
Malam hari itu mereka berkumpul di restoran yang berada di pinggir pantai. Angin pantai dan deburan ombak menambah syahdu suasana malam itu. Berbagai macam seafood mereka pesan untuk makan malam kali ini.
Rainun diam-diam menatap Sakha saat ia sedang sibuk memainkan ponselnya. Siluet wajahnya membuat Rainun tak berhenti kagum saat melihatnya.
Masih ada rasa canggung di hati Rainun saat Sakha ada bersama mereka. Berbeda dengan abangnya yang sudah terlihat akrab dengan Sakha.
Sakha yang merasa di tatap oleh Rainun dengan tiba-tiba melihat ke arahnya lalu menaikan ke dua alisnya seolah berkata 'ada apa?'.
Rainun yang tertangkap basah itu lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah. Sakha tersenyum tipis melihat Rainun yang salah tingkah karena tertangkap sedang memandanginya.
"Semua makanannya sudah datang?" Tanya Sofia yang tadi kembali lagi ke hotel bersama Raihan untuk mengambil ponselnya.
"Sudah, baru saja kak. Apa sudah boleh makan? Aku sudah lapar" Ujar Rainun yang semakin keroncongan karena mencium aroma lezat dari seafood di hadapannya.
"Iya, ayo kita tandaskan semua makanan lezat ini" Kata Raihan bersemangat. Ia adalah pecinta seafood garis keras.
Mereka makan tanpa banyak bicara. Semuanya terlihat menikmati hidangan di hadapannya itu.
"Abang ingin bicara apa?" Tanya Rainun. Setelah menyelesaikan makan malamnya.
"Abang akan menikahi Sofia dua bulan lagi. Setelah papanya kembali ke Indonesia" Ujar Raihan.
"Ddduuaa bulan? Apakah akan cukup untuk persiapannya? Abang sudah berbicara pada keluarga yang lain?" Tanya Rainun bertubi-tubi.
"Abang baru berbicara dengan mama dan papa Sofia saja. Kemudian kalian berdua disini. Rencananya kami akan menggelar pesta sederhana saja, hanya mengundang keluarga, sahabat dan beberapa rekan kerja. Hingga tak perlu banyak persiapan" Jelas Raihan.
"Menikahlah disini" Sela Sakha.
"Apa katamu?" Tanya Sofia memastikan.
"Menikahlah di sini. Adakan pesta outdoor, aku yang akan menyiapkan semuanya. Akan ku sediakan kamar hotel untuk keluarga dan tamu. Anggaplah ini adalah hadiah pernikahan dariku untuk kalian" Ujar Sakha.
Raihan, Sofia dan Rainun bengong mendengar penuturan Sakha.
"Tak usah repot-repot Sakha" Ucap Sofia yang lebih dahulu tersadar.
"Tolong jangan menolak. Aku tak akan menawarkannya dua kali. Aku ingin sesekali memberikan yang terbaik untuk kakak perempuanku ini" Kata Sakha tegas.
Sofia lalu memegang tangan Sakha yang berada di hadapannya. "Terima kasih sudah memberikan hadiah yang spesial untuk pernikahan kami" Ujar Sofia.
"Terimakasih banyak bro" Ucap Raihan yang kemudian menepuk bahu Sakha.
Rainun yang melihatnya ikut terharu dengan tindakan Sakha. "Dia ternyata orang yang perhatian pada keluarganya" Batin Rainun.
Mereka kemudian membicarakan persiapan pernikahan sembari menikmati dinginnya angin malam di pinggir pantai.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Rainun terlihat sudah berkali-kali menguap.
"Sudah larut, ayo kita kembali ke hotel" Ajak Sofia.
"Kamarmu di lantai berapa?" Tanya Raihan.
"Aku tinggal di penthouse hotel" Jawab Sakha.
"Tak ku sangka ternyata hotel ini memiliki penthouse" Ujar Sofia takjub yang hanya di jawab anggukan oleh Sakha.
"Ayo kita kembali ke hotel. Aku mulai ngantuk" Ajak Rainun lagi.
Mereka bertiga lalu berdiri hendak meninggalkan tempat mereka berkumpul, namun sejenak terhenti saat melihat Sakha yang masih duduk sambil memandang kilauan air laut yang tertimpa sinar rembulan.
"Kau tak ikut?" Tanya Raihan.
"Kalian duluan saja. Aku masih ingin disini" Jawab Sakha.
"Baiklah kalau begitu kami duluan" Kata Raihan kemudian mereka berjalan menuju hotel.
__ADS_1
...****************...
"Pukul berapa ini?" Tanya Rainun yang terbangun. Ia dan Sofia kembali tertidur setelah menjalankan ibadah Subuhnya.
"Hmmm sudah pukul sembilan" Jawab Sofia yang melihat jam di ponselnya.
Rainun kemudian membuka gordyn besar lalu membuka pintu kaca hendak menuju ke balkon. View yang ia dapatkan sangat menyejukkan mata. Namun ada hal yang kemudian lebih menarik di lihat.
"Sejak kapan mereka mulai bekerja?" Lirih Rainun.
"Ada apa Rai?" Tanya Sofia yang menyusul Rainun ke balkon.
"Lihatlah itu kak" Rainun menunjuk segerombolan orang yang sibuk bekerja.
"Astaga. Staf resort ini benar-benar mengangkat semua batu karang disana sepagi ini?" Seru Sofia kagum melihat tumpukan batu karang mati yang menggunung.
"Lihatlah si pemilik yang mengawasi pekerjaan stafnya itu" Lanjut Sofia sambil menunjuk ke arah Sakha yang berdiri di bibir pantai.
Rainun hanya tersenyum melihatnya. Dia benar-benar kagum dengan Sakha yang juga turun langsung mengawasi pekerjaan staf resort barunya.
"Ayo kita Sarapan. Abangmu sudah ada di Resto" Ajak Sofia. Rainun mengangguk dan mengekor pada Sofia.
Di restoran...
"Kau sudah lihat Sakha? Apa dia belum bangun?" Tanya Raihan.
"Dia sedang mengawasi stafnya yang mengangkat karang mati di sana" Jawab Sofia sembari menunjuk tempat dimana Sakha berada.
"Waah luar biasa. Dia benar-benar melakukannya. Padahal karang mati yang ada di sana tak sedikit" Kata Raihan kagum.
"Ya semua ini kan demi ke amanan pengunjung bang" Ujar Rainun sembari memasukkan makanan ke mulutnya.
"Mungkin kalau bukan kau yang terluka, dia tak akan sampai seperti ini" Celetuk Sofia yang membuat si kakak beradik itu kompak membulatkan mata nya.
"Iya benar. Bahkan saat aku berkunjung ke apartemennya. Tak ada setitikpun debu yang bersarang, padahal dia tak memiliki ART atau tukang bersih-bersih" Cerita Sofia.
"Pria sibuk itu ternyata rajin juga" Rainun kembali bersuara.
"Aku sudah selesai makan. Ingin berenang di pantai" Kata Sofia bersemangat.
"Turunkan dulu makananmu itu. Kau akan muntah nanti" Raihan memperingatkan. "Nanti aku temani berenang" Ujar Raihan.
"Kau mau ikut kami berenang, Rai?" Tanya Sofia.
"Tidak, aku kan sudah mandi tadi sebelum subuh. Lagi pula kakiku masih terasa nyeri." Jawabnya.
"Lalu kau akan kemana? Berdiam saja di hotel?" Tanya Raihan.
"Mmm aku ingin melihat tumpukan karang yang di angkat itu" Jawab Rainun.
"Melihat tumpukan karang atau melihat si pemilik yang sedang mengawasi disana?" Goda Raihan
"Ya keduanya" Jawab Rainun tanpa sadar.
"Eh, apa yang baru ku katakan" Ujarnya lirih sambil menepuk pelan mulutnya yang asal bicara.
Dua orang di hadapannya itu tertawa melihat Rainun yang jadi salah tingkah.
"Tak apa kalau kau bersamanya. Abang merestui" Kata Raihan kembali menggoda adiknya itu.
"Ish apalah abang ini. Kami hanya rekan kerja" Jawab Rainun ketus.
"Sudah-sudah, jangan menggoda Rainun terus" Kata Sofia melerai. "Ayo kita berenang" Ajak Sofia yang kemudian menggandeng tangan Raihan. Kedua sejoli itu melangkah menuju bibir pantai sambil bergandengan tangan mesra.
Kebetulan hari ini Resort di tutup sementara karena para Staf sedang melakukan pembersihan dan pembenahan di beberapa bagian. Hanya ada beberapa tamu yang sudah datang sejak kemarin termasuk Raihan, Sofia dan Rainun.
__ADS_1
Rainun membawa dua botol minuman ditangannya. Dia berjalan pelan menuju tempat karang mati itu menggunung.
"Wuaah banyak sekali batu karangnya" Ucapnya ketika ia berada di belakang Sakha.
"Sejak kapan kau disana?" Tanya Sakha yang baru menyadari keberadaan Rainun.
"Baru saja. Nih minum" Ujar Rainun memberikan sebotol minuman yang tadi ia bawa.
Sakha tersenyum menerima minuman yang di berikan Rainun.
"Akan di apakan karang-karang ini?" Tanya Rainun.
"Ntah lah, aku belum ada ide" Jawab Sakha "kau ada ide?" Tanyanya kemudian.
"Kenapa tak di buat menara atau sebuah bangunan yang bisa untuk berfoto-foto pengunjung. Mungkin nantinya akan menjadi icon resortmu ini" Jawab Rainun.
"Mmmm akan ku pertimbangkan nanti" Ujar sakha setelah mendengar pendapat Rainun.
"Jangan terlalu dekat dengan tumpukan karang itu. Itu bisa saja runtuh" Ujar Sakha pada Rainun yang berjalan semakin dekat pada tumpukan karang.
Rainun akhirnya kembali setelah mendengar peringatan dari Sakha. Ia memilih duduk di bawah pohon rindang di tepi pantai. "Gadis penurut" Ujar Sakha dalam hati.
Sakha kembali mengawasi pekerjaan para stafnya. Sudah ada dua tumpukan batu karang yang menggunung di hadapannya.
Sakha sesekali melihat ke arah Rainun yang memandang lautan lepas. Siluet wajah Rainun membuatnya ingin berlama-lama memandang gadis di depannya itu.
"Di mana bang Raihan dan kak Sofia?" Tanya Sakha sembari ikut duduk di dekat Rainun.
"Itu, mereka sedang berenang" Jawab Rainun sembari menunjuk dua orang yang sedang berenang itu.
"Bagai mana dengan luka di kakimu?" Tanya Sakha lagi.
"Masih sedikit nyeri" Jawab Rainun sembari melihat kakinya yang terluka.
"Tak apa, esok akan membaik" Ujar Sakha menenangkan. Rainun mengangguk mendengar ucapan Sakha.
Kemudian mereka sama-sama diam. Hanya suara burung, deburan ombak dan suara staf yang bekerja sembari bersenda gurau yang terdengar.
"Tuan. Kami sudah selesai membersihkan pantai dari batu karang mati ini" Suara seorang staf memecah keheningan.
"Baiklah. Biarkan saja dulu tetap disini. Nanti aku akan membuat bangunan dari karang-karang ini. Kalian bisa beristirahat" Perintah Sakha.
"Baiklah tuan" Ucap staf itu lalu pergi.
"Sejak pukul berapa mereka bekerja?" Tanya Rainun kembali memulai percakapan.
"Pukul enam lewat tiga puluh pagi, setelah sarapan" Jawab Sakha.
"Kau juga disini sejak pukul enam tiga puluh?" Tanya Rainun lagi. Sakha hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Rainun. Kemudian suasana menjadi sunyi kembali karena mereka sama-sama diam.
"Mmm mengenai pekerjaan, apakah kau bisa memasok biji kakao?" Tanya Sakha.
"Kakao ya? Aku sudah pernah beberapa kali mengekspor. Baru-baru ini ada komunitas petani kakao baru yang memasukkan proposal ke kantor. Tapi aku dan rekan belum mengunjungi untuk melihat kualitas kakaonya" Jelas Rainun.
"Ada seorang klien yang meminta di kirim biji kakao ke negaranya" Kata Sakha.
"Mmm kalau begitu, lusa aku akan mengecek kualitas kakao di sana" Ucap Rainun.
"Baiklah, kalau ada waktu aku akan ikut. Lusa ku hubungi kembali" Ujar Sakha.
"Ayo kembali ke hotel. Sudah mulai terik. Nanti kau akan terbakar matahari" Ajak Sakha.
Mereka berdua akhirnya berjalan bersama kembali ke hotel.
Sepasang mata elang mengawasi gerak gerik kedua orang itu. "Awas saja pria itu. Tak akan ku biarkan dia mengganggu milikku" Ujarnya menahan amarah
__ADS_1