Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
52. Indonesia


__ADS_3

"Sudah tak ada yang tertinggal?" Sakha mengingatkan Rainun.


"Tidak ada sayang. Aku sudah mengeceknya berulang - ulang" jawab Rainun yakin.


"Baiklah ayo kita checkout dan ke bandara. Kau mau sarapan dulu?" tanya Sakha.


"Tidak, kita sarapan di bandara saja" jawab Rainun. Sakha mengangguk setuju. Mereka kemudian checkout dari hotel dan langsung menuju ke bandara.


"Sudah mengabari kak Sofia dan bang Raihan kalau kita pulang hari ini?" tanya Sakha.


"Tentu saja. Tadi aku sudah mengirim pesan pada mereka berdua" jawab Rainun. Kini mereka berdua sedang menikmati sarapan yang di beli oleh Sakha.


"Kak aku mau makananmu" Rainun membuka mulutnya. Sakha kemudian menyuapkan makanannya pada Rainun. Kini ia sudah terbiasa dengan tingkah Rainun yang satu ini.


"Kenapa kau suka sekali meminta makananku?" tanya Sakha.


"Karena setiap makanan yang kau pegang terlihat lebih enak" jawab Rainun.


"Memang bisa begitu? Kau ini ada - ada saja" kata Sakha.


"Iya menurutku setiap makanan yang kau pegang itu terlihat jauh lebih enak" jawab Rainun cuek. "Kau memang tidak tergoda dengan makanan yang ku pegang ini kak?" tanya Rainun. Mereka berdua sedang memakan sandwich dengan isian yang berbeda.


"Tidak. Aku malah lebih tergoda dengan si pemegang makanannya" Sakha tertawa. Rainun memelototi Sakha.


Mereka segera menyelesaikan sarapan dan masuk ke dalam pesawat. Perjalanan di tempuh kurang lebih empat belas jam hingga akhirnya mereka tiba di tanah air.


"Kalau begitu aku akan mengantar Rainun. Kau pulanglah bersama supirku" kata Sakha pada Toni.


"Kau tak mau pakai supir? Memang tak lelah?" tanya Toni.


"Tak apa, aku akan baik - baik saja. Lagi pula aku tidur cukup lama di pesawat tadi" jawab Sakha.


"Baiklah kalau begitu. Hati - hati bos" kata Toni. Sakha kemudian melajukan mobilnya menuju ke rumah Rainun.


"Ada yang ingin kau makan?" tanya Sakha.


"Tidak kak, aku masih kenyang" jawab Rainun. Sakha berkali - kali melihat ke spion yang ada di dalam mobil.


"Sepertinya ada yang mengikuti" batinnya.


"Ada apa kak?" tanya Rainun melihat gelagat aneh kekasihnya.


"Tak apa. Sepertinya mobil itu mengikuti kita" jawab Sakha.


"Memang benar. Ku kira body guardmu" kata Rainun.


"Tidak sayang, aku tak minta di kawal" jawab Sakha. Ia kemudian menghubungi Eriko.


"Apa kau mengirimkan body guard?" tanya Sakha.


"Tidak bos. Ada apa?" Eriko balik bertanya.


"Tak apa. Yasudah kalau begitu" Sakha kemudian mengakhiri sambungan telefonnya. Ia menambah kecepatan mobilnya, berusaha mengecoh orang yang mengikutinya.


"Ada apa kak?" Rainun sedikit panik ketika Sakha menambah kecepatan mobilnya.

__ADS_1


"Kau pegangan saja sayang" jawab Sakha yang fokus mengendarai mobilnya. Sakha dengan terampil mengendarai mobilnya hingga akhirnya berhasil mengecoh mobil yang membuntuti mereka.


"Kak, kau membuat jantungku hampir pindah ke ginjal" kata Rainun.


"Maafkan aku sayang. Yang penting sekarang kita sudah aman" Sakha tersenyum. Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Rainun. Rainun dan Sakha kemudian turun di sambut oleh mbok Surti dan pak Maman. Pak Maman dengan sigap membantu membawa koper - koper Rainun masuk.


"Loh, di mana abang dan kak Sofia mbok?" tanya Rainun yang melihat rumah tampak sepi.


"Mereka ke rumah sakit Kasih Ibu, non. Pagi tadi ketuban non Sofia pecah" jelas simbok.


"Hah? Kenapa tak mengabariku? Bukankah masih sekitar sembilan hari lagi dari perkiraan lahirnya?" tanya Rainun panik.


"Tadi aden sudah menelfon non Rainun tapi tidak aktif. Mungkin karena non masih di pesawat" jawab Simbok.


"Ah benar juga. Aku bahkan belum mengaktifkan ponselku" kata Rainun.


"Jangan panik sayang, lebih baik kita menyusul sekarang" kata Sakha menenangkan.


"Mau saya antar den? Aden pasti lelah" tawar pak Maman.


"Tak usah pak terimakasih. Lagi pula rumah sakitnya dekat" jawab Sakha.


"Mbok kalau begitu aku akan menyusul abang dan kak Sofia ke rumah sakit" Rainun berpamitan.


"Istirahat saja dulu, non dan aden kan baru sampai. Memang tak lelah? Non telfon saja dulu den Raihan." usul simbok. Rainun kemudian menelfon abangnya tetapi tak kunjung di jawab.


"Tidak di jawab mbok. Aku akan menyusul saja" ujar Rainun. Ia kemudian menarik Sakha kembali menuju mobil.


"Iya non. Hati - hati non" kata simbok. "Baru saja sampai, sudah pergi lagi. Mbok ya istirahat dulu" gumam simbok yang mengantar Rainun dan Sakha ke depan.


"Tenang sayang, pasti semua akan baik - baik saja" Sakha menenangkan kekasihnya yang tampak gusar. Rainun mengangguk dan mulai mengontrol emosinya. Tak lama mereka sampai di rumah sakit yang simbok beri taukan.


Rainun berjalan terburu - buru bersama Sakha. Ia kemudian menemui staf informasi untuk mengetahui ruangan Sofia.


"Permisi, saya mau tanya di mana ruangan ibu Sofia Maharani Atmaja" kata Rainun.


"Nyonya Sofia Maharani Atmaja ada di suite class nomor dua yang berada di lantai tiga" jawab petugas informasi.


"Baiklah, terima kasih" kata Rainun. Ia kemudian menggandeng Sakha dan bergegas menuju ke ruangan yang di maksud petugas informasi.


"Assalamualaikum" Rainun membuka pintu ruang kamar Sofia.


"Waalaikum salam" jawab mama Sofia. "Loh Rainun, Sakha. Kalian sudah sampai?" tanya mama Sofia.


"Iya ma, kami baru saja sampai" jawab Rainun. Ia kemudian memeluk mama dari kakak iparnya itu.


"Apa kabar tante?" tanya Sakha saat menyalami mama Sofia.


"Tante sehat nak" jawabnya.


"Di mana abang dan kak Sofia?" tanya Rainun.


"Mereka sedang berada di ruang dokter untuk berkonsultasi." jawab mama Sofia.


"Apa yang terjadi ma? Memang sudah ada kontraksi?" tanya Rainun.

__ADS_1


"Kata Sofia sejak semalam ia sudah mengalami kontraksi namun tidak rutin. di kira hanya kontraksi palsu mengingat HPL yang masih lebih dari seminggu. Namun tiba - tiba pagi tadi ketubannya pecah dan langsung saja di bawa ke sini. Menurut dokter sudah ada pembukaan satu, tetapi sedari tadi belum bertambah. Padahal sudah di induksi" jelas mama Sofia.


"Kasihan sekali kak Sofia. Pasti kesakitan" Rainun sedih. Sakha mengusap - usap punggung Rainun untuk menguatkan.


Ceklek...


Suara pintu terbuka. Terlihat Sofia, Raihan dan seorang perawat masuk.


"Kak Sofia!" Seru Rainun. Ia lalu menghambur memeluk kakak iparnya itu.


"Apa terasa sakit?" tanya Rainun mengusap - usap perut Sofia.


"Iya. Gelombang cintanya sudah mulai intens" jawab Sofia.


"Apa sudah bertambah bukaannya?" tanya Rainun lagi. Ia tampak begitu khawatir dengan kakak iparnya itu.


"Alhamdulillah, sudah bukaan empat sekarang" jawab Sofia.


"Biarkan kakakmu kembali ke tempat tidurnya dulu Rai" Raihan memperingatkan.


"Ah iya baiklah - baiklah" Rainun kemudian memberi jalan pada Sofia.


"Kenapa tidak pakai kursi roda saja?" tanya Rainun yang membuntuti kakak iparnya.


"Harus banyak berjalan Rai, agar lebih cepat pembukaannya" jawab Sofia.


"Kamu tak rindu abangmu?" tanya Raihan yang merasa tak nampak di mata Rainun.


"Ah iya tentu saja aku rindu" jawab Rainun kemudian memeluk abangnya.


"Kau juga di sini bro?" Raihan menghampiri Sakha yang duduk di sebelah mertuanya.


"Iya bang, aku mengantar Rainun" jawab Sakha.


"Terima kasih sudah menjaga Rainun" Raihan menepuk - nepuk bahu Sakha.


"Terima kasih juga bang karena mengizinkan Rainun menyusulku" Sakha tersenyum.


"Ma, bocah tengil itu sudah melamar Rainun. Lihatlah cincin ini" Sofia memamerkan cincin di jari manis kiri Rainun.


"Kenapa masih saja memanggil bocah tengil sih kak. Sakha sudah dewasa sekarang" mama Sofia mengomeli Sofia. Sofia memanyunkan bibirnya, sementara Sakha menjulurkan lidahnya meledek Sofia karena Sakha merasa di bela tantenya itu.


"Waah selamat ya Sakha dan Rainun. Kapan acara lamaran yang resmi akan di selenggarakan?" tanya mama Sofia.


"Terima kasih tante. Kami belum merencanakan waktunya. Doa kan saja tante, dalam waktu dekat ini" jawab Sakha.


"Wuaah ada rasa getir - getir bahagia di hatiku sekarang" kata Raihan jujur.


"Maksudnya?" tanya Rainun.


"Ya abangmu itu galau setelah kau menelfon kalau di lamar oleh Sakha. Ia tak menyangka adiknya kini akan menjadi milik orang. Kau tau, sejak itu dia jadi sering diam dan melamun." jelas Sofia yang mendengar curahan hati Raihan beberapa hari lalu.


"Aaah abang. Siapapun yang akan jadi suamiku, aku tetaplah adikmu satu - satunya" Rainun memeluk abangnya itu. Raihan tersenyum mendengar kata - kata Rainun. Ia mengusap - usap kepala adik perempuan kesayangannya itu.


"Sekarang aku yang kena mental. Aku harus berjuang lebih keras untuk membahagiakan Rainun lebih dari bang Raihan membahagiakan Rainun" Ujar Sakha tersenyum.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku tak akan melepas adikku satu - satunya ini pada pria yang tidak bisa membahagiakannya." kata Raihan.


__ADS_2