
Tiga hari sebelum hari pernikahan Raihan dan Sofia, Sakha meminta stafnya yang ada di sana untuk menutup resort. Mereka berbenah dan menyiapkan hotel yang akan di tempati keluarga, sahabat juga kolega yang di undang.
Pada undangan, sudah di sediakan barcode yang akan menunjukkan nomor kamar hotel mereka. Semua sudah di persiapkan secara matang oleh Sakha juga staf IT nya.
Akan ada kurang lebih seratus undangan tamu dan seratus undangan keluarga dari ke dua belah pihak yang akan menempati dua bangunan hotel di resort milik Sakha.
Homestay yang pengerjaannya di serahkan pada perusahaan Raihan pun kini sudah jadi dan sudah bisa di tempati. Ada dua puluh homestay yang tersedia di sana.
Raihan, Sofia, Rainun dan juga Sakha sudah berada di sana untuk memantau persiapan acara.
"Kau menyiapkannya dengan baik kak" Ujar Rainun yang kini sedang duduk bersama Sakha di pondokan tepi pantai. Sejauh ini Sakhalah yang bekerja keras menghandle semua persiapan. Sakha hanya mengangguk dan tersenyum.
"Ngomong - omong, dimana tumpukan batu karang yang menggunung tempo hari?" Tanya Rainun.
"Apa kau belum melihatnya?" Ujar Sakha yang balik bertanya. Rainun hanya menggelengkan kepala tak mengerti.
Memang sedari tiba pagi tadi, Rainun belum sempat berkeliling karena membantu W.O mengatur kamar tamu undangan dan keluarga.
"Baiklah akan ku antar kau berkeliling nona" Ucap Sakha. Mereka berdua lalu menuju tempat di mana tumpukan batu itu berada sekarang.
Kurang lebih dua menit menaiki sepeda, mereka sampai di sebuah taman dimana terdapat dua buah menara besar yang terbuat dari batu karang. Taman itu juga di hiasi berbagai bunga dan tumpukan batu karang yang di susun menjadi berbagai macam bentuk. Tempat itu sangatlah iconik dan selalu menjadi spot foto paling di cari oleh pengunjung.
"Waahh indah sekali" Seru Rainun takjub. Sakha hanya tersenyum melihat gadis yang ia sukai terlihat sangat bahagia.
"Ya, aku mewujudkan idemu" Ucap Sakha. "Karena batu - batu karang ini, resortku menjadi terkenal dengan sebutan pantai Menara Karang" Imbuh Sakha. Rainun mengerjapkan mata, terpesona dengan apa yang ia lihat.
Mereka menyempatkan diri berfoto di taman batu karang, sebelum kembali berjalan untuk melihat homestay yang baru jadi.
"Kapan homestay ini jadi kak" Tanya Rainun terkagum - kagum dengan jejeran bangunan di hadapannya.
"Seminggu yang lalu" Jawab Sakha yang berada di sebelah Rainun.
"Kenapa homestay yang di sebelah kanan lebih besar?" Tanya Rainun.
"Homestay yang di sebelah kanan ada dua kamar, kamar mandi dan juga memiliki dapur. Sedangkan yang di sebelah kiri hanya ada kamar dan kamar mandi" Jelas Sakha.
"Waah indah sekali. Aku ingin menempati salah satu homestay ini" Ujar Rainun
"Masuk dan lihatlah. Pilihlah homestay mana yang akan kau tempati" Kata Sakha.
Rainun kemudian masuk dan melihat - lihat isi dari homestay yang di sebelah kiri bersama Sakha. Ada satu tempat tidur queen size, satu lemari, satu meja dan dua buah kursi. Ada ac, juga tv disana. Rainun kemudian melihat kamar mandi. Ada toilet, bath tub juga shower. Kemudian dia beralih ke balkon di balik pintu kaca yang besar.
"Waahhhh" Seru Rainun saat membuka balkon. Disana ada hammock dan kursi kayu panjang untuk bersantai juga ada tangga yang mengarah ke langsung ke laut.
"Ini indah kak. Kita bisa langsung berenang disini" Ujar Rainun. Sakha tersenyum melihat gadis di depannya.
"Kau suka?" Tanya Raihan.
__ADS_1
"Aku sangat menyukainya" Jawab Rainun. "Siapa saja yang akan menempati homestay ini?" Tanya Rainun.
"Di ujung sana akan jadi kamar pengantin. Rencananya hanya untuk tambahan jika kamar hotel tak cukup" Ujar Sakha.
"Boleh aku menempati salah satunya?" Tanya Rainun
"Silahkan saja asal jangan dekat kamar pengantin itu. Nanti kau bisa mengganggu" Ujar Sakha.
Mereka kemudian duduk sebentar di balkon, menikmati pemandangan sambil berbincang santai.
"Kenapa kakak memberikan hadiah sebesar ini pada kak Sofia dan bang Ehan?" Tanya Rainun.
"Mmm aku ingin memberikan hadiah yang tak akan mereka lupakan. Terutama untuk kak Sofia" Jawab Sakha.
"Seberapa dekat kalian?" Tanya Rainun.
"Aku dan kak Sofia dari kecil bersama karena dulu rumah kami bersebelahan. Kedua orang tua kami bersahabat dekat. Kak Sofia dulu selalu menjagaku, ia selalu berbagi apapun denganku walaupun tak jarang ia juga menjahiliku. Karena setiap hari bersama dan berbagi itulah yang membuatku begitu dekat dan begitu menyayanginya sebagai kakakku. Aku dulu pernah berjanji saat aku sukses akan memberikan yang terbaik untuknya dan memenuhi keinginannya tapi yah begitulah kak Sofia, dia tak pernah meminta apapun dariku" Jelas Sakha.
Rainun tersentuh mendengar penuturan Sakha. Hingga tanpa sadar ia menatap Sakha begitu dalam.
"Sudah ku bilang jangan menatapku seperti itu. Jantungku bisa meledak nanti" Kata Sakha. "Ayo kita kembali" Ajak Sakha kemudian.
Rainun kemudian mengikuti Sakha kembali ke hotel dengan sepeda. Di perjalanan mereka mengobrol dan sesekali melempar candaan yang membuat keduanya tersenyum.
...****************...
"entah lah, mungkin berkeliling" Jawabnya santai.
"Ah padahal aku mau bertanya sepatu mana yang harus ku pakai saat resepsi nanti" Ujar Sofia.
"Kenapa tak bertanya saja padaku?" Tanya Raihan.
"Kau malah akan membuatku pusing karena jawabanmu. Kau pasti akan bilang semua cocok saat kau pakai" Jawab Sofia. Raihan tertawa mendengar jawaban dari calon istrinya itu.
"Nah itu mereka" Kata Raihan saat melihat Rainun dan Sakha baru memarkirkan sepeda.
"Kalian dari mana saja?" Tanya Sofia saat kedua adiknya mendekat.
"Kami dari melihat homestay yang salah satunya akan menjadi kamar pengantin" Ucap Rainun.
"Benarkah? Apakah bagus? Aku ingin lihat!" Seru Sofia.
"Jangan! Itu akan menjadi kejutan" Seru Sakha menghentikan. Sofia hanya mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Sakha.
"Rai, ayo kita ke kamar. Gaunmu dan gaunku sudah datang. Cobalah dan bantu aku memilih sepatu yang cocok" Ujar Sofia menarik tangan Rainun.
"Yaaa baiklah baiklahh" Jawab Rainun tersenyum.
__ADS_1
"Oh ya Sakha, bajumu sudah di antar oleh staf ke penthouse" Kata Sofia.
"Baiklah terimakasih kak" Ucap Sakha.
Sofia merancang sendiri baju untuknya dan Raihan, kemudian baju orang tua, lalu untuk Rainun, Sakha dan juga kedua orang tua Sakha.
"Mereka begitu dekat seperti saudara kandung" Ujar Sakha saat melihat kedua wanita itu naik lift.
"Kau benar. Aku bersyukur karena Sofia bisa sangat dekat dengan Rainun" Jawab Raihan.
"Bagai mana hubunganmu dengan Rainun?" Tanya Raihan.
"Mmm itu, ah kami masih berteman" Jawab Sakha sedikit gelagapan mendapat pertanyaan seperti itu dari Raihan.
Raihan tersenyum melihat tingkah Sakha. "Tak apa, pelan - pelan saja. Aku percaya kau bisa menaklukkannya" Ujar Raihan menyemangati. Sakha tersenyum mendapat dukungan langsung dari kakak kandung Rainun.
Mereka berdua lalu menemui ketua W.O untuk mengecek kembali semua persiapan.
"Apakah kita perlu menyediakan kursi untuk resepsi tuan? Mengingat tema acaranya adalah pesta pantai" Tanya ketua W.O
"Tetap saja kita harus sediakan. Akan ada orang tua yang tak sanggup berdiri terlalu lama" Jawab Raihan.
"Apakah dua ratus kursi cukup?" Tanya ketua W.O
"Ya itu saja sudah cukup" Jawab Raihan.
"Sediakan juga meja untuk kursi - kursi itu" Ujar Sakha.
"Bagai mana dengan hidangannya?" Tanya Raihan.
"Semua sudah siap sesuai dengan permintaan tuan" Jawab ketua W.O
"Oh iya ini dekorasi yang di minta nona Sofia" Ucap ketua W.O itu sembari memberi taukan foto yang ada di tabnya.
"Ya turuti saja permintaannya" Ucap Raihan.
"Apakah kamar pengantin sudah di siapkan?" Tanya Sakha.
"Segera tuan. Kru kami akan mendekorasinya siang ini" Jawab ketua W.O
"Untuk pengaturan kamar tamu dan keluarga, sudah di atur oleh staf resortku kalian bisa memberi dua orang kru saja untuk memantau. Untuk kru W.O kalian tinggalah di tiga homestay bagian kanan" Ujar Sakha.
"Baiklah tuan" Jawab ketua W.O
"Apakah souvenir yang di pesan sudah datang?" Tanya Sakha.
"Sudah tuan. Souvenir sudah di urus oleh staf anda" Jawab ketua W.O
__ADS_1
Raihan dan Sakha mengangguk mengerti. Mereka berkeliling sejenak memantau kegiatan para staf dan kru W.O sebelum kembali ke kamar masing - masing. Memastikan semua persiapan sudah lengkap dan tak ada yang terlewat.