Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
63. Dimana?


__ADS_3

"Bang, apa simbok sudah memberi kabar?" tanya Sakha ketika panggilannya di angkat oleh Raihan.


"Tadi rumah menelfon, tetapi aku tak mengetahuinya karena aku baru sempat memegang ponselku. Ada apa?" tanya Raihan suaranya berubah cemas.


"Rainun hilang" kata Sakha


"Apa? Bagaimana bisa? Apa sudah lapor ke polisi?" Raihan berubah menjadi panik.


"Simbok dan pak Maman mungkin sudah lapor polisi. Aku dan anak buahku sedang mencari Rainun melalui gelangnya yang sudah kutanam chip GPS" ujar Sakha.


"Dia ada di mana? Apa sudah berhasil melacaknya?" tanya Raihan.


"Anak buahku sudah berhasil melacaknya. Dia ada di kota M. Kami sedang dalam perjalanan menuju ke sana" jawab Sakha.


"Tolong kabari aku setiap perkembangannya. Aku akan mencari tiket pesawat sekarang juga" kata Raihan. Suaranya bergetar karena panik dan khawatir.


"Iya bang. Hati - hati, jangan terlalu panik. Pikirkan kak Sofia dan Lili juga. Aku akan menemukan Rainun secepatnya" pesan Sakha.


"Terima kasih banyak Sakha" kata Raihan. Ia lalu menghentikan panggilan itu.


Tring....


Panggilan masuk di ponsel Sakha.


"Bos sudah sampai di mana?" tanya Eriko.


"Lima menit lagi aku sampai di titik lokasi gps" jawab Sakha.


"Bos, kami hanya menemukan gelang nona bos di sini" ujar Eriko.


"Apa?" Sakha refleks mengerem mobilnya karena kaget. "Tak ada Rainun di sana?" tanya Sakha.


"Iya bos. Hanya ada gelangnya yang terjatuh di jalan" kata Eriko.


"Tunggu aku, aku akan segera sampai" Sakha kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak sampai lima menit, Sakha sudah sampai di tempat Eriko dan para body guard menemukan gelang Rainun.


"Ini gelangnya bos" Eriko memberikan gelang itu pada Sakha.


"Baiklah, sekarang kita sisir daerah ini. Mungkin saja dia ada di sekitar sini" ujar Sakha. mereka kemudian berpencar untuk menyisir wilayah itu. Dua jam lebih mereka mencari namun tak menemukan petunjuk lagi.


"Bagaimana? Apa sudah ada petunjuk?" tanya Sakha pada body guardnya yang kembali berkumpul. Mereka semua menggeleng karena tak menemukan petunjuk.


"Aah Siaal!!!" Sakha meninju pohon di sebelahnya hingga tangannya terluka.


"Bos! Jangan seperti ini. Kita harus tenang dan berfikir jernih untuk menghadapi situasi ini" Eriko memperingatkan. Ia menepuk nepuk bahu bosnya itu, mencoba menenangkan.


"Tolong ambilkan p3k di mobil" perintah Eriko pada body guardnya. Ia lalu mengobati luka di tangan Sakha dan membalutnya dengan perban.


Sakha menarik nafas dalam - dalam. Apa yang di katakan Eriko benar. Dia mencoba menenangkan dirinya.

__ADS_1


"Sudah dini hari. Sebaiknya kita ke hotel untuk beristirahat. Kita lanjutkan pencarian esok" perintah Sakha. Mereka semua akhirnya menuju ke hotel untuk beristirahat. Sakha tak mau membuat para body guardnya terlalu lelah hingga pencarian menjadi tak maksimal.


Sesampainya di hotel milik papi Sakha, para body guard langsung saja masuk ke kamar dan beristirahat. Sementara Eriko yang tinggal satu kamar dengan Sakha kembali berdiskusi untuk menemukan keberadaan Rainun.


"Apa kita tak bisa melacak keberadaan melalui jam tangan? Mungkin saja Rainun memakai jam tangan yang ku berikan" tanya Sakha. Eriko berfikir sejenak.


"Aku akan mencobanya. Mungkin akan butuh waktu agak lama karena aku tak memasang gps pada jam tangan, bos" jawab Eriko. Jarinya menari dengan lincah di atas keyboard laptopnya. Ia berusaha mencari celah agar bisa melacak Rainun melalui jam tangan pemberian Sakha.


"Mudah - mudahan Rainun memakai jam tangan itu" Sakha berharap. Raut kecemasan semakin menebal di wajahnya.


Tring....


Ponsel Sakha berdering


"Hallo?" Sakha mengangkat panggilan masuk itu.


"Bagaimana? Apa kau sudah menemukannya?" tanya Toni.


"Kami kehilangan jejak, gelang yang di pakai Rainun terjatuh di sana dan ia tak ada di sekitar sana" jawab Sakha lesu.


"Lalu, apa langkahmu selanjutnya?" tanya Toni. Ia memijat pelipisnya, kepalanya berdenyut karena masalah yang di alami adiknya itu terlebih lagi kini ia tak bisa menemaninya.


"Kami sedang beristirahat di hotel. Para body guard tampak sudah lelah. Sekarang, Eriko sedang berusaha melacak Rainun melalui jam tangan" jelas Sakha.


"Aku menemukan titik koordinat tetapi tak tau pasti di mana keberadaannya" ujar Eriko bersemangat. Sakha langsung saja mendekat untuk membaca titik koordinat itu.


"Baiklah besok kita akan langsung meluncur ke titik koordinat itu. Setidaknya akan lebih dekat dan saluran khusus bisa tersambung" ujar Sakha. Eriko mengangguk menyetujui.


"Sekarang beristirahatlah kalian berdua" kata Toni yang sambungan telfonnya belum terputus.


"Hm kami akan beristirahat kalau begitu" Sakha kemudian menghentikan panggilan telfon dari Toni.


Pukul empat dini hari, Sakha masih juga belum bisa tertidur. Ia masih terbayang - bayang kondisi Rainun saat ini. "Dia pasti sangat ketakutan" batinnya. Dilihatnya Eriko yang sudah tertidur lelap di sebelahnya.


Sakha kemudian bangkit dari tempat tidurnya, ia menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Setelah itu ia bersiap menuju ke titik koordinat yang telah di temukan Eriko.


Sakha mengendarai mobilnya di jalanan yang lengang. Melihat sekitarnya barang kali Rainun ada di sana. Ia melihat gelang Rainun yang ia simpan.


"Tunggu aku sayang, aku akan menolongmu" lirihnya. Perasaannya tak karuan hingga rasa kantuk tak dapat ia rasakan. Di fikirannya sekarang hanya ada Rainun, ia membayangkan kekasihnya yang sedang menangis saat ini.


Matahari mulai memancarkan semburat sinarnya ketika Sakha sampai di sebuah komplek ruko yang sepi. Ruko - ruko di sana sudah banyak yang rusak karena di tinggal pemiliknya. Ia berhenti pada titik koordinat yang di temukan Eriko. Kini ia berada di kota S, kota yang tak jauh dari kota M


Sakha turun dari mobilnya. Berkeliling sebentar melihat keadaan di sana.


"Apa benar di sini? Sepi sekali, seperti tak ada kehidupan" batin Sakha.


"Apa yang tuan lakukan di sini?" tiba - tiba seorang pemulung muncul.


"Ah ini bu, saya hanya mampir. Apa ruko ini sudah di tinggalkan bu?" tanya Sakha.

__ADS_1


"Kalau yang depan ini sudah lama kosong. Yang di sebelah sana Tuan ada perumahan yang masih ramai" kata si Ibu menunjuk sebuah tempat.


"Apa ada akses jalan ke sana?" tanya Sakha.


"Ada tuan. Tuan ikuti saja jalan ini hingga mentok, nanti ada jalan di sebelah kanan, tuan ikuti saja jalan itu, memang sedikit jauh" jelas si Ibu.


"Ah pantas saja, ku kira jalan buntu" batin Sakha. "Terima kasih banyak bu. Ibu sudah lama bekerja mengambil barang - barang ini?" tanya Sakha. Ia mengobrol sejenak dengan si ibu yang sufah memberinya sebuah petunjuk.


"Iya tuan, saya dan anak saya menempati salah satu rumah kosong di sini" jawab si ibu.


"Rumah kosong? Berarti tak punya listrik dan air bersih? Berapa usia anak ibu? Apa dia bekerja?" tanya Sakha bertubi - tubi.


"Iya tuan. Air bersih, saya dan anak saya biasa mengambil dari masjid di perumahan sana. Anak saya laki - laki berusia tujuh belas tahun, harusnya ia masih sekolah, namun sudah putus sekolah sejak kelas dua SMP. Dia mencari barang bekas seperti saya tuan" kata Ibu.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak informasinya bu, saya pergi dulu" kata Sakha.


"Sama - sama tuan" si Ibu kemudian melanjutkan pekerjaannya mencari barang bekas juga botol - botol.


Sakha melajukan mobilnya menuju perumahan yang di tunjukan si ibu. Perumahan mewah yang letaknya tersembunyi di balik ruko - ruko terbengkalai.


Sakha mengambil ponselnya dan menghibungi seseorang.


"Kak, tolong siapkan sebuah rumah sederhana di kota M" pinta Sakha. Tentu saja ia menelfon Toni.


"Ada apa? Tiba - tiba sekali" tanya Toni penasaran.


"Aku bertemu seorang ibu di kota S, aku menemukan perumahan tempat Rainun di sembunyikan karena ibu itu. Dia memiliki seorang anak laki - laki dan berikan anaknya juga ibu itu pekerjaan di hotel" jelas Sakha.


"Baiklah aku mengerti. Aku akan mengirim anak buahku ke sana" jawab Toni.


"Terima kasih kak" ujar Sakha. Ia lalu menghentikan panggilan telefon itu.


Ia melihat nyala lampu merah pada jamnya. Buru - buru ia menekan tombol untuk menerima suara saluran itu.


"Apakah ada orang yang terhubung di sini? Tolong aku" lirih suara seorang wanita di sela - sela isakannya. Hati Sakha begitu teriris mendengar suara wanitanya itu.


"Sayang, ini aku. Aku berada di dekat tempat kau di sekao. Jangan menangis, aku pasti akan menyelamatkanmu. Apa kau baik - baik saja saat inu?" jawab Sakha, suaranya bergetar menahan kepiluan hatinya.


"Kak Sakha? Benar ini kak Sakha" suara Rainun sedikit bersemangat. "tolong aku, aku akan menunggumu. Aku baik - baik saja kak" ia kembali terisak.


"Iya ini aku. Hati - hati sayang, jangan panik dan jangan menimbulkan kecurigaan. Hanya alat ini satu - satunya yang bisa membuat kita terus terhubung saat ini" jelas Sakha. Hatinya sedikit tenang mendengar Rainun dalam keadaan baik - baik saja saat ini.


"sekarang jelaskan padaku, apa kau bisa melihat sesuatu di luar?" tanya Sakha.


"Aku akan memanjat meja untuk membuka tirainya" jawab Rainun.


"Hati - hati dan lakukan pelan - pelan sayang" pinta Sakha.


"Brakk!!! Hey apa yang kau lakukan?" teriak seorang pria. Suaranya terdengar dalam saluran panggilan rahasia itu.

__ADS_1


__ADS_2