
Malam itu sesuatu terjadi pada Rainun. Mobilnya di hentikan oleh segeromboral orang. Rainun di paksa keluar, ia di bius lalu di bawa pergi oleh orang - orang bertopeng itu.
Tring....
Suara ponsel Sakha berdering. Ia langsung tertidur setelah sampai di apartemen karena kelelahan.
"Siapa yang menelfon malam - malam begini" kata Sakha yang terbangun karena terkejut. Ia melihat nomor asing yang tertera di layar ponselnya.
"Halo, selamat malam" ujar Sakha.
"Halo? Ini benar dengan den Sakha?" tanya seseorang di ujung telfon yang suaranya tentu saja tak asing untuk Sakha.
"Iya, ada apa mbok menelfon malam - malam? Apa terjadi sesuatu?" tanya Sakha sedikit khawatir karena simbok tak pernah menelfon sebelumnya.
"Anu itu den, apa non Rainun ada bersama aden?" tanya simbok sedikit cemas.
"Tidak mbok. Pukul tujuh tadi dia bilang baru keluar dari kantornya. Apa dia belum sampai di rumah?" tanya Sakha. Dadanya bergemuruh merasakan kekhawatiran. Dilihatnya jam di dinding kamarnya yang menunjukkan pukul sebelas malam.
"Iya den, pak Maman dan Anggit sudah mencari di kantor dan menyusuri jalan dari kantor ke rumah namun tak menemukan non Rainun. Ponselnya juga tidak aktif" simbok menjelaskan dengan suara bergetar.
"Tenang ya mbok, aku akan segera mencari Rainun" ujar Sakha. Ia kemudian menghentikan panggilan itu dan membuka ponselnya, mencoba menghubungi Rainun.
Berulang kali ia menghubungi namun ponsel Rainun tidak aktif.
"Hallo. Eriko, lacak gps Rainun sekarang" perintah Sakha.
"Baik bos. Apa ada sesuatu yang mendesak?" tanya Eriko yang ikut merasakan kekhawatiran dari bosnya itu.
"Rainun hilang" ujar Sakha, ia kemudian menceritakan apa yang simbok ceritakan pada Eriko.
"Baik bos. Aku akan segera melacaknya" ujar Eriko. jarinya dengan lincah menari di atas keyboard komputer yang ada di kamarnya. Tak Sampai lima menit, ia sudah menemukan lokasi yang terlacak dari gelang Rainun.
"Sudah ku kirim bos" ujar Eriko.
"Terima kasih, perintahkan beberapa body guard untuk mencari Rainun. Tolong hubungi Rainun melalui sambungan khusus dan kabarkan padaku setiap perkembangannya" pinta Sakha.
"Baik bos" jawab Eriko. Sakha lalu menghentikan panggilan itu.
Sakha mengusap kasar rambutnya. Ia menyesali kenapa ia sampai lupa menghubungi Rainun saat ia sampai di apartemen.
"Ahh siaall !! bodoh sekali kau Sakha" katanya. Sakha kemudian mengambil kunci mobilnya dan langsung saja mengikuti gps dari gelang yang di pakai Rainun.
Tring...
__ADS_1
Panggilan masuk dari Toni.
"Kau di mana? Aku sudah mendapat kabar dari Eriko" kata Toni.
"Aku sedang di jalan kak" jawab Sakha. Suaranya sedikit bergetar.
"Jemput aku, aku akan menemanimu" kata Toni.
"Tak usah kak, aku tak apa sendirian. Lagi pula kau harus mengerjakan proposal untuk meeting penting besok" kata Sakha.
"Baiklah. Rainun ada di kota M sekarang. Eriko dan beberapa kelompok body guard juga sedang dalam perjalanan kesana. kabari aku jika membutuhkan sesuatu" Toni menghela nafas berat. "Apa selama ini kau atau Rainun punya musuh?" tanya Toni.
"Sepertinya tak ada, kita sudah melenyapkan semua musuh kita. Rainun? Tak mungkin dia memiliki musuh" Sakha terus berfikir.
"Apa Raihan sudah tau kejadian ini?" tanya Toni lagi. Otaknya berfikir apa yang menjadi motif dari penculikan Rainun ini.
"Sepertinya belum. Jika tau, bang Raihan pasti sudah menghubungiku" jawab Sakha.
"Apa ada kejadian aneh pada Rainun sebelumnya?" tanya Toni. Sakha terdiam sesaat, ia mengingat - ingat setiap peristiwa janggal yang Rainun ceritakan.
"Apa jangan - jangan ini berkaitan dengan penggemar rahasianya?" ujar Sakha.
"Itu sangat mungkin terjadi. Aku ingat kau pernah bercerita tentang kiriman - kiriman aneh untuk Rainun" kata Toni mulai menemukan satu dari banyak motif.
"Baiklah aku akan menelfon bang Raihan nanti" jawab Sakha
"Mm baiklah, kau harus berhati - hati. Kau harus pulang dengan calon adik iparku dengan kondisi selamat" kata Toni.
"Iya kak" jawab Sakha singkat. Ia lalu memutuskan sambungan telfonnya dan menambah kecepatan mobilnya agar lebih cepat sampai di kota M.
...****************...
"Apa dia belum sadar?" tanya si bos.
"Belum tuan" jawab si anak buah. Anak buah itu lalu meletakkan wanita dalam gendongannya di sebuah ranjang.
"Baiklah, kunci semuanya dan pastikan dia tak bisa kemana - mana setelah sadar" perintah si bos. Mereka lalu meninggalkan kamar itu setelah memastikan semuanya aman.
Wanita itu membuka matanya, kepalanya berdenyut. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi. Ia menatap sekeliling, memperhatikan ruangan asing yabg ia tempati sekarang.
Air mata menetes ketika ia mengingat kejadian yang menimpanya. "Aku di mana sekarang?" lirihnya. Ia terus terisak.
"Tolong aku kak, bang" Lirihnya lagi. Ia memandang jam tangan pada tangannya yang terikat. Gelangnya terjatuh entah di mana saat ia tersadar dan meronta - ronta sebelum akhirnya si penculik kembali memberikannya bius.
__ADS_1
Ia meringkukkan tubuhnya, ia begitu ketakutan saat ini.
"Kalian akan menyelamatkanku kan? Aku takut di sini" lirihnya dalam isakkan.
Ceklek...
Suara pintu terbuka
"Ternyata kau sudah bangun sayang. Bagaimana? Apakah tidurmu nyenyak? Aku sudah lama sekali menunggumu terbangun untuk melihat mata indahmu itu" ucap seorang pria yang suaranya tak asing bagi Rainun. Rainun seketika langsung menoleh ke sumber suara itu.
"Kamu!" Serunya, wajahnya pias saat melihat pria di hadapannya.
"hahahahaha iya sayang, ini aku. Pria yang dari dulu sangat mencintaimu" pria itu mendekat ke arah Rainun.
"Kenapa kau lakukan ini padaku? Lepaskan aku! Aku tak menyangk pernah bertemu dengan pria busuk sepertimu" Rainun mulai meronta - ronta.
"Ssstttt jangan seperti itu sayang. Tetaplah di sampingku, kau akan menjadi istriku. Kita akan pergi dari sini dan akan berbahagia bersama anak - anak kita" Pria itu membelai pipi basah Rainun. Seketika Rainun langsung memalingkan wajahnya untuk menghindari belaian pria itu.
"Lepaskan aku! Aku tidak sudi menjadi istri pria pengecut sepertimu! Lepaskan aku biatkan aku pergi. Kumohon!!!" teriak Rainun lagi. kini tangisannya pecah bercampur dengan suara teriakan, berharap ada seseorang yang mendengarnya.
"Melepaskanmu? Hahahahaha mana mungkin! Aku sudah bertahun - tahun menunggu saat ini. Kenapa dari dulu kau selalu saja menghindariku? Tak taukah kau kalau aku begitu mencintaimu? Aku akan membahagiakanmu sayang" katanya. Kini ia duduk di hadapan Rainun.
"Ciihh" Rainun mendecih. Matanya menatap tajam ke arah pria di depannya. Sorot mata kebencian terpancar disana.
"Kau tau, bahkan untuk menatapmu seperti ini kini aku merasa jijik!" Rainun dengan berani mengatakan itu.
Plak...
sebuah tamparan mendarat empuk di pipinya. Rainun bahkan tersenyum ketika ada darah mengalir dari sudut bibirnya.
"Jaga bicaramu!" pria itu nampak geram. Ia mengepalkan tangannya beberapa saat setelah menampar wajah Rainun.
"Maafkan aku sayang" katanya. Ia lalu berdiri dan berjalan ke meja yang terdapat makanan di sana. Pria itu membawa senampan makanan juga minum dan diletakkan di sebelah ranjang Rainun.
"Aku akan melepaskan ikatan di tanganmu. Jangan berani berbuat macam - macam atau aku akan membunuhmu. Makanlah makanan itu" ancam pria itu.
"Berikan ia salep untuk mengobati lukanya" perintah si pria pada anak buahnya sebelum meninggalkan kamar Rainun.
Tak lama, seorang anak buah membawakan obat untuk mengobati luka Rainun. Rainun hanya diam, tak peduli dengan makanan juga obat yang ada di dekatnya.
Rainun menekan tombol rahasia di jamnya ketika si anak buah keluar dan kembali mengunci kamar Rainun.
Ia berharap akan ada seseorang yang merespon panggilannya dan menyelamatkannya. "hanya jam ini satu - satunya harapanku" batinnya.
__ADS_1
Rainun kembali menangis. "Ayah, bunda, tolong aku" lirihnya. Ia yakin bahwa ayah dan bundanya kini sedang melihat dan akan menjaganya.