
"Kalian sudah siap? Itu supir Sakha sudah ada di depan" kata Raihan yang sudah siap bersama Lili di strolernya.
"Mm baiklah, ayo kita berangkat" kata Sofia yang keluar bersama Rainun.
Mereka menempuh perjalanana selama dua puluh menit hingga sampai di sebuah restoran mewah. Di sana Sakha sudah menunggu di depan untuk menyambut mereka.
Sakha lalu menggandeng Rainun untuk masuk ke privat room, sementara Raihan yang mendorong stroler Lili berjalan bersama Sofia di belakang mereka.
"Selamat datang, ayo silahkan duduk" sambut papi Sakha.
"Apa kabar om, tante?" Raihan memulai bersalaman dengan ke dua orang tua Sakha.
"Kami berdua baik nak. Bagai mana kabar kalian semua?" tanya papi Sakha.
"Kami semua baik" jawab Raihan.
"Ayo, ayo silahkan duduk" ajak papi Sakha.
"Apakah ini putri kalian? Kemarilah sayang, ikut omi" mami Sakha mengambil Lili dari strolernya. "Lihatlah opi gadis cantik ini" mami Sakha mendekatkan Lili pada papi Sakha yang ada di sebelahnya.
"Iya lihatlah, dia cantik dan begitu mirip dengan ayahnya" jawab papi Sakha.
"Beri aku hadiah opi, bukankah opi belum memberikanku hadiah?" ujar mami Sakha yang menirukan suara anak kecil berbucara.
"Tentu saja, opi akan mengirimkan hadiah untukmu besok ya sayang" jawab papi Sakha. Mereka berdua sesaat asyik bermain dengan Lili yang anteng di gendongan mami Sakha.
"Raihan, Sofia, Rainun. Papi mengundang kalian ke mari sebenarnya untuk membicarakan tentang pertunangan Rainun dan Sakha" papi Sakha memulai pembicaraan.
"Sebelumnya secara tidak resmi Sakha sudah melamar Rainun. Namun kami sebagai orang tua merasa belum lengkap jika lamaran itu tidak di lakukan secara resmi" lanjutnya.
"Bagai mana nak? Kapan kira - kira kalian bisa meluangkan waktu untuk acara lamaran sekaligus pertunangan adik - adik kalian?" tanya papi Sakha.
"begini pi, mi. Sejujurnya minggu depan saya, Sofia dan Lili akan pergi ke Singapura karena ada pekerjaan di sana. Mungkin sekitar satu atau dua bulan" jelas Raihan. "Bagai mana jika acaranya di lakukan setelah kami pulang dari Singapura?" imbuh Raihan.
"Baiklah, kalau begitu. Kita putuskan lagi tanggalnya setelah kalian kembali dari Singapura" ujar papi Sakha. Mereka semua mengangguk setuju.
"Ah iya ini apakah kalian sudah bertemu sebelumnya?" tanya papi Sakha. "Kenalkan ini Toni, kakak angkat Sakha" papinya memperkenalkan.
"Ah selama ini kami mengenalnya sebagai asisten Sakha" ujar Raihan.
"Ya memang hanya keluarga inti yang tau kalau Toni adalah anak angkat kami." papi Sakha tersenyum. "Tetapi kalian harus tau sekarang karena akan menjadi keluarga kami" lanjutnya.
Mereka makan malam ditemani dengan obrolan yang terus mengalir.
...****************...
__ADS_1
"Non ada tamu. Katanya supir dari pak Hendrawan" kata Simbok pada Rainun yang sedang bersantai bersama Lili setelah seharian bekerja di kantor.
"Supir pak Hendrawan? Baiklah aku akan menemuinya. Titip Lili sebentar ya mbok, kak Sofia sedang mandi" Rainun kemudian berjalan menuju ke ruang tamu.
"Nona, ini ada titipan dari tuan Hendrawan" ujar Si supir.
"Ah iya pak. Ini titipan apa?" tanya Rainun.
"Mm itu katanya hadiah untuk Lili" jawab Si supir.
"ooh begitu, baiklah terima kasih pak" kata Rainun. Si supir kemudian pamit dan meninggalkan rumah Rainun.
"Apa itu Rai?" tanya Sofia yang kini sudah bersama Lili.
"Hadiah dari papi untuk Lili" Rainun menyerahkan papper bag itu pada Sofia. Sofia kemudian membuka isi dari papper bag yang di berikan Rainun.
"Wah ini perhiasan dan sebuah buku tabungan?" ujar Sofia. Ia kemudian membuka buku tabungan "Hah apa aku tak salah lihat?" Sofia mengucek matanya.
"Apa sih kak?" tanya Rainun yang penasaran. Sofia lalu memberikan buku tabungan yang di pegangnya. Rainun membaca buku itu dengan seksama.
"Rekening tabungan atas nama Calista Qiana Wiraja . Hah benarkah ini isinya dua puluh lima juta? Astaga banyak sekali" Rainun ikut kaget.
"Waah kau dapat hadiah jangka panjang dari opi mu nak" ujar Sofia.
"Iya kau benar. Sekarang kakak dan abangmu hanya tinggal menabung di rekening itu untuk pendidikan Lili kedepannya. Bagaimana papi Sakha bisa membuatkan rekening tabungan langsung atas nama Lili ya? Ah kakak akan menelfon papi Sakha dulu untuk berterimakasih" Sofia masuk kekamarnya untuk mengambil ponsel dan menghubungi papi Sakha.
"Lihatlah Lili, betapa banyak orang yang menyayangimu" Rainun membelai pipi Lili yang tertidur di atas baby bouncer.
...****************...
"Aku akan rindu Lili" Rainun memeluk Lili yang ada di gendongannya. Ia sangat sedih karena harus berpisah dengan Lili untuk sementara waktu. Rainun kemudian memberikan Lili pada Sofia.
Kini mereka ada di bandara untuk mengantarkan Raihan, Sofia juga Lili pergi ke Singapura.
"Kau yakin tak ingin menyewa pengasuh untuk membantu menjaga Lili di sana kak?" tanya Rainun.
"Tentu saja, lagi pula aku hanya akan berdiam di penthouse saja bersama Lili saat abangmu bekerja. Kau hati - hati di rumah ya Rai" Sofia memeluk adik iparnya itu.
"Tak usah khawatir kak, aku akan baik - baik saja. Kalian jaga diri baik - baik ya" ujar Rainun yang kini memeluk abangnya.
"Datanglah ke Singapura jika ada waktu senggang" kata Raihan. Rainun mengangguk menjawabnya.
"Aku titip Rainun ya bro" Raihan bersalaman dengan Sakha.
"Tenang saja bang, aku akan menjaganya. Berhati - hatilah di sana" ujar Sakha.
__ADS_1
"Terima kasih juga sudah meminjamkan penthousemu" kata Raihan. Keluarga kecil itu akan tinggal di penthouse hotel milik Sakha.
"Kalian tinggal masuk saja. Aku sudah menghubungi asistenku yang ada di hotel" ujar Sakha. "Lili, jadilah anak baik karena ibunmu akan mengurusmu sendiri jika tak ada ayahmu. Uncle dan aunty akan berkunjung jika sedang senggang. Uncle akan merindukanmu gadis kecil" Imbuhnya.
"Kau jagalah kesehatan" kata Sofia pada Sakha.
"Iya kak. Jika butuh sesuatu atau butuh pengasuh untuk membantu merawat Lili di sana bilang saja padaku. Aku akan mengirimkannya untukmu" kata Sakha.
"Mm baiklah aku akan menghubungimu jika terdesak" ujar Sofia terkekeh.
Keluarga kecil itu kemudian masuk ke ruang tunggu sebelum masuk ke dalam pesawat. Meninggalkan dua sejoli yang tampak sedih karena harus berjauhan dengan gadis kecil kesayangan mereka.
"Kau tak bekerja hari ini kak?" tanya Rainun. Kini mereka sedang di perjalanan menuju kantor Rainun.
"Tidak, aku mengambil cuti hari ini" jawab Sakha. "Kau akan bekerja sampai pukul berapa?" tanya nya kemudian.
"Aku ada meeting pukul dua siang nanti. Kau mau menemaniku bekerja?" tanya Rainun.
"Baiklah, aku akan menemanimu" Sakha tersenyum.
"Ah sudah tiga bulan aku tak pergi berdua denganmu kak" kata Rainun.
"Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?" tanya Sakha.
"Aku belum menemukan tempat yang ingin ku kunjungi sekarang ini" jawab Rainun. "Ah bagai mana jika besok kita menonton film di bioskop" ajak Rainun.
"Kau ingin mencoba privat room bioskop yang baru saja di buka?" tanya Sakha.
"Tentu saja" Rainun senang.
"Baiklah aku akan memesannya. Ajak saja sepupumu untuk menonton bersama. Ruangan itu bisa untuk delapan orang" kata Sakha. Rainun mengangguk setuju.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di halaman kantor Rainun.
"Kak Rai, ini PPT yang harus di periksa" kata Indah saat melihat Rainun berjalan menuju ruangannya.
"Baiklah aku akan memeriksanya sebelum meeting nanti" jawab Rainun sembari mengambil flash disk yang di berikan Indah.
"Eh kak Sakha kapan sampai? Bukankah sedang di LA?" tanya Indah.
"Iya aku sampai satu minggu lalu ndah" jawab Sakha. Kini Sakha sudah tak merasa canggung lagi pada sepupu - sepupu Rainun yang ada di kantor.
"Ah iya ndah, tolong minta OB untuk mengantar kopi ke ruanganku ya" pinta Rainun.
"Siap kak" ujar Indah. Ia kemudian kembali ke ruangannya sementara Rainun dan Sakha masuk ke ruangan Rainun.
__ADS_1