Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
25. Kedatangan Keluarga


__ADS_3

Tring....


Suara panggilan di ponselnya membangunkan Sakha dari mimpi indahnya.


"Apakah kau sudah bangun?" Tanya gadis di sambungan telefon.


"Aku baru bangun sayang" Jawabnya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Segeralah mandi kak. Lalu kita sarapan bersama." Perintah Rainun.


"Hm baiklah tunggu sebentar" Jawab Sakha. Rainun lalu menghentikan Sambungan telefonnya.


Tepat pukul delapan, Rainun dan Sakha keluar dari homestay bersama.


"Kenapa kau tak mengeringkan rambutmu kak?" Tanya Rainun.


"Hair dryerku ada di penthouse" Jawab Sakha. Rainun mengangguk mengerti.


"Mau ku gandeng?" Tanya Sakha yang membuka kepalan tangannya ke arah Rainun.


"Apakah tak apa - apa?" Tanya Rainun.


"Hm. Tentu saja" Jawab Sakha. Rainun tersenyum kemudian menyambut tangan Sakha.


Dua insan yang sedang di mabuk cinta itu berjalan sembari bergandengan tangan menuju ke resto.


"Bagaimana tidurmu?" Tanya Sakha.


"Aku tidur nyenyak berkat suara merdumu yang deep itu" Jawab Rainun tersenyum.


"Bagaimana denganmu? Kau tidur nyenyak?" Tanya Rainun.


"Hmm. Aku tidur hanya sekitar tiga jam karena ada pekerjaan kiriman dari Toni yang harus ku selesaikan" Jawab Sakha.


"Apa dia tak kesini?" Tanya Rainun.


"Toni mungkin sudah disini bersama beberapa kelompok body guard" Ujar Sakha.


"Apakah perlu menggunakan banyak body guard? Tanya Rainun.


"Hm, semua demi keamanan kita" Jawab Sakha. Rainun mengangguk mengerti.


"Selamat pagi bosku!" Sapa Toni yang tiba - tiba sudah berada di depan mereka.


"Sial! Kenapa kau mengagetkan" Ujar Sakha. Ia refleks menendang Toni. Untung saja Toni dapat menghindar sehingga tak terkena tendangan dari bosnya itu.


"Baru saja kau ku bicarakan. Sudah ada di sini saja" Kata Sakha.


"Pantas saja kupingku berdengung kencang" Jawabnya.


"Aku dengar semalam ada kejadian yang menghebohkan resort" Lanjut Toni menggoda.


"Tak usah membahasnya. Kau akan membuat kekasihku ini malu" Ujar Sakha sambil menatap Rainun yang wajahnya sudah memerah.


"Kau dan pasukanmu sudah sarapan? Apakah semuanya aman?" Tanya Sakha pada Toni.


"Sudah bos. Semua aman terkendali" Jawab Toni.


"Baiklah kalau begitu aku akan sarapan terlebih dahulu. Setelah itu aku akan menemui kalian" Ucap Sakha.


"Siap bos dan nona bos" Ujar Toni.


"Eh, kenapa memanggilku nona bos?" Lirih Rainun. Sakha tersenyum mendengarnya.


Sakha dan Rainun kemudian berjalan meninggalkan Toni.


Sesampainya di resto mereka di sambut oleh mama dan papa Sofia yang juga tengah sarapan.


"Wah wah lihat dua sejoli yang pagi - pagi sudah menebar keromantisan" Seloroh mama Sofia yang melihat Sakha dan Rainun bergandengan tangan.


"Selamat pagi ma, pa" Sapa Rainun.


"Pagi nak. Kalian baru kemari?" Tanya mama Sofia.

__ADS_1


"Iya ma. Kami baru mau sarapan" Jawab Rainun.


"Segeralah sarapan kalian berdua. Kita harus menyambut keluargamu yang sebentar lagi akan tiba Rai" Ujar papa Sofia.


"Baiklah om, tante, kami berdua sarapan dulu" Ujar Sakha lalu mengajak Rainun mengambil makanan.


"Kau tak makan nasi?" Tanya Sakha


"Tidak. Aku ingin makan roti dan minum teh saja" Jawab Rainun. Mereka kemudian duduk untuk memakan makanan yang sudah mereka ambil.


"Kak, boleh aku mencicipi makananmu?" Tanya Rainun yang kini tergoda dengan nasi dan empal gentong yang di ambil Sakha.


"Nih aaaaa" Sakha kemudian menyuapkan makanannya pada Rainun.


"Kau mau ku ambilkan?" Tanya Sakha.


"Tidak, aku hanya ingin mencicipi milikmu" Jawab Rainun.


"Kau ini menggemaskan" Ujar Sakha tersenyum.


"Kak?" Panggil Rainun


"Hm. Ada apa sayang?" Jawab Sakha lembut.


"Aku mau sekali lagi" Pinta Rainun sambil melirik ke arah piring Sakha.


"Kemarilah, akan ku suapi" Jawab Sakha. Rainun kemudian berpindah duduk di samping Sakha agar memudahkan Sakha untuk menyuapinya.


Pada akhirnya mereka berdua memakan nasi dan empal gentong itu bersama - sama.


"Untung kau tak seperti bang Ehan. Dia akan mengomel jika aku mencicipi makanannya lebih dari dua kali" Ujar Rainun. Sakha terkekeh mendengar cerita Rainun.


"Sepertinya aku tak bisa marah padamu. Aku justru senang menyuapimu seperti ini" Ujar Sakha. Mereka menikmati sarapan dengan sesekali bersenda gurau.


"Dimana kedua calon pengantin?" Tanya Rainun.


"Entahlah. Sedari tadi aku pun belum melihat mereka. Mungkin masih berada di kamar masing - masing" Ujar Sakha.


Mereka segera menghabiskan makanan ketika melihat iring - iringan mobil masuk ke dalam halaman parkir hotel.


Di lobi hotel sudah ada mama dan papa Sofia, kemudian mami dan papi Sakha juga Raihan.


"Selamat datang besan" Ucap papa Sofia pada pakde Awal dan keluarga lainnya. Mereka semua lalu saling bersalam - salaman.


"Selamat datang pakde, bude, om, tante, sepupu - sepupuku. Terima kasih sudah datang" Ucap Raihan yang nampak bahagia. Rainun tak kalah bahagia kala melihat seluruh keluarga bisa datang. Mereka lalu menyalami satu persatu keluarga yang datang.


"Silahkan, silahkan mengambil kuci kamar yang di sediakan staf sesuai dengan barcode yang sudah di kirim via whats**p" Ujar Raihan.


Mereka semua dengan tertib lalu menscan barcode tersebut dibantu oleh para staf untuk mendapatkan kunci kamar.


Sebagian dari mereka memilih untuk beristirahat di kamar. sedangkan sebagian lagi hanya meletakkan barang - barangnya di kamar lalu kembali turun untuk menikmati keindahan pantai.


Tak lama, datang kembali iring - iringan mobil keluarga Sofia. Mereka juga disambut dan diperlakukan sama dengan keluarga Raihan.


Keramaian seketika terjadi di lobi hotel. Suara tertawa dan berbagai macam obrolan memenuhi ruangan tersebut.


...****************...


"Abang sudah makan?" Tanya Rainun saat melihat abangnya.


"Sudah. Abang sudah makan" Jawab Raihan.


"Dimana kak Sofia?" Tanya Rainun.


"Dia ada di homestay. Tim MUA juga baru sampai" Ujar Raihan. "Kamu sendirian? Dimana Sakha?" Tanya nya kemudian.


"Dia sedang menemui Toni dan body guardnya" Kata Rainun. "Abang tampak gelisah" Kata Rainun memperhatikan abangnya itu.


"Hm. Abang sedikit gugup" Jawab Raihan.


"Tenanglah, semua akan baik - baik saja" Ucap Rainun. Ia lalu memeluk abangnya, mengalirkan ketenangan.


"Kau baik - baik saja bang?" Tanya Sakha yang kini sudah berada di belakang Raihan.

__ADS_1


"Hm. Ya aku sudah baik - baik saja" Jawab Raihan.


"Baiklah, kembalilah ke kamarmu bang. Aku dan Rainun akan memeriksa lagi semua persiapan acara" Ucap Sakha. Raihan mengangguk kemudian berjalan menuju lift untuk kembali ke kamarnya.


Sakha dan Rainun kemudian berkeliling bersama menggunakan ATV.


"Kak Rai!!" Seru seseorang dari kejauhan.


"Indah. Hai" Ucap Rainun sambil melambaikan tangannya. Indah lalu menghampiri Rainun dan Sakha.


"Kalian berdua sepertinya menjadi partner segala bidang. Mulai dari pekerjaan sampai persiapan pernikahan" Ledek Indah.


"Bahkan kami akan menjadi partner hidup" Ujar Sakha.


"Benarkah? Aku tak salah dengar?" Tanya Indah membelalakan mata.


Rainun hanya mengangguk. Wajahnya yang merah tak dapat ia sembunyikan.


"Benarkah? Serius? Kalian sudah resmi sekarang?" Tanya indah yang masih belum percaya.


"Benar. Percayalah" Jawab Sakha.


"Wooohhh !!!! Selamat ya kalian berdua. Semoga segera menyusul kak Sofia dan bang Ehan" Ujar Indah girang.


"Terima kasih ndah" Ucap Rainun lalu memeluk sepupu yang paling dekat dengannya itu.


"Kamu bersenang - senanglah. Aku dan kak Sakha harus mengecek beberapa persiapan yang dilakukan kru dan staf resort" Ujar Rainun. Ia bersama Sakha lalu meninggalkan Indah dan melihat lokasi resepsi sebelum pergi menuju ke homestay.


...****************...


"Astaga astaga astagaa. Apa kalian tau?" Seru indah pada para sepupunya yang sedang duduk bersama di pinggir pantai.


"Ada apa ndah?" Tanya mbak Ani penasaran.


"Kak Rai dan pak Sakha sudah resmi" Ujar Indah.


"Resmi apa maksudmu? Bicaralah yang jelas" Timpal Bara yang kepo.


"Sudah resmi berpacaran" Jawab Indah. Sontak semua orang disana berpandang - pandangan.


"Haaahhhh. Aku sampai tak bisa berkata - kata. Tapi aku turut berbahagia" Ujar mas Surya.


"Aku juga senang Rainun akhirnya menemukan tambatan hati. Kita doakan yang terbaik untuk Rainun dan pak Sakha" Ujar mbak Salma.


"Apa kita masih harus memanggilnya pak? Dia kan akan menjadi bagian keluarga kita?" Tanya Fitri.


"Lalu kau mau memanggilnya apa? Mas? Terdengar aneh" Sewot Bara. Semua yang mendengar perkataan Bara itu terkekeh.


"Aku dengar, resort ini milik pak Sakha" Ujar mas Adi.


"Hm. Memang benar ini milik pak Sakha. Aku sudah bertanya pada staf hotel tadi" Jawab Bagas.


"Astaga mas. sempat - sempatnya kau bertanya" Kata Indah terkekeh.


"Ngomong - ngomong. Pukul berapa acara ijab qobulnya?" Tanya mbak Ani


"Ba'da Ashar. Kemudian dilanjutkan dengan pesta Resepsi" Jawab mas Adi.


"Lihatlah dekorasi outdoor ini. Mewah sekali bukan?" Ujar mbak Salma.


"Kau benar mbak. Pak Sakha memang luar biasa" Jawab Indah.


"Loh, kok pak Sakha?" Tanya Bara yang kembali kepo.


"Benar. Dialah dalang di balik acara mewah ini. Pernikahan di resort ini termasuk seluruh dekorasi dan tempat menginap adalah hadiah pernikahan dari pak Sakha, begitu yang ku dengar dari kak Rainun" Jelas Indah. Semua orang yang mendengar itu terperangah.


"Sepertinya harta pak Sakha tak akan habis tujuh turunan, delapan tanjakan dan sembilan belokan" Ujar Fitri terkagum - kagum.


"Kau benar. Bayangkan untuk sewa hotel dan resort ini saja perlu dana berapa ratus juta?" Kata mbak Ani.


"Untuk apa menyewa? Ini semua kan miliknya" Kata Bagas menimpali. Semua kembali tertawa.


"Aku tak menyangka akan memiliki sepupu sekaya pak Sakha" Ujar Fitri.

__ADS_1


"Bahkan Raihan yang seperti itu saja ternyata masih belum ada apa - apanya" Lanjut mas Surya sambil menggelengkan kepalanya heran.


Mereka semua kemudian melanjutkan ghibahnya ditemani riuhnya suara anak - anak yang bahagia bermain air di pantai.


__ADS_2