Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
8. Pertemuan ke Dua


__ADS_3

Drrrttt...


Drrttt...


Getar ponselnya membuyarkan fokus Rainun yang sedang menghitung jumlah pesanan yang di minta oleh mitranya yang berada di Taiwan.


[Besok pukul sebelas kita bisa bertemu dengan CEO Hendrawan's Company]. Pesan dari kak Sofia.


[Baiklah. Aku akan tepat waktu. Terimakasih banyak calon kakak iparku] pesan balasan dari Rainun yang di kirimkan ke Sofia.


"Haah benarkah? Ya ampun, aku akan benar- berelasi dengan Hendrawan's Company. Ahh kak Sofia memang juara" Ujar Rainun begitu bahagia saat mendengar kabar dari calon kakak iparnya itu.


"Astagaa, berapa jumlahnya tadi. Ah ini karna kak Sofia membuatku bahagia hingga aku lupa berapa jumlah yang sudah ku hitung. Aahh bodoh sekali aku, kenapa juga tak langsung mencatatnya. Akhirnya aku harus menghitungnya ulang" Gerutu Rainun sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tok...


Tok...


"Iya masuk" Kata Rainun yang sedang menghitung jumlah pesanan.


"Kak Rai, ini hasil laporan produk UMKM yang meminta persetujuan untuk pengiriman ke Jepang" Kata Indah sembari menyodorkan sebuah map.


Rainun membacanya kemudian menandatangani berkas tersebut.


"Oh iya ndah, apa besok aku ada Jadwal keluar pukul sebelas siang?" Tanya Rainun. Indah kemudian membuka tablet yang menyimpan jadwal kegiatan Rainun esok hari.


"Tak ada kak. Jadwal kakak pukul delapan pagi ikut mensurvei UMKM" Jawab Indah mantap.


"Kalau begitu tolong ingatkan esok pukul sebelas aku akan menemui CEO Hendrawan's Company" Ujar Rainun. Indah pun langsung memasukkan jadwal kegiatan Rainun ke tablet itu.


"Apakah perlu di dampingi salah satu dari kami kak?" Tanya Indah. Kami yang di maksud adalah sepupu-sepupu yang bekerja bersama Rainun.


"Tak usah. Esok aku akan kesana di temani kak Sofia" Jawabnya.


"Baiklah kalau begitu. Aku permisi dulu kak" Izin Indah. Rainun hanya menganggukan kepalanya kan kembali fokus menatap layar laptop di depannya.


Keesokan harinya...


Rainun melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. "Pukul sepuluh" Batinnya. Ia segera mengambil ponsel dan mengubungi seseorang.


"Iya Rai?" Jawab seseorang di ujung telefon.


"Kakak ada dimana?" Tanya nya.


"Kakak ada di butik" Jawab Sofia.


"Baiklah aku akan kesana" Kata Rainun.


"Tak usah, kakak saja yang ke kantormu. Jarak dari kantormu kan lebih dekat menuju ke Hendrawan's Company. Sepuluh menit lagi kakak jalan" Ucap Sofia.


"Baiklah kalau begitu" Jawab Rainun menyetujui.


Rainun menunggu kedatangan Sofia dengan kembali memeriksa berkas-berkas yang tadi disetorkan Indah. Ia merasa bersyukur memiliki calon kakak ipar seperti Sofia yang juga selalu siap membantunya tanpa ia minta.


Sofia akhirnya sampai di kantor Rainun setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit. Ia mengambil ponsel hendak mengubungi Rainun.


"Halo Rai, kakak tunggu parkiran" Katanya singkat lalu ia mematikan sambungan telefonnya. Tak lama Rainun sudah berada di pintu mobil.


"Hay kak" Sapa Rainun lalu duduk di sebelah Sofia.

__ADS_1


"Sudah siap? Ayo berangkat" Ajak Sofia. Sofia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali membuka mulutnya menerima suapan makanan ringan dari Rainun. Ya, memang mereka berdua tak pernah bisa jauh-jauh dari makanan ringan. Mereka terbiasa menyiapkan stok makanan ringan di mobil.


"Kakak kenal dari mana dengan CEO HC?" Tanya Rainun. HC adalah singkatan dari Hendrawan's Company.


"Dia adalah orang yang kakak anggap seperti adik sendiri. Dia anak dari sahabat papa. Dulu dia tinggal di sebelah rumah kakak dan dia dulu setiap hari selalu datang kerumah kakak untuk bermain. Abangmu juga sudah mengenalnya waktu kami berkunjung ke kota tempat dia tinggal" Jelas Sofia.


"Hmmm begitu, aku jadi penasaran bagai mana orangnya" Kata Rainun.


"Sabarlah, sebentar lagi kita akan bertemu" Jawab Sofia tersenyum.


Setelah dua puluh menit berkendara, mereka sampai di halaman parkir HC. Sofia dan Rainun lalu menuju ke lobi dan bertemu dengan resepsionis.


"Siang mbak. Saya ingin bertemu dengan pak Sakha. Kami sudah membuat janji" Kata Sofia.


"Tunggu sebentar ya bu, saya akan menghubungi asisten pak Sakha dulu" Jawab Resepsionis ramah. Resepsionis itu kemudian menghubungi sekretaris Sakha.


"Silahkan bu, pak Sakha sudah menunggu di ruangannya yang berada di lantai sebelas" Ucap resepsionis mempersilahkan.


Sofia dan Rainun lalu menaiki lift ke lantai sebelas dimana ruangan Sakha berada.


Tok..


Took..


"Ya, masuk" Jawab Sakha sudah mengetahui bahwa Sofia yang mengetuk pintu.


"Heii, apakah kau sedang sibuk?" Sapa Sofia akrab.


"Tidak, duduklah" Jawabnya singkat. Matanya masih fokus pada layar laptop di hadapannya. Sofia dan Rainun kemudian duduk, sesuai perintah Sakha.


Degghhh....


"Inikan pria menyebalkan yang tak sengaja ku tabrak waktu itu" Batin Rainun.


"Ada apa? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Sakha menatap tajam Rainun. Manik matanya melihat Rainun yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi kaget di wajahnya.


"Mmmm, tidak. Sepertinya aku salah orang" Jawab Rainun yang kemudian merubah ekspresi wajahnya. Sebenarnya ia sangat yakin kalau dia adalah pria itu. Tetapi kenapa pria menyebalkan di hadapannya ini tak mengingatnya?.


Sakha hanya tersenyum tipis yang tak dilihat oleh dua orang wanita di hadapannya. Dalam hatinya ia senang karena kembali bertemu dengan wanita bermata indah yang beberapa hari ini mengusik pikirannya. "Ternyata gadis cantik yang menabrakku kemarin lusa adalah CEO RR eksportir" Gumamnya dalam hati.


"Perkenalkan saya Sakha" Ia mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan salah satu wanita di depannya.


"Saya Rainun" Ucapnya gugup. Sofia memperhatikan sikap Rainun yang agak berbeda. Ia tak pernah melihat Rainun segugup ini menghadapi orang baru.


"Saya sudah membaca proposal dari RR eksportir yang dikirimkan beberapa waktu lalu dan saya tertarik membangun relasi dengan perusahaan anda karena ada beberapa barang yang saya butuhkan yang kebetulan perusahaan anda sediakan" Ucap Sakha tanpa basa basi.


Selain dari proposal yang dikirimkan, Sakha mengetahui detil tentang perusahaan RR eksportir dari informan yang sengaja ia kirim untuk mencari tahu tentang RR eksportir lebih dalam.


"Silahkan anda baca dan pelajari surat kontrak ini terlebih dahulu. Jika setuju, kita bisa bertemu lagi pekan depan untuk menandatangani kontraknya" Jelas Sakha.


Rainun hanya terbengong mendengar penuturan Sakha. "Kenapa pria tengil ini langsung to the point tanpa ada basa basi. Kenapa dia tak menanyakan dulu tentang perusahaanku? Apa dia tidak tertarik dengan seluk beluk perusahaanku? Lagi pula di proposal itu aku tak membahas secara detil tentang perusahaan" Gumamnya. Banyak pertanyaan yang perkecamuk di benaknya.


"Aku tak perlu banyak bertanya tentang detil perusahaanmu. Aku sudah tau semuanya" Ucap Sakha tenang seolah-olah bisa membaca apa yang ada dalam pikiran Rainun.


"Bbbbaiklah saya akan mempelajari kontraknya" Ujar Rainun terbata.


Sakha tertawa dalam hati melihat tingkah Rainun yang lucu menurutnya.


"Sudah jam makan siang. Apa kau tak mau mengajak kakakmu ini makan?" Tanya Sofia.

__ADS_1


"Kakak ingin makan apa? Biar aku pesankan" Jawab Sakha.


"Makanan yang menurutmu enak di cafetaria kantormu ini" Jawab Sofia.


"Kau mau pesan apa nona?" Tanya Sakha pada Rainun yang sedari tadi tak banyak bicara.


"Samakan dengan kak Sofia saja" Jawabnya. Sakha kemudian menghubungi sekretarisnya untuk membawakan makan siang ke ruangannya.


"Kau tau? Dia ini adalah calon adik iparku" Kata Sofia kepada Sakha.


"Aku sudah tau" Jawab Sakha yang kembali fokus pada laptopnya.


"Dari mana kau tau? Dari Raihan?" Tanya Sofia tak percaya.


"Tidak" Jawab Sakha singkat.


"Lantas?" Lanjut Sofia penasaran


"Hal apa yang adikmu ini tidak ketahui kak?" Sakha justru bertanya balik sambil menatap tajam Sofia.


"Waah aku sampai kehilangan kata-kata. Siapa orang di hadapanku ini sekarang? Kau memang benar-benar badas. Aku sampai merinding kau buat. Apakah kau seorang mafia? apakah jangan-jangan kau memiliki ilmu hitam? atau kau adalah cenayang ya?" Tanya Sofia tanpa jeda pada 'adiknya' itu.


Sakha menatap Sofia tajam lalu menggelengkan kepala mendengar kebawelan tingkat tinggi seorang Sofia. Ia tak berniat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Sofia. Ia justru tertarik melihat gadis di sebelah Sofia yang sedari tadi hanya tersenyum manis melihat tingkah Sofia.


Tok...


Tok...


"Permisi tuan, saya mengantarkan makan siang pesanan tuan" Ujar seorang pramusaji yang membawa makanan dengan troli nya.


"Letakkan saja di meja itu" Perintah Sakha. Pramusaji itu menata hidangan di meja lalu pamit pergi.


"Ayo kita makan" Ajak Sakha yang beranjak dari kursi kebesarannya menuju sofa dimana mereka akan makan siang. Sofia dan Rainun kemudian mengekor di belakangnya.


"Makanan cafetaria kantormu enak" Puji Sofia. Rainun mengangguk menyetujuinya. Mereka makan sambil berbincang santai tentang pekerjaan. Setelah makan siang, Sofia dan Rainun pamit pulang. Sofia akan menuju butiknya dan Rainun kembali ke kantornya.


Di perjalanan.....


"Itu benar CEO HC kak?" Tanya Rainun yang penasaran.


"Iya benar" Jawab Sofia yang sedang fokus menyetir.


"Kenapa seperti itu?" Tanya Rainun yang masih tak habis pikir dengan sikap Sakha.


"Maksudmu?" Sofia malah bertanya balik.


"Dia misterius, dingin dan menyebalkan" Kata Rainun jujur.


"Hahaha, dia sebenarnya tidak seperti itu kok. Dia orang yang penyayang" Jawab Sofia. Rainun hanya menaikan sebelah alisnya tak percaya dengan ucapan Sofia.


"Penyayang apanya. Si mister tengil itu sikapnya seperti es batu. Dingin dan keras" Ucap Rainun lirih namun masih terdengar oleh Sofia. Sofia hanya tertawa kecil mendengar pendapat Rainun.


Tak lama kemudian mereka sampai di kantor Rainun.


"Terima kasih ya kak. Sudah meluangkan waktu menemaniku menemui mister tengil" Kata Rainun.


"Wah sepertinya Sakha memiliki julukan baru" Ucap Sofia tertawa. "Iya sama-sama Rai. Kakak terus ya. Ada klien yang sudah menunggu" Lanjut Sofia terburu-buru.


"Iya hati-hati ya kak" Jawab Rainun. Sofia mengangkat jari jempolnya menandakan 'oke' lalu kembali melajukan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2