
Rainun melajukan mobilnya santai. Dia akan bertemu Dion di tempat yang sudah Dion kirimkan alamatnya. Sebelumnya ia mengirim pesan pada Sakha untuk mengabarkan kalau hari ini dia akan bertemu dengan Dion. Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, ia akhirnya sampai di sebuah cafe tempat mereka berjanji untuk bertemu.
"Rainun" Dion yang sudah menunggu memanggil Rainun saat melihatnya masuk. Rainun kemudian berjalan ke arah Dion yang memanggilnya.
"Apakah sudah menunggu dari tadi kak?" tanya Rainun yang duduk di hadapan Dion.
"Mungkin baru sekitar sepuluh menit" jawabnya. "Gadis ini semakin cantik saja" batin Dion.
"Ada apa mengajakku bertemu kak?" tanya Rainun.
"Mm aku hanya ingin mengobrol denganmu karena sudah lama tidak bertemu dan terakhir bertemu hanya pertemuan singkat" ujar Dion. Rainun hanya mengangguk anggukkan kepala.
"Apa kau sibuk?" tanya Dion.
"Tidak, lagi pula ini juga hari libur" jawab Rainun.
"Oh ya mau pesan apa?" tanya Dion, ia lalu memanggil pelayan. Pelayan kemudian memberikan buku menu pada Dion dan Rainun.
"Aku mau ice cappucino saja" ujar Rainun.
"Baiklah kalau begitu ice americano satu dan ice cappucino satu" pinta Dion. Pelayan itu lalu kembali untuk menyiapkan pesanan mereka berdua.
"Bagaimana dengan perusahaanmu?" Dion membuka percakapan.
"Sampai sekarang berjalan lancar" jawab Rainun. "Kau sendiri di Indonesia membangun bisnis atau hanya berlibur?" tanta Rainun.
"Mmm aku sedang di minta perusahaan di Swiss untuk mengurus sesuatu di Indonesia" jawab Dion sedikit tergagap. Rainun mengernyitkan dahi mendengar jawaban Dion yang sedikit gagap itu.
"Aku dengar perusahaanmu sudah merambah ke Eropa? Kau banyak kolega juga ternyata" puji Dion.
"Oh itu, tidak juga. Aku banyak di bantu oleh Hendrawan Company" ujar Rainun. Wajah Dion sedikit masam ketika mendengar nama Hendrawan Company, namun ia berusaha menutupinya hingga tak terlihat oleh Rainun.
"Apa kau bekerja sama dengan perusahaan itu? Ah ya, aku dengar kau menjalin hubungan khusus juga dengan CEO Hendrawan Company" tanya Dion. Rainun membelalakkan mata kaget mendengar kata - kata Dion.
"Kau tau dari mana kak?" tanya Rainun.
"Mm waktu itu aku tak sengaja melihatmu sedang menemani CEO HC bertemu koleganya di sebuah restoran" Dion sedikit gugup menjawabnya. Rainun hanya tersenyum mendengarnya.
"Dia bilang baru satu bulan di Indonesia, dan selama satu bulan ini aku bahkan tak pernah menemani kak Sakha bertemu koleganya di restoran" batin Rainun yang merasakan sedikit keanehan.
"Kau sudah pernah bertemu dengan CEO HC sebelumnya? Dari mana kau tau kalau yang aku temani itu CEO HC?" selidik Rainun.
"Mmm ya aku hanya menebak saja. Lagi pula dengan beberapa asisten dan body guard, tak mungkin kan kalau hanya orang biasa" ujarnya. Rainun hanya mengangguk - anggukkan kepala.
Mereka kemudian mengobrol dan bernostalgia selama di perkuliahan. Rainun dan Dion sangat akrab dulu karena mereka sering kali terlibat projek juga bergabung di organisasi yang sama di kampus. Rainun sedikit risih karena berkali - kali memergoki Dion menatapnya dengan tatapan yang aneh menurutnya.
"Kenapa dia tak membahas tentang janjinya untuk membantu perusahaanku menginjakkan kaki di Swiss? Apa teman - temannya belum ada yang mau menerima?" batin Rainun.
__ADS_1
Mereka mengobrol sekitar satu setengah jam. Obrolan ini di dominasi oleh Dion. Setelah itu Rainun berpamitan untuk pulang dengan alasan harus menjaga keponakannya yang akan di titipkan padanya.
"Kalau begitu aku duluan ya kak. Terima kasih kopinya" Rainun tersenyum.
"Baiklah, hati - hati di jalan. Lain kali bisa kita bertemu lagi?" tanya Dion.
"Mm akan aku usahakan kak" jawab Rainun. Ia lalu berjalan meninggalkan Dion yang masih memandanginya hingga Rainun masuk ke dalam mobilnya.
"Dia masih cantik, baik dan pintar seperti yang dulu. Sayang sekali sekarang dia sudah memiliki kekasih" Dion bermonolog. Ia teringat dengan jawaban Rainun yang membenarkan hubungannya dengan CEO HC.
...****************...
"Nona bos. Ini ada kiriman dari Tuan bos" Supir Sakha menghampiri Rainun yang baru keluar dari mobilnya.
"pak Anto baru datang?" tanya Rainun ramah. Ia menerima buket bunga dan sebuah papper bag.
"Iya nona, saya baru sampai. Kalau begitu saya permisi dulu" Supir Sakha berpamitan, ia lalu berjalan menuju mobil yang terparkir di luar halaman Rainun.
Rainun kemudian masuk ke dalam rumah. Ia langsung menuju ke kamarnya dan membuka hadiah yang di kirim Sakha.
Rainun tersenyum melihat isi papper bag yang di beri Sakha.
"Ada - ada saja kak Sakha. Apa ini ada saluran khususnya?" ia teringat pada jam tangan yang di pakai Sakha setiap hari. Rainun memutar - mutar jam tangan pemberian Sakha
Triiinggg......
Panggilan vidio dari Sakha.
"Apa kirimanku sudah datang?" tanya Sakha.
"Iyaa, aku sudah menerimanya. Ini, terima kasih banyak kak" Rainun menunjukkan buket bunga juga jam tangan yang baru ia buka.
"Apa jam tangan ini ada saluran khususnya?" Rainun terkekeh.
"Kau tau dari mana?" tanya Sakha sedikit kaget.
"Eh, benar ada? Aku hanya bergurau" ujar Rainun yang juga kaget.
"Iya ada, itu jam yang fungsinya sama dengan milikku. Fungsi utamanya adalah untuk menerima sambungan khusus." jelas Sakha.
"Ooh begitu. Kau ini memberikanku hadiah yang aneh - aneh. Apa kau mau menjadikanku agen mata - mata kak?" Rainun terkekeh.
"Tentu saja tidak, mana mungkin calon istriku menjadi agen mata - mata sedangkan aku sendiri adalah bosnya" ujar Sakha.
"Hah apa? Kau bos agen mata - mata?" tanya Rainun.
"Iya, para Body guardku juga punya skil mata - mata profesional. Mereka juga di lengkapi dengan peralatan yang memadai" jelas Sakha. "Bagaimana pertemuan dengan kakak tingkatmu tadi?" tanya Sakha.
__ADS_1
"Ya hanya obrolan ringan. Sedikit aneh saja, dia tak membahas tentang janjinya tempo hari" ujar Rainun.
"Mungkin dia belum menghubungi koleganya atau koleganya belum memberi keputusan" ujar Sakha yang berpikiran positif.
"Mungkin saja begitu kak. Sepertinya aku terlalu berharap" Rainun terkekeh.
"Sayang, aku akan menghubungimu lagi nanti. Ada yang harus ku bicarakan dengan Toni" ujar Sakha.
"Siap bos" Rainun tersenyum. Sakha lalu menghentikan panggilan vidio dengan Rainun.
"Ada - ada saja kak Sakha ini. Untuk apa juga jam tangan dengan saluran khusus ini, kita kan ada di kota bukan di pedalaman yang tak memiliki sinyal ponsel. Tetapi jam ini memang bagus sih, terlihat mewah dan trendy saat di pakai" Rainun tersenyum saat mencoba jam tangan yang pas di tangannya itu.
Rainun kemudian mengambil laptop dan melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
...****************...
"Apa sudah ada waktu yang tepat kak?" tanya Sakha pada Toni.
"Bersiaplah, besok malam mereka mengadakan pertemuan di Chicago, kita harus kesana sekarang" Ujar Toni.
"Kau sudah mengirim anak buah ke sana?" tanya Sakha.
"Mereka sedang dalam perjalanan" jawab Toni.
"Baiklah kalau begitu ayo kita berangkat" Sakha dan Toni bergegas berangkat ke bandara untuk terbang menuju ke Chicago.
"Kali ini tak boleh gagal" Ujar Sakha pada Toni, Toni menganggukkan kepala. Ia berharap tak ada halangan sehingga rencana yang di susunnya dengan Sakha akan berhasil.
Tring....
Ponsel Sakha berdering.
"Hallo pi" ujar Sakha saat mengangkat panggilan itu.
"Bagaimana kabarmu dan kakakmu boy?" tanya papi Sakha.
"Kami berdua baik pi" jawab Sakha.
"Apa sudah ada perkembangan?" tanya papi Sakha.
"Kami sedang dalam perjalanaan menuju ke Chicago pi. Kabarnya mereka akan melakukan pertemuan sekaligus transaksi besok malam" Jawab Sakha.
"Apa kau perlu tambahan anak buah?" tanya papi Sakha lagi.
"Tidak pi, anak buah yang di kirimkan sudah cukup" jawab Sakha.
"Baiklah kalau begitu, berhati - hatilah kalian berdua" pinta papi Sakha.
__ADS_1
"Iya pi. Papi dan mami juga jaga kesehatan di sana. Jangan terlalu khawatir. Aku dan kak Toni akan membereskannya" ujar Sakha.
"Hm, papi percaya padamu dan kakakmu, boy. Kalian selalu bisa papi andalkan untuk mengurus apapun." ujar papinya lalu menghentikan panggilan telfon itu.