
[Pak Toni, apakah Sakha ada bersamamu?] Rainun ragu - ragu mengirimkan pesan. Ia kemudian menghapus pesan itu dan mengurungkan niatnya.
Rainun menangkupkan kedua tangannya di wajah. Hati dan fikirannya terasa tak karuan. Ia segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang duluan.
"Indah, apa hari ini dan besok aku ada jadwal?" tanya Rainun yang menghampiri ruangan Indah.
"Tidak ada kak. Kenapa? Apa kau sakit?" Indah sedikit khawatir melihat Rainun yang sangat lesu.
"Iya aku tak enak badan. Aku akan izin besok. Kirimkan saja pekerjaan yang penting melalui email" pinta Rainun.
"Baiklah, beristirahatlah kak. Semoga lekas sembuh" kata Indah.
"Hm. Terima kasih ndah, kalau begitu aku pulang dulu" pamit Rainun. Indah menganggukkan kepala.
Rainun melajukan mobilnya pelan. fikirannya masih berputar - putar. Sakha sudah sepuluh hari berada di Jerman, namun sedari kemarin ia sama sekali tak memberi Rainun kabar. Hari ini justru seseorang mengirimkan kabar tak mengenakkan tentang Sakha pada Rainun.
*Flash back.
Rainun sedang mengerjakan pekerjaannya. Ia sengaja meyibukkan diri agar tidak terus menunggu kabar dari Sakha yang sedari kemarin memberinya kabar.
"Kemana kak Sakha. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya" Batin Rainun sedih.
Rainun mencoba mengirim pesan padanya namun ia tak membalas. Bahkan ponselnya stidak aktif saat Rainun mencoba menelfonnya.
Drrtt....
Getar ponsel Rainun. Ia buru - buru membuka ponselnya. Ia berharap pesan itu dari Sakha.
"nomor siapa ini?" batinnya saat melihat nomor yang tidak di kenal mengirimkan pesan. Ia kemudian membuka pesan itu. Matanya terbelalak, Ia benar - benar kaget.
Seseorang tak di kenal mengirimkan foto selfie. Di belakangnya ada seorang pria yang sedang tertidur di bawah selimut. Ya pria itu adalah Sakha dan yang berfoto selfie dengannya adalah Wilona.
Dada Rainun bergemuruh. Ia tak mampu menahan air mata yang sudah siap meluncur dari pelupuk matanya itu.
*Flashback off.
"Aah apa itu benar - benar kak Sakha? Tapi mana mungkin ia melakukan itu" hati dan fikiran Rainun berduel. Logikanya mempercayai namun hatinya tidak. Rainun menghentikan mobilnya yang sudah sampai di halaman rumah.
"Loh Rai, tumben sudah pulang" tanya Sofia yang sedang duduk di ruang keluarga. Ia heran karena tak biasanya Rainun pulang siang hari.
"Iya, pekerjaanku selesai lebih cepat. Lagi pula badanku terasa tak enak" kata Rainun. Ia mendekat pada Sofia lalu mengusap perut besar Sofia.
"Kau sakit? Apa ada masalah yang lain?" tanya Sofia.
"Tidak kak, aku hanya ingin beristirahat. Nanti juga sembuh" Rainun berusaha tak membuat khawatir kakak iparnya yang sedang hamil besar itu.
Sofia menatap Rainun tajam. Ia adalah orang yang tak mudah di bohongi. Tetapi Sofia hanya diam, memberikan waktu pada Rainun yang belum mau menceritakan permasalahannya.
"Beristirahatlah. Kalau ada yang mau kau ceritakan, ceritakan saja pada kakak" ujar Sofia. Mata Rainun berkaca - kaca. Ia sangat ingin menceritakan semuanya, namun ia tak mau membuat Sofia terbebani.
"Baiklah kak, aku ke kamar dulu" kata Rainun yang sudah tak mampu menahan tangisnya jika ia terus berada di dekat Sofia.
Rainun kemudian masuk ke kamarnya, ia kemudian mengunci pintunya. Dia memeluk boneka pemberian Sakha dan mulai menangis. Menumpahkan semua kecewa dan kekesalannya.
__ADS_1
"Apa aku harus percaya begitu saja? Tapi bagai mana caranya untukku mengetahui kebenarannya?" Rainun kembali menangis hingga ia tertidur.
...****************...
"Ah dimana aku? Kenapa kepala ku sakit sekali?" Sakha tertuduk di tepi Ranjang. Ia bingung karena tak menegenali kamar ini. "Ini jelas bukan hotel tempatku menginap" batinnya.
Ia mengingat - ingat lagi kejadian semalam.
"Si*l ini pasti ulah Wilona" wajah Sakha merah padam. Ia kemudian mengambil ponselnya yang berada di nakas dan mengaktifkannya.
Ada lebih dari dua puluh panggilan tak terjawab dari kekasihnya dan Toni. Ia mencoba menghubungi Rainun tetapi Rainun tak menjawab panggilannya. Ia kemudian menelfon Toni.
"Kau ada di mana bos? Semalaman kami mencarimu tetapi tak menemukan jejakmu!" Toni sangat Khawatir.
"Aku tak tau sedang berada di hotel mana. Lacak GPSku dan jemput aku" perintah Sakha. Ia kembali merebahkan badannya. Merasakan kepalanya yang berdenyut kencang.
*Flashback
"Kau akan pergi sendiri bos?" tanya Toni saat melihat Sakha sedang bersiap. Sakha menganggukkan kepala.
Malam ini dia di undang ke acara ulang tahun pernikahan koleganya di Jerman. Ia memutuskan berangkat sendiri dengan menggunakan taxi karena Toni harus mengurus beberapa dokumen penting.
Setibanya di sana ia bertemu dengan banyak klien juga kolega. Tak di sangka ternyata Wilona juga ada di sana. Wilona terus saja mengganggu dan menggodanya. Ia berkali - kali menolak dan menghindari Wilona.
Terakhir yang dia ingat, dia menerima minuman dari Wilona. Ia tak enak menolak minuman itu karena pada saat itu ada ayah Wilona juga beberapa kolega yang sedang berbincang dengannya.
Ia merasakan kepalanya mulai sakit dan memutuskan untuk pulang dengan taxi.
"Aaah dasar wanita j*l*ng" umpat Sakha yang begitu kesal dengan Wilona.
Ponselnya berdering dan ia mengangkat panggilan dari nomor tak di kenal itu.
"Kau sudah bangun sayang?" Suara Wilona.
"Apa yang kau lakukan padaku!" Bentak Sakha.
"Aku hanya ingin memberikan sedikit kenang - kenangan untukmu karena kau menolakku begitu saja" Wilona terkekeh.
"Hm. Baiklah jangan menyesal karena sudah mulai permainan denganku" ujar Sakha. Ia kemudian memutuskan panggilan itu. Ia sudah muak mendengar suara Wilona.
"Aku akan memberikan pelajaran berharga untukmu" geram Sakha. Ia kemudian pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.
"Apa yang terjadi bos?" tanya Toni yang sudah tiba di lobi hotel.
"Wilona mengerjaiku" Sakha geram. Toni tak berani banyak bertanya karena melihat kemarahan di wajah Sakha.
Mereka kemudian menaiki mobil dan pergi dari hotel itu.
"Apa Rainun menghubungimu semalam?" Tanya Sakha pada Toni.
"Tidak bos. Nona bos tak menghubungiku" jawab Toni. Sakha mencoba menghubungi Rainun lagi namun Rainun tak kunjung mengangkat panggilannya.
"Atur pembalasan untuk Wilona" perintah Sakha.
__ADS_1
"Baik bos" jawab Toni.
"Kenapa Rainun tak menjawab panggilanku? Sepertinya terjadi sesuatu" Batin Sakha. Ia masih terus mencoba menghubungi Rainun. Ia kemudian menghubungi Eriko.
"Lacak GPS Rainun dan kirimkan padaku" perintah Sakha.
"Baik bos" jawab Eriko. Sakha menerima kiriman dari Eriko. Ia melihat kalau Rainun berada di rumahnya.
"Apa yang terjadi?" Sakha sangat gusar saat ini. Hatinya tak tenang.
"Siapkan aku tiket pesawat malam ini" pinta Sakha pada Toni yang berada di sebelahnya.
"Apa ada masalah dengan nona bos?" tanya Toni.
"Aku tidak tau. Tapi dia terus mengabaikan panggilanku" jawab Sakha.
"Baiklah bos, biar aku yang menyelesaikan pekerjaan di sini" kata Toni.
"Hm. Terimakasih" ucap Sakha.
...****************...
"kak Sakha menelfon" lirih Rainun yang memegang ponselnya. Ia kemudian meletakkan ponselnya dan membiarkannya terus berdering.
Tok..
Took...
"Rai, kak Sofia dan abang akan menginap di rumah mama" seru Raihan dari luar
"Iya bang, hati - hati ya" jawab Rainun dari dalam kamar. Ia tak mau keluar karena takut abangnya akan melihat matanya yang sembab.
"Baiklah. Kami akan pulang esok sore" lanjut Raihan.
"Baguslah, setidaknya aku tak harus mencari alasan untuk menutupi mataku yang semabab ini" gumam Rainun. Ia kemudian kembali memeluk boneka pemberian Sakha. Kilasan kenangan kembali terngiang - ngiang di pikirannya.
Ia membuka ponselnya dan melihat foto yang di kirim orang tak di kenal itu. "Aku harus mendengarkan penjelasan dari kak Sakha dulu" batin Rainun.
kruuukk....
Suara cacing di perut Rainun yang berdemo.
"Ah aku belum makan dari siang tadi" ia kemudian beranjak menuju ke dapur untuk mencari makanan.
Ia membuka membuka lemari es namun tak menemukan apa yang ia inginkan.
"Non mau makan?" tanya simbok yang melihatnya duduk di kursi makan.
"Tidak mbok, aku sedang malas" jawab Rainun.
"Non kenapa? Sakit?" tanya simbok khawatir.
"Aku hanya tak enak badan mbok" jawab Rainun. "Aku akan kembali ke kamar mbok" Rainun lalu pergi dengan membawa sebotol susu di tangannya.
__ADS_1
"Ya Allah gusti, mudah - mudahan tidak terjadi sesuatu yang buruk pada non Rainun" simbok merasakan sesuatu yang tidak beres terjadi pada Rainun.