
"Rai, kenapa kau tidur di sini?" Toni menepuk nepuk pundak Rainun yang tidur sembari duduk ,ia meletekkan kepalanya di pinggir ranjang tempat tidur Sakha. Toni baru saja menyelesaikan pekerjaannya setelah makan malam. Ia mendapati Rainun tidur seperti itu saat akan beristirahat di sofa dekat tempat tidur Sakha.
"Ah aku ketiduran kak" jawab Rainun.
"Tidurlah di kamar, nanti badanmu sakit. Jangan lupa untuk mengunci pintunya." ujar Toni.
"Baiklah kak" Rainun lalu masuk ke kamar yang ada di sana untuk tidur.
Rainun terbangun saat mendengar suara Toni sedang mengobrol dengan kedua body guardnya di ruang makan. Kebetulan ruang makannya terletak di depan kamar yang di tempati Rainun.
"Apa suara kami membangunkanmu?" tanya Toni ketika melihat Rainun keluar dari kamarnya.
"Ah tidak kak" jawab Rainun.
"Ini handuk, peralatan mandi dan baju untukmu. Kau mandi saja di sini, nanti tolong temani mami menjaga Sakha karena aku dan papi akan pergi meeting di dekat sini" jelas Toni.
"Baiklah aku mengerti kak" jawab Rainun. Ia sejujurnya senang jika berada di sini, karena ia memiliki teman untuk mengobrol. Jika berada di hotel sendiri, ia merasa kesepian.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu di kantor?" tanya Toni.
"Itu semua sudah di handle oleh rekan - rekanku kak" jawab Rainun.
"Jika ada berkas penting yang harus kau tanda tangani bilang saja padaku, biar body guard mengambil ke kantor dan mengantarkannya kesini" kata Toni.
"Iya kak, nanti aku akan berbicara lagi dengan rekanku" jawab Rainun. Rainun kemudian mengambil baju, handuk dan peralatan mandi yang sudah di siapkan. Ia kembali ke kamar dan mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamar.
"Kak Sakha. Apa kau sudah bangun?" Rainun melihat Sakha yang masih memejamkan mata.
"Aku sudah bangun sayang" jawab Sakha sambil memejamkan mata. Ia kemudian mengecup tangan Rainun yang ada di sebelahnya.
"Sayang, tolong panggilkan kak Toni. Aku ingin bersih bersih, aku sudah risih" pinta Sakha.
"Kau ingin mandi? Memang sudah bisa berjalan?" tanya Rainun.
"iya. Sepertinya bisa, aku bisa menggerakkan kakiku. Aku juga bisa duduk sendiri" ujar Sakha.
"Baiklah, aku akan memanggilkan kak Toni" Rainun kemudian pergi memanggil Toni yang masih mengobrol dengan dua body guardnya.
"Ada apa? Kau ingin mandi?" Tanya Toni yang kini sudah datang menemui Sakha.
"Iya aku sudah risih kak" jawab Sakha.
"Bagai mana jika ku lap - lap saja badanmu?" usul Toni.
"Tidak kak, aku ingin mandi saja. Tetap tak nyaman jika hanya di lap - lap saja" kekeh Sakha.
"Kau mau jalan atau mau ku gendong?" tanya Toni.
"Sepertinya aku sudah kuat berjalan" jawab Sakha. Ia kemudian mencoba duduk. Sakha duduk sekitar tiga menit, kemudian ia mencoba berdiri namun kakinya masih belum sepenuhnya pulih. Kakinya bergetar saat mencoba menopang berat tubuhnya.
"Ku gendong saja" Toni langsung menggendong Sakha di punggungnya. Sakha yanya bisa pasrah ketika Toni menggendongnya di punggung.
"Rai, tolong minta pakaian ganti untuk Sakha di ruang perawat" kata Toni.
"Eh, ku kira akan di lap - lap saja badan kak Sakha" Rainun kaget saat melihat Toni menggendong Sakha ke kamar mandi.
__ADS_1
"Anak ini tak akan puas jika hanya di lap - lap saja" jawab Toni. Sakha hanya tersenyum melihat ke arah Rainun.
"Baiklah aku akan mengambil pakaian ganti untuk kak Sakha. Ini handuk dan alat mandinya kak" Rainun mengambil handuk dan alat mandi yang tadi di beli Toni untuk Sakha.
"Kenapa tak minta bantuan bos?" kata salah seorang body guard yang menghampiri mereka bertiga usai mendengar sedikit kegaduhan.
"Tak apa, aku masih kuat menggendong Sakha walalupun tubuhnya sedikit lebih besar dari ku" seloroh Toni yang membuat Sakha, Rainun juga body guardnya tersenyum.
"Kau tolong jemput mami dan papi dengan mobilku. Supir mereka sedang pulang mengambil keperluan mami dan papi" ujar Toni. Ia kemudian masuk ke kamar mandi dan mendudukan Sakha di kursi yang ada di kamar mandi.
"Kau tunggu di luar saja kak" pinta Sakha.
"Kau yakin tak ingin aku mandikan?" tanya Toni. Ia sedikit khawatir jika meninggalkan adiknya yang masih sakit itu sendiri di kamar mandi.
"Tidak, kau tunggu di luar saja" pinta Sakha.
"Baiklah" Toni kemudian menyalakan keran air dan memastikan jika air yang keluar adalah air hangat. Ia juga menyiapkan sabun, shampo dan sikat gigi yang akan di pakai Sakha agar mudah di jangkau. Tak lupa baju ganti dan handuk sudah ia letakkan di tempat yang mudah di jangkau Sakha.
"Letakkan celana kotormu di keranjang ini. Jangan basahi kepalamu yang masih di perban itu. Tanganmu yang di gips itu juga jangan sampai basah" Toni mengingatkan. Sebelumnya ia sudah membuka baju Sakha.
"Iya iya, aku mengerti" jawab Sakha. Toni kemudian keluar dari kamar mandi. Ia terus saja berdiri di depan pintu kamar mandi karena mengkhawatirkan Sakha.
Setelah sepuluh menit, Sakha akhirnya membuka pintu.
"Sudah selesai? Kau bisa pakai celana sendiri" tanya Toni yang melihat Sakha sudah berganti celana. Ia kemudian menghanduki badan Sakha yang belum kering, lalu membungkus badan Sakha dengan handuk itu.
"Aku bisa pakai celana, tapi tak bisa memakai bajunya" jawab Sakha.
"Kepalaku sedikit pusing kak" kata Sakha. Toni dengan cepat menggendong Sakha kembali ke tempat tidurnya.
"Aku masih bisa mengurusmu. Tak perlu bantuan perawat" jawab Toni santai. Toni kemudian memakaikan pakaian untuk Sakha. Tak lupa ia menyemprotkan parfum untuk Sakha.
"Walaupun tak sedarah dan tak sekandung, mereka sangat dekat dan saling menyayangi seperti saudara kandung" batin Rainun yang melihat bagai mana Toni mengurusi Sakha.
Toni kemudian mengambil alat cukur untuk membersihkan kumis juga janggut Sakha yang mulai terlihat.
"Biar aku saja kak" Rainun mengambil alih.
"Memang kau bisa?" tanya Toni.
"Tentu saja" jawab Rainun.
"Baiklah kalau begitu aku akan zoom meeting sebentar" Toni kemudian meninggalkan Rainun yang mulai membersihkan kumis dan janggut Sakha.
"Bahkan dia masih mengurusku di tengah kesibukannya" lirih Sakha yang melihat Toni menatap layar laptop di ruang makan.
"Kau benar kak, kak Toni sangat menyayangimu" jawab Rainun.
"Maafkan aku karena merepotkan kalian" kata Sakha.
"Apa yang kau ucapkan kak? Kau sama sekali tak merepotkan kami" ujar Rainun. Ia mengusap usap tangan Sakha. "Jangan pernah lagi bilang kalau kau merepotkan ya sayang" pinta Rainun. Sakha hanya tersenyum sembari menunduk. Perasaannya campur aduk kini.
Tak lama kemudian mami dan papi Sakha sampai di ruangan Sakha.
"Bagaimana kondisimu boy?" papi dan mami Sakha memeluk Sakha bergantian. Rainun berpindah duduk di sofa, memberikan ruang untuk kedua orang tua Sakha mengobrol dengan putra mereka.
__ADS_1
"Aku sudah lebih baik mi, pi" jawab Sakha.
"Apa masih ada yang sakit? Kau sudah mandi? Siapa yang memandikanmu?" tanya maminya.
"Hanya kepalaku yang sesekali terasa sakit. Mungkin karena oprasinya. Kak Toni yang mengurusku tadi." ujar Sakha.
"Syukurlah kau baik - baik saja. Mami seperti orang gila rasanya saat melihatmu koma kemarin" kata mami Sakha.
"Sudah papi bilang kan mi, Sakha akan baik - baik saja. Dua putra papi itu pria yang kuat" kata papi Sakha. Maminya mengangguk setuju.
"Kau sudah makan Rai?" tanya papi Sakha.
"Sudah pi, Rainun sudah makan tadi" jawab Rainun.
"Terima kasih karena sudah membantu menjaga Sakha" Mami Sakha tersenyum.
"Iya mi, Rainun juga senang di perbolehkan ikut menjaga kak Sakha" jawab Rainun.
"Tentu saja, lagi pula tak lama lagi kau yang akan mengurus Sakha" papi Sakha terkekeh.
"Baiklah, papi akan pergi meeting bersama Toni. Tolong tetaplah di sini menemani mami untuk menjaga Sakha" pinta papi Sakha.
"Baiklah pi, dengan senang hati" Rainun tersenyum.
Papi Sakha bersama Toni kemudian pergi untuk meeting di luar.
Tak lama kemudian datang seorang perawat membawakan makanan untuk Sakha.
"Terima kasih sus" ujar Rainun yang menerima nampan berisi makanan untuk Sakha.
"Kau mau makan sekarang kak?" tanya Rainun.
"Tentu saja, aku bahkan sudah ingin makan dari malam tadi" jawab Sakha.
"Apa kau ingin masak makananmu sendiri juga?" mami Sakha meledek.
"Untuk sekarang sepertinya tidak, aku akan mati kelaparan jika harus memasak dulu" jawab Sakha.
"Kau suapi saja bayi besarmu itu Rai. Mami bosan menyuapinya" kata mami Sakha.
"Baiklah mi" Rainun dengan telaten menyuapi Sakha makan. Ia makan dengan lahap seperti orang yang tak makan selama tiga hari.
"Apa kau ingin makan lagi?" tanya Rainun.
"Apa masih ada?" tanya Sakha.
"Itu masih ada satu nasi bungkus yang di beli kak Toni tadi." jawab Rainun.
"Berikan padaku, aku akan memakannya" Sakha tersenyum. Rainun kemudian mengambilkan nasi bungkus dan kembali menyuapinya.
"Astaga Sakha. Kenapa makanmu banyak sekali?" mami Sakha heran melihat Sakha makan begitu banyak.
"Hanya tubuhku yang luka - luka mi. Lidah dan dan nafsu makanku sama sekali tak terluka kok" jawab Sakha yang membuat Rainun juga maminya tertawa.
"Bos, ada tamu yang ingin mengunjungi bos dan bertemu dengan nona bos" ujar Jo, body guard mereka.
__ADS_1
Rainun tertegun karena tak ada yang menghubunginya untuk berkunjung.