
Siang ini, Rainun, Raihan dan Sofia berangkat berlibur bersama untuk merayakan keberhasilan Rainun sekaligus memberikan kabar bahagia untuknya.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, mereka akhirnya sampai di sebuah resort yang berada di tepi pantai. Pasir yang putih dan birunya lautan membuat mereka terkagum-kagum dengan ciptaan Tuhan yang betu indah.
"Maa syaa Allah. Indahnyaa" Seru Rainun yang begitu antusias. Raihan tersenyum melihat adik dan calon istrinya yang begitu bahagia. Terlihat sekali bahwa mereka sudah begitu lama tak berlibur.
Ia mengeluarkan tas berisi pakaian dari bagasi mobil lalu menuju ke hotel dimana mereka akan menginap.
"Ayo kita sewa kamar hotel dan meletakan tas-tas ini dulu" Ujar Raihan sambil berjalan meninggalkan Rainun dan Sofia.
"Tunggu aku" Kata Sofia yang berlari kecil ke arah Raihan diikuti Rainun juga. Sofia lalu ke meja resepsionis untuk memesan kamar.
"Sepertinya aku kenal orang itu" Gumam Raihan lalu melangkahkan kaki ke arah orang yang ia maksud. "Ah ternyata benar kamu" Seru Raihan sambil menepuk bahu orang itu.
****************
Setelah memesan dua kamar, Sofia dan Rainun berbalik untuk mengajak Raihan melihat kamar mereka. Mereka berdua celingukan karena tak menemukan Raihan yang tadi ada di belakang mereka.
"Loh, abang dimana?" Ujar Rainun.
"Ntah lah, dia tadi ada disini" Jawab Sofia yang masih mengedarkan pandangan. "Nah itu dia" Kata Sofia lalu menarik tangan Rainun agar mengikutinya.
"Yaaa bocah tengil, apa yang kamu lakukan disini? Kamu membuntuti kami ya?" Seru Sofia saat melihat orang yang bersama Raihan.
Raihan yang kaget langsung menutup indra pendengarannya karna suara melengking sang kekasih yang kini sudah berada di belakangnya itu.
"Astaga Sofia, kau mengagetkanku" Kata Raihan. Sofia hanya meringis menanggapi kata-kata kekasihnya.
"Aku lebih kaget melihat bocah ini ada disini" Sofia menunjuk pria yang mematung di hadapan Raihan. "Kau membuntuti kami ya? Atau kau mencari tau keberadaan kami lewat anak - anak buahmu?" Cerca Sofia pada pria itu.
"Tidak, aku tidak membuntuti kalian" Jawab orang itu polos. Ya benar orang yang di temukan Raihan itu adalah Sakha. Sofia menatap dalam kedua mata Sakha, mencari kebohongan disana tetapi nihil.
"Lalu kenapa kau ada disini? Sejak kapan pula kau disini? Kemarin sore kau masih berada di tempat gym. Bahkan saat aku pulang duluan kau masih ada di sana!" Tanya Sofia tiada henti. Raihan dan Rainun hanya melongo melihat Sofia yang mencerca Sakha. Mereka tak ubahnya seperti Tom n Jerry.
"Aku mengunjungi resortku" Jawab Sakha singkat.
"Resortmu? Sejak kapan ini menjadi resortmu?" Giliran Raihan yang ingin tau.
"Ck. Kalian memang pasangan yang cocok. Hentikan kekepoan kalian itu" Ujar Rainun gemas melihat kedua kakaknya itu.
Sakha tersenyum mendengar pembelaan dari Rainun. Ia lalu beralih menjawab pertanyaan dua orang di hadapannya, "Tiga bulan lalu aku baru membelinya" Jawabnya enteng.
"Waaah luar biasa" Sofia bertepuk tangan. "Kau tidak korupsi kan? Atau kau jangan-jangan menjadi lintah darat dari pemilik resort sebelumnya" Tanya Sofia.
"Astaga kak Sofia, mana mungkin aku seperti itu!" Jawab Sakha yang mulai kesal karena di tuduh yang tidak-tidak.
"Sudah-sudah hentikan!" Seru Rainun menengahi. "Ayo kita ke kamar meletakan tas-tas ini kak, aku sudah tak sabar ingin main air di pantai" Lanjutnya.
Sofia dan Rainun kemudian menuju ke kamar mereka yang berada di lantai lima, meninggalkan Raihan yang masih akan mengobrol dengan Sakha.
"Berapa hari kalian akan menginap?" Tanya Sakha yang berbincang santai dengan Raihan.
"Hanya semalam. Esok sore kami sudah kembali" Jawab Raihan.
"Bang, aku ingin mengembangkan resort ini. Aku ingin membangun beberapa homestay terapung di pinggir dermaga sana" Sakha menunjuk ke arah sebuah dermaga di ujung resort.
"Sepertinya ide yang bagus. Penyewa bisa langsung bermain air laut saat mereka keluar dari kamarnya" Ujar Raihan.
__ADS_1
"Kuserahkan pembangunannya padamu ya?" Ucap Sakha to the point.
"Kau yakin?" Tanya Raihan meyakinkan.
"Iya. Kupercayakan padamu. Lusa, anak buahku akan mengunjungi kantormu untuk berkonsultasi sekaligus membuat kontrak" Ujar Sakha. Raihan hanya mengangguk meneyetujui.
"Hey, kalian berdua akan duduk di situ saja? Kami akan bermain air di pantai" Kata Sofia dari jarak yang cukup jauh. Ia lalu menggandeng tangan Rainun dan melenggang menuju pantai tanpa menunggu jawaban dari dua pria yang ia ajak bicara.
"Ayo bergabunglah bersama kami. Pekerjaanmu sudah selesai bukan?" Ajak Raihan. Sakha hanya mengangguk lalu mengekor pada Raihan.
Pemandangan sore hari di pantai ini sangatlah indah. Rainun dan Sofia berdiri di tepi pantai, membiarkan ombak menjilat kaki mereka.
"Wah aku tak boleh melewatkan untuk mengajak pegawai dan rekanku family gathering di tempat ini" Ujar Rainun.
"Kalian akan mengadakan famgath?" Tanya Sofia.
"Ia, kami sudah merencanakannya. Namun tepatnya kapan, aku belum tau. Karna Mas Surya dan Mbak Ani yang akan mengaturnya" Jelas Rainun. Sofia mengangguk mengerti.
Rainun kemudian berjalan menjauh dari bibir pantai.
"Hati-hati Rai, sepertinya licin karena banyak batu karang disana." Raihan memperingatkan. Ia kini duduk bersama Sofia di bawah sebuah pohon rindang.
"Iya bang. Disini dangkal dan ada banyak bebatuan. Hanya sebatas lutut" Kata Rainun.
Raihan kemudian asyik mengobrol dengan Sofia. Mereka tak lagi memperdulikan sekitar. Deburan ombak menambah seru perbincangan mereka.
Di sisi lain, sepasang mata tajam mengawasi setiap gerak gerik Rainun yang berjalan-jalan di atas bebatuan karang itu. Bibirnya tersenyum melihat Rainun yang berkali-kali menjaga keseimbangan saat melewati batu-batu licin itu. Namun senyumnya memudar saat melihat seorang pria berjalan ke arah Rainun.
"Sial, siapa dia beraninya mendekati wanitaku" Geram pria itu.
***************
"Berhati-hatilah" Ucap pria itu. Entah sejak kapan pria itu ada di dekat Rainun.
"Eehh pak Sakha. Trimakasih sudah menolong" Ujar Rainun gelagapan.
"Jangan panggil aku pak" Kata Sakha.
"Lalu aku harus panggil apa?" Tanya Rainun yang tampak kebingungan.
"Terserah kau saja" Jawabnya.
"Mmm baiklah Sakha" Jawab Rainun malu.
Degghh....
Dada Sakha bergemuruh saat mendengar Rainun memanggil namanya. Ia mengalihkan perhatian untuk menetralkan debaran kuat di dadanya.
"Kau terlalu jauh berjalan kesini. Disini licin, banyak karang berlumut yang tajam, kembali lah ke sana. Disana lebih aman jika kau tak mau terluka" Ujar Sakha sambil menunjuk sebuah bagian dengan kedalaman yang sama namun hanya ada pasir di dasarnya.
Mereka akhirnya berjalan bersama. Sesekali Sakha refleks memegang tangan Rainun yang berjalan limbung.
"Kenapa ia berjalan tertatih?" Gumam Sakha saat melihat Rainun yang berada di depannya.
"Hei, apa kakimu terluka?" Tanya Sakha menghentikan langkahnya.
"Ntahlah sepertinya aku menginjak sesuatu. Terasa sedikit perih" Kata Rainun polos. Sebenarnya ia menahan sakit yang lumayan, namun ia malu mengungkapkan.
__ADS_1
"Astaga wanita ini kenapa diam saja kalau kakinya terluka" Batin Sakha. Ia lalu merunduk untuk melihat telapak kaki Rainun.
"Ternyata benar kakimu terluka. Sepertinya karena karang yang runcing" Ucap Sakha yang melihat darah mengucur dari telapak kaki Rainun. Ia pun sedikit panik melihat orang yang ia sukai terluka.
"Kau masih bisa berjalan?" Tanya Sakha khawatir.
"Bisa" Jawab Rainun singkat. Ia meringis menahan sakit akibat luka yang terkena air garam.
Sakha mengambil ponsel untuk menghubungi staf resortnya.
"Bawakan aku P3K ke bibir pantai. Ada yang terluka disini. Cepat!" Perintah Sakha. Rainun yang berada di sampingnya bingung melihat reaksi yang agak berlebihan dari rekan bisnisnya itu.
"Naiklah ke punggungku" Ujar Sakha.
"Tak usah repot-repot" Jawab Rainun yang masih memaksa jalan.
"Naiklah, aku tak mau di tuntut akibat lukamu yang tambah parah akibat kelalaian petugas resort" Ucap Sakha.
"Memang kau petugas resort?" Tanya Rainun polos.
"Aku pemiliknya. Cepat naiklah jangan banyak berkomentar!" Seru Sakha. Akhirnya Rainun menuruti perintah Sakha. Sakha menggendong Rainun di punggungnya dan berjalan cepat menuju ke bibir pantai.
"Ternyata pria ini tak sedingin kelihatannya" Batin Rainun. Seulas senyuman muncul dari bibirnya.
"Kenapa Sakha menggendong Rainun? Apa kini mereka berpacaran?" Ucap Sofia saat kedua netranya menangkap keberadaan Sakha dan Rainun.
"Ada apa?" Tanya Raihan saat melihat Sakha yang menggendong Rainun mendekat ke arahnya.
"Tak apa bang, kakiku hanya terluka. Ntah karena karang atau benda lain di sana" Ujar Rainun menenangkan.
"Apakah dalam? Darahnya masih mengucur" Tanya Sofia panik.
"Ntahlah kak. Aku tak berani melihatnya" Jawab Rainun.
Raihan kemudian memeluk Rainun yang memejamkan mata karena takut melihat banyak darah.
Tak lama staf yang di telefon Sakha datang dengan seorang perawat dan peralatan P3K. Perawat itu lalu membersihkan dan mengobati luka Rainun yang cukup dalam"
"Esok, kau ajak semua staf untuk membersihkan semua karang mati yang ada disana. Bagian itu masih dalam jangkauan renang pengunjung. Bagai mana jika batu-batu karang itu akan melukai orang lagi. Aku tak mau ada batu karang mati yang tersisa di wilayah renang pengunjung!" Ujar Sakha. Wajah tampannya memerah karena menahan amarah.
"Baiklah tuan. Kalau begitu saya permisi" Jawab staf tersebut takut karena melihat wajah seram bosnya itu.
Sakha kemudian berjalan ke tepi pantai meredakan emosinya. Tiba-tiba Sofia mendekatinya.
"Emosimu sudah reda?" Tanya Sofia sembari menepuk - nepuk punggung Sakha. "Tenangkanlah dirimu, lukanya tak parah" Imbuh Sofia yang seakan tau penyebab kemarahan Sakha yang sebenarnya.
"Kau marah karena Rainun terluka atau karena takut itu akan melukai orang lain? Kau menyukai Rainun?" Celetuk Sofia.
"Tidak" Jawab Sakha cepat. Ia lalu membuang pandangannya ke arah laut lepas karena takut kebohongannya akan tertangkap oleh Sofia.
"Sudah-sudah. Ayo kita kembali ke hotel. Hari semakin sore" Ajak Raihan sedikit berteriak.
"Kau mau di gendong?" Tanya Raihan pada Rainun.
"Tak usah bang, aku bisa berjalan" Jawabnya. Akhirnya Rainun berjalan dengan di papah Raihan. Sakha berjaga di belakang Rainun, ia takut Rainun akan terjatuh.
"Saat makan malam nanti, ada yang ingin aku sampaikan pada kalian" Ujar Raihan. "Kau, ikutlah juga makan malam bersama kami" Lanjut Raihan yang di jawab anggukan oleh Sakha.
__ADS_1
Mereka kemudian berjalan bersama menuju ke hotel untuk beristirahat sejenak.