Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
15. Photoshoot


__ADS_3

"Kak. Aku butuh bantuan" Kata Rainun setelah menyelesaikan panggilannya.


"A a apa kau bilang?" Tanya Sakha yang kaget karena Rainun memanggilnya dengan sebutan 'kak'.


"Aku butuh bantuan" Ucap Rainun mengulangi.


"Bukan, bukan. Kau tadi memanggilku apa?" Tanya Sakha memperjelas.


"Kak" Jawab Rainun singkat. "Aku lebih nyaman memanggilmu kak dari pada hanya menyebut namamu" Jelas Rainun. Sakha tersenyum mendengar panggilan baru untuknya dari gadis yang ia sukai.


"Kau perlu bantuan apa?" Tanya Sakha.


"Tapi berjanjilah kau akan membantuku?" Ujar Rainun.


"Apa yang akan kau berikan jika aku membantumu?" Ucap Sakha


"Ah kau menyebalkan. Padahal kau sudah punya segalanya tetapi masih meminta imbalan saat dimintai bantuan" Seru Rainun yang kemudian memgerucutkan bibirnya.


Sakha hanya tersenyum mendengar perkataan Rainun. "Ayolah kak, tolong bantu aku. Yaa.. Yaa.." Bujuk Rainun lagi.


"Mengenai pekerjaan atau hal pribadi?" Tanya Sakha.


"Pekerjaan" Jawab Rainun.


"Sebentar lagi jam kerja usai" Jawab Sakha yang masih fokus menyetir.


"Ah sudahlah kalau begitu. Kau benar-benar menyebalkan" Keluh Rainun.


Kini mereka sudah sampai di halaman parkir RR Eksportir.


"Kita sudah sampai nona" Ucap Sakha sambil mematikan mobil.


"Aku tak mau turun sampai kau mau membantuku" Seru Rainun.


"Baiklah kalau begitu, kau ikut saja denganku. Aku tak keberatan" Ucap Sakha kemudian bergerak ingin menghidupkan mobil.


"Ahh ayolah kak tolong aku. Please" Rainun menghadap ke Sakha sembari menangkupkan kedua tangannya memohon.


"Baiklah baiklah. Apa yang bisa ku bantu nona?" Ucap Sakha yang sudah tak tega melihat Rainun memohon.


"Benarkah? Ayo ikut aku ke kantor" Kata Rainun bersemangat.


Mereka berdua turun dari mobil dengan Rainun yang masih memakai jas milik Sakha yang kebesaran di tubuhnya.


Kemudian mereka memasuki salah satu ruangan yang ada di kantor Rainun. Ruangan itu adalah ruang pengambilan gambar untuk produk yang akan di pasarkan.


Ckleek...


Semua orang yang berada di dalam ruangan melihat ke arah pintu bersamaan. Mereka kaget melihat kedatangan Rainun bersama seorang pria dengan tatapan dingin.


"Apakah pak Sakha yang akan menjadi modelnya?" Bisik Fitri pada Bara yang berada di sebelahnya.


"Hmmm mungkin saja. Sepertinya hasilnya akan sangat bagus. Lihatlah wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang proporsional" Lirih Bara.


"Kau tak takut saat mengarahkan gaya padanya? Lihatlah tatapannya saja membuat beku" Ujar fitri masih berbisik.


"Ntahlah kita coba saja" Ujar Bara.


"Apa yang akan kita lakukan disini?" Tanya Sakha.


"Tolonglah jadi model untuk kain tenun yang akan di kirim ke paris kak" Ucap Rainun. Sekha mebelalakkan matanya.


"Model? Aku tak terbiasa dengan kamera" Ujar Sakha.

__ADS_1


"Tolonglah kak. Coba dulu" Pinta Rainun. Sakha membuang nafas berat.


"Baiklah. Aku tak akan mau jika saja bukan kau yang meminta" Lirih Sakha yang masih bisa di dengar Rainun. Rainun tersenyum mendengar kata - kata Sakha itu.


"Jadi pak Sakha yang akan jadi model kita kali ini kak?" Tanya Bara tersenyum.


"Iya. Dia akan membantu kita" Jawab Rainun.


"Waah terimakasih banyak pak. Ini tak akan lama. Aku akan meriasmu sebentar agar terlihat lebih segar di kamera" Ucap Fitri mencoba akrab. Sakha hanya mengangguk tanpa merubah ekspresi wajahnya yang datar.


Glekkk..


Fitri mencoba menelan ludahnya saat keakrabannya tak mendapat respon yang memuaskan.


Ia lalu duduk menghadap cermin sedangkan Fitri mulai memberikan sedikit sentuhan riasan di wajahnya.


"Waah kau tampak seperti artis luar negri. Padahal aku hanya sedikit menambahkan riasan" Ucap Fitri terkagum-kagum. Sekali lagi, Sakha hanya terdiam mendapat pujian dari Fitri. Ia kemudian berganti baju yang di berikan oleh Bara.


Sementara itu....


"Kak, kenapa kau memakai jas kebesaran itu?" Tanya Indah ingin tau.


"Bajuku sedikit basah tadi karena terkena hujan. Pak Sakha meminjamkannya padaku" Jawab Rainun. Indah hanya mengangguk mengerti.


"Astaga silau sekali" Ucap Indah saat melihat Sakha keluar dari ruang ganti dan menuju ke depan layar untuk pengambilan gambar. Rainun hanya diam mematung tanpa mengalihkan pandangannya dari Sakha.


"Kak, kak. Kak Rainun" Seru Indah menyadarkan.


"Eee eeh iya, ada apa?" Tanya Rainun.


"Kau terpesona dengan pak Sakha hingga mematung begitu ya?" Bisik Indah.


"Tidak. Aah kau ini" Kilah Rainun lalu berjalan menuju ke arah si fotografer.


"Baiklah mari kita mulai" Ujar Rainun. Fotografer dan Bara mengarahkan Sakha untuk mendapatkan foto terbaik. Awalnya ia tampak kaku. Namun setelah tiga kali pengambilan gambar, ia segera terbiasa.


Setelah selesai mereka melihat hasilnya bersama-sama.


"Wah keren sekali, tak ada gambar yang jelek disini" Puji sang fotografer. Sakha terlihat sangat keren di gambar.


"Ini sih kelas model profesional" Ucap Fitri kembali memuji. Sakha hanya mengangguk kemudian menuju ruang ganti. Untuk mengganti pakaian.


Sementara yang lain sedang sibuk melihat-lihat hasil foto yang luar biasa, Rainun beranjak untuk menemui Sakha yang kini duduk di ruang rias setelah berganti pakaian.


"Biar aku bantu menghapus riasanmu" Ucap Rainun lalu mengambil kapas dan cleanser.


"Terimakasih ya kak, sudah membantuku" Ucap Rainun sambil menghapus riasan di wajah Sakha.


"Iya" Jawab Sakha. "Apakah sudah selesai?" Lanjut Sakha. Rainun mengangguk, ia lalu membuang kapas sisa riasan yang baru ia bersihkan.


"Aku akan kembali ke kantor, Rai" Ucap Sakha.


"Kau masih akan ke kantor?" Tanya Rainun.


"Iya. Ada pekerjaan yang harus ku selesaikan hari ini" Jawab Sakha.


"Kenapa kau tak bilang? Maafkan aku menyita waktumu" Ujar Rainun tak enak hati.


Sakha hanya tersenyum menanggapinya.


"Ayo, aku antar ke depan" Ajak Rainun.


Mereka lalu berjalan meninggalkan ruang pengambilan gambar setelah berpamitan pada rekan-rekan yang ada di sana.

__ADS_1


"Hati-hati kak. Akan ku kembalikan jasmu setelah ku cuci." Ujar Rainun yang mengantarkan Sakha sampai ke mobilnya.


"Baiklah, aku jalan dulu" Ucapnya lalu melajukan mobilnya.


Hari ini Sakha dan Rainun semakin akrab. Rainun sudah tak lagi merasa canggung saat berada di dekat Sakha. Ia nampak bahagia melewati hari bersama Sakha hari ini.


Rainun kemudian kembali menuju ruang pengambilan gambar. Ia ingin melihat hasil gambar yang sudah di edit.


"Luar biasa bukan? Wajahnya saja seperti karya seni" Ucap si fotografer.


"Kalian tau? Wajahnya sempurna seperti hasil gambaran komputer versi nyata" Imbuh Bara takjub. Rainun memandang lekat hasil pemotretan tadi. Ia pun merasa takjub di buatnya. "Maa syaa allah" Lirihnya berkali-kali saat memandang hasil pemotretan Sakha.


"Kalian sudah makan?" Tanya Rainun yang menyadari jam kantor sudah berakhir sedari tadi.


"Sudah, kami sudah makan siang tadi" Ucap Bara. Rainun tersenyum karna mengerti maksud dari sepupunya itu.


"Ndah, tolong pesankan makanan di aplikasi online untuk kita semua" Pinta Rainun.


"Apa yang akan kita pesan?" Tanya Indah.


"Kalian ingin makan apa?" Ucap Rainun melemparkan kembali pertanyaan dari Indah.


"Yang ringan saja. Karena belum terlalu lapar" Ucap Fitri.


"Apaan? Kapas noh ringan?" Celetuk Bara yang mengundang gelak tawa.


"Pesankan pizza dan colla saja kalau begitu ndah" Ucap Rainun memutuskan.


"Baiklah" Ucap indah. Ibu jarinya dengan cepat menari di layar ponsel.


"Kak, ternyata si es batu itu bisa tersenyum juga. Aku melihatnya tersenyum tadi saat ia bersamamu. Saat di ruang rias bersamaku wajahnya datar sekali. Bahkan saat aku puji, ekspresi wajahnya tak berubah. Tetap datar" Ujar Fitri. Rainun hanya terkekeh mendengarkan celotehan Fitri.


"Bar, tolong kirimkan file foto yang terbaik padaku ya. Akan ku kirimkan pada pak Sakha sebagai ucapan terimakasih" Pinta Rainun.


"Siap bos" Jawab Bara yang sedang mengedit hasil foto.


...****************...


Took...


Tokk...


Tokk...


"Permisi pak, ada paket untuk anda" Ujar salah satu office boy di kantor Sakha.


"Besar sekali" Ucap Toni yang sedang berada di ruangan Sakha. Sakha kemudian membuka paket besar itu perlahan.


"Whooaaa. Astaga siapa pria di foto itu? Itu benar kau?" Tanya Toni tak percaya. Sakha hanya mengangguk memberikan jawaban untuk Toni. Ia kemudian tersenyum saat mengingat proses pengambilan gambar dimana Rainun tak melepaskan pandangan takjub darinya.


"Kapan dan dimana kau mengambil gambar ini?" Tanya Toni ingin tau.


"Tiga hari yang lalu, di kantor RR Eksportir" Jawab Sakha.


"Kau di jadikan model oleh mereka? Pasti nona Rainun yang memintamu. Kalian sudah semakin dekat kan?" Tanya Toni memancing pengakuan dari Sakha. Namun gagal karena Sakha hanya melempar tatapan mematikan padanya.


"Lebih baik kau keluar dan carilah OB untuk memasukkan foto itu ke mobilku" Perintah Sakha dengan tatapan mematikannya.


"Baiklah" Ucap Toni lalu keluar memanggil office boy.


Drrtttt...


Getar ponsel Sakha. Ia lalu memeriksa pesan yang masuk ke ponselnya.

__ADS_1


[Apakah sudah sampai kiriman dariku? Terimakasih sudah membantu.] Sakha tersenyum melihat pesan dari Rainun.


[Hasilnya bagus. Akan ku pasang di apartemenku]. Ia lalu mengirim balasannya itu ke Rainun.


__ADS_2