Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
49. Menara Eiffel


__ADS_3

"Kita mau ke mana kak?" tanya Rainun.


"Kita akan ke menara Eiffel" jawab Sakha.


"Benarkah?" Rainun terlihat bahagia. Tak lama, mereka sudah sampai. Mereka berkeliling sebentar dan mengambil beberapa foto. Setelah itu mereka berdua duduk di sebuah kursi yang menghadap ke menara indah itu.


"Waah benar - benar menara yang indah" Rainun takjub.


"Kamu suka di sini?" tanya Sakha.


"Aku lebih suka Indonesia. Di sini terlalu dingin" jawab Rainun. Sakha terkekeh mendengarnya. Ia lalu mengeratkan mantel Rainun karena cuaca yang dingin.


"Lihatlah itu hotel tempat kita menginap" ujar Sakha menunjuk sebuah bangunan yang lebih tinggi dari bangunan di sekitarnya.


"Bukankah sewanya akan sangat mahal dengan view menara Eiffel ini kak?" tanya Rainun. Sakha hanya tersenyum mendengar pertanyaan polos kekasihnya itu.


"Kamu tunggu di sini, aku akan beli coklat hangat sebentar di sana" Sakha menunjuk sebuah kedai yang tak jauh dari tempat mereka duduk.


"Kak, aku mau camilan" pinta Rainun.


"Baiklah. Tunggu di sini dan jangan kemana - mana" Sakha tersenyum lalu berjalan menuju ke kedai itu.


"Iya iya, aku mengerti. Lagi pula aku tak akan hilang kak" Rainun terkekeh melihat Sakha yang memperlakukannya seperti anak kecil.


"Andai tak dingin seperti ini, aku akan betah berlama - lama di sini" Rainun bermonolog. Ia kemudian mengeratkan mantel bulunya.


"Padahal sudah pakai baju berlapis - lapis tetapi masih terasa dingin. Kenapa juga mantel ini tak memiliki kancing" kata Rainun. Ia kemudian kembali menatap menara Eiffel di depannya. Tak lupa mengaambil beberapa foto untuk menjadi kenangan.


"Lain kali aku harus ke sini di musim panas, agar bisa menikmati keindahan kota Paris. Tentunya juga bukan perjalanan dinas agar bisa datang ke banyak tempat wisata" Rainun tersenyum membayangkannya. Rainun menunggu sekitar sepuluh menit.


Sakha tiba - tiba datang dari belakang Rainun dan langsung menyodorkan sebuah kotak berisikan cincin berlian pada Rainun. Sakha lalu mendekatkan wajahnya ke dekat telinga Rainun.


"Sayang, will you marry me?" ucap Sakha. Rainun tiba - tiba membeku. Ia tak menyangka akan mendapat kejutan lamaran di sini. Matanya mulai berkaca - kaca.


"yes I will" Rainun membalikan badan dan memeluk Sakha yang berada di belakangnya. Ia mulai menangis.


"Kenapa menangis? Jangan menangis sayang" Sakha mengeratkan pelukannya.


"Aku bahagia kak" ujar Rainun.


"Terima kasih karena sudah mau menerima lamaranku. Terima kasih karena mau berada di sampingku meskipun aku sibuk." kata Sakha bahagia. Rainun mengangguk menjawabnya.


Sakha kemudian mengendurkan pelukannya dan meraih tangan kiri Rainun. Ia memasangkan cincin berlian itu di jari manis Rainun. Terlihat kebahagiaan di wajah ke duanya. Momen itu tentu saja di rekam oleh Toni yang ternyata juga ada di sana.


"Apa kau merencanakan ini?" tanya Rainun.


"Iya, rencana ini muncul ketika aku melihatmu ada di sini" jawab Sakha.


"Terima kasih karena selalu membahagiakanku kak" ujar Rainun tulus.


"iya sayang, kau juga selalu memberikan kebahagiaan untukku" jawab Sakha. "Kau suka cincinnya?" tanya Sakha. Mereka berdua melihat cincin yang di pakai Rainun.


"Tentu saja" Rainun tersenyum. Ia kemudian menengok ke arah Toni yang berada di dekat mereka.


"Pak Toni, apakah cincin ini juga ada chip GPSnya?" Gurau Rainun. Toni dan Sakha terkekeh mendengarnya.


"Tidak nona, tetapi itu ada kamera tersembunyinya" seloroh Toni. Mereka semua tertawa.


"Ah ini pesananmu" Sakha memberikan sebuah gelas dan sebuah Croffle untuk Rainun.

__ADS_1


"Waahh, enak sekali" Rainun sangat senang. Mereka menikmati segelas coklat hangat dan croffle dalam suka cita.


Tringg.....


Ponsel Rainun berdering.


"Hallo bang" sapa Rainun ketika mengangkat panggilan vidio dari abangnya itu.


"Hai, kau sedang apa?" tanya Sofia yang berada di sebelah Raihan.


"Aku dan kak Sakha sedang di sini" Rainun membalikkan kameranya.


"Waah menara Eiffel" kata Raihan.


"Kalian belum tidur? Bukankah di sana sudah larut?" tanya Rainun.


"Hmm si baby tak mau diam, sepertinya ia merindukan suara aunty nya" kata Sofia.


"Aahh si baby, tidurlah kasihan ibunmu. Kau tau baby, uncle sudah membelikan banyak hadiah untukmu" kata Rainun.


"Waah terima kasih banyak uncle" Sofia tampak bahagia.


"hm, jaga kesehatan kalian yaa. Tak lama lagi uncle dan aunty akan pulang" ujar Sakha.


"Bukankah di sana dingin? Apa yang kalian lakukan di luar?" tanya Raihan.


"Taraaaaaaa kak Sakha baru saja melamarku bang" Rainun memamerkan cincin berlian di jari manisnya.


"Apa kau menerimanya?" tanya Raihan. Rainun mengangguk.


"Selamat ya Rai, Sakha. Semoga kalian bahagia selalu. Abang dan Kakakmu turut bahagia" kata Raihan, ia nampak terharu.


"Tentu saja, aku akan menunggumu untuk menghadapku" gurau Raihan. Mereka semua tertawa.


"Aah aku dan baby tertular hormon bahagia" kata Sofia.


"Memang tadinya kau tak bahagia kak?" tanya Rainun.


"iya, aku sedang kesal dengan abangmu yang tak menemukan rujak aceh. Padahal kakak ingin sekali" keluh Sofia.


"Kakakmu minta malam - malam begini Rai. Satu jam abang berkeliling tetapi semuanya sudah habis" Raihan tak kalah mengadu.


"Hahaha sudahlah jangan bertengkar selagi aku tak di sana. Nanti tak ada yang menemani baby melihat pertengkaran kalian" kata Rainun. Mereka semua tertawa.


"Baiklah kalau begitu, kau hati - hati di sana" kata Raihan.


"Iya kak, lagi pula aku kan memiliki body guard beserta bos nya" seloroh Rainun yang membuat mereka tertawa. Mereka kemudian menyudahi panggilan vidio itu.


"Ayo kita pulang, sepertinya aku akan membeku" ajak Rainun.


"Baiklah, calon istriku" kata Sakha. Rainun terkekeh mendengarnya. Mereka lalu menuju sebuah restoran untuk makan malam sebelum kembali ke hotel.


...****************...


"Kau yakin akan ikut?" tanya Sakha saat melihat kekasihnya sudah siap.


"Tentu saja, aku ingin menemani calon suamiku ini" Rainun bersemangat.


"Baiklah, bilang padaku kalau kau sudah lelah" pesan Sakha.

__ADS_1


Mereka kemudian sarapan bersama terlebih dahulu sebelum meeting bersama beberapa kolega Sakha.


"Apa kau selalu seperti ini?" tanya Rainun saat di perjalanan.


"Maksudnya?" tanya Sakha.


"Selalu bekerja seperti ini. Jadwalmu padat sekali melebihi selebriti" kata Rainun.


"Tidak juga. Aku pernah tidak ke kantor selama seminggu lebih" kata Sakha.


"Kenapa? Sakit?" tanya Rainun.


"Tidak, saat itu aku sedang suntuk saja" jawab Sakha.


"Lalu apa yang kau lakukan? Dan bagaimana pekerjaanmu?" tanya Rainun lagi.


"Aku hanya berdiam diri di rumah. Bermain game, dan masak apa yang aku inginkan. Pekerjaanku? Pekerjaanku di urus Toni dan beberapa asistenku" jawab Sakha.


"Wah apa pak Toni tak pernah libur?" tanya Rainun.


"Dia itu pria pecandu kerja. Bukan tak ada libur, dia yang tak mau libur. Baginya bekerja adalah liburan" jelas Sakha.


"Hah? Bagaimana bisa ada orang seperti itu. Bukankah kasihan wanita yang akan menjadi kekasihnya?" ujar Rainun.


"Ada, itu Toni. Maka dari itu ia belum pernah berpacaran. Padahal aku sudah sering mengingatkan kalau harusnya dia mulai mencari pasangan" kata Sakha.


Mereka sampai di sebuah kantor milik salah satu kolega Sakha.


"Ayo" Sakha menggandeng tangan Rainun masuk ke dalam kantor.


"Kenapa terus menggandengku? Banyak orang yang melihat. Nanti aku di kira ibu negara yang posesif" ujar Rainun berbisik.


"Biarkan saja, biar mereka tau kalau kau milikku" jawab Sakha cuek. Rainun menggeleng mendengar jawaban kekasihnya itu.


"Selamat datang tuan, silahkan masuk" sambut ramah seorang wanita dengan menggunakan bahasa inggris.


"Selamat datang tuan Sakha, tuan Toni. Bagaimana kabar kalian?" si pemilik perusahaan menyambut dengan Ramah.


"Kami baik tuan. Bagaimana dengan kabar anda?" tanya Sakha.


"Saya baik. Bagaimana dengan kabar papa anda? sudah sangat lama saya tak bertemu dengannya. Apa kegiatannya sekarang?"


"Beliau baik tuan. Sekarang beliau mulai beristirahat. Hanya memantau beberapa cabang perusahaan saja" jawab Sakha.


"Dia memang beruntung memiliki anak seperti kalian berdua yang sangat berbakat dan juga tekun. Baiklah silahkan duduk" pemilik perusahaan mempersilahkan. Mereka kemudian mulai meeting, Sakha begitu serius menyimak presentasi yang di sampaikan, sesekali dia berdiskusi dengan Toni yang berada di sampingnya.


"Aku beruntung bisa sering mengikuti kak Sakha seperti ini. Aku bisa mendapatkan banyak ilmu berbisnis secara cuma - cuma" kata Rainun.


"Apa yang kau catat sayang?" tanya Sakha.


"Ah ini hanya beberapa yang perlu ku pelajari lebih lanjut" jawab Rainun yang masih fokus menyimak.


"Tak usah mencatat, kau bisa minta salinan file nya saja pada sekretarisku jika memang butuh" kata Sakha.


"Memang boleh?" tanya Rainun.


"Tentu asal tak di sebar luaskan saja" Sakha tersenyum.


"Terima Kasih kak, kau yang terbaik" Rainun gembira.

__ADS_1


__ADS_2