
Suara dentingan piring dan sedok yang beradu mengawali pagi cerah hari ini.
"Ini sangat sepi" Keluh Rainun. Raihan yang berada di depannya hanya mengernyitkan dahi.
"Aku berharap cepat memiliki banyak keponakan di rumah ini agar tak lagi sepi" Lanjut Rainun. Raihan hanya tersenyum mendengar ucapan adiknya.
"Rai, abang akan ke luar kota hari ini" Ujar Raihan.
"Berapa lama? Kenapa baru bilang?" Tanya Rainun yang kini tampak lesu.
"Ini sangat mendadak. Mungkin sekitar tiga hari. Oh ya, mobilmu baru akan selesai lusa dan akan langsung di antarboleh pegawai bengkelnya" ujar Raihan.
Rainun menghela nafas berat. Itu berarti selama tiga hari kedepan ia hanya akan sendirian di rumah utama ini. Mbok Surti, pak Maman dan juga anak bungsunya tinggal di paviliun yang berada di belakang rumah utama.
Sebenarnya Raihan tak tega meninggalkan Rainun saat ia pergi bekerja keluar kota. Namun ia juga tak bisa berbuat apa-apa karna itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
"Ku dengar kau semakin dekat dengan Sakha" Kata Raihan yang memecah keheningan.
"Kata siapa? Kedekatan kami hanya sebatas rekan kerja" Jawab Rainun santai.
"Bara yang bilang. Bahkan beberapa waktu lalu kau membuat Sakha menjadi model untuk kain tenun yang akan kau promosikan" Ujar Raihan.
"Hmm iya. Kebetulan saat itu aku habis meninjau petani kakao bersamanya. Dan kau tau bang? Pemesanan meningkat tajam setelah aku mengirim foto kak Sakha sebagai promosi" Kata Rainun. "Abang mau lihat hasil fotonya?" Tawar Rainun. Ia kemudian dengan cepat membuka ponselnya dan menunjukan hasil foto Sakha.
"Woooa bukan main. Dia terlihat seperti model papan atas sungguhan" Puji Raihan.
"Hmm benar kan" Jawab Rainun.
"Tapi, kenapa kau menyimpan foto itu di ponselmu dan sejak kapan kau memanggilnya kak?" Goda Raihan.
"Mmm itu karna beberapa waktu lalu aku mengirimkan foto ini padanya. Dan itu karna dia tak mau ku panggil pak, makanya aku memanggilnya kak" Ujar Rainun yang sedikit kelabakan.
"Kalau begitu jadikan saja dia model untuk semua produkmu agar pemesanannya meningkat" Kata Raihan terkekeh. Rainun ikut tertawa mendengar kata - kata abangnya itu.
Rainun kemudian berangkat ke kantor segera setelah menghabiskan sarapan. Sedangkan Raihan membereskan pakaian yang akan dia bawa ke luar kota.
...****************...
Pagi ini Sakha dan juga Toni yang menjadi asistennya menghadiri pembukaan sebuah anak cabang perusahaan milik salah satu relasinya.
"Bos. Kenapa kau melamun?" Tanya Toni yang berada di sebelah Sakha.
"Tak apa" Jawabnya.
__ADS_1
"Hari ini kau lesu sekali" Ujar Toni. Sakha menghela nafas berat lalu kembali fokus mendengarkan sambutan-sambutan yang di berikan oleh relasinya.
Tepat pada jam makan siang, acara itu selesai dengan di akhiri oleh jamuan makan siang. Sakha terlihat tak tertarik pada makanan yang ada.
"Kau tak makan?" Tanya Toni yang baru saja mengambil sepiring makanan.
"Aku sedang malas" Jawab Sakha. Toni hanya diam dan memakan hidangan di piringnya. Ia tak mau membangunkan singa yang tertidur jika ia banyak bicara nanti.
Beberapa relasi menghampiri Sakha dan mengajaknya berbincang. Terlihat sekali wajah terpaksa Sakha saat meladeni mereka mengobrol.
"Aku rindu gadis itu. Ingin bertemu, namun tak ada alasan" Batin Sakha. Terlintas wajah Rainun yang tersenyum manis padanya. Seulas senyum muncul dari wajah tampannya.
"Ayo kita pulang saja bos. Nampaknya kau sedang tak sehat. Tadi kau lesu dan murung, sekarang kau senyum-senyum sendiri" Ujar Toni yang bingung dengan sikap bosnya yang tak biasa.
"Maksudmu aku gila?" Tanya Sakha yang kini memandang Toni dengan tatapan mematikan.
"Bbb bbuu kan begitu bos" Jawab Toni tergagap.
"Yasudah ayo kita pulang" Ajak Sakha yang kemudian melangkah keluar gedung.
Di kantor, Sakha mengerjakan banyak pekerjaan untuk mengalihkan kerinduannya pada Rainun.
Sakha melihat jam tangannya. "Pukul tiga lewat empat puluh lima menit. Ah masih ada waktu" Batinnya. Ia mengambil tas dan juga jasnya lalu berlari kecil menuju tempat parkir mobilnya.
Sakha melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menyusuri jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan. Hanya dalam waktu lima menit ia sudah sampai di tempat yang ia tuju. Ia memarkirkan mobilnya di halaman parkir coffe shop tang berada tepat di sebrang gedung perusahan Rainun.
"Ah itu dia" Hatinya berbunga - bunga saat melihat sosok gadis yang ia rindukan. Gadis itu tampak mengobrol akrab dengan seseorang sebelum kemudian ia mengendarai motor matic keluar dari halaman kantor.
"Kenapa dia menggunakan motor? Kemana mobilnya?" Ujar Sakha dalam hati. Ia kemudian pelan - pelan membuntuti motor yang di kendarai gadis itu dari kejauhan.
...****************...
"Loh, kamu tadi ke kantor naik apa Rai? Kok mobilmu tak ada di halaman parkir?" Tanya mbak Ani dari atas motor. Ia melihat Rainun baru keluar dari kantor setelah jam kerja usai.
"Naik motor tuh" Rainun menunjuk sebuah motor matic di tempat parkir motor. "Mobilku sedang di service" Kata Rainun melanjutkan.
"Oo begitu. Aku kira kau di antar Raihan" Kata mbak Ani.
"Tidak, abang sedang ke luar kota" Kata Rainun.
"Baiklah kalau begitu mbak duluan ya" Ucap mbak Ani sembari melajukan motornya.
Rainun kemudian berjalan ke parkiran untuk mengambil motornya. Ia melajukan santai kendaraan roda dua nya. Melihat ke kanan dan ke kiri saat melewati deretan pedagang makanan kaki lima yang mulai menggelar dagangannya. "Tak ada yang menarik" Gumamnya.
__ADS_1
Ia kemudian melajukan kendaraannya lagi hingga sampai di sebuah wilayah yang sepi kendaraan. Tiba-tiba sebuah mobil menyalip dan menghentikan motor yang di kendarai Rainun.
Dua orang pria bertopeng turun dari mobil dan mencekal ke dua tangan Rainun. Terjadilah tarik menarik antara Rainun dan dua pria itu. Rainun berusaha melepaskan cengkraman pria yang akan membawanya itu.
"Tolong-tolong lepaskan aku. Siapa kalian!" Teriak Rainun yang tak mampu melepaskan diri dari dua pria yang mencekalnya. salah satu pria itu membekap mulut Rainun agar ia tak berteriak. Rainun menendang - nendang berharap ke dua pria itu akan melepaskannya.
Bughh....
Tiba - tiba salah satu pria jatuh tersungkur setelah mendapat tendangan dari belakang. Rainun yang melihat ada seseorang yang menolongnya langsung membalikan badan. Ia membeku saat melihat Sakha sudah berada di belakangnya.
Sakha yang sudah siap dengan kuda - kudanya lalu menendang pria yang masih mencekal tangan Rainun tepat mengenai dadanya.
Kemudian turunlah tiga orang pria bertopeng lainnya dari dalam mobil van yang menhentikan motor Rainun. Baku hantam tak terelakan lagi. Setelah lima menit terjadi baku hantam, Sakha yang kini terdesak karena melawan lima orang pria bertubuh kekar di hadapannya mulai berjalan mundur.
Pada saat itu juga, body guard yang ia hubungi sebelumnya datang membantu. Kelima pria yang melihat bala bantuan Sakha pun langsung mundur dan melarikan diri.
"Kejar mereka" Perintah Sakha. Para body guard itu bergegas menuju mobil dan mengejar kelima pria bertopeng yang kabur itu. Menyisakan dua orang body guard yang tetap berada di dekat Sakha.
"Kamu tak apa - apa?" Tanya Sakha pada Rainun yang terduduk lemas. Rainun hanya menggeleng. Tubuhnya menggigil ketakutan dan air mata tak berhenti jatuh dari pelupuk matanya. Ia masih shock dengan apa yang baru saja terjadi.
"Aku takut kak" Ujar Rainun yang tiba-tiba memeluk Sakha. Suaranya bergetar.
"Tenanglah. Aku ada di sini" Ucap Sakha sambil menepuk - nepuk punggung Rainun untuk menenangkan.
Setelah Rainun mulai tenang, Sakha kemudian membawanya ke mobil dan mengantar Rainun pulang. Sementara motor yang di kendarai Rainun, di bawa oleh body guard Sakha menuju rumah Rainun.
Di rumah Rainun....
Simbok dan suaminya kaget saat melihat Rainun datang bersama seorang pria dengan deraian air mata. Simbok kemudian buru - buru memeluk Rainun yang sudah ia anggap anaknya itu.
"Ya ampun gusti, apa yang terjadi non?" Tanya simbok yang panik. Rainun tak menjawab, ia hanya menangis di pelukan mbok Surti. Sakha kemudian menjelaskan kejadian yang menimpa Rainun pada mbok Surti juga Suaminya.
Setelah menjelaskan kejadian, kemudian Sakha menemui Rainun yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Apakah ada yang terluka?" Tanya Sakha yang berjongkok di depan Rainun. Memandangi wajah gadisnya yang masih basah. Rainun menggeleng menjawab pertanyaan dari Sakha.
"Terima kasih kak sudah menolongku." Ucap Rainun.
Sakha mengangguk dan membelai kepala Rainun lembut. Tak lama Sofia yang mendengar kabar dari Sakha, sampai di rumah Rainun. Ia langsung berhambur memeluk calon adik iparnya itu.
"Apa yang terjadi? Kau tak kenapa - kenapa kan Rai?" Tanya Sofia sedikit panik.
"Aku tak apa - apa kak. Aku hanya masih shock" Jawab Rainun.
__ADS_1
"Apa yang terjadi. Jelaskan kronologinya pada kakak" Pinta Sofia pada Sakha yang ada di hadapannya. Sakha kemudian menjelaskan bagai mana kronologinya.
"Lalu, bagai mana bisa kau di sana?" Tanya Sofia lagi pada Sakha. Sakha diam sejenak memikirkan apa yang akan ia katakan pada Sofia. Ia malu jika harus mengakui diam - diam mengikuti Rainun karena rindu.