
"Bos, ada tamu yang ingin mengunjungi bos dan bertemu dengan nona bos" ujar Jo, body guard mereka.
"Siapa? Suruh mereka masuk" perintah Sakha. Jo kemudian keluar untuk mempersilahkan tamu - tamu itu masuk.
"Assalamualaikum" ucap mereka bersamaan. Wajah Sakha dan Rainun berubah menjadi sumringah mendengar suara - suara yang akrab di telinga mereka.
"Waalaikum salam" jawab Rainun, Sakha dan maminya bersamaan.
"Kak Rai" Indah langsung berlari memeluk Rainun.
"Aku rindu kak. Aku begitu khawatir saat mendengar berita buruk tentangmu" Kata Indah.
"Ndah, kau ini. Beri salam dulu pada maminya Sakha" bisik mas Surya. Ia dan yang lainnya sudah terlebih dahulu bersalaman dengan mami Sakha yang duduk di sofa.
"Ah iya tante, saya Indah rekan kerja kak Rainun" kata Indah sembari bersalaman dengan mami Sakha.
"Salam kenal ya semua, saya maminya Sakha. Kalian ini semua sepupunya Rainun ya?" tanya mami Sakha.
"Iya tante, kami semua sepupunya kak Rainun" ujar Bagas.
"Baiklah, silahkan nikmati waktu kalian. Tante akan beristirahat di kamar" ujar mami Sakha. Ia kemudian pergi ke kamar dan memberikan waktu pada Rainun juga para sepupunya yang datang. Sementara itu Rainun di bantu Indah dan Fitri menyiapkan camilan juga minuman untuk mereka semua.
"Bagai mana kabarmu Sakha? kami dengar kau sampai koma. Apakah sudah lebih baik?" tanya mas Surya.
"Sekarang sudah lebih baik mas. Berkat doa kalian semua" jawab Sakha.
"Syukurlah kalau begitu. Kami semua mencemaskanmu juga Rainun ketika mendapat kabar soal penculikan Rainun dan kecelakaan yang kalian alami" ujar mas Surya.
"Aku sampai - sampai langsung ingin datang ke sini malam itu kak, tapi sayang aku sudah berada di alam mimpi" kata Bara yang mengundang gelak tawa.
"Apakah kakimu baik - baik saja kak?" tanya Bagas sembari memijat - mijat kaki Sakha.
"Baik - baik saja, lebih baik rasanya saat kau pijat. Pijatanmu enak" Sakha tersenyum.
"Kalau dia memang turunan tukang pijat kak. Wajar saja pijatannya enak" kata Bara.
"Kau juga kan turunan tukang pijat" Bagas tak mau kalah.
"Sudah - sudah, aku juga turunan tukang pijat. Kan kakek buyut kita sama" kata Rainun yang membawa makanan. Tak ayal kata - katanya kembali memecah tawa.
"Oh iya. Mas Adi, mbak Salma juga mbak Ani menitipkan salam untuk kalian berdua. Mereka tak bisa datang karena harus jaga kandang" seloroh mas Surya.
"Kak Rai, kami juga membawa oleh - oleh sepesial untukmu, nih" Indah menyodorkan satu kardus berkas yang mereka bawa.
"Aku kira kardus itu berisi makanan" gurau Rainun.
"Itu adalah berkas yang harus kau tanda tangani. Sudah ku periksa, jadi tinggal tanda tangani saja" ujar Indah.
"Terima kasih ya karena sudah menghandle pekerjaanku. Kalian memang yang terbaik" ujar Rainun yang bersyukur karena ada sepupu - sepupunya yang selalu menghandle pekerjaannya dengan baik.
"Sepertinya ada aroma bonus lewat di hidungku" seloroh Bara.
"Bisa - bisanya di saat seperti ini kau minta bonus Bar?" Fitri menggelengkan kepalanya.
"Tenang saja, nanti aku yang akan memberikan kalian reward" ujar Sakha.
__ADS_1
"Tak usah kak, aku hanya bercanda" Bara menjadi tak enak.
"Tak apa, nanti kalau aku sudah sembuh aku akan mengajak kalian jalan - jalan" kata Sakha.
"Benarkah? Wahhh terima kasih kak" Bara yang berada di samping Sakha refleks memeluk erat Sakha.
"Eeh ehh Bar, awas ada luka di bahu kak Sakha" Rainun sedikit panik melihat Sakha meringis ketika di peluk Bara.
"Ah benarkah? Maafkan aku kak. Aku lupa kalau kau sedang sakit" kata Bara yang membuat mereka terkekeh.
"Ayo silahkan di makan" kata Sakha mempersilahkan.
"Kapan kau di perbolehkan pulang kak?" Tanya Indah.
"Aku belum tau, mungkin dalam waktu dekat" jawab Sakha.
"Aku tak bisa membayangkan jika ada di lokasi kejadian. Aku sangat merinding ketika bang Raihan menceritakan kronologinya" kata Fitri
"Hm semuanya terjadi begitu cepat. Aku tak ingat apa - apa, yang ku ingat hanya melihat Rainun dalam kondisi kepala terluka namun dia masih bisa berteriak" ujar Sakha.
"Kalau berteriak kak Rainun memang juaranya. Suaranya melengking sampai sepuluh oktaf" ledek Bara.
"Kau benar, setengah sadar aku mendengar teriakan Rainun sangat kencang" Sakha terkekeh.
"Hm aku berteriak hanya waktu tertentu saja. Biasanya aku lebih suka berbisik" Rainun membela diri.
"Sayang, tolong punggungku gatal" ujar Sakha.
"Jangan di garuk kak, nanti lecet lagi. Sini aku beri gel dingin" Rainun dengan sigap mengoleskan gel dingin di punggung Sakha.
"Aku minta tolong Jo untuk membelikannya di apotek bawah tadi" ujar Rainun.
"Gas, sudah jangan memijat lagi. Aku jadi keenakan" seloroh Sakha pada Bagas yang sedari tadi masih memijat kaki Sakha. "Makanlah bersama yang lain, kalian pasti lelah karena menempuh perjalanan jauh" ujar Sakha.
"Tak apa kak, santai saja. Tanggung sedikit lagi ini" jawab Bagas yang masih telaten memijat Sakha.
"Sayang, tolong suruh Jo membelikan makan siang untuk kita semua. Kau memegang atm ku kan?" tanya Sakha.
"Iya, atm dan dompetmu ada padaku" jawab Rainun.
"Widiiihh calon ibu negara damage nya beda memang ya" ledek Bara.
"Iya doong. Makanya kau cepat cari ibu negara" Rainun menanggapi.
"Aku takut tak mampu memenuhi kebutuhan ibu negara. Aku saja boros" jawab Bara.
"Maka dari itu, fungsi ibu negara adalah mengatur keuangan buruh migran" seloroh Rainun.
"Maksudnya buruh migran?" tanya Bara bingung.
"Ya kalian para laki - laki yang bekerja bagai buruh migran" Jawab Rainun yang mengundang gelak tawa.
"Kalian mau makan apa?" tanya Rainun.
"Apa saja terserah" jawab mas Surya.
__ADS_1
"Sayang, aku mau makan ayam bakar" ujar Sakha.
"Kak, kau baru saja makan" Rainun kaget dengan permintaan Sakha.
"Aku merasa lapar lagi sayang" Jawab Sakha.
"Memang boleh makan banyak begitu?" Rainun sedikit takut
"Tak apa, aku akan baik - baik saja. Lagi pula ini masih di rumah sakit, kalau ada apa - apa kan ada dokter" kata Sakha yang membuat sepupu - sepupu Rainun terkekeh.
"Sudah lah Rai, turuti saja permintaan Sakha. Mungkin di mimpi panjangnya dia habis berlari jauh" seloroh mas Surya.
"Waah aku shock dengan nafsu makan kak Sakha kali ini" Rainun menggeleng - gelengkan kepala sambil berjalan menemui Jo. Sebelumnya ia menemui mami Sakha untuk menanyakan makan siang apa yang dia inginkan.
"Berkasnya apa harus selesai sekarang?" tanya Rainun. Ia baru saja kembali dan duduk bersama sepupu - sepupunya.
"Iya biar kami bawa kembali" jawab Indah.
"Baiklah akan aku selesaikan" Rainun kemudian mengambil pena pemberian Indah dan mulai menanda tangani berkas - berkas itu.
Sementara Rainun sibuk dengan tumpukan berkas, Sakha bersenda gurau dengan sepupu Rainun. Tawa berkali - kali pecah dalam obrolan mereka. Rainun senang melihat Sakha yang tampak nyaman bercanda dengan sepupu - sepupunya.
Tak lama kemudian makanan mereka sampai. Rainun memberikannya pada sepupunya. Ia kemudian menyiapkan untuk Sakha dan maminya.
Tok..
Tokk...
"Mi, makanannya sudah datang" Ujar Rainun yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Iya nak, mami akan makan bersama kalian" Mami Sakha kemudian berjalan keluar dan ikut bergabung dengan Rainun, Sakha juga sepupu - sepupunya.
"Kalian nampak dekat dengan Sakha" Mami Sakha membuka obrolan.
"Iya tante, kami beberapa kali pergi bersama - sama dengan kak Sakha dan kak Rainun" jawab Fitri.
"Padahal Sakha itu orang yang tertutup dengan orang lain. Tapi bersama kalian dia bisa tertawa lepas" mami Sakha tersenyum. Diikuti sepupu - sepupu Rainun yang juga tersenyum.
"Kau tak makan nak?" tanya mami Sakha pada Rainun.
"Aku akan menyuapi kak Sakha dulu mi" jawab Rainun.
"Kau makan dulu saja. Biarkan saja dia, dia kan baru makan" Mami Sakha menarik Rainun untuk makan bersamanya dan sepupu - sepupu Rainun.
"Ah baiklah mi" jawab Rainun. "Kak, aku makan duluan ya" kata Rainun pada Sakha.
"Iya, makanlah duluan. Suapi aku nanti" pinta Sakha.
"Mami saja yang menyuapimu" mami Sakha meledek.
"Aku mau di suapi Rainun saja mi, biar tangan mami tak lelah" jawab Sakha.
"Ah kau ini alasan saja" maminya tertawa.
Mereka makan siang bersama dengan obrolan santai yang sesekali mengundang gelak tawa.
__ADS_1