Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
44. Kehamilan


__ADS_3

Sudah lebih dari tiga bulan setelah kepulangan Sofia dan Raihan dari Singapura. Sore itu Sofia dan Rainun sedang bersantai di halaman samping rumah.


"Rai, kayaknya enak ya sore - sore gini makan bubur" kata Sofia.


"Ehh kok aneh" celetuk Rainun. "bubur tuh enaknya di makan pagi lah kak" kata Rainun.


"Sore juga enak kok" jawab Sofia. Rainun menggeleng - gelengkan kepalanya heran. Sofia lalu menelfon Raihan meminta di bawakan bubur jagung.


"Bagai mana hubunganmu dengan Sakha?" tanya Sofia.


"Semua baik - baik saja" Rainun tersenyum.


"Kapan kalian menikah?" tanya nya lagi.


"Eh kok tiba - tiba. Kami belum membicarakan pernikahan kak, kami masih menikmati masa pacaran" jawab Sofia.


"Nikmati apanya? Ketemu juga jarang. Sekalinya ketemu juga ikut Sakha meeting" ledek Sofia.


"Ya itulah seni nya hubungan kami" Rainun terkekeh. Benar juga yang di katakan kak Sofia. Mereka bisa bertemu saat mengikuti kegiatan salah satu di antara mereka.


"Apa dia pernah menyakitimu selama ini?" tanya Sofia.


"Tidak. Dia sangat menjagaku" Rainun tampak bahagia. Sofia tersenyum melihat kebahagiaan di wajah adik iparnya itu.


"Dari dulu dia memang pria yang baik" Ujar Sofia. "Apa dia sedang tak di sini? Dia jarang menjemputmu" tanya Sofia lagi.


"iya, dia sedang di London sekarang" jawab Rainun.


"Kasihan sekali adik ku ini berpacaran rasa single" ledek Sofia yang terkekeh. Rainun mengerucutkan bibirnya mendengar ledekan kakak iparnya itu.


"Sayaanggg" terdengar suara Raihan yang mencari Sofia.


"Aku di samping" teriak Sofia. Raihan kemudian menghampiri istrinya.


"Nih pesananmu" kata Raihan menyerahkan kantung pelastik. Sofia tersenyum menerimanya.


"Kenapa kau bau sekali. Cepat mandi sana" perintah Sofia.


"Iya iya baiklah" jawab Sakha. Ia lalu masuk ke kamarnya, bergegas untuk mandi. Sementara Sofia dan Rainun menikmati bubur jagung yang di beli Raihan.


"Aku mau" kata Raihan menghampiri Sofia setelah mandi.


"Aaaaa apa kau tidak pakai sabun? Kenapa masih bau sayang" seru Sofia.


"Aku pakai sabun kok sayang" Raihan mengendus - endus tubuhnya. "Rai emang abang bau?" tanya Raihan yang mendekat ke Rainun.


"Enggak kok. Ini bau sabun" kata Rainun yang kini ikut mengendus - endus tubuh abangnya.


"Aneh ih kamu" kata Raihan. Sofia cuek saja mendengarnya.


Selama beberapa hari ini Sofia tak mau dekat pada Raihan. Ia beralasan Raihan bau. Hal itu membuat Raihan kesal pada Sofia.


Beberapa hari ini juga Sofia tiba - tiba menjadi uring - uringan termasuk pada Rainun.


"Ada apa sih dengan kakakmu itu Rai?" sungut Raihan pada Rainun yang sedang menonton tv.


"Entahlah. Kau sih bang cari masalah, kan aku juga yang kena" kata Rainun.

__ADS_1


"Mungkin non Sofia lagi ngidam tuh den. Coba periksakan ke dokter" kata simbok yang lewat di belakang mereka.


Raihan dan Rainun bertatap - tatapan. Apa mungkin ya? Fikiran mereka berdua.


Tingnunggg.....


Suara bel rumah berbunyi.


"Biar aku yang membukakan pintu" kata Rainun


Rainun kemudian masuk bersama Sakha. Ia membawa sebuah papper bag oleh - oleh Sakha dari London.


"Kamu hanya membawakan oleh - oleh untuk Rainun?" tanya Sofia yang melihat Sakha dan Rainun. Matanya mulai berkaca - kaca.


Sakha, Rainun juga Raihan terperangah melihat tingkah Sofia.


"Iya, dia kan kekasihku. Maaf ya kak aku tak membawakanmu oleh - oleh" kata Sakha polos.


Sofia kemudian berjalan masuk ke kamarnya. Ia membanting pintu kamar lalu menguncinya.


"Apa yang terjadi?" Sakha bertanya pada Rainun dan Raihan.


"Aku juga tidak tau kak" jawab Rainun. Ia kemudian berjalan menuju pintu kamar Sofia.


"Kak, kalau kau mau ini ambil saja. Ini untukmu tak apa - apa. Jangan menangis seperti itu" Bujuk Rainun dari luar.


"TIDAAAAAAKKKKK!!!!!!" Seru Sofia dari dalam kamar.


"Aah kau juga kenapa hanya bawa satu sih kak. Kan kau tau ada dua wanita di sini" Rainun menyalahkan Sakha.


"Aku tidak tau kalau akan seperti ini. Biasanya kak Sofia cuek - cuek saja saat aku memberimu hadiah. Kenapa dia begini?" Sakha kini menatap Raihan.


Mereka semakin bingung dengan sikap Sofia yang aneh. Ia menjadi lebih sensitif sekarang.


"Sebaiknya besok kau membawa kak Sofia ke dokter bang. Ini enggak beres nih" kata Rainun yang akhir - akhir ini sering terkena omelan Sofia. Raihan dan Sakha mengangguk setuju.


...****************...


"Hallo, Rai kau di mana?" tanya Sofia dari sambungan telefon.


"Aku sedang di mall kak" jawab Rainun.


"Dengan siapa? Tumben kau ke mall" tanya Sofia.


"Aku sedang menjalankan tugas ibu negara" jawab Rainun terkekeh.


"Ooh kau pasti menemani Sakha bertemu koleganya" Sofia menebak. Mereka berdua tertawa.


"Baiklah kalau begitu" kata Sofia lalu memutuskan panggilan.


Rainun kembali ke meja di mana Sakha sedang mengobrol dengan koleganya. Rainun mencoba membuka tutup botol namun kesulitan. Sakha yang masih mengobrol kemudian meraih botol Rainun dan membukakan untuknya.


Rainun tersipu sedikit malu dengan kolega Sakha hingga tutup botol yang ia pegang terjatuh. Ia menunduk untuk mengambil tutup botol itu.


Sakha melirik dengan ujung matanya setiap kegiatan Rainun. Ia buru - buru meletakkan tangannya di ujung meja yang runcing agar Rainun tak terluka karena terbentur.


Jedugg...

__ADS_1


Benar saja dugaan Sakha. Kepala Rainun terbentur, untung saja terhalang tangan Sakha sehingga bagian yang runcing gak mengenai kepalanya.


"Kau tak apa?" tanya Sakha mengusap - usap kepala Rainun. Rainun menggeleng lalu meringis.


"Maafkan saya pak" Rainun tak enak pada kolega Sakha. Kolega Sakha mengangguk tersenyum melihat tingkah dua sejoli di hadapannya.


Sakha kemudian melanjutkan lagi perbincangannya dengan koleganya itu. Rainun menatap kekasih di sebelahnya.


"Bahkan disaat dia sibuk berbincang dengan koleganya, masih sempat memperhatikanku" Batin Rainun. Ia merasakan jatuh cinta berkali - kali pada kekasihnya itu.


Sakha tersenyum saat menoleh pada Rainun. Sedari tadi ia merasakan Rainun terus menatapnya. Ia menaikan ke dua alisnya memberika kode 'ada apa?'. Rainun menggeleng dan tersenyum.


"Ayo kita cari sesuatu untuk kak Sofia. Aku takut dia marah lagi jika kita pulang tak membawakan oleh - oleh untuknya" Sakha sedikit trauma. Mereka kemudian masuk ke toko kue dan mengambil beberapa kue kesukaan Sofia.


...****************...


"Dimana kak Sofia?" tanya Rainun saat melihat abangnya menonton televisi sendirian.


"Istirahat di kamarnya" jawab Raihan. "Apa yang kalian bawa?" Tanya Raihan hendak mengambil bungkusan di tangan Rainun.


"Ish jangan! Biar kak Sofia membukanya terlebih dahulu. Nanti dia bisa ngamuk" Rainun memukul tangan abangnya. Sakha tertawa melihat tingkah dua orang di depannya.


"Kak, kami membawakan sesuatu untukmu" Seru Rainun. Sofia lalu keluar dari kamarnya.


"Kalian bawa apa?" Sofia girang. Rainun lalu memberikan bungkusan yang ia bawa. Sofia membukanya namun ia tampak kecewa.


"si baby pingin steak buatan uncle Sakha" kata Sofia, wajahnya mulai memunculkan awan mendung.


"A aa apa? baby?" tanya Rainun. "Kak Sofia hamil?" tanya Rainun lagu. Raihan dan Sofia mengangguk berbarengan. Rainun melonjak - lonjak kegirangan mendengar kabar dari kakak dan abangnya itu.


"Waahhh selamat kak" Rainun memeluk kakaknya erat - erat. Ia lalu mengusap perut Sofia yang masih datar. "Sehat - sehat ya baby. Aunty tak sabar menunggumu" kata nya.


"Selamat ya bang, selamat ya kak" Ucap Sakha yang turut bahagia.


"Berapa usia kehamilannya?" tanya Rainun.


"Sudah sepuluh minggu" jawab Raihan.


"Buatkan aku steak" rengek Sofia pada Sakha.


"Memang kau bisa masak?" tanya Raihan heran.


"Ah masakan kak Sakha itu the best" puji Rainun. "Kak, ayo keponakanku dan aku ingin steak buatanmu" Rainun menggoyang - goyangkan tangan Sakha.


"Baiklah" jawab Sakha tersenyum. Ia bersama Rainun lalu menuju dapur untuk memasak. Untung saja mereka memiliki bahan yang di perlukan untuk membuat steak.


Setelah empat puluh menit akhirnya Sakha selesai membuat pesanan Sofia. Rainun membantu Sakha membawakan steak ke meja makan. Di sana Raihan dan Sofia sudah menunggu mereka. Sofia dengan antusias lalu menghirup dalam - dalam aroma steak buatan Sakha itu.


"Aah sudah cukup" kata Sofia. Ia lalu memakan kue kesukaannya yang tadi di belikan oleh Sakha.


Sakha, Rainun juga Raihan terperangah dengan kata - kata Sofia.


"Kau tak memakannya kak?" tanya Sakha heran.


"Aromanya sudah membuatku kenyang" jawab Sofia santai. Ia kembali memasukkan kue ke dalam mulutnya.


"Jadi kau menunggu selama empat puluh menit hanya untuk mencium aromanya saja? Astaga Sofia" Raihan geleng - geleng di buatnya. Sofia meringis mendengarnya.

__ADS_1


"Kalian lanjutkan makannya, aku mau istirahat di kamar. Habiskan punyaku juga sayang, nanti mubazir" kata Sofia lalu melenggang pergi. Meninggalkan tiga manusia yang masih terbengong karena tingkahnya.


__ADS_2