Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
67. Bukalah matamu


__ADS_3

"Oprasinya berjalan lancar, saudara Sakha mengalami perdarahan di otak yang cukup parah. Kemudian ia mengalami patah di tangan kanannya, namun kami tak dapat memastikan kapan saudara Sakha akan bangun dari komanya akibat perdarahan di otak" jelas si dokter yang menangani Sakha.


"Apa ada efek lain dari perdarahan itu jika Sakha terbangun nanti?" tanya Toni.


"Bisa jadi saudara Sakha akan mengalami amnesia parsial. Tapi kita berdoa yang terbaik mudah - mudahan tak ada efek buruk pasca oprasi" ujar dokter yang menenangkan.


"apa dia sudah bisa di kunjungi?" tanyanya lagi.


"Silahkan, tetapi bergantian karena hanya satu orang yang boleh masuk ke ruangan ICU" jawab dokter.


"Baik, terima kasih banyak dok" Toni menghela nafas berat. Ia kemudian meninggalkan ruangan dokter.


Ia berjalan dengan lesu menuju ke ICU di mana kini Sakha sedang terbaring koma. Ia begitu khawatir jika sampai Sakha mengalami koma yang panjang.


"Kak, ada apa?" tanya Rainun yang melihat Toni berjalan dengan wajah lesu.


"Apa kata dokter kak?" tanya Rainun lagi.


"Sakha koma karena perdarahan di otak yang cukup parah. Dokter tak dapat memastikan kapan dia akan bangun" kata Toni. Rainun dan yang lainnya shock mendengar kata - kata Toni barusan.


"Apa kak Sakha sudah boleh di kunjungi?" tanya Rainun dengan suara bergetar. Ia sudah tak sabar melihat kondisi kekasihnya itu. Sekuat tenaga ia menahan tangisnya walaupun kaca - kaca di matanya tak dapat membohongi semua yang ada.


"Masuklah, Sakha sudah bisa di kunjungi" jawab Toni. Rainun langsung saja masuk ketika Toni mempersilahkannya duluan, tak lupa ia memakai pakaian steril yang di berikan oleh perawat yang berjaga.


Rainun terpaku saat melihat Sakha terbaring tak berdaya di ranjangnya dengan banyak alat yang menempel di tubuhnya. Air mata yang sudah sekuat tenaga di tahannya, kembali jatuh dari sudut matanya.


"Kak Sakha, aku ada di sini" Rainun mengecup punggung tangan Sakha.


"Bangunlah, aku baik - baik saja. Terima kasih berkat pelukanmu aku tak mengalami cidera yang parah" Rainun mulai terisak. Ia menempelkan tangan lemah Sakha di wajahnya.


"Kau mendengarku kan kak? Aku menunggumu di sini ayo bangun, aku rindu pelukanmu" Rainun mulai terisak, mengingat bagai mana Sakha mencoba untuk melindunginya dari kecelakaan naas itu.


*flashback....


"Ada apa kak? Kenapa berhenti?" Rainun terbangun dari tidurnya saat mobil yang di kendarai oleh body guard Sakha menepi.


"Tak apa, mereka hanya mengecek sesuatu" ujar Sakha. "Lanjutkanlah tidurmu" Sakha mengusap usap kepala Rainun.

__ADS_1


"Apa perjalanan kita masih jauh?" tanya Rainun yang kini menyandarkan kepalanya di bahu Sakha.


"Mm ini baru separuh perjalanan. Mungkin sekitar dua setengah jam lagi kita akan sampai" jawab Sakha.


"Aku rindu abang, kak Sofia dan Lili" ujar Rainun.


"Iya sayang, mereka sudah ada di rumah menanti kita pulang. Aku sudah mengabari bang Raihan kalau kita sedang dalam perjalanan pulang" ujar Sakha. Rainun mengangguk, ia melihat ke jendela yang di belakangi Sakha ketika sebuah lampu terang menyorot semakin dekat.


"Kak Sakha awas mobil itu!" Rainun berteriak. Sakha langsung saja memeluk Rainun untuk melindungi kepala dan tubuh Rainun dengan tubuhnya. Dalam hitungan detik mobil itu sudah menghantam bagian kemudi mobil Sakha.


Rainun memejamkan mata. Tubuhnya seperti melayang saat itu. Terasa olehnya lengan kekar Sakha mendekapnya begitu erat, hingga satu waktu dekapan itu melemah dan lepas begitu saja.


"Sayang" suara Sakha lemah. Ia semoat memastikan kondisi Rainun sebelum akhirnya ia memejamkan mata tak sadarkan diri.


"Kak Sakha. Tolooongggg!" Rainun berteriak. Ia terus berusaha menyadarkan Sakha hingga dua body guard di bantu warga mengeluarkan mereka dari dalam mobil yang teguling.


Rainun duduk di tempat yang aman setelah di gendong keluar oleh body guard. Kini ia mendapat pertolongan dari warga sekitar. Kaki Rainun terasa begitu berat dan kaku. Ia berteriak ketika melihat tubuh Sakha yang berlumuran darah berhasil di keluarkan dari dalam mobil.


"Kak Sakha!" Rainun begitu histeris. Tanpa fikir panjang ia merangkak mendekati Sakha yang terbaring. Rainun membuka jaket yang di kenakannya untuk menutup luka sobek yang terus mengeluarkan darah di bahu Sakha.


"Kak Sakha bangun, ayo kita pulang" Rainun menangis histeris.


Rainun terus memandangi wajah tampan kekasihnya yang kini pucat.


"Bangun kak, aku rindu senyummu" ia membelai wajah Sakha. Setelah lima belas menit ia di dalam, ia kemudian keluar untuk bergantian menjenguk dengan yang lain.


Kali ini Toni masuk untuk melihat adik yang begitu ia sayangi.


"Kenapa kau lemah sekali" kata - kata pertama yang Toni ucapkan saat duduk di sebelah Sakha yang terbaring tak berdaya. Air mata Toni menetes begitu saja saat melihat Sakha.


Kata - kata itu juga yang di ucapkan Sakha saat pertama kali bertemu dengannya yang di hajar oleh segerombolan orang, Toni kembali mengingat kejadian beberapa tahun lalu.


"Papi dan mami sebentar lagi akan datang. Cepatlah bangun, aku tak ingin mereka mengomelimu karena kau bermalas - malasan seperti ini" ujar Toni. Ia teringat dulu adik angkatnya ini sering di omeli papi dan maminya karena sering bermalas - malasan dan memilih untuk tidur.


"Aku dan yang lain sedang menunggumu. Cepat bangun dan berkumpulah bersama kami. Bangunlah, maafkan aku karena tak bisa menemanimu kemarin. Bukankah kau berjanji padaku akan kembali bersama Rainun dengan selamat? Kau bukan pria yang tak menepati janji kan?" Toni mengusap air matanya. Ia menenangkan diri beberapa saat sebelum akhirnya keluar dari ruangan Sakha. Ia merasa tak sanggup jika terlalu lama melihat kondisi Sakha sekarang ini.


Setelahnya Raihan, Sofia dan Eriko secara bergantian masuk untuk menjenguk Sakha. Semua yang melihatnya keluar dari ruangan dengan wajah sedih. Sofia yang mencoba kuat, pada akhirnya runtuh pertahanannya saat melihat Sakha saat ini. Ia terus meneteskan air mata selama berada di dalam bersama Sakha.

__ADS_1


"Hei bocah tengil, bangunlah" Sofia menyapa Sakha seperti biasanya, dengan nada suara ketusnya namun setelah itu ia menangis karena tak mendapat jawaban dari Sakha.


"Bangunlah bocah tengil. Kenapa kau tidur terus begini, kau tau? Aku meninggalkan keponakan tersayangmu di rumah hanya untuk melihatmu. Jangan buat aku kecewa karena kau terus tertidur seperti ini" Sofia makin terisak.


"Bukankah kau berjanji tak akan mengecewakan kakak perempuanmu ini?" imbuhnya. "Bangunlah, aku ingin mengucapkan jutaan terima kasih padamu" Sofia mengakhiri kata - katanya. Dadanya terlalu sesak, ia tak sanggup lagi melihat Sakha seperti itu.


...****************...


"Toni, di mana adikmu nak?" tanya maminya yang baru saja sampai dengan papi.


"Sakha ada di dalam mi. Mami dan papi bisa bergantian menjenguknya" jawab Toni yang memeluk tubuh maminya. Maminya masih saja terisak.


"Mami masuklah duluan" ujar papi Sakha yang mengerti betapa cemas istrinya itu. Mami Sakha kemudian masuk ke dalam ruangan Sakha untuk melihat kondisi anak kandung satu - satunya itu.


"Apa kata dokter?" tanya papi Sakha pada Toni. Toni langsung menjelaskan semua yang di katakan dokter padanya. Papi Sakha mengangguk angguk mengerti.


"Bagaimana kronologi kejadiannya? Siapa yang menabrak mobil Sakha?" tanya papi Sakha yang belum mengetahui kronologi jelas dari kecelakaan yang di alami Sakha dan Rainun. Toni secara detil menceritakan kejadian sesuai dengan yang di ceritakan oleh dua body guard yang bersama Sakha saat kejadian.


Papi sakha berjalan menghampiri Rainun. Ia kemudian duduk di samping Rainun.


"Bagaimana keadaanmu nak? Apa kau baik - baik saja?" papi Sakha bertanya pada Rainun yang sedari tadi duduk terdiam dan menunduk.


"Aku baik - baik saja pi" Rainun meneteskan air matanya.


"Sudah, jangan menangis. Kau sudah aman bersama kami. Apa ada cidera yang parah? Bukankah kau ada di dalam mobil bersama Sakha?" tanya papi Sakha, ia cukup khawatir dengan kondisi calon menantunya itu.


"Tidak ada pi. Karena kak Sakha melindungiku, aku tak mengalami cidera yang parah" jawab Rainun. Papi Sakha mengangguk anggukkan kepala mengerti. Ia kemudian masuk ke ruangan Sakha bergantian dengan mami Sakha yang baru saja keluar.


"Rai, bagaimana keadaanmu nak?" mami Sakha memeluk calon menantunya itu. Kedua wanita yang penting di hidup Sakha itu sama - sama menangis.


"Sudah, jangan menangis lagi. Sakha pasti akan sedih melihat tente dan kau seperti ini" Sofia mencoba menenangkan sembari memeluk kedua wanita itu.


"Sebaiknya kau beristirahat nak, kondisimu sedang tidak baik" pinta mami Sakha yang melihat kondisi Rainun.


"Aku ingin menunggu kak Sakha bangun di sini mi" jawab Rainun.


"Kau butuh istirahat nak, kembalilah nanti. Ini bahkan sudah pagi" ujar mami Sakha.

__ADS_1


"Tante benar Rai, ayo kita cari hotel di dekat sini untuk beristirahat" ujar Raihan. Rainun akhirnya setuju setelah di bujuk oleh mami Sakha juga abangnya.


Raihan, Rainun, Sofia juga Eriko akhirnya meninggalkan rumah sakit untuk beristirahat di hotel terdekat.


__ADS_2