Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
35. Tabib Hati


__ADS_3

Sepanjang perjalan mereka mengobrol santai. Rainun sesekali menyuapkan Sakha keripik yang mereka bawa dari kantor.


"Apakah pak Sakha mendapat pesanan mengekspor vanili juga sehingga ikut kami meninjau kebun vanili?" Tanya Bara.


"Tidak. Aku hanya sedang jenuh. Makanya aku mengikuti kalian. Oh ya, jangan panggil pak, panggil aku kak atau Sakha saja." jawab Sakha.


"Sepertinya mengikuti kak Rainun lebih tepatnya" celetuk Indah. Sakha tersenyum mendengarnya.


"Apa kalian ingin mampir ke air terjun di dekat sana?" tanya Rainun.


"Itu bukan mampir sih kak, lebih tepatnya sengaja mengunjungi. Karena kita masih harus menempuh perjalanan selama lima belas menit menuju ke atas dari kebun vanili yang kita kunjungi" jelas Bara.


"Ooh ku kira benar - benar tidak jauh dari kebun vanili itu" Indah terdengar sedikit kecewa. Pasalnya ia yang sangat ingin mengunjungi air terjun itu.


"Tak apa. Kalau kalian mau, aku akan mengantarkan" kata Sakha.


"Benarkah? Terima kasih banyak pak! Eh kak" seru Indah senang.


Sakha kini sudah merasa nyaman berada di dekat sepupu - sepupu Rainun. Baginya tingkah mereka yang lucu juga perhatian yang tulus jauh sangat berbeda dengan kondisi kantor yang kebanyakan penuh dengan muslihat.


...****************...


"Heeyyyy, disini sangat indah" Seru Bara dengan suara menggema. Ia sudah terlebih dahulu sampai di bawah air terjun.


"Waah perjalanannya menguras tenaga" keluh Rainun yang sudah berpeluh.


Setelah mengunjungi kebun vanili tadi, mereka langsung menuju ke wisata air terjun yang cukup berdekatan dengan kebun vanili. Setelah memarkir mobil, mereka masih harus berjalan kaki menyusuri anak tangga yang naik dan turun.


"Mau ku gendong?" tanya Sakha yang berjalan di depan Rainun sembari menggandeng tangannya.


"Tidak kak. Aku berat, kau bisa terguling nanti" kata Rainun yang ngos - ngosan. "Sepertinya benar kata kak Sofia, aku harus lebih sering berolah raga" lanjutnya.


"Ayo semangat kak. Sebentar lagi kita sampai. Lihatlah itu sudah di depan mata" kata indah yang berada tidak jauh di depan Sakha dan Rainun. Indah yang begitu bersemangat lalu berlari menyusul Bara, meninggalkan dua sejoli yang bejalan bergandengan itu.


Dengan sisa tenaga, akhirnya Rainun sampai juga di bawah air terjun yang di tuju. Pemandangan yang begitu indah mampu mengobati rasa lelah saat meniti anak tangga.


"Wahh menakjubkan" seru Rainun sumringah. Kondisi air terjun yang sepi pengunjung karena bukan hari libur menambah kesyahduan di sana. Hanya terdengar suara air, burung dan suara mereka berempat tentunya.


Sakha memandang kekasih di sampingnya lekat - lekat. Ada kebahagiaan tersendiri saat ia melihat kekasihnya bahagia. Hanya dengan melihat senyuman Rainun itu mampu membuat Sakha ikut tersenyum.


"Memang kau tabib hatiku" gumam Sakha.


"Kak, kemarilah kita berfoto bersama" ajak Indah yang sudah memulai sesi foto bersama Bara. Sakha dan Rainun kemudian mendekat lalu ikut mengabadikan momen bersama.


"Berdirilah di sana kak. Aku akan mengambil gambar kalian berdua" kata Bara. Ia bak fotografer profesional kemudian mengambil gambar Sakha dan Rainun dengan lihai.


"Wah hasil yang bagus. Perpaduan kecantikan, ketampanan dan keindahan alam" celetuk Indah.


"Ah iyaa pakailah ini kak. Lumayan kita punya model dan latar yang cantik" lanjut Indah. Ia kemudian mengeluarkan kain tenun model terbaru dari dalam ranselnya.


"Kau sengaja bawa ini ndah?" tanya Rainun yang kaget.

__ADS_1


"Tidak. kemarin aku baru mengambilnya dari pengerajin dan belum aku keluarkan dari ranselku" jawab Indah.


"Berarti belum masuk uji pasar?" tanya Rainun. Indah menggeleng.


"Sudahlah pakai saja kak kain itu. Jika kak Rai dan kak Sakha yang memakainya untuk promosi pasti akan pecah di pasaran" Rayu Bara.


"Iya kak. Anggap saja sekalian foto preweding. Cocok sekali dengan kemeja putih yang kalian pakai" kata Indah. Pada saat itu kebetulan Sakha dan Rainun sama - sama memakai kemeja berwarna putih.


"Aah baiklah baiklah" kata Rainun. Ia lalu melepas sepatunya dan berjalan menuju salah satu batu yang besar. Sakha mengikutinya di belakang. Mereka kemudian naik ke batu itu untuk mengambil foto bersama.


Bara mengambil beberapa foto. "Lebih dekat lagi kak. Tataplah mata kak Sakha" perintah Bara yang mengarahkan gaya.


Hati Rainun bergemuruh ketika menatap Sakha dari jarak yang begitu dekat. Hal itu hampir membuat Rainun limbung. Untung saja tangan Sakha melingkar erat di pinggangnya hingga ia tak sampai terjatuh dari batu besar itu.


"iyaakkk CUT!!!" seru Indah bak seorang sutradara.


"Astaga foto macam apa ini!!! Kenapa tak ada yang jelek" seru Bara girang ketika melihat hasil jepretan kamera xlr nya itu.


"Wuah lihatlah tatapan kak Sakha. Tajam tapi penuh cinta" kata Indah. "Pasangan ini sangat menggemaskan" imbuhnya gemas.


Sakha dan Rainun kemudian juga bergabung untuk melihat hasil foto mereka. Mereka tak menyangka kalau hasilnya akan se memukau itu.


"Kau fotografer yang andal" puji Sakha sambil menepuk bahu Bara.


"Aku jadi membayangkan bagai mana menawannya anak kalian berdua kelak. Perpaduan ketampanan dan kecantikan yang hakiki" kata indah melantur.


PLETAK...


"Ente yaa memang ente, kadang - kadang ente" kata Bara gemas. Indah hanya meringis saat mendapatkan jitakan dari Bara. Ia mengangkat dua jarinya menandakan 'peace' saat melihat Sakha dan Rainun.


Sakha tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepala melihat tingkah dua orang di depannya itu. Jujur saja saat ini ia seperti tak memiliki beban. Terasa begitu lepas dan bahagia.


Mereka kemudian duduk di saung yang ada di sana. Menikmati keindahan air terjun sembari memakan makanan ringan yang sengaja mereka bawa.


Tringgggg.....


Suara panggilan di ponsel Sakha. Ia melihat nama yang muncul di layar ponselnya lalu mengangkat panggilan itu.


"Kau di mana bos? Kenapa tidak ada di ruanganmu?" tanya Toni yang menelfon.


"aku sedang bersama Rainun" jawab Sakha.


"Ooh aku kira kau hilang. Kenapa tidak mengabariku?" tanya Toni.


"Mana mungkin aku hilang. Aku lupa mengabarimu" kata Sakha.


"Baiklah kalau begitu bos. Nikmati waktu kalian" kata Toni. Sakha kemudian memutuskan panggilan telefon itu.


"Siapa kak? Pak Toni?" tanya Rainun.


"iya" jawab Sakha singkat.

__ADS_1


"Ada apa? Ada pekerjaan penting?" tanya Rainun lagi.


"Tidak, dia hanya menanyakan keberadaanku karena aku tidak mengabarinya atau sekretarisku saat pergi tadi" jelas Sakha. Rainun mengangguk mengerti.


"Oh iya kak, kata mbak Ani kita akan famgeth tanggal lima belas. Benar kah?" tanya Indah.


"Iya itu benar, beberapa hari lalu aku baru memberikan persetujuan pada proposal yang di berikan mbak Ani dan mas Surya" jawab Rainun.


"Dimana tempat kita famgeth?" tanya Bara.


"Di sebuah tempat Glamping. Disana juga ada sungai dan air terjun informasinya" jelas Rainun.


"Kak Sakha akan ikut?" tanya Bara pada Sakha.


"Aku akan mengatur jadwalku nanti" jawab Sakha.


"Wahh pasti seru" kata Indah yang sudah membayangkan kegiatannya disana.


"Tentu saja. Semua sudah di atur oleh mbak Ani, mas Surya juga tim nya yang akan menjadi panitia acara. Bahkan sampai kaos famgeth pun sudah siap" kata Rainun.


"kak Rainun sudah mesurvei tempatnya?" tanya Indah.


"Belum. Aku belum sempat. Tapi ku percayakan semuanya pada mereka. Mereka pasti memberikan tempat yang terbaik" jawab Rainun yakin.


"Apakah lokasinya di hutan?" tanya Sakha.


"Iya, sebagian wilayahnya masih hutan. Tetapi di tempat glamping itu sudah sangat aman kak. Kau tak perlu cemas" jawab Rainun yang mengerti kecemasan Sakha.


"Berapa lama acaranya?" tanya Sakha.


"Kita berangkat pukul delapan pagi. Perjalanan sekitar satu setengah jam. Lalu kita checkout keesokan harinya setelah makan siang" jelas Rainun.


"Berapa orang yang ikut kegiatan?" tanya Sakha lagi.


"Sekitar seratus dua puluh orang. Kita akan menggunakan dua bus besar untuk pergi kesana" kata Rainun. Sakha mengangguk mengerti.


Sakha kemudian melihat jam di tangannya. Sudah hampir sore, ia kemudian mengajak Rainun dan dua rekannya untuk pulang.


"apakah aliran air terjun itu akan sampai ke bawah? Ke sungai di dekat pintu masuk itu?" tanya Indah.


"Tentu saja. Sungai itu bsrasal dari aliran air terjun ini" jawab Rainun.


"Ah rasanya aku ingin menghanyutkan diri agar tak perlu meniti ratusan anak tangga itu" keluh Indah.


"Bukannya sampai ke pintu masuk, kau nanti malah akan sampai ke akhirat ndah" celetuk Bara yang membuat Sakha dan Rainun tertawa.


"Iss apalah mas Bara ini" kata Indah memonyongkan bibirnya.


Mereka meniti anak tangga dengan cepat. Di saat akan kembali, perjalanan menjadi terasa lebih cepat dan mudah.


Setelah sampai di tempat parkir, mereka bergegas menaiki mobil dan melanjutkan perjalanan pulang.

__ADS_1


__ADS_2