
"Sayang, apa kau akan baik - baik saja sendiri di hotel? Aku akan meeting sampai pukul dua siang" tanya Sakha yang menemui Rainun di kamarnya.
"Aku baik - baik saja kak. Jangan khawatir" Rainun menenangkan. Sakha kemudian memeluk kekasihnya itu.
"Kalau ada apa - apa cepat kabari aku" pesan Sakha.
"Siap bos!" Rainun tersenyum.
"Apa kau akan mengemas semua ini sendiri?" tanya Sakha melihat tumpukan barang dan koper.
"Tentu saja, lagi pula aku hanya akan berdiam diri di hotel saat kau pergi" jawab Rainun.
"Baiklah, jangan terlalu lelah dan jangan lupa minum obatmu setelah makan siang" Sakha kemudian berjalan keluar dari kamar Rainun.
"Hati - hati sayang. Fighting!" Rainun memberi semangat. Ia lalu mengunci pintu kamarnya.
"Banyak sekali, harus mulai dari mana ya?" Rainun bingung melihat barang - barang yang berserakan.
Ia kemudian mulai mengemas satu per satu barang - barang yang akan ia bawa pulang ke Indonesia. Ia berkutat dengan barang - barang itu selama empat jam.
"Aah akhirnya beres!" Rainun senang. Ia kemudian menyeduh coklat hangat dan duduk di sofa yang menghadap menara Eiffel.
"Aku ingin jalan - jalan. Tapi nanti kak Sakha marah kalau aku pergi sendiri. Apa aku menunggu kak Sakha pulang saja ya? Tapi kasihan dia pasti lelah jika aku ajak jalan - jalan" Rainun bimbang.
"Ah lebih baik aku menunggu kak Sakha saja. Aku tak mau merepotkan kak Sakha jika nanti terjadi apa - apa" Rainun bermonolog. Ia kemudian menikmati coklat hangat sambil menonton film.
Tringg...
Ponsel Rainun berdering.
"Hallo kak" sapa Rainun.
"Kau sudah makan siang sayang?" tanya Sakha.
"Belum, aku baru menghabiskan coklat hangat" jawab Rainun.
"Ada yang ingin kau makan? Aku sedang di perjalanan untuk kembali ke hotel. pekerjaanku selesai lebih cepat" jelas Sakha.
"Mm aku ingin beef yang waktu itu kita makan sebelum berkunjung ke menara Eiffel" pinta Rainun.
"Beef bourguignon? Baiklah aku akan membelikannya nanti" kata Sakha.
"Baiklah, terima kasih kak" Rainun lalu memutuskan panggilan telefon dari Sakha. Satu jam berselang, Sakha sampai di hotel.
"Kau sudah selesai berkemas?" tanya Sakha yang melihat tiga koper besar sudah berjejer.
"Iya, aku baru menyelesaikannya saat kak Sakha menelfonku tadi" jawab Rainun. "Kak, aku ingin berkunjung ke tempat wisata. Boleh?" pinta Rainun.
"Tentu saja, aku akan menemanimu setelah kita makan." jawab Sakha.
"Terima kasih kak" Rainun bahagia. Sakha sebisa mungkin selalu mengabulkan permintaan Rainun. Ia ingin selalu melihat gadisnya bahagia.
__ADS_1
...****************...
"Kita akan ke mana kak?" tanya Rainun di perjalanan.
"kita akan mengunjungi Istana Versailles" jawab Sakha.
"Benarkah?" Mata Rainun berbinar. Ia sangat suka mengunjungi tempat - tempat bersejarah. Sakha mengangguk menjawabnya.
"Apakah kita bisa mengunjungi Musium Louvre juga?" tanya Rainun.
Sakha melihat jam yang melingkar di tangannya "sepertinya masih bisa nanti. Kalau begitu kita jangan terlalu lama di Istana Versailles" kata Sakha.
"Baiklah" Rainun tersenyum gembira. Tak lama mereka sampai di Instana Versailles. Hanya berkeliling sebentar dan mengambil beberapa foto karena Rainun sudah tak sabar untuk mengunjungi Musium Louvre.
Mereka kemudian berpindah ke Musium Louvre, Musium dengan ribuan karya seni. Mereka menyewa seorang guide untuk tour selama dua jam. Rainun tampak begitu antusias mendengar setiap penjelasan dari guide. Tepat pukul lima sore mereka menyelesaikan tour nya. Tak lupa mereka mengambil beberapa foto di sana.
"Sangat menyenangkan" ujar Rainun.
"Kau suka?" tanya Sakha.
"Tentu saja aku suka" Rainun tersenyum bahagia.
"Kau masih mau berkeliling atau ingin kembali ke hotel? Hari ini cuaca tak terlalu dingin" tanya Sakha.
"Aku dengar sedang ada festival street food, bisa kah kita kesana?" tanya Rainun.
"Tentu saja. Ayo kita kesana" Sakha kemudian meminta supirnya untuk membawa mereka ke tempat yang di maksud oleh Rainun.
Sampai di sana Rainun begitu terpukau dengan deretan makanan yang menggugah selera.
Sakha kemudian menggandeng tangan Rainun dan berjalan melihat - lihat makanan yang di jual di sana.
"Mau makan apa sayang?" tanya Sakha.
"Sepertinya sandwich jumbo itu menggugah selera" jawab Rainun.
"Tak apa dengan antrian seperti itu" Sakha melihat deretan antrian yang cukup panjang.
"tentu saja, itu menandakan kalau makanannya memang enak" jawab Rainun.
"Baiklah kalau begitu kita akan mengantri" Sakha dan Rainun kemudian masuk dalam deretan antrian. lima belas menit mereka mengantri dan akhirnya mendapatkan apa yang di inginkan.
"Wuaah rasanya memang lezat" kata Rainun saat mencicipinya. Ia kemudian menyuapi Sakha.
"Kau benar, ini memang lezat" mereka berdua kemudian mencari bangku untuk duduk.
"Aku akan membeli creps dan minuman. Tunggulah di sini" pinta Sakha. Ia kemudian berjalan ke food truck tempat creps dan minuman. Rainun duduk sambil menikmati suasana malam yang ramai dengan pengunjung lalu lalang. Tak lama Sakha datang dengan membawa berbagai macam makanan.
"Kau bilang akan membeli creps dan minuman saja. Kenapa ada gorengan juga?" Rainun melihat makanan yang di bawa Sakha.
"Aku melihat pedagang rissol di sana. Ini khas belanda kata penjualnya" jelas Sakha. Rainun lalu mencicipi rissol yang di bawa Sakha.
__ADS_1
"Rasanya seperti rissol di indonesia. Hanya kulitnya ini lebih lembut dan isinya lebih creamy" kata Rainun.
"Mm kau benar. Aku jadi rindu makanan Indonesia" kata Sakha. "Cicipilah creps ini cukup enak" lanjut Sakha.
"iya kak. Aku jarang membeli creps, waktu itu hanya beli di abang - abang yang berjualan keliling" Rainun tersenyum.
"Aku bahkan jarang sekali membeli jajanan seperti ini. Tak banyak macam jajanan yang aku tau" ujar Sakha.
"Padahal ada banyak jajann di Indonesia yang rasanya enak. Kapan - kapan aku akan mengajakmu jajan street food seperti ini di Indonesia" kata Rainun.
"Sepertinya kita harus mencoba street food di seluruh dunia" Sakha terkekeh.
"Kau benar kak. Aku penasaran dengan street food di jepang dan korea" kata Rainun.
"Lain kali aku akan mengajakmu ke sana dan berkeliling menikmati street food di sana" Sakha tersenyum. Mereka menikmati sangat menikmati suasana malam terakhir di Paris walaupun cukup dingin.
"Ayo kita pulang, sudah semakin dingin. Kita harus beristirahat karena pesawat kita pukul sembilan esok" ajak Sakha setelah mereka menghabiskan makanan.
"Tentu saja. Oh ya kak, bolehkah mampir membeli macaron di truck dekat pintu masuk itu?" tanya Rainun.
"Tentu saja sayang. Ada lagi yang ingin kau beli?" Sakha menggandeng tangan kekasihnya.
"Tidak tau, kita lihat saja sambil berjalan apakah masih ada yang menarik untuk di beli" Rainun tersenyum.
"Kak, lihatlah. Ayo kita bermain itu" Rainun menunjuk permainan roullete. Ia menggeret Sakha ke sana. Sakha kemudian membayar untuk dua kali permainan.
"Aku akan memutar yang pertama" Rainun bersiap dan memutar papan bulat yang cukup besar itu. Ia harap - harap cemas menanti hadiah yang bisa ia dapatkan.
"Wuhuuu lihatlah aku mendapat coklat kak" Rainun girang. Sakha tersenyum melihat kekasihnya itu.
"Baiklah giliran aku yang memutarnya" Sakha kemudian memutar papan bulat itu. Terlihat ketegangan di wajah Rainun menanti roullete terhenti.
"Ah belum berhasil" Seru Rainun sedikit kecewa.
"Aku akan membayar lagi" Sakha bersemangat. Ia lalu membayar untuk lima kali permainan sekaligus. Permainan pertama, kedua, ketiga dan keempat ia gagal. Sekarang tiba permainan terakhir. Sakha memutar roullete dengan harap - harap cemas.
"Waahhh boneka!!" seru Rainun ketika melihat papan roullete berhenti. Penjual lalu memberikan sebuah coklat dan sebuah boneka bebek yang berukuran sedang pada Rainun. Rainun tampak bahagia mendapatkan hadiah itu.
"Sebenarnya kita bisa saja membelinya dengan harga yang lebih murah. Tetapi keseruan saat bermainnya itu yang tak bisa di gantikan" Kata Rainun tampak puas.
"Aku senang melihatmu seperti ini sayang" Sakha tersenyum.
"Ayo kita pulang kak" ajak Rainun.
"Eeh tak jadi membeli macaron?" tanya Sakha.
"Tidak. Aku sudah kenyang dengan hadiah ini. Lagi pula kemarin pak Toni sudah membeli banyak macaron untuk oleh - oleh" kata Rainun. Sakha menggeleng - geleng mendengar kata - kata kekasihnya itu. "Dasar wanita memang tingkahnya selalu saja aneh" gumamnya.
"Tunggu. Ayo kita beli cloud bread itu kak" Rainun menarik tangan Sakha.
"Katanya sudah kenyang?" ledek Sakha.
__ADS_1
"Aku lapar lagi setelah berjalan beberapa langkah" Rainun meringis.
"Ah kau ini ada - ada saja" Sakha terkekeh dengan tingkah Rainun yang menggemaskan menurutnya.