.


"Aku serius sayang. Bahkan aku tak memegang ponselku sedari pagi" kata Sakha yang tak kalah serius.


"lalu siapa yang mengirimkan makanan kesukaanku ke kantor?" Tanya Rainun yang tampak khawatir.


"apakah ada surat atau nama pengirim di sana?" tanya Sakha.


"hanya ada surat bertuliskan jangan lupa makan siang. Tetapi tak ada nama pengirim di sana" jelas Rainun.


"Kau baik - baik saja setelah memakannya?" tanya Sakha.


"Iya. Aku baik - baik saja seperti yang kakak lihat" kata Rainun.

__ADS_1


Sakha berfikir sejenak. Ia curiga dengan beberapa kemungkinan. Bisa jadi itu makanan yang salah alamat atau ada seseorang yang diam - diam menyukai Rainun.


"Sudah - sudah. Ayo kita pulang, ini sudah sore sayang." ajak Sakha. Ia kemudian menggandeng tangan Rainun menuju mobilnya yang berada di halaman parkir.


__ADS_2