Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
13. Kakao


__ADS_3

Sore itu Raihan, Sofia dan Rainun sudah berada di loby hotel untuk checkout.


"Kalian sudah akan pulang?" Tanya Sakha yang baru turun dari penthouse nya.


"Iya" Jawab Sofia lesu. "Sebenarnya aku masih ingin berlibur, tetapi esok sudah hari senin. Jadwal padat sudah menanti" Lanjutnya.


"Kau tak pulang?" Tanya Raihan pada Sakha.


"Mungkin lusa. Karena aku harus mengawasi beberapa pembenahan di sini" Jawab Sakha.


"Baiklah kalau gitu kami duluan ya" Pamit Raihan.


"Ya, hati-hati" Ujar Sakha.


Raihan, Rainun dan Sofia berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman hotel. Sementara Sakha menuju ke pantai untuk mengecek hasil pekerjaan stafnya pagi tadi.


...****************...


Drrrttttt.....


Suara getar ponsel mengalihkan perhatian Rainun dari tumpukan kertas di hadapannya. Nomor tidak di kenal mengirim pesan.


[Kapan kau akan mengunjungi petani kakao?] isi pesan itu.


Rainun tersenyum saat membaca pesannya. "Ternyata mister tengil menghubungi langsung. Ku kira sekretarisnya yang akan mengabari. dari mana dia mendapat kontakku? Apa dari kak Sofia" Ia bermonolog.


[Pukul sepuluh aku akan mengunjungi petani kakao. Datanglah ke kantorku jika ingin ikut] Rainun membalas pesan itu.


Di tempat lain...


"Kenapa kau senyum-senyum saat melihat ponsel?" Tegur Toni yang memperhatikan Sakha.


"Tidak. Aku tidak tersenyum" Jawabnya dingin.


Toni hanya menghela nafas berat. Ia sudah paham sekali dengan sikap bosnya yang suka berkilah.


"Kosongkan jadwalku hari ini. Aku akan keluar pukul sembilan lewat tiga puluh nanti" Ujar Sakha pada sekretaris yang sedang berada di ruangannya.


"Tapi anda ada meeting penting setelah jam makan siang pak" Jawab sekretarisnya.


"Biar Toni saja yang mewakili" Ujar Sakha.


"Baiklah pak" Kata sekretaris menuruti.


"Memang kau mau kemana bos?" Tanya Toni yang berada di sebelahnya.


"Aku akan mengunjungi petani kakao" Jawab Sakha.


"Apakah kita mendapatkan permintaan pengiriman kakao?" Tanya Toni


"Iya. Klienku di Australia meminta kita untuk mengekspor kakao kesana" Kata Sakha.


"Dengan siapa kau akan pergi? Apa kau tak mengajak stafmu? tumben sekali kau mengunjungi petani secara langsung" Tanya Toni yang masih heran.


"Aku akan pergi dengan perwakilan dari RR Eksportir" Toni hanya mengulum senyum mengerti tujuan sebenarnya dari bosnya itu.


"Baiklah sepertinya kau harus pergi sendiri. Toh nanti ada yang menemanimu" Ujar Toni meledek sang pimpinan.


Sakha tak mengiraukan perkataan Toni dan sibuk menyelesaikan berkas-berkas yang harus ia tandatangani.


...****************...


"Sudah pukul sepuluh. Kenapa dia belum datang?" Gumam Rainun.

__ADS_1


"Kak Rai, kau jadi meninjau petani kakao?" Tanya Indah yang melihat atasannya itu di loby.


"Iya" Jawabnya agak resah.


"Siapa yang akan mendampingimu?" Tanya Indah lagi.


"Sepertinya mas Surya yang akan ikut" Jawab Rainun sambil celingukan melihat halaman parkir.


"Kau mencari siapa? Bukankah mas Surya masih di ruangannya?" Tanya Indah yang juga ikut celingukan.


"Eehh mmm itu. Katanya CEO HC akan ikut meninjau. Aku sedang menunggu mereka" Jawab Rainun.


Indah yang mendengar lalu menyipitkan mata. "Hmm baiklah kalau begitu. Aku ke atas dulu ya kak" Ujarnya lalu melangkah pergi.


Tak lama, datanglah sebuah mobil sport yang masuk ke halaman kantor. Turunlah dari balik pintu kemudi seorang pria gagah yang menawan. Pria itu tak lain adalah Sakha. Ia menghampiri Rainun yang berdiri di pintu lobi.


"Maaf aku terlambat" Ujarnya.


"Kau sendiri?" Tanya Rainun.


"Iya. Kau juga sendiri?" Kata Sakha.


"Aku menunggu mas Surya" Jawab Rainun.


Surya yang melihat Rainun bersama Sakha kemudian menghampiri.


"Maaf Rai, aku tidak bisa ikut. Karena harus mengunjungi rumah produksi UMKM. Kalian berangkatlah berdua" Kata mas Surya berbohong. Ia seperti tau maksud kedatangan Sakha. Mana mungkin seorang CEO perusahan besar akan pergi sendiri hanya untuk meninjau petani. Itulah yang dipikirkan oleh mas Surya.


"Bukankah tak ada jadwal kunjungan rumah produksi hari ini?" Tanya Rainun mengernyitkan dahi.


"I i iya ini tadi mereka tiba-tiba menghubungi karena ada sedikit masalah disana" Jawab mas Surya kelabakan.


"Masalah? Apakah aku harus ikut denganmu?" Tanya Rainun yang khawatir.


"Baiklah kalau begitu, kami berangkat" Kata Rainun pamit.


"Hati-hati ya. Perjalananmu agak jauh dan jalannya agak sulit di lalui" Mas Surya mengingatkan.


Sakha hanya menganggukan kepala mengerti dengan peringatan dari Mas Surya. Mereka berdua berjalan menuju tempat parkir.


"Kita pakai mobil kantor saja. Ada supir yang akan mengantar" Ujar Rainun.


"Tak usah, pakai mobilku saja" Ucap Sakha lalu berjalan menuju mobilnya.


"Kau tak membawa supir?" Tanya Rainun yang tampak ragu.


"Aku akan menyetir sendiri. Tak usah khawatir, aku sudah terbiasa" Ujar Sakha. Rainun hanya mengernyitkan dahi lalu mengikuti Sakha tanpa berkomentar lagi.


Di perjalanan.....


Sudah tiga puluh menit perjalanan tetapi mereka hanya diam. Tak ada obrolan di antara ke duanya. Mereka hanya mendengarkan musik yang di putar oleh Sakha sedari awal perjalanan.


"Apakah masih lama perjalanan kita?" Tanya Rainun membuka obrolan.


"Masih sekitar tiga puluh menit lagi menurut maps" Jawab Sakha. Rainun hanya mengaggukkan kepala.


"Aduh, tenggorokanku kering rasanya. Kenapa juga aku tadi tak membawa minum" Batin Rainun. Sakha melirik wanita di sebelahnya yang tampak gelisah.


"Ada apa? Apa kau haus? Kita akan berhenti sebentar di mini market di depan sana. Aku tak memiliki stok minuman di mobil" Ujar Sakha seolah bisa membaca pikiran Rainun. Rainun yang mendengar ucapan Sakha terbelalak kaget.


"Hah! Apakah dia bisa membaca pikiranku?" Batin Rainun lagi. Tak lama, mereka sampai di sebuah mini market.


"Tunggulah di sini, aku akan membeli minuman" Ujar Sakha lalu turun dari mobil. Setelah sepuluh menit menunggu, Sakha kembali ke mobil dengan sekantung belanjaan.

__ADS_1


"Ini minumlah" Sakha memberikan sebotol air mineral dingin pada Rainun setelah menaruh kantung belanjaan di barisan belakang. Tak lupa ia memberikan botol yang sudah ia buka sebelumnya agar Rainun tak kesulitan membukanya. Sakha juga meletakkan beberapa Camilan di dekat mereka.


"Terimakasih" Ucap Rainun. Ia lalu membuka tutup botol dengan mudah. "Sikapnya benar-benar manis" Batin Rainun. Seulas senyum tipis muncul dari bibirnya.


Mereka kemudian melanjutkan perjalanan hingga sampai ke sebuah pertigaan berbatu di lereng gunung.


Mereka mengikuti petunjuk maps untuk belok ke kiri. Perjalanan dengan medan jalan yang berbatu kali ini.


"Astaga jalan ini semuanya batu" Ujar Sakha.


"Kau benar, aku sampai mual karena terus terlonjak-lonjak" Ujar Rainun dengan ekspresi yang sulit di artikan. Mereka berjuang melewati medan berbatu itu selama lima belas menit. Hingga sampai di sebuah desa yang kini medan jalannya berupa tanah merah.


"Benar ini desanya?" Tanya Sakha pada Rainun.


"Sepertinya benar. Ah itu dia rumahnya" Kata Rainun menunjuk sebuah rumah yang sama persis dengan rumah yang ada di foto kiriman dari mas Surya.


Sakha kemudian menghentikan mobilnya di rumah yang dimaksud oleh Rainun. Mereka berdua turun dan di sambut oleh dua orang petani kakao yang sudah menunggu dengan motornya.


"Kita akan kemana pak?" Tanya Rainun usai berkenalan dengan ke dua petani tersebut.


"Kita akan ke pendopo di atas bu. Tempat kami menyimpan hasil panen" Jawab petani itu


"Apa tak bisa di akses menggunakan mobil?" Tanya Sakha.


"Tidak bisa pak. Pendopo berada di tengah-tengah kebun kakao yang hanya bisa di jangkau dengan motor atau sepeda" Jelas petani. "Mobilnya akan aman di sini" Lanjutnya.


Mereka akhirnya menuju ke kebun kakao menaiki dua buah motor yang di kendarai oleh petani kakao. Di perjalanan mereka disuguhi oleh pemandangan hamparan pohon kakao yang berbuah lebat. Setelah menempuh perjalanan selama lima menit dengan motor, mereka akhirnya sampai di sebuah pendopo besar yang menjadi tempat petani berkumpul.


"Selamat datang pak, bu" Sambut ketua kelompok petani yang sudah menunggu. "Bagaimana perjalanan anda? Apakah sempat tersesat?" Lanjutnya bercengkrama.


"Alhamdulillah lancar dan tidak tersesat karena pak supir ini sangat andal membaca lokasi di peta" Ucap Rainun terkekeh sambil menepuk lengan Sakha. Sakha hanya tersenyum canggung karena tak mengira akan di sebut pak supir oleh Rainun.


"Sebaiknya kita makan siang dulu sembari mengobrol santai sebelum nanti kita melihat-lihat perkebunan" Ujar si bapak.


Mereka berdua hanya menurut tanpa berkomentar karena sejujurnya mereka juga sudah merasa lapar karena menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan medan yang tidak biasa mereka lalui.


Disana para ibu-ibu petani sudah menyiapkan nasi liwet dengan bermacam lauk pauk yang menggugah selera. Mereka duduk lesehan dan makan bersama-sama.


"Monggo di nikmati. Maaf karena hanya seadanya saja" Ujar si ibu istri ketua kelompok tani.


"Ini sudah lebih dari cukup bu. Terimakasih banyak, maaf karena merepotkan" Ujar Rainun sungkan.


Rainun mengambil piring dan menyendokan nasi ke piring itu.


"Kau mau lagi?" Tanya Rainun. Ia menoleh pada Sakha yang berada di sampingnya. Sakha tampak terkejut karena tak menyangka Rainun akan mengambilkan makanan untuknya.


"Boleh tambah sedikit lagi" Jawab Sakha tersenyum.


"Mau lauk apa?" Tanya Rainun yang kembali menoleh ke arah Sakha.


"Ayam bakar saja. Tolong berikan sedikit sambal juga" Ujar Sakha. Rainun mengambilkan sesuai dengan yang Sakha minta lalu memberikannya pada Sakha. Kemudian baru Rainun mengambil makanan untuknya.


"Apakah kalian suami istri?" Tanya seorang ibu yang berada di sebelah Rainun.


"Oh bukan bu, beliau ini adalah rekan kerja saya. CEO dari Hendrawan's Company" Ujar Rainun sambil menunjuk Sakha dengan ibu jarinya. Si ibu yang tak mengerti dengan maksud dari CEO itu hanya mengangguk dan tersenyum.


Mereka menikmati hidangan yang disediakan sembari bercengkrama santai. Setelah selesai makan dan beristirahat sebentar, bapak ketua petani itu mengajak mereka untuk mulai melihat-lihat perkebunan dan hasil panen.


"Sebaiknya menggunakan sepatu boots ini saja pak, bu. Karena jalanan sedikit licin dan becek karena semalam habis hujan" Ujar seorang bapak yang membawa dua pasang sepatu boots.


Mereka melihat-lihat mulai dari biji kakao hasil panen yang masih basah juga yang sudah kering. Biji-biji yang sudah di bersihkan itu di letakkan di sebuah gudang besar yang berada dekat pendopo. Suasana riuh rendah karena mereka sesekali melempar canda.


Selanjutnya mereka meneruskan perjalan ke kebun kakao. Melihat beberapa petani yang sedang memanen kakao. Namun tiba-tiba hujan turun yang membuat mereka kelimpungan karena tak membawa payung ataupun Jas hujan.

__ADS_1


__ADS_2