
Rainun yang sudah menyelesaikan kunjungannya ke rumah produksi, kini ganti akan mengikuti kegiatan Sakha.
Tringggg....
Suara ponsel Rainun. Ia kemudian menjawab panggilan telefon itu dan mengaktifkan mode pengeras suara.
"Ada apa bang?" Tanya Rainun.
"Kau di mana Rai?" Tanya Raihan di ujung telefon.
" Aku sedang di perjalanan" Jawab Rainun.
"Mau kemana? Dengan siapa kau pergi?" Tanya Raihan beruntun.
"Mau ke restoran, makan siang lalu menemani kak Sakha meeting dengan relasinya" Jawabnya polos.
"Kau sedang bersama Sakha?" Tanya Raihan.
"Iya bang" Jawab Rainun.
"Bro, apakah adikku merepotkan?" Tanya Raihan pada Sakha.
"Tidak bang. Dia cukup penurut" Jawab Sakha.
"Aku titip dia hingga aku pulang ya. Tolong jaga dia. Aku percayakan padamu bro" Ujar Raihan.
"Baiklah, jangan khawatir" Jawab Sakha.
"Hei bocah. Jangan merepotkan orang di sebelahmu. Tetaplah bersama dia hingga aku pulang. Aku tak mau kejadian kemarin terulang lagi" Perintah Raihan.
"Iya iya. Cepatlah pulang dan bawakan aku oleh - oleh" Pinta Rainun.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan melanjutkan pekerjaan. Secepatnya aku akan pulang" Ujar Raihan.
"Iya. Hati - hati disana bang" Kata Rainun.
"Iya, kalian juga hati - hati" Ucap Raihan. Ia lalu mematikan sambungan telefon.
Tak lama, mereka sudah sampai di sebuah restoran mewah. Mereka segera menuju ke private room. Toni dan sekretaris Sakha sudah menunggu di sana.
"Selamat siang bos" Sapa Toni dan sekretarisnya yang melihat Sakha masuk. Sakha hanya menganggukan kepala.
"Selamat siang pak Toni, selamat siang bu" Sapa Rainun
"Se selamat siang nona" Jawab Toni yang kaget. Ia tak menyangka Sakha datang bersama Rainun.
"Mereka belum sampai?" Tanya Sakha
"Belum bos. Sebaiknya anda makan terlebih dahulu. Masih ada waktu empat puluh menit sampai mereka sampai" Ujar Toni. Ia lalu memesankan beberapa makanan yang biasa di makan Sakha.
"Mm kak. Aku mau ke toilet dulu" Izin Rainun.
"Kau butuh di temani?" Tanya Sakha.
"Tidak - tidak. Aku sendiri saja. Lagi pula toiletnya tak jauh" Jawab Rainun. Sakha hanya menganggukkan kepala dengan wajah datarnya.
"Selalu begitu. Saat ada bawahannya dan orang lain dia akan bersikap datar dan dingin. Dasar menyebalkan" Batin Rainun yang mulai memahami sosok Sakha. Ia kemudian berjalan menuju ke toilet.
__ADS_1
Sementara itu....
"Bos, bagai mana bisa anda bersama nona Rainun?" Tanya Toni.
"Karena kejadian kemarin, aku harus menjaganya" Jawab Sakha datar. Toni sendiri sudah mendengar kejadian yang menimpa Rainun kemarin.
"Kenapa kau yang harus menjaganya? Bukankah dia memiliki seorang kakak?" Tanya Toni lagi.
"Kakaknya sedang berada di luar kota. Dan ia menitipkannya padaku sampai ia pulang" Jelas Sakha.
"Hmmm begitu. Baguslah ini kesempatanmu bos. kalian bisa lebih dekat" Ujar Toni sambil tersenyum girang. Sakha seketika melemparkan tatapan yang seakan ingin membunuh pria di hadapannya itu.
Toni yang menyadari tatapan bosnya langsung menunduk tak berani menatap. Ia menggerutu, menyesali mulutnya yang bicara macam - macam pada bosnya itu.
Sakha adalah orang yang tertutup. Ia tak ingin ada orang yang mengatur atau mengomentari kehidupan pribadinya.
Tak lama Rainun kembali masuk ke dalam ruangan.
"Makanlah. Sebentar lagi relasiku akan datang" Perintah Sakha.
"Apakah tak sebaiknya aku menunggu di luar kak?" Tanya Rainun yang tidak enak.
"Tak perlu. Tetaplah bersamaku di sini. Aku tak bisa mengawasimu jika kau berada di luar" Jawab Sakha. Rainun mengangguk mengerti lalu menyantap hidangan yang sudah di sediakan di hadapannya.
Dua puluh menit kemudian, relasi Sakha datang, tepat saat beberapa menit lalu meja di bereskan oleh pelayan restoran.
Tiga orang pria berkebangsaan Belanda. Mereka membicarakan pekerjaan dengan sangat serius menggunakan bahasa Belanda. Rainun hanya diam mendengar diskusi mereka, karena ia tak mengerti apa yang mereka bicarakan.
Ia kemudian melihat pria di sampingnya. Tak hanya tampan, tetapi dia juga pandai berbahasa asing. Walaupun semua orang bilang dia adalah pria dingin dan kaku. Tetapi Rainun tau kalau Sakha sebenarnya adalah pria yang lembut.
"Apakah dia kekasihmu?" Tanya pria itu.
"Ya. Dia calon istriku" Jawab Sakha singkat.
"Dia gadis yang cantik. Undang aku di pernikahan kalian nanti" Ujar pria itu sambil tertawa kecil. Sakha hanya membalasnya dengan senyuman. Rainun hanya diam saja tak mengerti kalau dia sedang di bicarakan.
Toni dan si sekretaris yang mengerti apa yang mereka bicarakan itu ikut tersenyum menanggapi. Klien Sakha kemudian pamit pergi di antar oleh Toni.
"Kalian tadi berbicara menggunakan bahasa apa?" Tanya Rainun yang sudah menahan penasarannya sedari tadi.
"Belanda" Jawab Sakha singkat.
"Ooo jadi mereka berkebangsaan Belanda" Ujar Rainun mengangguk anggukkan kepala. "Kau sangat fasih bicara bahasa mereka" Puji Rainun. "Apakah pak Toni mengerti pembicaraan kalian?" Tanya Rainun yang masih penasaran.
"Tak hanya Toni, bahkan sekretarisku juga bisa berbahasa Belanda" Jawab Sakha.
"Astaga, jadi di sini hanya aku yang tak mengerti apa yang di bicarakan?" Ucap Rainun sedih.
Sakha menunduk menahan tawa melihat tingkah Rainun.
"Aku masih ada pekerjaan di kantor. Tak papa jika kau ikut aku lagi? Aku belum bisa mengantarmu" Ujar Sakha. Rainun diam dan berfikir sejenak. Ia sebenarnya sudah lelah, namun tak enak jika memaksa Sakha mengantarnya pulang. Lagi pula jarak rumahnya yang cukup jauh dari restoran ini juga kak Sofia yang mau menginap akan datang malam hari karena masih ada pekerjaan.
"Bagaimana?" Tanya Sakha.
"Baiklah, aku akan ikut ke kantormu" Jawab Rainun.
Mereka kemudian menuju ke kantor Sakha. Hanya perlu waktu lima menit dari restoran itu, ia sudah sampai di kantor Sakha.
__ADS_1
Setelah berada di ruangan Sakha, Rainun langsung duduk di sofa yang ada disana. Ia merasa lelah mengikuti kegiatan pria sibuk di hadapannya itu.
"Bahkan ditengah kesibukannya dia masih mau menjagaku" Batin Rainun. Ia merasa bersyukur ada Sakha yang menjaganya kini. Tanpa sadar, Rainun menatap Sakha cukup lama.
"Jangan menatapku seperti itu. Jantungku bisa meledak nanti" Ujar Sakha yang masih fokus pada layar laptopnya.
Mendengar ucapan Sakha, Rainun lalu memalingkan pandangannya dari Sakha. Ia kemudian mengambil laptop yang ada di tasnya untuk mengerjakan pekerjaan yang dikirimkan oleh Indah melalui email.
Cukup lama mereka larut dengan kesibukan masing - masing. Rainun kemudian melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Rai, aku akan meeting di ruangan yang berada di sebelah. Kau tunggulah di sini saja. Mungkin sekitar satu jam. Aku takut nanti kau bosan jika ikut kesana. Setelah itu kau akan ku antar pulang" Ujar Sakha.
"Baiklah kak" Jawab Rainun menurut.
Sakha kemudian meninggalkan Rainun sendiri di ruangannya. Rainun yang merasa ngantuk lalu mematikan laptopnya. Hampir semalaman ia tak bisa tidur memikirkan kejadian yang menimpanya.
Ia membaringkan tubuhnya di sofa panjang itu sambil mendengarkan musik yang ia putar di ponselnya. Tanpa sadar akhirnya Rainun tertidur di ruangan Sakha.
Ceklek.....
Terdengar suara pintu terbuka. Namun tak dapat membangunkan Rainun yang saat itu tertidur cukup pulas.
"Dia tertidur. Apa dia terlalu lelah?" Batin Sakha. Ia memperhatikan wajah damai gadis di depannya.
"Kau gadis yang hangat. Aku berjanji akan selalu menjagamu. Tetaplah berada di sisiku, aku tak akan membiarkanmu terluka" Ucap Sakha di dalam hatinya.
Sakha kemudian mematikan musik yang masih berputar di ponsel Rainun. Ia duduk di kursinya dan kembali melanjutkan pekerjaan. Sesekali terdengar senandung merdu dari mulutnya untuk mengusir sepi. Ia begitu fokus menyelesaikan pekerjaannya hingga tak sadar gadis di depannya terbangun.
"Kak, kau sudah selesai?" Tanya Rainun dengan suara serak khas bangun tidur.
"Iya, aku sudah selesai" Jawab Sakha.
"Apa aku sudah lama tertidur? Kenapa tak membangunkanku?" Tanya Rainun lagi.
"Aku tak tega membangunkan tidur pulasmu" Ucap Sakha. "Apakah kau lelah? Maaf karena membuatmu mengikuti kegiatanku" Imbuhnya.
"Tak apa kak. Aku tadi mengantuk karena kurang tidur" Jawab Rainun.
"Bersiaplah, aku akan mengantarmu pulang. Ini sudah pukul lima lewat tiga puluh sore" Ujar Sakha.
Rainun kemudian pergi ke toilet untuk mencuci mukanya agar sedikit lebih segar. Setelah itu ia membereskan barang - barangnya di atas meja lalu berjalan bersama Sakha menuju mobil di halaman parkir.
"Sepi sekali kak" Ucap Rainun.
"Iya. Jam kantor sudah usai pukul empat tadi, sedangkan Toni dan sekretarisku sudah pulang tiga puluh menit yang lalu" Jelas Sakha.
Rainun hanya mengangguk dan masih mengekor sembari memegangi ujung jas yang di pakai Sakha. Ia cukup takut berada di kantor yang besar ini dengan kondisi lampu lorong yang remang.
"Ada apa? Kau takut?" Tanya Sakha yang menyadari Rainun memegang ujung jasnya.
"Iya sedikit" Jawab Rainun.
"Tak perlu takut. Ada aku disini" Ujar Sakha. Rainun menganggukkan kepalanya percaya pada Sakha.
Mereka sampai di basement dan segera menaiki satu - satunya mobil yang tersisa di tempat parkir itu.
Setelah empat puluh menit berkendara. Akhirnya mereka sampai di Rumah Rainun.
__ADS_1