
Tepat pukul satu siang, para pegawai, Mas Adi, mbak Salma dan Mbak Ani berangkat pulang bersama - sama. Sebelumnya mereka sudah makan siang bersama.
Rainun dan sepupu yang masih menginap di sana kemudian membereskan barang - barang untuk berpindah tenda.
Kini mereka menyewa dua buah tenda berkapasitas empat orang. Satu tenda diisi oleh Rainun, Indah dan Fitri sedangkan tenda sebelahnya diisi oleh mas Surya, Sakha, Bagas dan Bara.
"Kenapa terasa sekali sepinya" kata Bara.
"Kau benar, terasa sepi sekali saat mereka semua sudah pulang" timpal Bagas.
"Apa yang akan kita lakukan?" tanya mas Surya kemudian.
"Bagai mana jika tubing?" ajak Indah. Tubing adalah olah raga air seperti rifting atau arung jeram namun menggunakan ban yang diikat berderet memanjang.
"Baiklah. Ayo kita berangkat" ajak Bara.
"Kalian berangkatlah, aku akan menemani kak Sakha meeting sebentar lagi" jawab Rainun.
"Lagi?" tanya Fitri.
"Iya masih ada satu sesi lagi katanya" jawab Rainun. Mereka mengangguk mengerti.
Rainun kemudian menyusul Sakha yang berada di saung tempat mereka tadi berkumpul. Ia membawa dua botol minuman juga beberapa makanan ringan.
"Kemana yang lain?" tanya Sakha saat melihat Rainun datang sendiri.
"Mereka pergi untuk tubing" Jawab Rainun. Ia kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Sakha.
"Kau tidak ikut?" tanya Sakha.
"Tidak, aku akan menemanimu di sini" jawab Rainun.
Sakha menggenggam tangan kekasihnya. "Maafkan aku karena tak bisa menemanimu. Aku malah harus meeting disini" kata Sakha. "Aku merindukanmu" lanjutnya.
"Tak apa, kau berada di sini saja sudah membuatku senang. Kau masih rindu? Padahal kita sudah bersama dari kemarin" Rainun tersenyum. "Walaupun selalu di ganggu oleh Talita. Ia seperti tak rela jika aku ada di dekatmu" lanjutnya.
"Dia sangat menggemaskan" kata Sakha tersenyum mengingat betapa lengket Talita padanya. Bahkan ada staf glamping yang mengira kalau Talita adalah anak Sakha.
"Memang aku tak menggemaskan?" tanya Rainun merajuk.
Sakha terkekeh melihat tingkah kekasihnya. "Kau juga menggemaskan" jawab Sakha sambil mengusap kepala kekasihnya itu.
"Suasana di sini sangat nyaman" kata Rainun.
"Kau benar. Disini sangat cocok untuk refreshing" jawab Sakha yang memperhatikan laptop di depannya.
"Pukul berapa kau akan meeting kak?" tanya Rainun yang ikut memperhatikan laptop Sakha.
"Sebentar lagi" jawab Sakha.
"Apa itu yang kau kerjakan?" Tanya Rainun yang melihat tulisan dalam bahasa asing.
"Ah ini beberapa proposal pengiriman barang" jawab Sakha.
"Bukankah itu hangeul?" Tanya Rainun.
"Iya kau benar. Kau mengerti?" tanya Sakha.
"Tidak, aku hanya pernah melihatnya di drama Korea" jawab Rainun. "Memang kau mengerti kak?" lanjutnya
"Tentu saja" jawab Sakha.
"Wuaah. Memang kau bisa berapa bahasa kak?" tanya Rainun kagum.
"Inggris, Mandarin, Jepang, Korea, Belanda, Jerman, Perancis, Spanyol dan Thailand. Selain bahasa itu aku biasa berkomunikasi dengan bahasa Inggris" jawab Sakha.
__ADS_1
"Dari mana kau belajar?" tanya Rainun.
"Otodidak. Mungkin karena aku juga terbiasa bolak balik ke sana juga berkomunikasi dengan kolega jadi lebih mudah memahaminya" jawab Sakha.
"Apa pak Toni dan sekretarismu juga menguasai berbagai macam bahasa sepertimu?" tanya Rainun.
"Iya mereka juga menguasainya" jawab Sakha. Rainun menggeleng - gelengkan kepalanya karena sangat kagum dengan kekasih juga orang - orang yang bekerja dengannya.
"Sayang, aku akan mulai meeting" kata Sakha. Rainun kemudian ikut menyimak apa yang di bicarakan Sakha dan koleganya. Mereka menggunakan bahasa inggris sehingga Rainun mengerti apa yang d bicarakan.
Rainun tampak antusias memperhatikan presentasi dari kolega Sakha. Sesekali ia berbisik pada Sakha untuk memberikan pendapatnya.
Setelah kurang lebih satu jam, akhirnya zoom meeting mereka selesai.
Tringggg......
Dering ponsel Sakha.
"Bos" Suara Toni di ujung telefon.
"hm" jawab Sakha singkat.
"Satu jam lagi anda akan zoom meeting dengan Mr. Richard" kata Toni.
"Hah? Lagi? Disaat libur begini aku sudah empat kali melakukan zoom meeting" keluh Sakha.
Rainun memandang Sakha, Ia tersenyum. "Ternyata kekasihku ini bisa juga menegeluh tentang pekerjaan" gumamnya.
"Aah Baiklah Baiklah" Sakha lalu memutuskan panggilan dari Toni. Ia kemudian menatap wajah Rainun yang tersenyum di sebelahnya.
"Maafkan aku sayang. Bukannya menemanimu menikmati liburan, aku malah sibuk dengan pekerjaanku" kata Sakha.
"Tak apa kak. Itu memang sudah tanggung jawabmu" kata Rainun. Ia membelai lembut rambut kekasihnya itu.
"Kau pasti bosan" ujar Sakha.
"Terima kasih sudah mengerti pekerjaanku sayang" Sakha menggenggam tangan kekasihnya. Mereka berbincang santai. Sesekali Rainun menyuapkan makanan ringan ke mulut Sakha.
"Kak, aku akan cuci tangan sebentar" Kata Rainun. Ia kemudian berjalan ke tepi sungai.
"Wah airnya sejuk sekali. Ah banyak kepiting dan udang rupanya" kata Rainun. Ia kemudian berdiri dan membiarkan kakinya terendam, ia melihat ikan kecil yang sedang mencoba melawan arus.
Grepp...
Sakha memeluknya dari belakang.
"Ah, kau mengagetkanku kak. Hampir saja aku terjungkal" kata Rainun.
"Mana mungkin aku membiarkanmu terjungkal" Sakha terkekeh. "Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Sakha.
"Aku sedang melihat - lihat saja" Rainun tersenyum.
"Terasa begitu nyaman. Lelahku bahkan hilang seketika" kata Sakha yang masih memeluk kekasihnya. Ia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Rainun.
"Kak Rai" Seru seseorang yang suaranya tak asing bagi Sakha dan Rainun. Mereka kemudian melihat ke sumber suara.
Bara, Indah dan Fitri melambaikan tangan. Mereka sedang Tubing di aliran sungai yang tak terlalu deras. Dibelakangnya ada mas Surya, Bagas dan satu staf yang mendampingi.
"Waah apakah itu menyenangkan?" Seru Rainun. Ia terkekeh melihat sepupunya yang bersantai mengikuti aliran sungai di atas ban masing - masing.
"Ini Seru. Sepertinya kami mengganggu kemesraan kalian" ledek Indah yang melihat Sakha masih memeluk Rainun dari belakang.
Rainun membelalakan matanya, teesadar kalau Sakha masih memeluknya.
"Nikmatilah waktu kalian. Bye!!!!!" Seru mas Surya melambaikan tangan. Mereka terus mengikuti aliran sungai itu hingga menghilang di balik tebing bebatuan.
__ADS_1
"Kau mau mencobanya?" tanya Sakha.
"Tidak. Aku sudah puas rifting kemarin" jawab Rainun. "Aku justru penasaran dengan air terjun yang katanya ada di dekat sini" kata Rainun.
"Memang ada?" tanya Sakha.
"Informasinya begitu" jawab Rainun. Rainun sangat menyukai keindahan air terjun. Itu mengukir kenangan terakhir yang manis bersama ke dua orang tuanya.
"Lima menit lagi aku akan mulai" Sakha melihat jam di pergelangan tangannya. "Kau mau belajar lagi?" seloroh Sakha.
"Ah tentu saja" jawab Rainun senang. Mereka kemudian kembali ke saung yang mereka tempati tadi.
...****************...
"Apa arangnya sudah terbakar dengan baik?" Tanya mas Surya yang mendekati Bara dan Sakha.
"Ini sudah sempurna. Dimana dagingnya?" tanya Bara.
"Ah ini. Aku akan membawanya ke sana" kata Indah membawa satu nampan besar daging dan frozen food. Malam ini mereka mengadakan acara barbeque.
"Suasana seperti ini memang paling cocok untuk barbeque" kata Bagas yang mendekat ke arah griller. "Sini biar aku bantu" Imbuhnya.
Keempat pria itu lalu bekerja sama memanggang daging dan frozen food lainnya. Sementara para wanita menyiapkan makanan pendampingnya.
"Bukankah kau kemari dengan supir dan body guardmu kak? Kenapa mereka tak pernah terlihat?" tanya Bara yang penasaran.
"Memang tugas mereka begitu. Mengawasi tanpa terlihat" ujar Sakha.
"Wah wah wah. Lalu apa mereka tak makan?" tanya Bara lagi.
Sakha tersenyum mendengarnya. "Tentu saja makan, mereka kan manusia. Mereka bisa mencari makanan mereka sendiri" jelas Sakha.
"Kau ini kenapa kepo sekali dengan body guard kak Sakha?" kata Bagas.
"Bukan begitu, aku hanya penasaran saja. Lagi pula kasihan kan kita lagi makan enak gini mereka tak di bagi" kata Bara.
"Kalau begitu kita sisakan saja untuk mereka. Lagi pula ini juga terlalu banyak" kata mas Surya. Sakha tersenyum mendengarnya.
"Mereka begitu peduli bahkan pada orang yang tak mereka kenal" batin Sakha. Mereka dengan cepat menyelesaikan proses pemanggangan. Tak lupa menyiapkan dua piring penuh daging dan makanan lain untuk supir dan body guard Sakha.
"Panggilah salah satu anak buahmu untuk mengambil makanan ini kak" pinta Rainun. Sakha mengangguk.
Ia kemudian menekan satu tombol kecil yang ada di jam tangannya.
"Kemarilah" ucap Sakha. Mereka tak tau Sakha sedang berbicara pada siapa. Tak sampai dua menit, salah satu anak buah Sakha sudah muncul di hadapannya. Semua sepupu Rainun terperangah.
"Ada apa tuan?" tanya nya.
"Bawalah ini dan nikmati bersama yang lainnya" perintah Sakha. Anak buahnya dengan patuh menuruti perintah bosnya itu.
"Terima kasih tuan" ucapnya lalu pergi.
"Bagai mana kau memanggilnya? Apa kalian memiliki telepati?" tanya Fitri yang masih bingung.
"Ahh itu dengan ini" Sakha mengangkat tangannya yang dilingkari sebuah jam tangan.
"Itukan jam tangan?" kata Indah heran
"Apakah itu peralatan mata - mata?" tanya Bara yang juga kaget.
"Oh, fungsi utamanya adalah untuk berkomunikasi dengan mereka. Jam hanya pendukung saja untuk menyamarkannya" jelas Sakha.
"Ah luar biasa sekali" kata Indah yang masih tercengang.
"Aku baru sekali ini melihat langsung alat seperti itu" kata Bagas tak kalah tercengang.
__ADS_1
"Ahh kalian ini kenapa? Ayo kita makan. Aku sudah lapar" kata Rainun. Mereka kemudian makan sembari bersenda gurau. Sesekali para pria membahas tentang peralatan ajaib milik Sakha.