Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
14. Kakao 2


__ADS_3

Berapa luas lahan perkebunan ini pak?" Tanya Sakha.


"Kurang lebih ada enam puluh hektar" Jawab petani.


"Lahan ini milik pemerintah atau warga desa?" Tanya Sakha lagi.


"Lahan ini milik pemerintah namun sudah lama di telantarkan sehingga warga desa berinisiatif untuk mengelolanya dengan menanam kakao" Jelas si petani.


"Lalu hasilnya?" Tanya Sakha lagi.


"Hasil dari pertanian ini seratus persen adalah milik petani" Jawab pak petani. Sakha mengangguk-anggukan kepala mengerti.


"Apakah buahnya bisa di makan sebelum di olah lebih lanjut?" Tanya Rainun.


"Bisa bu, buah ini rasanya manis manis asam. Walaupun daging buahnya tipis, tetapi bisa di nikmati" Ujar petani. Ia kemudian mengambilkan satu buah kakao yanh sudah masak untuk di cicipi oleh Rainun dan Sakha.


"Silahkan d cicipi bu" Ujar petani memberikan buah yang sudah di buka pada Rainun.


"Mmmh enak" Seru Rainun. "Kau mau?" Ia menawarkannya pada Sakha.


Sakha mencicipi sedikit. Ia tak terlalu suka karena rasanya yang lebih dominan ke asam walaupun terasa ada manisnya. Sedangkan Rainun terlihat asik menikmati sembari berjalan mengikuti petani yang mengantar mereka melihat-lihat perkebunan.


"Lucunya" Batin Sakha yang melihat Rainun mengulum biji-biji kakao itu. Sakha tersenyum melihat tingkah gadis yang ia sukai itu.


Sembari berkeliling, mereka melakukan tanya jawab seputar kakao dan rencana untuk mengekspornya. Mereka dikejutkan dengan hujan yang turun tiba-tiba. Petani mengajak Sakha dan Rainun berteduh di bawah sebuah pohon yang sangat rindang. Salah seorang dari dua petani yang menemani mereka kembali ke pendopo mengambil jas hujan untuk Sakha dan Rainun.


Tetesan air hujan menerobos masuk ke pohon rindang yang mereka gunakan untuk berteduh. Sakha yang berdiri di belakang Rainun mencoba menutupi kepala Rainun dengan kedua telapak tangannya.


"Jangan begitu nanti tanganmu pegal" Ujar Rainun saat melihat Sakha berusaha melindungi kepalanya. Ia kemudian menyentuh lengan Sakha dan menurunkannya.


"Tak apa" Ujar Sakha lalu meletakkan lagi kedua telapak tangannya di atas kepala Rainun. Dada Rainun berdebar kencang menerima perlakuan manis dari Sakha.


sekitar sepuluh menit menunggu, petani yang mengambil jas hujan akhirnya datang. Mereka langsung memakainya dan segera beranjak kembali ke pendopo.


"Berhati-hatilah pak, bu. Jalanan sangat licin. Jalan pelan-pelan saja" Ujar petani sambil terus berjalan.


"Wooooowooo" Seru Rainun saat pijakannya meleset. Rainun refleks mencengkram erat lengan Sakha yang berada di depannya agar tidak terjatuh.


"Kau tak apa? Pegang saja tanganku" Ujar Sakha. Ia lalu menarik tangan Rainun dan menggenggamnya. Mereka berhati-hati menyusuri jalan perkebunan yang becek karena hujan. Sesekali Sakha melihat Rainun yang berad di belakangnya untuk memastikan ia baik - baik saja. Sepuluh menit kemudian mereka akhirnya sampai di pendopo.

__ADS_1


Mereka disambut oleh para ibu yang sudah menyiapkan teh hangat dan gorengan.


"Ayo di minum tehnya. Kalian pasti kedinginan" Ujar salah seorang ibu.


Rainun mengambil dua gelas teh lalu memberikan segelas pada Sakha. Mereka yang memang kedinginan langsung menyeruput teh hangat itu."Aahh hangatnya" Ujar Rainun lalu mengambil pisang goreng yang di hidangkan.


Sakha melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. "Sudah pukul dua siang ternyata" Gumamnya. Tak terasa sudah kurang lebih tiga jam mereka berada disini. Mereka yang di sambut dengan sangat baik itu merasa betah berlama-lama disana.


Hujan kembali reda. Sakha dan Rainun kemudian berpamitan untuk pulang. Di antar oleh dua orang petani, mereka berjalan pelan menuruni lereng gunung menaiki motor.


"Apa kau kedinginan? Baju mu sedikit basah" Tanya Sakha. Sekarang mereka sudah berada di dalam mobil. Sakha sudah berganti baju terlebih dahulu sebelum mereka memasuki mobil. Ia terbiasa membawa stok kemeja di dalam mobilnya.


"Tidak, aku tak apa" Jawab Rainun lalu tersenyum.


"Baiklah kalau begitu" Ujar Sakha membalas senyum Rainun. Ia kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Lima belas menit di perjalanan, Sakha melihat Rainun mulai menggigil.


"Yakin kau tak kedinginan?" Tanya Sakha sedikit khawatir.


"Aku mulai merasa dingin" Jawab Rainun jujur. Sakha lalu menepikan mobil yang ia kendarai. Ia mengambil jasnya yang sedari tadi tergantung di dalam mobil.


"Pakailah ini" Perintah Sakha. Rainun terlihat ragu saat ingin menerima jas yang diberi Sakha.


"Ayo cepat ambil dan pakailah, aku tak menyediakan selimut di mobil. Apa kau mau aku yang memakaikannya?" Kata Sakha. Mendengar itu Rainun langsung buru-buru mengambil jas di tangan Sakha.


"Terasa lebih hangat" Batin Rainun. Wangi dari parfum Sakha juga membuat Rainun merasa nyaman. Sakha tersenyum melihat gadis di sebelahnya yang tak lagi menggigil.


"Apa di setiap tinjauan kau selalu mendapatkan pelayanan seperti tadi?" Tanya Sakha memecah keheningan.


"Pelayanan? Maksudmu?" Tanya Rainun tak mengerti.


"Ya disambut dengan keramah tamahan juga hidangan yang lezat" Jawab Sakha yang masih belum bisa move on dari kegiatan bersama para petani kakao tadi.


"Ya hampir semua mitra selalu menyambut hangat kunjungan kami" Jawab Rainun.


"Kau tau? Aku tak seperti sedang meninjau perkebunan. Tetapi aku merasa seperti berkunjung ke rumah saudara yang sudah lama tak ku kunjungi" Ujar Sakha tersenyum.


"Syukurlah kalau kau merasa nyaman" Jawab Rainun "aku senang melakukan kunjungan karena merasa memiliki kedekatan dengan para mitra. Beginilah cara kami membangun relasi yang kuat satu sama lain. Kami tak segan turun langsung untuk meninjau, apa lagi saat mereka kesulitan" Lanjut Rainun menjelaskan.


Sakha mengangguk anggukan kepala. Jujur dia merasa kagum dengan Rainun dan Rekannya yang begitu memperhatikan para mitra. Wajar saja jika mereka selalu mendapatkan produk yang terbaik dari mitra-mitranya. Semua barang yang dikirim oleh RR Eksportir tak pernah mengecewakan.

__ADS_1


"Mmm boleh aku bertanya?" Ucap Rainun.


"Ya?" Jawab Sakha singkat.


"Kau benar kan orang yang ku tabrak saat berada di depan super market" Tanya Rainun yang masih saja penasaran.


"Menurutmu?" Ujar Sakha yang balik bertanya.


"Aku yakin itu kau" Kata Rainun sangat yakin.


"Iya benar, itu aku" Jawab Sakha jujur. Lalu tersenyum menoleh ke Rainun yang duduk di sampingnya.


"Lalu mengapa saat aku berkunjung ke kantormu, kau pura-pura tak mengenaliku?" Tanya Rainun. Ia mengerucutkan bibirnya dan melipat ke dua tangannya. Ia sekarang tampak kesal.


Melihat itu, bukannya menjawab Sakha justru tertawa kecil melihat tingkah Rainun. Rainun yang tak mendapat jawaban kini memicingkan matanya.


"Apa kau hendak membunuhku dengan lirikan tajammu?" Tanya Sakha.


"Tidak! Kau tau, tatapan tajammu itu lebih mengerikan" Ujar Rainun sinis. Sakha tersenyum mendengar ucapan gadis di sebelahnya. Ia sudah tak kaget mendengar kata - kata Rainun. Hampir semua orang bilang begitu di belakangnya.


"Bukalah laci di depanmu" Perintah Sakha.


"Ada apa?" Tanya Rainun yang masih sinis.


"Obat Pereda kesal" Ucap Sakha. Rainun yang penasaran lalu membuka laci di depannya.


"Wuuaahhh coklat, banyak sekali. Pasti banyak wanita yang sudah mendapatkan coklat dari mobilmu" Ujar Rainun tanpa malu-malu. Ia lalu mengambil salah satu coklat yang paling ia sukai.


"Bahkan awalnya aku tak ingin membagi coklatku padamu" Ujar Sakha dengan ekspresi datar.


"Tolong ambilkan satu yang mana saja untukku. Aku sedang kesal" Ucap Sakha.


Rainun kemudian mengambil sebuah coklat dan membukakannya untuk Sakha. Ia meringis setelah menyadari kalau kata-katanya yang membuat Sakha kesal. Mereka kemudian berbincang-bincang santai mengenai kakao yang baru saja mereka tinjau.


Suara dering ponsel menghentikan pembicaraan mereka. Rainun buru-buru mengangkat ponselnya yang berdering itu.


"Iya, ada apa fit?" Tanya Rainun.


"Aku sedang di jalan. Dua puluh menit lagi akan sampai" Ujar Rainun.

__ADS_1


"Masalah apa?" Tanya Rainun pada orang yang menelfonnya. Rainun mendengarkan penjelasannya dengan seksama. Ia berfikir sejenak lalu tersenyum.


"Kau tenang saja, aku akan membawa orang yang tepat" Ujar Rainun sambil tersenyum melirik ke arah Sakha.


__ADS_2