
"abang dan kakak pulang saja. Kasihan Lili sudah terlalu lama di tinggal" ujar Rainun siang itu. Ini adalah hari ke dua dari tragedi kecelakaan naas itu.
"Kau tak ikut kami pulang?" tanya Raihan
"Aku ingin menunggui kak Sakha. Aku ingin menjenguknya lagi di rumah sakit. Boleh kan bang kalau aku disini dulu?" Rainun meminta izin.
"Baiklah, abang dan kakakmu akan pulang. Kabari jika terjadi sesuatu" pinta Raihan. Ia masih khawatir dengan kejadian bertubi - tubi yang di alami adiknya kemarin.
"Iya, abang tenang saja. Disini aku akan aman, lagi pula pak Eriko sudah meminta dua body guard untuk menjagaku" ujar Rainun.
"Apa kau sudah benar - benar baik? Tak ada yang sakit? Lukamu sudah tak sakit?" tanya Sofia. Ia ragu untuk meninggalkan Rainun yang tak mau di ajak pulang, sementara di sisi lain putrinya yang masih bayi juga membutuhkannya karena sudah dua hari ia tinggalkan.
"Tidak kak, aku sudah baik - baik saja. Jangan khawatir" Rainun menenangkan.
"Baiklah kalau begitu kami akan bersiap untuk pulang" kata Raihan.
"Aku akan pergi ke rumah sakit sekalian mengantar kalian ke bawah" ujar Rainun.
...****************...
"Mami, papi" Rainun menyapa kedua orang tua Sakha yang sedang duduk di ruang makan kamar vvip tempat Sakha di rawat. Kini Sakha sudah di pindahkan ke ruang perawatan meskipun ia masih belum sadar.
"Kau sudah lebih baik nak?" tanya mami Sakha. Ia menyambut pelukan dari Rainun.
"Aku sudah lebih baik mi" jawab Rainun. "Aku akan melihat kak Sakha dulu mi, pi" Rainun kemudian berjalan menuju ranjang tempat Sakha terbaring. Ia lalu duduk di sebelah Sakha.
"Kak, aku ada di sini. Aku sudah baik - baik saja. Kenapa kau belum juga bangun? Sudah dua hari kau tertidur seperti ini. Apa mimpimu terlalu indah sehingga kau betah berlama - lama di dalamnya?" tanya Rainun. Guratan kesedihan masih nampak jelas di wajahnya.
"Mi, pi, sebaiknya kalian beristirahat di hotel. Aku dan Rainun yang akan menjaga Sakha. Aku sudah menyiapkan hotel untuk mami dan papi." ujar Toni yang baru saja masuk ke dalam ruangan Sakha.
"Kau juga harus beristirahat boy. Kau bahkan menjaga adikmu sembari bekerja" keluh mami Sakha yang melihat Toni bekerja tanpa kenal lelah.
"Aku baik -baik saja mi. Aku bisa beristirahat di sini" jawab Toni menenangkan.
"Apa pekerjaanmu dan Sakha tak bisa kau alihkan dulu? Agar kau juga bisa beristirahat. Papi tau bagaimana lelahnya dirimu terlebih kau mengerjakan pekerjaan Sakha juga" ujar papi Sakha.
"Papi dan mami tenang saja. Aku bisa menghandle semuanya, lagi pula di sini ada Rainun yang akan membantuku menjaga Sakha" Toni kembali menepis kekhawatiran kedua orang tua angkatnya.
"Berjanjilah pada mami jangan sampai kau sakit karena terlalu keras bekerja" pinta mami Sakha.
"Iya mi, aku berjanji" Toni tersenyum.
"Iya mi, pi, sebaiknya mami dan papi beristirahat di hotel" timpal Rainun. Ia kagum melihat betapa papi dan mami Sakha menyayangi Toni walaupun ia bukan anak kandung mereka.
"Baiklah, kalau begitu kami akan beristirahat. Besok kami akan kembali lagi" ujar papi Sakha. Toni kemudian mengantarkan kedua orang tuanya turun.
"Kau sudah makan Rai?" tanya Toni yang sudah kembali. Ia memberikan sebotol jus untuk Rainun.
"Sudah kak. Aku sudah makan" jawab Rainun.
"Baiklah, aku akan zoom meeting di sana" Toni menunjuk ruang tamu yang terpisah sekat dinding. "Panggil aku jika ada apa - apa atau membutuhkan sesuatu" pinta Toni. Ia kemudian meninggalkan Rainun.
"Baiklah kak" jawab Rainun. Rainun meletakkan kepalanya di ranjang, di sebelah Sakha. Ia menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Aku akan sabar menunggu kau bangun kak. Tapi berjanjilah untuk tidak terlalu lama membuatku menunggu" lirih Rainun.
Rasa kantuk tiba - tiba datang menyergapnya. Sejak kecelakaan itu ia sulit tidur karena trauma juga karena terus memikirkan Sakha. Rainun akhirnya tertidur sembari menggenggam tangan Sakha.
Cukup lama Rainun tertidur, tiba - tiba ia merasakan sesuatu bergerak di genggamannya.
__ADS_1
"mmhhh" Sakha melenguh. Ia menggerakkan jari - jarinya. Rainun langsung saja terbangun karena gerakan jari Sakha.
"Kak Sakha, kak Sakha bergerak? Kak, kau bisa mendengarku?" tanya Rainun.
Sakha membuka matanya perlahan.
"Kau sudah bangun kak" Rainun nampak gembira.
"Kak Toni, kak. Kak Sakha sudah sadar" Rainun memanggil Toni. Toni yang mendengar kata - kata Rainun itu langsung berlari menghampiri Sakha.
"Sakha, Sakha kau sudah bangun? Lihat siapa aku? Kau ingat?" tanya Toni. Ia lalu menekan tombol untuk memanggil perawat dan dokter yang berjaga.
"Kak Toni" lirih Sakha. "Mami, papi?" tanyanya. Sakha kemudian melepas masker oksigen karena menurutnya itu mengganggu.
"Kenapa kau melepas masker oksigennya?" ujar Toni. Ia hendak memasangkan lagi namun di tolak oleh Sakha.
"Aku tak nyaman dengan masker itu. dimana mami dan papi?" tanya Sakha
"mereka sedang beristirahat di hotel" jawab Sakha.
"Kak, dokter dan perawat datang" ujar Rainun. Toni memberikan ruang pada dokter dan perawat untuk memeriksa kondisi Sakha.
"Apa kau tau siapa namamu?" tanya dokter.
"Sakha Putra Hendrawan" jawab Sakha. Suaranya masih lirih.
"Ini siapa?" dokter menunjuk Toni.
"Kakakku. Toni Putra Hendrawan" jawab Sakha.
"lalu ini?" tanya dokter. Ia menunjuk Rainun.
Sakha terdiam sejenak. Ia seperti berfikir keras.
"Kau sungguh tak mengingat gadis ini?" tanya Toni yang tak percaya. Sakha menatap ke arah Toni.
"Rainun Naifa Wiraja. Bagaimana bisa aku melupakan calon istriku" Sakha tersenyum tipis.
"Waahh kau baru saja sadar tapi sudah mengerjai kami semua" Toni menggelengkan kepalanya menanggapi tingkah jahil adiknya.
"Aku hampir saja menangis saat kau tak mengingatku kak" Rainun kembali lega setelah perasaannya campur aduk tadi.
"Baiklah, kondisi pasien saat ini baik, tanda vitalnya normal. Mudah - mudahan akan terus ada kemajuan. Jika terjadi sesuatu pada pasien, segera panggil perawat" kata dokter.
"Terima kasih banyak dokter" ujar Toni. Dokter dan rombongannya lalu meninggalkan ruangan Sakha.
"Aku akan mengabari papi tentang kondisi Sakha. Setelah itu aku akan melanjutkan zoom meeting yang masih berjalan" ujar Toni. Rainun mengangguk mengerti.
"Aku masih tak habis fikir bagai mana bisa kau mengerjai kami" Rainun melipat tangannya di dada. Ia menatap Sakha dengan tatapan ingin membunuh.
"aduduh auhhh sakit" Sakha merengek.
"Apa? Apa yang sakit kak?" Rinun sedikit panik.
"Hatiku. Aku baru saja sadar tetapi sudah di marahi kekasihku" kata Sakha. Rainun terkekeh mendengar kata - kata Sakha itu.
"Kemarilah, aku ingin memelukmu" kata Sakha. Rainun mendekat dan langsung memeluk tubuh Sakha.
"Hati - hati, tangan kananmu itu patah kak. Jangan terlalu banyak gerak" Rainun mengingatkan.
__ADS_1
"Iya aku tau, ini tak mungkin di gips jika tak patah" Sakha membelai kepala Rainun.
"syukurlah kau baik - baik saja. Aku tak tau akan seperti apa jika tanpamu kak" lirih Rainun. Sakha tersenyum mendengar kata - kata tulus gadisnya itu.
"Aku lebih bersyukur karena bisa melihatmu berada di sampingku. Aku lebih takut jika bangun dan ternyata kau tak ada di sisiku" ujar Sakha.
"Aku pasti akan baik - baik saja karena ada kau yang selalu melindungiku" Rainun menatap wajah kekasihnya itu.
"Apa Lili ada di sini juga? Aku merindukan Lili" kata Sakha.
"Lili ada di rumah bersama simbok juga omanya. Mungkin abang dan kak Sofia sebentar lagi sampai" kata Rainun.
"Memangnya mereka dari mana? Kenapa meninggalkan Lili?" tanya Sakha.
"Mereka ada di sini sejak kita mengalami kecelakaan. Siang ini mereka baru kembali pulang" jawab Rainun. Sakha mengangguk mengerti.
"Apakah dua body guardku baik - baik saja?" tanya Sakha.
"Iya, mereka baik - baik saja kak" jawab Rainun.
"Syukurlah kalau mereka baik - baik saja" ujar Sakha. "siapa yang menabrak kita? Bagai mana kondisinya sekarang" tanya Sakha ingin tau.
Rainun terdiam sesaat. Ia juga tidak tau siapa yang menabrak mereka karena ia sama sekali tak bertanya mengenai si penabrak.
"Aku tidak tau. Lebih baik kau bertanya pada kak Toni saja" jawab Rainun
"Kau sangat trauma dengan kejadian yang menimpamu bertubi - tubi ini ya?" Sakha memperhatikan wajah Rainun yang sedikit tertekan saat menjawab pertanyaan Sakha tentang si penabrak.
"Iya, aku sama sekali tak ingin mengetahuinya agar bisa cepat melupakan kejadian itu" Rainun tertunduk.
"Tak apa sayang. Kau adalah wanita kuat, kau pasti bisa melupakan hal yang membuatmu trauma" Sakha menyemangati. Rainun tersenyum mendengar kata - kata Sakha yang selalu bisa membuatnya tenang.
"Kau mau minum kak?" tanya Rainun. Sakha mengangguk. Rainun kemudian mengambilkan air putih hangat untuk Sakha minum.
"Rai, kau ingin pulang atau menginap di sini?" tanya Toni yang sedang membereskan laptopnya. "Mami dan papi akan kesini besok" lanjut Toni.
Rainun terdiam dan berfikir sejenak.
"Boleh aku menginap?" tanya Rainun pada Sakha dan Toni.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyuruh body guard untuk tidur di ruang tamu. Kau tidur saja di kamar itu, aku akan tidur di sofa dekat ranjang Sakha." Toni menunjuk kamar khusus untuk keluarga pasien.
"Iya kak. Nanti aku akan tidur di sana" jawab Rainun.
"Hm. Aku titip Sakha sebentar, aku akan keluar membeli makan malam" kata Toni.
"Kak, aku ingin makan sate" kata Sakha.
"Hah, memang kau sudah boleh makan?" Toni mengernyitkan dahi. "Aku akan bertanya pada dokter dulu.
"Kau mau makan apa Rai?" tanya Toni.
"Apa saja kak" jawab Rainun yang kini nafsu makannya mulai muncul setelah melihat Sakha baik - baik saja.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dlu" Toni kemudian berjalan keluar ruangan Sakha.
"Bos, nona bos, kami di minta untuk berjaga di dalam" ujar Salah seorang body guard yang menghampiri Sakha dan Rainun.
"Hm. Ambilah minuman di dalam kulkas untuk menemani kalian berjaga" kata Rainun.
__ADS_1
"Baik, terima kasih nona bos" si body guard mengambil dua buah minuman di kulkas lalu pergi ke ruang tamu untuk berjaga.
"Jo, tolong aku"