
Sakha menghembuskan nafas beratnya. Wajahnya merah padam mendengar percakapan orang - orang yang berada di dalam ruangan itu.
Sebelum pak Johan dan rekan - rekannya datang, Toni dan anak buahnya sudah mengatur tempat sedemikian rupa sehingga mereka bisa memasang penyadap suara dan kamera tersembunyi di sana.
"Si*l !! Apa mereka pikir aku ini orang bodoh? Berani sekali mereka bermain - main denganku" Ujar Sakha yang masih fokus mendengar percakapan mereka dan mengawasi gerak - geriknya di layar.
"Aku akan keluar sekarang" Sakha yang sudah geram keluar dari tempat persembunyiannya diikuti Toni juga anak buahnya.
Mereka yang berada di dalam ruangan terperangah ketika pintu ruangan privat itu terbuka dan Sakha muncul dari sana.
"Kenapa diam? Apa kedatanganku mengganggu kesenangan kalian?" tanya Sakha yang kini duduk di antara para penghianat.
"A a apa yang tuan lakukan di sini?" tanya salah seorang dari mereka.
"Aku? Aku hanya melihat pegawaiku bersenang - senang" Sakha tersenyum. Senyumannya begitu mengerikan di mata para penghianat itu.
"Sepertinya aku terlalu baik pada kalian. Yaa kemarin - kemarin aku memang tak ingin menampakkan bagai mana aku yang sebenarnya pada para pegawaiku. Tetapi sepertinya beberapa dari mereka ingin bermain - main denganku" Sakha kembali tersenyum. Tak ada satupun dari mereka yang berani melihat Sakha kali ini.
"Bagaimana bisa papiku percaya pada penghianat seperti anda selama berpuluh - puluh tahun ini tuan" Sakha berjalan ke arah pak Johan yang ternyata menjadi otak dari kejahatan ini.
Pak johan diam membeku, wajahnya pias dan tubuhnya bergetar. Tangan Sakha meremas pundaknya kencang, Pak Johan meringis kesakitan. Ia masih tak menyangka jika Sakha akan bisa mengendus permainan yang sudah ia atur dengan sangat rapi.
"Seharusnya di umur anda yang sekarang ini hanya tinggal bersantai menikmati jerih payah, bukan malah bermain permainan kotor dan menjijikan seperti ini. Kau ingin menghancurkan perusahaan yang sudah membantumu bertahan hidup dan menghidupi keluargamu selama ini?" ujar Sakha.
"Kau tau tuan? Bahkan keluargamu sudah mengetahui perbuatanmu yang menjijikan ini" Sakha setengah berbisik di telinga pak Johan.
"Kenapa kau memberi tau keluargaku? Mereka tak ada hubungannya dengan ini semua" ujar pak Johan, suaranya bergetar.
"Aku hanya ingin keluargamu yang hanya tau berfoya - foya itu sadar kalau sebentar lagi mereka harus berjuang demi sesuap nasi" ujar Sakha.
"Tolong jangan sakiti mereka. Ingatlah perjuanganku yang membantu papimu membesarkan perusahaan" pak Johan berlutut dan memohon pada Sakha.
"Hahahaha kau terlalalu tamak pak. Selama ini papi hanya diam saja, tetapi maaf aku tak sebaik papiku" ujar Sakha. Sakha lalu memutari satu persatu penghianat yang ada di sana. Ia menatap wajah mereka dalam - dalam.
"Hukuman apa kira - kira yang pantas untuk mereka? Yang jelas, ku pastikan keluarga kalian tetap hidup namun tak akan bergelimang harta seperti saat ini. Bahkan untuk makan setiap harinya saja mereka akan berjuang memeras tenaga dan keringatnya" kata Sakha, suaranya penuh penekanan.
"Maaf tuan, ampuni saya tuan" Mr Dorsen berlutut di depan Sakha. Sakha hanya terkekeh melihatnya.
"Kenapa? Kau takut? Bukannya tadi kau bilang tak takut denganku yang hanya anak kemarin sore ini. Dan apa katamu? Anak kemarin sore ini tak akan bisa mengendus permainan kalian?" tanya Sakha yang tersenyum jahat.
__ADS_1
"Kalau kau takut, harusnya berfikir sebelum melakukannya. Apa kau tak tau sedang berurusan dengan siapa tuan?" lanjut Sakha. Mr Dorsen hanya bisa menelan ludah mendengar setiap perkataan Sakha.
"Masuklah tuan" teriak Sakha. Kemudian masuk seorang bos mafia yang terkenal bersama kelompoknya.
"Tolong urus mereka, aku percayakan padamu tuan. Kau tau bukan, jika pembalasan harus lebih menyakitkan" ujar Sakha menepuk pundak bos Mafia itu. Kebetulan si bos Mafia memiliki dendam tersendiri dengan Mr Dorsen juga orang yang membantunya.
"Dengan senang hati tuan. Terima kasih untuk kerja sama yang baik ini. Aku pastikan semuanya akan aman dan beres." si bos mafia itu tersenyum pada Sakha. Sakha dan Toni lalu keluar dari ruangan itu. Mereka tak ingin mengotori tangan mereka berdua.
Kini semua urusan mereka sudah selesai, semua uang yang di curi oleh para penghianat itu juga sudah kembali ke perusahaan.
...****************...
"Kau mau kembali ke Indonesia besok?" tanya Toni pada Sakha yang sedang duduk di pinggir ranjang. Mereka baru saja tiba di apartemen yang berada di LA
"Bukankah masih ada yang harus di urus di sini?" tanya Sakha. Toni lalu melemparkan amplop ke dekat Sakha. Sakha membuka amplop putih yang ternyata berisi tiket pesawat ke Indonesia.
"Pulanglah, aku akan mengurus sisanya. Kau pasti sudah rindu dengan kekasihmu karena hampir tiga bulan tidak bertemu. Lagi pula di kantor pusat pekerjaanmu sudah menumpuk" ujar Toni. Sakha tersenyum pada Toni.
"Terima kasih. Kau memang kakak laki - laki terbaikku" kata Sakha. Ia berlari kecil menghampiri Toni dan memeluknya. Sakha kemudian mengambil koper dan membereskan barang - barangnya.
"Kau ini, sangat kejam dan menyeramkan di depan musuh tetapi seperti anak kecil di depanku" Toni terkekeh melihat adiknya itu. Sisi lain dari Sakha yang hanya di ketahui oleh Toni.
"Aku masih belum ingin mengurus orang lain. Aku masih ingin fokus mengurus papi, mami, kau dan perusahaan" Toni tersenyum.
"Ah kau ini selalu begitu jawabanmu. Baiklah biar aku yang akan meminta papi dan mami mencarikan jodoh untukmu" kata Sakha. Toni hanya menggeleng - gelengkan kepala mendengar ucapan Sakha.
Keesokan harinya pada dini hari Sakha di antar salah seorang anak buahnya menuju ke bandara. wajah bahagia tak bisa ia sembunyikan. Ia sengaja tak mengabari Rainun tentang kepulangannya ini. Ia membuka ponselnya sebelum naik ke pesawat.
"Sudah dua hari aku tak menghubungi Rainun" batin Sakha. Ia kemudian kembali mematikan ponselnya dan naik ke pesawat.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, Sakha akhirnya kembali menginjakkan kaki di Indonesia.
"Tuan, tuan besar dan nyonya besar ada di apartemen" ujar si supir.
"Kapan mereka datang?" tanya Sakha.
"Pagi tadi tuan" jawab si supir.
"Baiklah, kita langsung ke apartemen" pinta Sakha. Tadinya ia ingin langsung menemui Rainun, namun ia urungkan karena kedatangan mami dan papinya.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen.
"Bagai mana kabarmu boy?" Papi dan mami sakha bergantian memeluk putra mereka yang baru saja tiba.
"Dimana kakakmu? Apa dia tak pulang?" tanya maminya yang masih celingukan.
"Kak Toni masih mengurus beberapa hal disana. Ia menyuruhku untuk pulang duluan" jawab Sakha santai.
"Kau ini selalu begitu. Meninggalkan kakakmu untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Kakakmu itu juga butuh istirahat" maminya mengomel.
"Kak Toni yang memintaku pulang duluan mi, aku hanya menurut saja" ujar Sakha.
"Apa ada hal penting hingga kalian datang ke sini? Kenapa tak memintaku pulang ke rumah seperti biasanya saja?" tanya Sakha. Kini mereka duduk di ruang keluarga.
"Mamimu ini rindu kakakmu, kamu dan Rainun" ujar papi Sakha. Maminya hanya meringis mendengar penuturan papinya.
"Ooh begitu" Sakha tersenyum. "Baiklah, besok malam kita akan makan malam bersama" lanjutnya.
"Sekalian kau ajak Raihan dan Sofia juga" pinta papinya.
"Apa ada hal penting yang akan di bicarakan?" tanya Sakha.
"Ya, rencananya mami papi dan mami akan membahas tentang pertunangan kalian. Bukankah kau sudah melamarnya di Paris?" ujar papi Sakha.
"Siapa yang memberi tau papi? Pasti kak Toni" Sakha menebak.
"Tentu saja kakakmu yang memberi tau kami. Lagi pula kenapa kau tak bilang pada mami dan papi jika ingin melamar Rainun?" kata maminya sedikit sewot.
"Mm aku pikir akan bilang pada mami dan papi saat melamarnya secara resmi saja" jawab Sakha. "Mi, pi, apa kalian tak berniat mencarikan istri untuk kak Toni?" tanya Sakha.
"Bukan kami tak mau, kakakmu itu selalu menolak. Mami saja sampai pusing di buatnya" keluh mami Sakha. "Si gila kerja itu selalu saja menolak wanita yang akan mami kenalkan padanya" lanjutnya.
"Dia juga seperti itu. Selalu saja menolak saat akan ku kenalkan pada anak perempuan kolega kita" ujar Sakha.
"Hm nanti papi akan bicara lagi padanya. Papi tak mau putra papi yang satu itu akan menjadi bujang lapuk" papi Sakha terkekeh.
"Dia itu terlalu sayang pada kita bertiga. Semuanya dia dedikasikan untuk kita" mami Sakha terlihat sedih.
"Kita sangat beruntung memiliki dia di sisi kita. Bahkan jika kita meminta nyawanya saja, dia tak akan ragu untuk memberikannya" timpal papi Sakha.
__ADS_1
"Mami dan papi benar. Aku beruntung bertemu orang seperti kak Toni" Sakha kembali mengingat - ingat hal yang di lakukan kakak angkatnya itu.