Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
72. Permintaan Raihan


__ADS_3

Delapan hari berada di rumah sakit, akhirnya Sakha di perbolehkan untuk pulang. Rainun yang sudah pulang dua hari sebelumnya, kini kembali datang untuk menjemput Sakha.


"Kenapa kau tak pulang ke rumah mami dan papi dulu untuk beristirahat beberapa waktu?" Tanya Rainun yang membantu membereskan barang - barang Sakha.


"Aku sudah sehat. Bahkan tangan dan kepalaku sudah baik - baik saja" jawab Sakha.


"Dia itu memang keras kepala" sungut mami Sakha yang juga sedang membereskan barang - barang Sakha bersama Rainun.


"Mami saja yang tinggal bersamaku di apartemen kalau begitu" jawab Sakha.


"Lalu papimu? Siapa yang akan mengurusnya di rumah?" tanya mami Sakha.


"Mami juga kenapa tak pernah membiarkan papi mandiri?" jawab Sakha.


"Ya namanya juga sudah menikah. Kemanapun papimu pergi, mami akan menemani. Kau juga nanti akan merasakan jika sudah menikah" ujar mami Sakha.


"Aku juga tak bisa berlama - lama diam seperti ini mi. Aku sudah gatal ingin berkerja, lagi pula kasihan kak Toni jika terlalu lama mengerjakan semuanya sendiri" kata Sakha. Mami Sakha akhirnya mengalah setelah berdebat dengan Sakha, ia juga memikirkan bagai mana lelahnya Toni mengurus semuanya sendiri.


"Kalau begitu, biar kakakmu tinggal di apartemenmu untuk sementara waktu" syarat dari mami Sakha. Sakha mengangguk setuju dengan syarat maminya itu. Lagi pula, tanpa di mintapun Toni pasti akan tinggal dengannya sementara waktu mengingat kondisi Sakha yang masih belum benar - benar sehat.


"Kalian juga kenapa sih tidak tinggal bersama saja. Malah membeli apartemen sendiri - sendiri" sungut maminya.


"Ya kami kan ingin memiliki privasi sendiri - sendiri mi. Lagi pula apartemen itu kan salah satu investasi dan apartemen kami juga tak berjauhan" ujar Sakha.


"Ah kalian berdua itu sama saja, sama - sama keras kepala" Mami Sakha mengakhiri perdebatan itu. Rainun hanya tersenyum melihat ibu dan anak yang sering kali berdebat itu.


"Ada apa sih mi?" tanya papi Sakha yang baru saja masuk ruangan bersama Toni.


"Anakmu itu, kekeh ingin pulang ke apartemen. Tak mau pulang bersama mami dan papi ke rumah" jawab mami Sakha yang masih sewot.


"Biarlah mi, aku akan menjaga Sakha di apartemen" ujar Toni.


"Iya mi, biarkan saja Sakha pulang ke apartemennya. Apa yang kau cemaskan? Ada kakaknya yang menjaganya." kata papi Sakha.


"Ah kalian bertiga memang ya, selalu saja saling melindungi. Rai, esok kau harus memihak mami, mami selalu saja kalah dengan tiga pria ini" kata mami Sakha yang membuat papi, Sakha, Toni dan Rainun terkekeh.


Setelah berkemas, mereka langsung saja pulang ke kota masing - masing. Mami dan papi Sakha langsung kembali ke rumah karena ada pekerjaan yang harus di urus oleh papinya. Sementara Rainun, Sakha dan Toni kembali ke kota mereka.


"Kak, aku akan ke rumah Rainun. Aku rindu dengan Lili" pinta Sakha pada Toni di perjalanan.


"Istirahat saja di apartemenmu. Besok aku akan berkunjung bersama Lili" ujar Rainun.


"Benar kata Rainun, lebih baik kau iatirahat dulu di apartemen" timpal Toni.


"Baiklah kalau begitu. Tapi berjanjilah kau akan berkunjung bersama Lili esok" pinta Sakha.


"Iya iya aku berjanji" Rainun tersenyum.


Keesokan harinya, Rainun berkunjung ke apartemen Sakha bersama Raihan, Sofia dan juga Lili tentunya.


"Keponakan kesayangan uncle" Sakha memeluk Lili yang baru Rainun letakkan di pangkuannya.

__ADS_1


"Lili tampaknya juga merindukanmu kak. Lihatlah, dia tersenyum dan terus menatapmu" ujar Rainun yang melihat Lili tersenyum saat memandang Sakha.


"Kau rindu dengan unclemu yang tampan ini ya sayang" Sakha kembali memeluk Lili.


"Lihatlah betapa narsisnya unclemu itu Li" Rainun terkekeh.


Sakha melepas rindu dengan keponakan kesayangannya itu. Sementara Raihan dan Sofia tampak berbincang serius di ruang tamu bersama Toni. Sebelumnya Raihan dan Sofia juga sudah menyapa dan mengobrol sebentar dengan Sakha yang kini berada di ruang tv.


"Maafkan aku om, tante, Toni, jika permintaanku ini merepotkan di tengah - tengah kondisi Sakha yang masih belum stabil" ujar Raihan.


"Om dan tante mengerti kekhawatiranmu sebagai kakak. Jika mereka setuju, maka kita akan melaksanakannya segera" ujar papi Sakha melalui panggilan vidio. Mereka mengobrol sebentar sebelum akhirnya panggilan vidio itu dihentikan.


"Lebih baik kita langsung bicarakan saja dengan Sakha" usul Toni "Apa Rainun sudah tau tentang rancana kalian ini?" tanya Toni.


"Dia juga belum tau" jawab Raihan.


"Baiklah kalau begitu kita bicarakan bersama mereka" Toni kemudian menuju ke ruang tv diikuti oleh Raihan dan juga Sofia.


"Ada apa? Kenapa tampak serius sekali?" tanya Rainun yang melihat ketiga kakaknya datang ke ruang tv.


"Sakha, Rainun, ada yang ingin kami bicarakan" Toni membuka percakapan.


"Ada apa kak, bang?" tanya Sakha yang juga mulai serius.


"Begini, kami sudah berbicara dengan mami dan papi tentang permintaan Raihan" kata Toni.


"Ada apa bang?" tanya Rainun yang sudah penasaran.


"Abang meminta pada om dan tante untuk segera menikahkan kalian berdua" ujar Raihan. "Abang khawatir jika harus meninggalkan Rainun sendirian, sedangkan satu minggu lagi abang sudah harus kembali ke Singapura. Abang juga tak bisa mengajak Rainun ke sana karena kesibukannya. Jadi abang memintamu Sakha untuk menjaga Rainun, yang terbaik adalah dengan pernikahan kalian" lanjut Raihan.


Rainun dan Sakha hanya terdiam, masih berusaha mencerna perkataan Raihan dan Toni.


"Apakah tak terlalu terburu - buru? Bukankah banyak yang harus di siapkan?" kata Sakha yang mendapat anggukan dari Rainun.


"Kami sepakat untuk kalian melaksanakan ijab qabul terlebih dahulu. Pestanya akan di selenggarakan tiga bulan lagi, setelah abang dan Sofia kembali dari Singapura, selama waktu itu kalian berdua bisa menyiapkan pesta pernikahan kalian" jelas Raihan.


"Bagaimana? Kalian setuju?" tanya Toni lagi.


"Baiklah kalau begitu aku setuju" jawab Sakha mantap.


"Kau bagaimana Rai?" tanya Sofia.


"Jika ini yang terbaik dan akan membuat semuanya tenang, maka aku setuju" jawab Rainun.


"Alhamdulillah" Raihan menghembuskan nafas lega. Ia merasa tenang meninggalkan adik perempuan satu - satunya bersama pria yang begitu menyayangi Rainun.


"Baiklah kalau begitu besok kita urus semuanya di KUA. Kalian ingin menikah di mana?" tanya Toni.


"Aku terserah Rainun saja" jawab Sakha.


"Aku ingin menikah di rumah saja kak. Walaupun hanya ijab qabul, aku ingin mengundang keluarga dekat" jawab Rainun. Sakha dan yang lainnya mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Mas kawin apa yang kau inginkan?" tanya Sakha pada Rainun.


"Apapun pemberianmu akan aku terima kak" jawab Rainun tegas.


"Tak ada sesuatu yang kau inginkan? Misal berat emas sekian atau apa?" tanya Toni.


"Tidak kak. Apapun pemberian kak Sakha, akan aku terima" jawab Rainun tegas.


"Kalian ingin menikah di tanggal berapa dalam satu minggu ini?" tanya Raihan. Sakha dan Rainun kemudian melihat kalender di ponsel Rainun.


"Bagaimana jika hari sabtu, tanggal sepuluh oktober" ujar Sakha.


"Aku setuju" kata Rainun.


"Baiklah karena waktu yang di tentukan tinggal lima hari lagi, maka esok aku dan Sakha akan mengurus surat - surat pernikahannya. Kalian tolong siapkan segala keperluan untuk surat nikah" ujar Toni.


"Baiklah, aku dan Sofia akan menyiapkan acara di rumah" timpal Raihan. Akhirnya mereka sepakat membagi persiapan pernikahan yang mendadak ini. Mereka terus membicarakan persiapan pernikahan Sakha dan Rainun. Merka juga menelfon papi dan mami Sakha untuk mengabarkan hari pernikahan yang sudah di sepakati.


...****************...


"Kak, kau sudah urus balik nama yang ku minta?" tanya Sakha pada Toni.


"Sudah ku urus. Mungkin esok akan selesai" jawab Toni. "Apa mas kawinnya sudah siap?" tanya Toni.


"Mami sudah mengurus emas dan seserahan lain yang akan di bawa" jawab Sakha.


"Kapan mami dan papi datang? Apa harus aku jemput?" tanya Toni.


"Esok mereka akan sampai. Tak perlu, aku sudah mengirim body guard untuk mengawal rombongan" jawab Sakha.


"Baiklah aku akan menyiapkan beberapa unit apartemenku yang kosong untuk tempat menginap mereka nanti" ujar Toni.


"Beberapa unit di apartemenku juga kosong. kau bisa memakainya juga" kata Sakha.


"Siapa saja yang akan ikut ke sini?" tanya Toni.


"Ayah, ibu dan anak - anaknya. Papa, mama dan anaknya. Pakpuh, bupuh dan anak - anaknya. Mungkin sekitar delapan keluarga. Kau tau kan, papi hanya tiga bersaudara dan mami hanya dua bersaudara" jawab Sakha. Toni tersenyum mendengarnya.


"Kak?" Sakha menatap Toni yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Ada apa?" kini Toni melihat ke arah Sakha.


"Kau tak apa jika aku menikah duluan?" tanya Sakha.


"Tentu saja. Jodohmu sudah di depan mata, aku ikut senang atas pernikahanmu" jawab Toni.


"Terima kasih kak karena selalu mengurusku. Tolong jangan seperti ini terus kak, carilah pasangan untuk menemanimu. Mami dan papi juga menginginkan hal yang sama denganku" pinta Sakha.


"Jika sudah ada wanita yang tepat, aku pasti akan menikahinya" Toni tersenyum.


"Wanita seperti apa yang kau cari?" tanya Sakha.

__ADS_1


"Wanita yang shaliha. Yang penting dia bisa mengerti dengan pekerjaanku" jawab Toni.


"Kau harus mengurangi kegilaanmu dalam bekerja itu kak. Kasihan kakak iparku jika kau masih gila bekerja seperti ini" kata Sakha yang membuat Toni terkekeh.


__ADS_2