
"Bagaimana dekorasinya?" Tanya Rainun yang menghampiri Sakha.
"Sudah delapan puluh persen" Jawab Sakha.
"Nih kopi" Kata Rainun menyodorkan sebotol kopi kemasan pada Sakha.
"Terima kasih" Jawabnya. Ia hanya memegang belum berniat membuka botolnya.
"Kau tampak pucat kak" Ujar Rainun yang memandang wajah Sakha. Ia lalu memegang dahi Sakha untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Kau demam" Kata Rainun.
"Aku tak apa. Hanya sedikit tak enak badan" Jawab Sakha.
"Kau sudah sarapan?" Tanya Rainun sedikit khawatir. Sakha hanya menggelengkan kepala.
"Cepat berdiri. Ayo kita sarapan" Ajak Rainun pada Sakha yang sedang duduk di kursi kayu yang berada di bawah pohon.
"Nanti saja" Jawab Sakha.
"Ayo cepatlah. Kau harus minum obat setelahnya" Perintah Rainun. Ia kemudian menarik tubuh Sakha yang cukup berat untuknya.
"Uuuhhh, ayolah kak. Aku tak kuat jika harus menggendongmu. Nanti kondisimu akan memburuk. Esok sudah hari pernikahan abang dan kak Sofia" Kata Rainun yang mengerahkan seluruh tenaganya menarik Sakha untuk berdiri dari tempat duduknya.
Sakha tersenyum melihat perhatian dan usaha Rainun itu. Ia sengaja menahan duduknya saat Rainun menarik tangannya.
"Baiklah - baiklah" Ucap Sakha lalu berdiri dan mengikuti langkah Rainun menuju restoran yang berada di antara bangunan hotel.
"Kau ingin makan apa?" Tanya Rainun pada Sakha yang langsung mendudukkan tubuhnya di kursi. Tubuhnya memang terasa sedikit lemas.
"Aku tak berselera" Jawab Sakha menangkupkan wajahnya yang mulai terasa panas.
"Akan ku ambilkan bubur" Rainun lalu pergi mengambil bubur ayam yang ada di pilihan menu prasmanan.
Tak lama, Rainun kembali dengan semangkuk bubur dan segelas air hangat.
"Makanlah. Aku akan mengambil obat di kamarku sebentar" Ucap Rainun.
Rainun kemudian berjalan menuju ke kamar. Sakha menyendok bubur yang di ambilkan Rainun dengan malas. Tak lama, Rainun sudah kembali dengan membawa obat - obatan. Ia lalu duduk di hadapan Sakha.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa buburnya tak berkurang?" Omel Rainun.
"Sudah berkurang. Aku sudah memakan beberapa sendok" Jawab Sakha.
"Aah kau ini, makanlah yang banyak. Jangan seperti ini" Rainun kemudian mengambil sendok dari tangan Sakha lalu menyuapinya agar Sakha cepat menghabiskan buburnya. Sakha dengan senang hati menerima setiap suapan dari Rainun hingga tandaslah semangkuk bubur itu.
"Wah wah wah. Pemandangan apa pagi ini? Kenapa kau menyuapi bayi raksasa ini?" Tanya Sofia yang baru masuk resto.
"Adikmu ini sakit. Tetapi dia tak mau makan kak" Adu Rainun pada Sofia. Sofia lalu memegang dahi Sakha, memeriksa suhu tubuh adiknya itu.
"Kau benar - benar sakit. Baiklah lanjutkan kalau begitu. Akan ku titipkan adikku yang sedang sakit ini padamu. Tolong rawat dia ya Rai" Ucap Sofia dengan senyum meledek. Ia kemudian berjalan menuju ke meja hidangan untuk memilih menu sarapan.
"Ahh kak Sofia ini. Jangan meledekku begitu. Aku hanya membantu orang sakit ini" Ujar Rainun. Sofia hanya terkekeh mendengar seruan Rainun.
"Aku duluan ya. Aku akan makan di kamar" Ujar Sofia.
"Baiklah" Jawab Rainun.
"Jagalah bayi raksasa itu dengan baik" Ujar Sofia terkekeh.
"Tenang saja. Aku sudah terbiasa menjaga bayi" Jawab Rainun bergurau.
__ADS_1
"Nih minum obatnya" Perintah Rainun yang kini sudah duduk di sebelah Sakha. Sakha kemudian meminum obat itu dan menghabiskan air putih hangat di depannya.
Ia kemudian meletakkan kepalanya di pundak Rainun.
"Eh, ada apa? Apa kepalamu sakit?" Tanya Rainun.
"Tidak. Diamlah aku ingin seperti ini sebentar saja" Ucap Sakha yang memejamkan mata.
"Baiklah" Jawab Rainun. Ia kemudian diam membiarkan Sakha meminjam pundaknya. Jantungnya berdegub dengan kencang hingga ingin copot di buatnya. Sementara itu Rainun memainkan ponsel untuk meredakan debaran di dadanya.
Sudah dua puluh menit Sakha tertidur di pundak Rainun.
"Kak, sebaiknya kau beristirahat di kamarmu" Ucap Rainun menepuk - nepuk tangan Sakha pelan. Ia merasa tak enak dengan staf resto juga team WO yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Baiklah" Ucap Sakha yang langsung terbangun. Ia kemudian berdiri dibantu oleh Rainun.
"Kau akan kemana?" Tanya Sakha.
"Aku akan ke kamar membereskan barang - barang. Lalu akan pindah ke homestay. Staf bilang akan membereskan kamarku untuk tamu esok" Jawab Rainun. Sakha mengangguk mengerti.
"Terima kasih sudah merawatku" Ucap Sakha sambil berjalan. Rainun hanya menganggukkan kepala. Mereka lalu kembali ke kamar masing - masing.
Sore harinya....
"Selamat datang ma, pa. Om, tante" Sambut Raihan saat melihat calon mertua dan ke dua orang tua Sakha tiba, ia lalu menyalami keempatnya. Sebelumnya Raihan juga sudah pernah bertemu dengan ke dua orang tua Sakha.
"Dimana yang lain?" Tanya mama Sofia.
"Rainun dan Sofia sedang di homestay sedangkan Sakha beristirahat di penthousenya" Jawab Raihan.
"Tumben sekali ia tidur jam segini" Ucap mami Sakha.
"Iya tante. Tadi dia sedang tak enak badan" Jawab Raihan. "Mama, papa, om dan tante ingin langsung beristirahat atau ingin bersantai dulu?" Tanya Raihan.
...****************...
Suara bell membangunkan Sakha dari tidurnya. Setelah tidur yang cukup panjang, kini ia sudah merasa lebih baik.
Cekleek....
Sakha membuka pintu penthousenya.
"Apa kabarmu boy" Ucap papi Sakha saat melihat anaknya itu.
"Aku baik pi. Mami dan papi bagaimana kabarnya?" Ucap Sakha lalu memeluk kedua orang tuanya.
"Kami baik boy" Jawab maminya.
"Kapan kalian sampai?" Tanya Sakha.
"Baru saja. Kata Raihan kau sedang tak sehat?" Tanya mami.
"Hmm. Sekarang aku sudah baikan" Jawab Sakha. Mereka lalu duduk di Sofa.
"Jadi ini resort yang kau beli?" Tanya papi Sakha.
"Hm. Bagaimana?" Tanya Sakha.
"Cukup bagus. Apa saja yang sudah kau benahi?" Tanya papi Sakha.
"Lumayan banyak yang harus di benahi. Aku baru saja membangun homestay di dekat dermaga" Jawab Sakha.
__ADS_1
"Bagai mana pengunjung di sini?" Tanya nya lagi.
"Cukup ramai dan semakin ramai satu bulan terakhir ini" Jawab Sakha. Papi nya mengangguk - angguk mengerti.
"Kalian beristirahatlah di sini. Aku akan pindah ke homestay" Ujar Sakha.
"Baiklah boy" Jawab maminya.
Di malam harinya keempat orang tua berkumpul di teras restoran setelah tadi makan malam dan berkeliling melihat resort milik Sakha. Mereka bersantai dan berbincang - bincang.
"Resort ini luar biasa. Pilihan Sakha memang selalu tepat" Puji papa Sofia.
"Ya, kau tau sendiri kalau Sakha itu penuh perhitungan" Ujar papinya.
"Betul. Dia sama sepertimu" Kata papa Sofia yang membuat mereka terkekeh bersama.
"Hai ma, pa, om tante" Sapa Sofia saat melihat ke empat orang tua itu sedang bersenda gurau.
"Hai sayang" Jawab mama Sofia.
"Sepertinya seru sekali" Ujar Sofia.
"Kau tau lah nak, kami sudah lama sekali tak berkumpul seperti ini" Kata papa Sofia.
"Kemarilah Raihan, Sofia. Duduk bersama kami" Ajak papa Sofia.
"Di mana Sakha?" Tanya mama Sofia.
"Dia sedang berada di homestay" Jawab Raihan.
"Apakah dia sudah makan malam?" Tanya mami Sakha.
"Belum tante. Dia akan segera kemari untuk makan malam" Jawab Sofia. Mereka kemudian melanjutkan obrolan. Sesekali tertawa dengan gurauan - gurauan kecil.
Tak lama kemudian....
"Mi, pi, om, tante" Sapa Sakha yang datang bersama Rainun.
"Hay boy. Apakah ini calon istri yang akan kau kenalkan pada kami?" Tanya papi Sakha langsung saat melihat Sakha datang bersama gadis di belakangnya.
"Gadis yang cantik calon mantu mami" Ucap mami Sakha selanjutnya.
Semua orang disana terperangah kecuali mami dan papi Sakha yang memang belum mengenal Rainun. Semenjak datang tadi mereka belum bertemu dengan Rainun juga mereka tidak pernah mengetahui kalau Raihan memiliki seorang adik perempuan.
"Mmm itu pi" Jawab Sakha bingung sambil melihat Rainun. Wajah Rainun tampak sudah memerah.
"Kemarilah boy. Kenalkan pada kami semua" Pinta papi Sakha.
"Mmm pi, mi, dia sebenarnya adalah adik bang Raihan" Ucap Sakha menjelaskan.
Kini gantian mami dan papi Sakha yang terperangah kaget karena mengira Rainun adalah kekasih Sakha.
"Oh maafkan kami nak, kami kira kau kekasih Sakha" Papi Sakha merasa tak enak. Rainun tersenyum mendengar permintaan maaf dari papi Sakha itu.
"Mmm baiklah mungkin ini waktu yang tepat untukku mengungkapkan perasaanku pada gadis di sebelahku ini" Ujar Sakha. Ia kemudian menghadap ke arah Rainun.
"Rai, sebenarnya aku sudah menyimpan perasaan sejak pertama kali bertemu denganmu. Semakin kesini, aku merasa semakin nyaman bersamamu. Rasa rinduku sulit ku bendung saat aku tak melihatmu. Aku ingin berada di dekatmu, menjagamu, melindungimu selama hidupku. Aku tak tau apa yang kau rasakan padaku saat kau berada di dekatku. Aku berharap kau merasakan kenyamanan saat berada di dekatku." Ucap Sakha. Ia kemudian menarik nafas panjang.
"Di hadapan orang tua ku juga abangmu aku ingin memintamu menjadi kekasihku. Mau kah kau menjadi kekasihku dan orang yang akan menemaniku baik suka maupun duka? Aku tak bisa menjanjikan banyak hal, yang jelas aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia" Ucap Sakha tulus.
Tak hanya keluarga, semua staf dan kru WO yang sedang makan malam terpaku dengan Sakha yang sedang mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
Rainun memejamkan matanya, merasakan debaran jantungnya yang begitu kuat. Ia kemudian membuka mata dan menatap dalam mata pria yang juga ia sukai di hadapannya. Ia mencari kebohongan disana namun yang ia dapat adalah pancaran ketulusan dan harapan dari mata Sakha.
Semua orang disana juga merasakan ketegangan yang di rasakan Sakha. Mereka semua berdebar menunggu jawaban dari Rainun.