
Tubuhnya terasa membeku karena ia merasa begitu ketakutan. Ia merutuki diri karena tak mau di temani tadi.
"Kenapa kau berjalan sendirian seperti ini" Suara seorang pria. Ia kemudian membuka bekapan tangannya dan memutar tubuh Rainun untuk menghadapnya.
"Kak Sakha" Seru Rainun. Ia langsung memeluk pria di depannya itu. Melepaskan semua ketakutan yang tadi menyergapnya.
"Aku merindukanmu" ujar Sakha yang memeluk erat gadis dalam dekapannya.
"Kau mengejutkanku. Aku kira kau penculik" kata Rainun sedikit terisak. Perasaannya kini campur aduk antara takut dan bahagia.
"Cup cup, jangan menangis sayang. Maafkan aku mengejutkanmu" kata Sakha. Ia kemudian menghapus air mata yang meleleh di pipi Rainun.
"Kenapa kau sendirian? Apa tak ada yang bisa menemanimu?" tanya Sakha.
"Tadi Indah mau menemaniku, tetapi aku menolaknya" jawab Rainun.
"Dengarkan aku, kau jangan pernah pergi sendirian di tempat yang masih asing seperti ini" Sakha menangkupkan kedua tangannya di wajah Rainun. Menghadapkan wajah Rainun ke arahnya agar ia bisa menatap mata Rainun.
Rainun mengangguk mengerti, ia kemudian kembali memeluk kekasihnya itu. "Kapan kau tiba dan dengan siapa kau kemari?" tanya Rainun.
"Aku baru sampai dan langsung menuju kemari dari bandara. Aku bersama supir dan beberapa body guard" jawab Sakha. Mereka kemudian bergandengan tangan, berjalan menuju tempat out bond.
"Bukannya kau bilang belum bisa pulang karena masih ada pekerjaan?" tanya Rainun lagi.
"Mm aku ingin memberikan kejutan untukmu. Saat aku menelfonmu kemarin, aku menghentikannya karena Toni sudah menjemputku di kamar untuk pergi ke bandara" jelas Sakha.
"Ah kau ini kak" Rainun mencubit lengan Sakha. "Lalu dari mana kau tau lokasi ini. Aku bahkan tak menceritakan padamu dimana tempat dan nama lokasinya" tanya nya lagi.
"Dari sini" jawab Sakha mengangkat tangan Rainun yang mengenakan gelang pemberiannya.
"Maksudmu?" tanya Rainun tidak mengerti.
"Gelang ini sudah ku pasang chip GPS, jadi aku tau kau berada di mana" jelas Sakha.
Rainun membelalakkan mata tak percaya. "Kau seperti penguntit kak" ledeknya kemudian. "Dimana letak alat pelacak gps nya?" Rainun memutar - mutar gelang di tangannya
"Ini semua demi keamananmu sayang. Aku ingin selalu bisa mengawasimu apa lagi di saat aku jauh darimu. Mm aku juga tidak tau di mana tempatnya pastinya. Erico yang mengurusnya, dia bilang ada di gantungan SR ini." kata Sakha. Rainun tersenyum mendengarnya.
"Terima kasih kak, kau selalu melindungiku" Rainun terharu.
"Memang sudah tugasku melindungi calon istriku ini" jawab Sakha. Rainun terkekeh mendengarnya, ia merasa begitu beruntung karena di cintai oleh seorang Sakha.
...****************...
"Eh loh bukan kah itu kak Sakha?" tanya Indah yang melihat Rainun berjalan bersama seorang pria.
"Kau benar, itu pak Sakha. Loh kenapa kau memanggilnya kak?" tanya Fitri.
"Dia yang memintanya. Dia tak mau d panggil pak" jawab Indah. Fitri kemudian mengangguk - anggukan kepala.
__ADS_1
"Kak Rai!!!" Seru indah lalu berjalan menghampiri.
"Kenapa kalian ke sini?" tanya Rainun saat melihat Indah dan Fitri.
"Habisnya kau lama sekali. Kami takut terjadi apa - apa denganmu" jawab Indah khawatir.
"Ternyata kak Sakha jadi datang? Bukankah tadi kak Rai bilang kalau masih berada di Jerman?" tanya Fitri.
"Hm, aku sudah berjanji akan datang" jawab Sakha.
"Ayo kita kembali ke tempat out bond" ajak Rainun. Mereka kemudian berjalan bersama.
Dari kejauhan terdengar tawa dan sorak sorai dari pegawai. Mereka mempercepat langkah, ingin segera bergabung dengan keseruan itu.
"Selamat datang pak" mas Adi dan mbak Salma menyambut ketika melihat Sakha bersama Rainun. Sakha tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ah jadi datang rupanya. Baiklah aku akan menyiapkan kamar" kata mas Surya ketika melihat Sakha datang.
"Terima kasih mas" ucap Sakha. Ia kemudian bergabung duduk bergabung dengan para rekan, melihat keseruan di sana.
Talita, gadis kecil putri mbak Ani yang berusia tiga tahun itu menghampiri Sakha.
"Om" panggilnya, tanpa malu ia langsung duduk di pangkuan Sakha yang sedang duduk bersila di atas rumput itu.
"Hai anak cantik" Sakha membelai kepala Talita gemas.
"Wah Lita, kau masih kecil sudah tau saja mana pria tampan" gurau mbak Ani yang melihat putri kecilnya berada di pangkuan Sakha. Semua orang tertawa melihat tingkah Lita yang bermanja pada Sakha.
"Kapan kau sampai kak?" tanya Bara pada Sakha.
"Pagi tadi, aku langsung kesini dari bandara" jawab Sakha.
"Om Bara, jangan berbicara pada omku ini. Om kan nakal" kata Talita dengan kata - kata yang masih cadel saat melihat Bara mengajak berbicara Sakha.
"Ah, kau ini anak kecil. Dia kan kakakku" Bara mulai menjahilinya lagi.
"Tidak dia om ku" jawab Lita tak mau kalah. Ia kemudian berdiri dan memeluk Sakha.
"Tante Rainun akan memarahimu karena kau memeluk om Sakha" kata Bara meledek. Lita langsung melepaskan pelukannya dari Sakha. Ia kemudian melihat ke arah Rainun.
"Tante, boleh aku bersama om ini?" tanya Lita dengan tatapan memohon. Tak ayal tingkah lucunya itu mengundang gelak tawa.
"Tentu saja, bermainlah sepuasnya dengan om Sakha" jawab Rainun terkekeh.
"Namanya om Kaka?" tanya Talita
"Om Sa kha" jawab Rainun memperjelas.
"Iya om Kaka" ujar Talita yang kembali mengundang gelak tawa.
__ADS_1
"Kak, kau tak ingin mencoba permainan itu?" tanya Bara yang menunjuk lokasi out bond di depan mereka.
"Tentu saja. Ayo kita bermain" ajak Rainun.
"Aku sudah mencobanya duluan bersama mas Surya, mas Adi dan mas Bagas. Kau bermainlah bersama kak Sakha juga indah dan Fitri." jawab Bara.
Mbak Ani yang mengetahui Sakha juga akan bermain kemudian membujuk Talita untuk ikut bersamanya. Mereka ber empat kemudian melangkah mendekati tempat out bond itu. Mulai melintasi delapan trek permainan itu satu persatu yang berakhir pada flying fox yang cukup tinggi dan curam.
"Wuah ini sangat seru!!" Indah girang. Mereka semua sudah menyelesaikan permainan itu.
"Kak, kenapa kau melewati permainan ini tanpa ekspresi?" tanya Rainun yang melihat wajah Sakha biasa saja. "Aku bahkan berkali - kali berteriak" lanjutnya.
"Ini tak menakutkan" jawab Sakha singkat.
"Wah kau memang luar biasa" puji Rainun sambil menepuk nepuk bahu kekasihnya itu.
"Kak Rai, ayo kita berangkat Rifting" Seru Bara yang sudah berjalan bersama rombongan.
Rainun lalu menarik Sakha untuk ikut bersamanya. Sesampainya di sana, mereka adalah rombongan terakhir yang akan berangkat. sudah ada sepuluh rombongan yang menyelesaikan rifting atau akrab di kenal dengan arung jeram. Tidak semua orang mengikutinya karena beberapa orang takut melihat aliran sungai yang deras.
"Kau tidak takut?" tanya Sakha yang mengencangkan pelampung yang di pakai Rainun.
"Tidak, kan ada kau. Jika kau tak ada di sini, aku pasti hanya duduk di sana untuk menonton" Rainun menunjuk pegawai dan rekan yang menonton mereka dari tepi sungai.
Perahu karet mereka berisikan tujuh orang. Rainun, Sakha, Bara, mas Surya, Fitri, Indah dan seorang pemandu. Mereka yang sudah siap lalu mulai mengarungi aliran sungai deras yang dipenuhi oleh jeram.
Sakha berkali - kali melihat Rainun yang berada tepat di depannya. Tampak Rainun begitu menikmati kegiatan rifting ini hingga tiba pada sebuah jeram yang cukup berbahaya. Rainun tiba - tiba terpental dan terbawa arus.
"Kak Rai!!!!" teriak Indah yang berada di sampingnya.
"Ah si*l" kata Sakha. Ia kemudian langsung melompat menyelamatkan Rainun yang terbawa arus cukup deras.
Sakha terus berenang terbawa arus mengejar Rainun yang kesulitan mencari pegangan.
"Pegang batu besar di sebelah kananmu Rai!" teriak Sakha khawatir. Pada akhirnya Sakha mampu meraih pelampung Rainun dan mendekapnya.
Mereka berdua kemudian kembali naik ke perahu karet yang juga ikut menyusul mereka.
"Kau tak papa?" tanya Sakha melihat tangan dan kaki Rainun. Memastikan tak ada luka di sana.
"Aku tak apa - apa" jawab Rainun tersenyum.
"Kau membuat kami khawatir kak!" kata Bara yang terlihat khawatir.
"Tenang saja, aku bahkan memiliki penyelamat pribadi" Rainun terkekeh.
"Bagai mana bisa kau bergurau di saat seperti ini kak? Bahkan jantungku terasa berpindah dari tempatnya" kata Indah.
"Kau tak tau saja bagai mana terkejutnya Sakha. Ia langsung melompat begitu saja saat kau terpental" kata mas Surya salut dengan kesigapan Sakha.
__ADS_1
Rainun tertawa mendengar celotehan sepupu - sepupunya itu. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan hingga tiba di garis finish.