
Satu minggu setelah Lili berada di rumah. Raihan mengadakan acara aqiqah. Ia mengundang keluarga juga tetangga untuk sama - sama mendoakan Lili. Acara berlangsung dengan lancar dan khidmad.
Lili begitu rewel setelah acara aqiqah selesai di adakan. Semua anggota keluarga cukup kelimpungan di buatnya karena ia tak berhenti menangis. Berbagai cara sudah di coba agar bayi mungil itu tenang namun gagal. Mereka berganti - gantian menggendong Lili namun tak ada yang berhasil menenangkan.
"Mungkin Lili kelelahan bu" ujar Simbok pada mama Sofia yang juga kewalahan menenangkan cucunya itu.
"Apa sebelumnya pernah seperti ini? Apa kita bawa ke rumah sakit saja? Mungkin ada yang sakit" usul papa Sofia yang khawatir.
"Assalamualaikum" seseorang baru saja datang. Ia kemudian langsung menuju ke ruang keluarga.
"Kapan kau datang kak?" tanya Rainun yang menyadari kehadiran Sakha.
"Baru saja. Maaf ya aku terlambat karena ada hal penting yang harus ku urus" ujar Sakha. "Ada apa? Kenapa Lili menangis seperti itu?" tanya Sakha yang melihat sedikit kegaduhan dan tangisan kencang Lili.
"Dia sudah sepuluh menit menangis kencang. Awalnya hanya merengek setelah tamu - tamu pergi, lama kelamaan jadi seperti itu tangisannya" keluh Rainun yang khawatir dengan keponakannya.
"Benarkah?" Tanya Sakha. Rainun lalu membawa Sakha ke dekat Lili.
"Assalamualaikum keponakan uncle yang cantik" Sapa Sakha pada Lili yang kini berada di gendongan Sofia. Perlahan tangisan Lili mulai reda saat mendengar suara Sakha.
"Boleh aku menggendongnya kak?" tanya Sakha pada Sofia. Sofia mengangguk dan menyerahkan Lili pada Sakha.
"Maaf ya uncle baru datang. Uncle membawa hadiah yang sudah uncle janjikan untuk Lili. Lili tenang ya, jangan menangis lagi" Sakha berbicara pada Lili sambil menimang - nimangnya. Ajaib! Lili terdiam begitu Sakha menimang dan berbicara padanya.
"Apakah kau pawangnya Lili?" tanya Sofia heran.
"Sepertinya Lili menunggu unclenya" kata mama Sofia. Kini semua orang di sana bernafas lega karena tangisan Lili yang sudah berhenti.
"Apa kau melakukan sihir pada anakku?" tanya Sofia yang masih penasaran.
"Mungkin dia menanti janjiku padanya" Sakha tersenyum. Ia lalu mencium Lili yang ada di gendongannya.
"Uncle berikan pada ibun ya hadiah untuk Lili" Sakha kemudian memberikan sebuah kantung pada Sofia. Sofia yang penasaran langsung membuka hadiah itu.
"Wahh kalung dan gelang tangan emas" kata Sofia. "Terima kasih banyak uncle" lanjutnya.
"Ajari aku bagaimana cara menenangkan Lili, bro. Aku sebagai ayahnya sedikit tersakiti karena Lili begitu nurut padamu" Raihan terkekeh.
"Aku bahkan tidak tau kenapa dia begini bang. Lili jangan rewel lagi ya, uncle sudah menepati janji uncle pada Lili" ujar Sakha.
"Sepertinya kau sudah harus cepat menikah nak" kata papa Sofia yang mengundang gelak tawa. Rainun tersipu ketika mendengar kata - kata papa Sofia itu.
"Kau sudah makan? Makanlah dulu" ujar Raihan. Sofia kemudian menerima Lili yang sudah tenang kembali ke gendongannya.
Rainun kemudian mengajak Sakha ke ruang makan. Ia mengambilkan nasi juga lauk yang ada di sana.
"Aneh, kenapa Lili sangat nurut padamu?" tanya Rainun yang kini duduk di sebelah Sakha setelah mengambilkan minum untuk Sakha.
__ADS_1
"Terima kasih sayang" Sakha menerima piring berisi makanan yang di ambilkan Rainun. "Aku juga tidak tau sayang kenapa dia begitu" jawab Sakha.
"Apa karena makanan yang selalu kau masak untuknya?" tanya Rainun. Pasalnya selama trimester pertama hampir setiap hari Sofia ingin makan makanan yang di buat Sakha.
"Mungkin saja. Dia tau siapa yang membuat masakan untuk memenuhi keinginannya" Sakha tersenyum.
"Kapan kau membeli hadiah untuk Lili kak?" tanya Rainun.
"Aku hanya menelfon toko perhiasan langganan mami, lalu mereka mengirimkannya ke apartemen" ujar Sakha. Rainun mengangguk mengerti.
"Setelah ini kau mau ke mana kak?" tanya Rainun.
"Tidak kemana - kemana. Aku akan bermain dengan Lili" jawab Sakha.
"Lili yang masih bayi saja kau ajak main, sekarang kau sudah melupakanku?" tanya Rainun sedih.
"Apa kekasihku ini cemburu dengan keponakannya?" Sakha tersenyum.
"Tentu saja, aku merasa di duakan" Rainun menegerucutkan bibirnya.
"Baiklah, lalu kekasihku ini apa ingin pergi denganku?" tanya Sakha.
"Aku ingin menonton film di bioskop kak. Ada film baru tayang yang ingin aku tonton" ujar Rainun.
"Apa kau sudah membeli tiketnya?" tanya Sakha.
"Kita dapat tiket pukul tujuh lima belas menit malam kak" kata Rainun.
"Baiklah sayang, kita akan berangkat sehabis shalat magrib nanti" kata Sakha.
"Lalu kau tak mandi sore ini?" tanya Rainun.
"Tentu saja aku akan menumpang mandi di sini. Aku kan selalu membawa stok pakaian di mobil" jawab Sakha.
"Ah iya aku lupa" Rainun menepuk dahinya. Sakha kemudian meneyelesaikan makan siangnya, setelahnya ia menuju ke ruang keluarga untuk mengobrol dengan Raihan, mama dan papa Sofia.
"Lili masih tidur kak?" tanya Rainun yang masuk ke kamar Lili.
"Iya, dia masih tidur setelah menyusu tadi. Sepertinya dia benar - benar kelelahan karena banyak di gendong saat acara tadi" ujar Sofia.
"Kasihan sekali gadis kecil aunty ini" Rainun membelai dahi Lili yang tertidur pulas.
"Kenapa tidak di lepas saja bedongnya?" tanya Rainun.
"Bedong ini justru membantunya agar tidur lebih nyenyak" jelas Sofia. Rainun mengangguk mengerti. Mereka kemudian keluar dari kamar Lili dan bergabung di ruang keluarga untuk mengobrol bersama.
Malam itu Sakha pergi berdua bersama Rainun. Mereka menonton Film yang sudah Rainun pesan tiketnya.
__ADS_1
"Terima kasih sudah menemaniku di sela kesibukanmu kak" ujar Rainun.
"Maafkan aku ya sayang, karena akhir - akhir ini aku lebih sibuk dari biasanya" Sakha membelai kepala Rainun. "Apa yang ingin kau lakukan setelah ini?" tanya Sakha.
"Aku hanya ingin berkeliling - keliling denganmu saja" kata Rainun.
"Baiklah tuan putri" Sakha tersenyum. Mereka lalu berjalan menuju ke parkiran. Sakha mengemudikan mobilnya santai, mereka lalu berhenti di sebuah kedai jagung dan ubi bakar.
"Aku ingin makan jagung bakar. Kau mau?" tanya Sakha.
"Tentu saja kak" jawab Rainun.
Tring.....
Ponsel Sakha berdering ketika mereka menunggu pesanan jagung bakar.
"Aku akan memgangkat telfon dari Toni, sayang" ujar Sakha. Ia kemudian mengangkat telfon lalu berbicara dengan Toni. Wajah serius Sakha muncul ketika mendengar penuturan dari Toni itu. Mereka berbicara sekitar sepuluh menit, kemudian Sakha menghentikan sambungan telfonnya.
"Ada apa kak? Kenapa wajahmu berubah seperti itu?" tanya Rainun sedikit khawatir.
"Aku harus ke LA besok pagi sayang. Mungkin akan lama, sekitar dua atau tiga bulan" ujar Sakha.
"Kenapa lama sekali?" tanya Rainun. Wajahnya berubah sedih.
"Banyak kekacauan karena orang dalam di sana. Aku harus membereskannya dengan mengetahui siapa dalangnya" wajah Sakha nampak geram. Ia kemudian memandang kekasihnya yang tampak sedih.
"Maaf sayang, aku janji akan kembali tepat waktu. Akan ku usahakan secepatnya untuk membereskannya" ujar Sakha.
"Tak apa kak. Berjanjilah padaku, berhati - hati di sana dan selalu berikan kabar untukku" Rainun menggenggam tangan Sakha.
"Aku berjanji sayang" jawab Sakha.
"Apakah ada orang yang sudah di curigai?" tanya Rainun.
Sakha mengangguk. "Direktur pemasaran yang mencoba memainkannya" lanjutnya.
"Apa motifnya?" tanya Rainun yang penasaran.
"Itu yang masih harus ku selidiki sayang" jawab Sakha.
"Kau dengan pak Toni atau sendiri di sana kak?" tanya Rainun lagi.
"Dengan Toni saja. Aku tak ingin menimbulkan kecurigaan saat memulai penyelidikan" jawab Sakha. Rainun mengangguk mengerti. Mereka kemudian menikmati jagung bakar yang sudah tersaji di depan mereka sembari mengobrol santai.
...****************...
"Bawa gadis itu padaku bagaimanapun caranya! Aku sudah tidak tahan melihatnya bersama pria lain. Dia itu wanitaku, hanya aku yang bisa memilikinya!" Pria itu tampak geram.
__ADS_1
"Baik bos aku akan segera membawanya padamu" jawab si anak buah yang selama ini ditugaskan untuk mengawasi gadis yang diincar oleh bos nya.