
Mereka sudah berada di lokasi tempat Rainun di sekap. Sakha masuk secara perlahan bersama sepuluh orang body guard. Sedangkan Eriko berada di luar bersama sepuluh orang body gurd lain sembari terus mengawasi pergerakan musuh melalui kamera drone.
"Semua aman. Kalian bisa masuk" ujar Eriko ketika mereka berhasil melumpuhkan tiga penjaga yang berada di luar.
"Braaakk!!!!!" Sakha menendang pintu utama yang membuat semua orang di sana kaget.
"Siapa kalian!!!" teriak salah satu dari penculik tersebut. Tanpa menjawab, para body guard langsung saja maju untuk melawan orang - orang di sana. Pertarungan dengan senjata tajam tak dapat dielakkan.
Sakha dengan sigap menuju ke kamar tempat Rainun di sekap.
"Braakkkk!!!" ia kembali mendobrak pintu yang terkunci.
"Kak Sakha!!!" Seru Rainun. Sakha langsung berlari dan memeluk kekasihnya itu.
"Kau baik - baik saja? Apa ada yang terluka?" tanya Sakha. Rainun tak bisa menjawab, ia hanya menangis tergugu dalam pelukan Sakha. Semua rasa takut yang menyelubunginya seketika sirna melihat Sakha ada bersamanya.
"Tenanglah, jangan menangis lagi. Kau akan aman bersamaku" Sakha melepaskan ikatan pada tangan dan kaki Rainun. Mereka berdua kemudian segera berjalan menuju ke luar kamar tempat Rainun di sekap.
"Kabur - kabur. Ketuanya kabur" seru Eriko melalui saluran khusus yang mereka pakai.
"Ah sial!" ujar Sakha kesal. "kejar dia!!!" perintah Sakha saat melihat mobil yang baru saja pergi dari garasi.
Sakha kemudian kembali masuk ke dalam rumah untuk memastikan semua komplotan itu sudah di lumpuhkan. Tak lama, Eriko dan yang lain menyusul masuk ke dalan rumah besar.
"Kita kehilangan jejaknya" ujar Eriko. Sakha hanya diam menahan kekesalan.
"Biarkan. Kita pasti akan menemukannya" jawab Sakha.
"Apa kalian ada yang terluka?" tanya Sakha pada para body guard yang berkumpul.
"Siap kami semua baik" jawab mereka bersamaan.
"Terima kasih sudah menjalankan tugas dengan sangat baik" ujar Sakha. Ia begitu bangga pada body guard yang ada di camp pelatihannya.
Eriko dan para body guard kemudian kembali ke camp, tak lupa membawa serta para penculik untuk di serahkan pada pihak berwajib. Sementara Sakha kembali ke hotel bersama Rainun dan di kawal oleh dua orang body guard.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku kak" ujar Rainun. Mereka berdua ada di kamar Rainun setelah sebelumnya mereka membersihkan diri di kamar masing - masing. Rainun juga sudah menghubungi Raihan menggunakan ponsel Sakha. Raihan, Sofia juga Lili kini sudah kembali berada di rumah.
"Apa ini sakit?" Sakha membelai pipi dan sudut bibir Rainun yang lebam.
"Tidak aku tak apa" jawab Rainun. Ia berusaha menutupi trauma yang ia rasakan.
"Kau pasti trauma. Jangan tutupi apa - apa dariku" Sakha memeluk kekasihnya itu. Rainun hanya diam, merasakan kenyamanan berada di pelukan Sakha setelah beberapa waktu di dekap rasa ketakutan yang teramat sangat.
"Siapa yang melakukan ini padamu? Aku tak mengenal orang itu" ujar Sakha sembari memakaikan gelang Rainun yang ia temukan.
__ADS_1
"Dion" lirih Rainun.
"Kakak tingkatmu yang beberapa waktu lalu bertemu denganmu?" Sakha memastikan. Rainun mengangguk menjawabnya.
"kenapa ia lakukan ini? Apa ada masalah antara kalian berdua?" tanya Sakha lagi.
"Sedari dulu dia ternyata menyukaiku dan sekarang ia berusaha merebutku dari mu kak. Dia terobsesi padaku" Rainun mulai terisak. Rasa takut itu kembali muncul.
"Apa jangan - jangan yang mengirimi mu makanan dan barang - barang itu juga dia?" tanya Sakha. Rainun kembali mengangguk.
"Tenanglah, aku tak akan membiarkan siapapun membuatmu jauh dariku" Sakha menggenggam erat tangan kekasihnya itu.
"Aku akan mengangkat telfon dari papi sebentar" ujar Sakha pada Rainun. Sakha kemudian keluar dari kamar Rainun.
"Ada apa pi?" tanya Sakha.
"Bagaimana keadaan Rainun? Apa dia baik - baik saja? Papi sudah dengar semuanya dari Toni" ujar papi Sakha.
"Rainun baik - baik saja pa, hanya ada sedikit luka di wajahnya bekas tamparan. Sekarang dia ada bersamaku di hotel." jelas Sakha.
"Kura*g aj*r!!! siapa yang berani menampar calon menantuku? Akan ku patahkan lehernya!" papi Sakha sangat emosi. "Siapa orang yang berani menculik Rainun? Apa kau berhasil menangkapnya?" tanya papi Sakha lagi.
"Aku kehilangan jejak pelaku utamanya pi, sedangkan semua anak buahnya sudah di urus Eriko" jelas Sakha.
"Bagaimana bisa kau kehilangan pelakunya? Siapa dia?" tanya papi Sakha. Ia tak habis fikir bagaimana bisa Sakha dan para body guard yang sudah terlatih itu kehilangan jejak si pelaku.
"Cepat temukan orang itu dan beri dia pelajaran! Jangan sampai kau tak mendapatkannya!" perintah papi Sakha.
"Siap komandan!" jawab Sakha. Papinya lalu menghentikan panggilan telfon itu.
"Bagaimana bisa papi sekesal itu, bahkan aku juga di marahi" Sakha tersenyum sembari menggeleng gelengkan kepalanya menanggapi tingkah papinya kali ini.
[Aku sudah mengirim foto pelaku utama. Kirim mata - mata dan cari dia. Jangan sampai lolos jika tak ingin kita semua di hukum oleh tuan besar!] Sakha mengirim pesan pada Eriko.
[Baik bos! Kita akan menghindari hukuman dari tuan besar] balasan dari Eriko. Sakha tersenyum membaca pesan dari sahabat sekaligus kaki tangannya itu.
"Apa ada hal penting?" tanya Rainun ketika Sakha memasuki kamarnya.
"Tidak, papi hanya menanyakan keadaanmu. Dia bahkan mengancamku jika tak menemukan pelaku utamanya, karena dia ingin mematahkan leher si pelaku" ujar Sakha.
"Benarkah? Papi semarah itu?" Rainun terperangah.
"Hm, sepertinya papi ingin menghajar si pelaku melebihi keinginanku" Sakha tersenyum. Rainun juga tersenyum mendengar penuturan Sakha itu.
"syukurlah aku bisa kembali melihat senyumanmu" kata Sakha yang membuat Rainun tersipu malu.
__ADS_1
"Kak, aku ingin pulang ke rumah" pinta Rainun.
"Ini sudah malam, kau tak ingin beristirahat dulu?" tanya Sakha.
"Aku akan lebih nyaman berada di rumah" ujar Rainun, Sakha menganggukkan kepalanya. Ia mengerti situasi Rainun saat ini.
"Baiklah, aku akan bersiap. Kita akan pergi setelah makan malam" ujar Sakha. Rainun menganggukan kepalanya setuju.
Sebelum pulang, Sakha, Rainun juga dua body guardnya makan malam di restoran hotel. Rainun masih tak bernafsu makan malam ini.
"Sayang, ayo makan" ajak Sakha yang melihat Rainun hanya mengaduk makanannya.
"Aku tak bernafsu kak" jawab Rainun. Ia menundukkan kepalanya.
"Sini aku suapi" Sakha mengambil makanan di piringnya lalu menyuapi Rainun.
"Kau bilang selalu suka dengan makanan milikku kan?" Ujar Sakha. Rainun tersenyum mendengar kata - kata kekasihnya itu. Sakha lalu menyuapi Rainun, sedikit demi sedikit makanan masuk ke perut Rainun yang sudah kosong.
"Ada apa?" tanya Sakha yang tiba - tiba di peluk Rainun. Kini mereka berdua bersama dua body guard ada di dalam mobil menempuh perjalanan pulang.
"Aku hanya ingin mencari tempat yang nyaman" jawab Rainun.
"Kemarilah sayang" Sakha menarik Rainun dan mengeratkan pelukannya.
"Maafkan aku ya kakak - kakak body guard jika menempel seperti ini pada bos kalian" Rainun berkata pada dua orang di depannya sembari menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Sakha.
"Tak apa nona bos, kami mengerti" jawab Salah satu dari body guard itu. Sakha juga dua body guardnya tersenyum melihat tingkah Rainun yang menurut mereka lucu.
"Berkendaralah dengan aman. Tak usah terburu - buru. Jika lelah, berhenti dan bertukar posisilah kalian" perintah Sakha.
"Baik bos" ucap si body guard bersamaan.
Dua puluh menit di perjalanan, Rainun sudah tertidur pulas. Ia bersandar pada bahu Sakha dan terus menggenggam tangan Sakha.
Si body guard berkali - kali melihat kaca sepion. Ia kemudian menambah kecepatan dan menyalip beberapa mobil yang ada di depannya.
"Ada apa?" tanya Sakha.
"Sepertinya ada yang mengikuti bos" jawab si body guard.
"Lebih baik kita berhenti di depan sana" ujar Sakha.
"Baik bos" kata si body guard. Mereka berhenti di sebuah persimpangan jalan. Dua body guard itu turun dan berjalan beberapa meter di sekitar persimpangan untuk memeriksa benar atau tidaknya ada orang yang mengikuti mereka.
Tiba - tiba.....
__ADS_1
Braaaaakkkkkkk!!!!!!!!!!
Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menghantam mobil Sakha dari samping.