Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
38. Kesepian


__ADS_3

Empat hari berlalu setelah keberangkatan Sakha ke Jerman. Mereka tak banyak berkomunikasi, hanya dua kali Sakha melakukan panggilan vidio padanya. Sakha juga jarang mengirim pesan padanya.


"Sepertinya kak Sakha sibuk sekali" gumam Rainun yang mengecek ponselnya berkali - kali. "Aah kenapa terasa sangat sepi saat dia jauh di sana" keluh Rainun.


Took...


Tokk...


"Masuk" kata Rainun tak bersemangat.


"Ada apa kak? Beberapa hari ini kau tak bersemangat" Tanya Indah sedikit kawatir. "Apa kau sakit? Lanjutnya.


"Apa aku terlihat begitu? Aku baik - baik saja kok" jawab Rainun.


"Apa jangan - jangan kau sedang bertengkar dengan kak Sakha? Beberapa hari ini dia tak terlihat datang kemari" tanya Indah.


"Tidak, kami baik - baik saja. Hanya sekarang dia sedang ada di Jerman" jawab Rainun.


"Wah, kau terserang penyakit malarindu ternyata" gurau Indah. Rainun terkekeh mendengarnya.


"Ada apa kau kemari? Apakah ada pekerjaan tambahan untukku?" tanya Rainun.


"Tidak. Aku hanya ingin mengecek kondisimu, kenapa akhir - akhir ini kau terlihat tak bersemangat. Ternyata karena malarindu" ujar Indah.


"Apakah begitu nampak? Padahal aku sudah berusaha menutupinya" Tanya Rainun.


"Yah itu begitu nampak hingga aku dan yang lainnya khawatir" jelas Indah. Rainun tersenyum kemudian.


"Bukankah kita harus bersiap? Tiga hari lagi kita akan famgeth" ujar Indah. Mereka lalu berbincang santai mengenai kegiatan saat famgeth nanti.


Triinggg....


Suara ponsel Rainun menghentikan obrolan keduanya. Rainun lalu melihat nama yang tertera pada layar ponselnya 'Hubby'. Ia segera mengangkat panggilan vidio itu.


"Sayang" panggil pria yang ada di panggilan vidio itu. Indah yang mendengar suara Sakha lalu memberikan kode pada Rainun berpamitan untuk keluar dari ruangan Rainun.


"Iya sayang. Kau baru bangun tidur?" tanya Rainun.


"hm. Disini pukul enam pagi sekarang" ujar Sakha.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Rainun. Sakha menggelengkan kepalanya. Rainun tersenyum gemas melihat Sakha yang masih setengah sadar itu.


"Kenapa kau menelfonku jika masih mengantuk?" tanya Rainun.


"Aku merindukanmu sayang" ujar Sakha dengan suaranya yang serak.


"Aku juga rindu. Terkadang aku ingin sekali menelfonmu, tetapi aku takut mengganggu pekerjaanmu" kata Rainun sedih.


"Biar aku saja yang menghubungimu. Maaf kan aku jarang menghubungimu sayang. Aku benar - benar sibuk hingga aku kelelahan" cerita Sakha.


"Apa kau sakit?" tanya Rainun khawatir.


"mm sepertinya aku terkena flu. Udara di sini sangat dingin" cerita Sakha.


"Kau sudah minum obat? Bukankah aku sudah memasukkan obat - obatan ke dalam kopermu?" tanya Rainun.


"Ya, aku sudah meminumnya tadi malam" jawab Sakha.


"Jika masih belum membaik, kau ke dokter saja kak. Sebelum semakin parah nantinya" pinta Rainun.


"Iya sayang, aku akan ke dokter jika siang ini tak membaik" jawab Sakha.

__ADS_1


"Ah, kau membuatku khawatir" ujar Rainun sedih.


"Aku memang ingin kau khawatirkan" Sakha tersenyum.


"Kau masih akan bekerja dengan kondisimu seperti ini kak?" tanya Rainun lagi.


"Iya, aku masih ada meeting. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku dan pulang menemuimu" jawab Sakha. Rainun tersenyum mendengar kata - kata manis Sakha itu. "Oh ya, mami dan papi sedang berkunjung ke kantorku. Mereka ingin mengajakmu makan malam" kata Sakha.


"Kapan mami dan papi akan mengajakku makan malam?" tanya Rainun.


"Malam ini. Nanti supirku akan menjemputmu" kata Sakha. Rainun menganggukkan kepalanya mengerti. Mereka kemudian mengobrol sejenak, melepaskan rindu melalui panggilan vidio itu.


tok...


Tokkk..


Terdengar ketukan dari pintu ruangan Rainun.


"Kak, ada orang yang akan menemuiku. Hubungi aku lagi nanti" pinta Rainun.


"Baiklah, jaga dirimu sayang" ucap Sakha, ia lalu menhentikan panggilan vidio itu.


"Iya masuklah" kata Rainun.


"Apa kau sudah selesai kak?" tanya Indah yang menyembulkan kepala dari balik pintu.


"Iya, ada apa ndah?" tanya Rainun.


"Kau dintunggu oleh panitia famgeth di ruang meeting" kata Indah.


"Oh baiklah, aku akan segera ke sana" jawab Rainun bersemangat. Indah lalu kembali menutup pintu ruangan atasannya itu.


"Tadi dia lemas, lesu, murung dan tak bersemangat. Sekarang dia begitu bersemangat setelah kak Sakha menelfonnya, padahal tak lama mereka mengobrol. The power of love" gumam Indah yang menggeleng - gelengkan kepalanya heran.


"Tuan, saya supir tuan Sakha. Saya datang untuk menjemput nona Rainun" ujar si supir pada Raihan yang membukakan pintu.


"Masuklah, tolong tunggu sebentar" pinta Raihan. Ia kemudian masuk untuk memanggil adiknya itu.


"Rai, supir Sakha sudah menjemputmu" seru Raihan. Ia kemudian kembali duduk dan menonton film bersama istrinya.


"Iya bang" jawab Rainun. Sebelumya Rainun sudah berpamitan akan makan malam dengan orang tua Sakha pada Raihan dan juga Sofia.


"Titip salam untuk om dan tante ya Rai" pinta Sofia saat melihat adik iparnya itu.


"Oke kak. Aku berangkat ya" pamit Rainun. Raihan kemudian mengantarkan adiknya itu menemui si supir.


"Pak, saya titip Rainun di perjalanan" pinta Raihan.


"Baiklah tuan, saya akan menjaga nona bos" Sakha menahan tawa ketika si supir memanggil Rainun dengan sebutan nona bos. Refleks Rainun mencubit lengan kakakknya yang hampir tertawa itu.


Mereka kemudian menelusuri jalanan menuju ke sebuah restoran mewah. Di sana Rainun di sambut oleh seorang pelayan yang sudah menunggunya.


"Nona, silahkan ikuti saya" pinta si pelayan. Rainun kemudian di ajak untuk masuk ke sebuah privat room. Di sana sudah menunggu mami dan papi Sakha juga ada dua orang yang usianya terlihat sama dengan mami dan papi Sakha.


"Kemarilah sayang" mami Sakha menyambut Rainun yang memasuki ruangan itu. Rainun kemudian menyalami mami dan papi Sakha juga satu pasangan yang bersama mereka.


"Bagai mana kabarmu nak?" tanya papi Sakha.


"Rainun sehat. Papi dan mami sehat?" tanya Rainun.


"Iya kami semua sehat" jawab Maminya.

__ADS_1


"oh ya, kenalkan ini adalah kakak kandung papi. Sakha biasa memanggil mereka ayah dan ibu" Papi Sakha memperkenalkan kakak dan kakak iparnya itu. Rainun menganggukkan kepala sopan.


"Cantik sekali calon istri Sakha" puji si ibu.


"Terima kasih bu" jawab Rainun tersipu.


"Ayo, silahkan makan hidangan yang sudah di siapkan ini" papi Sakha mengawali. Kakaknya kemudian mulai mengambil makanan diikuti yang lain.


"Bagai mana perusahaanmu? Apakah semuanya berjalan lancar?" tanya papi Sakha.


"iya pi, semuanya baik - baik saja. Oh iya, papi dan mami ada titipan salam dari kak Sofia dan bang Raihan" kata Rainun. Ia merasa gugup berada di sana tanpa ada Sakha di sampingnya.


"Ah, salam kembali untuk mereka berdua. Bagai mana kabar pengantin baru itu?" tanya papi Sakha.


"Mereka sehat pi" jawab Rainun.


Triinggg....


Suara ponsel mami Sakha. Ia lalu mengangkat panggilan vidio itu


"Hay boy" sapa maminya.


"Iya mi. Apakah Rainun sudah ada di sana?" tanya Sakha.


"Iya, dia ada di sini bersama kami" maminya lalu mengarahkan kamera ke Rainun juga yang lain.


"Ayah, Ibu perkenalkan calon istri Sakha" ucapnya memperkenalkan Rainun.


"Iya nak, orang tuamu sudah mengenalkannya pada kami" si Ayah tersenyum.


"Calon istrimu cantik. Kau pintar memilih pasangan" kini ibunya memuji. Sakha tersenyum mendengarnya.


"Apakah pekerjaanmu belum selesai boy?" kini papinya bertanya.


"Belum pi. Mereka semua tak profesional, aku geram di buatnya" ujar Sakha.


"Bersabarlah. hadapi pelan - pelan" pesan papinya.


"Apa kau sudah baikan? Suaramu masih terdengar serak" maminya khawatir.


"Aku sudah lebih baik mi" jawab Sakha. "Baiklah nikmati waktu kalian. Aku harus mengerjakan suatu pekerjaan sekarang" kata Sakha. Ia lalu mematikan panggilan vidionya.


Drttt...


Drtt...


Getar ponsel Rainun. Ia lalu mengecek pesan yang masuk.


[Mengobrolah dengan santai sayang. Jangan gugup walaupun aku tak ada di sampingmu] pesan dari Sakha. Rainun tersenyum membacanya.


"Dari mana dia tau aku sedang gugup?" pikir Rainun.


[Baiklah sayang. Jaga kesehatanmu] Rainun membalas pesan kekasihnya itu.


Rainun kembali melanjutkan perbincangan dengan orang tua juga paman dan bibi Sakha. Perbincangan mengalir begitu saja sehingga kini Rainun merasa nyaman bersama mereka.


"Papi, mami, ayah, ibu, Rainun pamit pulang ya" ia lalu bersalaman dan memeluk mami juga ibu.


"Sampai ketemu lagi sayang" kata mami Sakha saat memeluk Rainun. Tak lupa ia mengecup pipi kanan dan kiri kekasih putranya itu.


"Pak, antarkan Rainun pulang dengan selamat" pinta papi Sakha pada supir pribadi Sakha.

__ADS_1


"Baik tuan" jawab si supir.


"Hati - hati nak. Jaga dirimu" pesan ibu. Rainun mengangguk dan tersenyum.


__ADS_2