
"Sayang, aku akan berangkat ke Paris lusa" kata Sakha. Mereka sedang makan malam di sebuah restoran.
"Lagi? kau baru beberapa hari di sini" Rainun terlihat sedih.
"Maaf ya sayang, aku akan secepatnya menyelesaikan pekerjaanku" Sakha menggenggam tangan kekasihnya.
"Tak apa sayang, itukan sudah tanggung jawabmu" Rainun tersenyum.
"Terima kasih karena selalu mengerti sayang" Sakha lega.
"Pasti lah kak, aku juga memiliki pekerjaan yang sama denganmu hanya saja beda jangkauan" Rainun terkekeh.
"Tetaplah optimis, suatu saat perusahaanmu pasti bisa menjangkau pasar Eropa. Sekarang saja kau sudah merambah pasar Australia" Sakha menyemangati.
"Iya, kemajuan yang tak pernah ku kira. Terima kasih karena sudah selalu membantuku kak" kata Rainun. Sakha tersenyum.
...****************...
Di bandara...
"Hati - hati ya kak" Rainun memeluk kekasihnya.
"Kau juga jaga dirimu sayang. Aku akan segera pulang" Sakha membelai kepala Rainun lembut.
Rainun memandangi Sakha yang masuk ke dalam pesawat bersama Toni juga sekretarisnya.
"Nona bos. Ini kunci kamar hotel anda. Pesawat anda akan berangkat pukul empat sore nanti. Barang - barang anda sudah ada di kamar hotel anda" Eriko memberikan kunci dan tiket pesawat untuk Rainun.
"Terima kasih pak Eriko" Rainun tersenyum
"Oh iya nona, nanti anda akan berangkat denganku dan seorang body guard" jelas Eriko.
"Ah, syukurlah aku kira akan berangkat sendiri" Rainun lega karena selama ini dia tak pernah berpergian ke luar negri seorang diri.
"Tidak nona, aku bisa di marahi bos jika ia tau kalau anda berangkat sendiri." kata Eriko.
"Baiklah kalau begitu" Rainun kemudian berjalan ke hotel yang berada di dekat bandara di antar oleh Eriko.
Paris...
"Akhirnya sampai juga" Rainun lega.
"Nona, mobil anda sudah sampai" kata Body guard yang bersamanya.
"Apa mobil kita berbeda?" Rainun sedikit bingung.
"Benar nona, ini untuk memberi keleluasaan anda. Supir anda juga seorang wanita" jelas Eriko
"Baiklah. Terima kasih pak." Rainun lalu masuk ke dalam mobil, sementara Eriko dan body guard berada di belakang dengan mobil yang berbeda. Mereka menuju hotel tempat Rainun menginap, tentu saja itu hotel yang sama dengan Sakha.
"Halo bang?" Rainun menelfon Raihan.
"Iya Rai? Apa kau sudah sampai?" tanya Raihan.
"iya, aku sedang menuju ke hotel" jawab Rainun.
"apa semua baik - baik saja?" Raihan sedikit khawatir.
"Tentu saja, mereka juga menyiapkan mobil khusus untukku dengan supir perempuan" jawab Rainun.
"Jaga dirimu dan nikmatilah liburanmu. Semoga kejutannya berhasil" pesan Raihan.
"Baiklah, nanti akan ku hubungi lagi bang. Aku sudah sampai di hotelnya" Rainun lalu memutuskan sambungan telfon. Kini Rainun sudah sampai di lobi hotel. Rainun masuk ke kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar Sakha.
"Bagai mana bisa kak Sakha bolak balik ke Eropa dengan perjalanan yang melelahkan seperti ini" Keluh Rainun. Ia sedang berbaring di ranjang hotel.
"walaupun dengan faisilitas First Class tetap saja perjalanan ini melelahkan" imbuhnya.
__ADS_1
"apakah dia sedang meeting sekarang?" Rainun kemudian mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Sakha.
"Ah ternyata benar. Ponselnya tidak aktif" Rainun kemudian membersihkan diri dan berganti pakaian.
Tring....
Ponsel Rainun berbunyi. Toni menelfonnya.
"Nona, apakah anda sudah sampai?" tanya Toni.
"Iya pak, aku sudah berada di kamar hotel" jawab Rainun.
"Baiklah, pukul tujuh nanti anda akan makan malam bersama bos. Nanti akan ada staf hotel yang akan mengantar gaun anda." jelas Toni.
"Baiklah aku mengerti" jawab Rainun. Sebelum berangkat, Rainun memang sudah di minta untuk tidak membawa barang - barang berlebih karena di sana Toni dan sekretaris Sakha sudah menyiapkan semua kebutuhan Rainun.
Rainun kembali bersantai sembari melihat pemandangan kota Paris melalui jendela hotel. Menara Eiffel terlihat dengan sempurna dari kamarnya.
"Indah sekali di sini" batin Rainun. Ia mengambil beberapa foto. Tak lama, dua orang staf hotel mengantarkan gaun yang sebelumnya sudah di pesan oleh Toni.
Rainun mencoba beberapa gaun, memastikan ukurannya pas. Akhirnya ia menemukan sebuah gaun berwarna hitam berpadu dengan hiasan manik - manik silver yang pas di tubuhnya.
Ia kemudian bersiap karena waktu sudah menunjukkan pukul enam.
"Aku merasa seperti tuan putri. Semua kebutuhanku sudah di siapkan di sini" Rainun bermonolog.
Tok..
Took..
"Nona, Bos sudah berada di restoran" Body guardnya menjemput Rainun.
Rainun kemudian mengikuti body guardnya menuju restoran yang berada di komplek bangunan hotel.
Setelah sampai, Rainun masuk ke sebuah privat room di restoran bersama body guard juga staf restoran yang membawa kue ulang tahun.
Pintu terbuka. Seketika Sakha menoleh ke arah pintu. Sebelumnya yang ia tau, dia akan makan malam bersama salah satu koleganya.
"Sayang?" Sakha terbelalak kaget saat melihat Rainun yang masuk bersama staf.
"Selamat ulang tahun kak" Seru Rainun.
Sakha berdiri dan langsung memeluk kekasihnya itu.
"Terima kasih sayang" Sakha kemudian meniup lilin pada kue yang di pegang Rainun. "Kau benar - benar mengejutkanku. Kapan kau sampai?" tanya Sakha. Ia kemudian memeluk kekasihnya itu.
"sekitar tiga jam yang lalu" Rainun tersenyum.
"Kau sendirian?" tanya Sakha.
"Tidak. Aku datang bersama pak Eriko dan body guardmu. Pak Eriko dan pak Toni yang mengurus semuanya." kata Rainun.
"Terima kasih kalian berdua. Ayo sekarang kita makan" Sakha terlihat begitu bahagia di hari ulang tahunnya kali ini.
Setelah makan, Sakha dan Rainun mengobrol ringan bersama yang lain.
Tring...
Ponsel Rainun berdering. Panggilan vidio dari Sofia.
"Rai, kau sedang apa?" tanya Sofia.
"Ini aku sedang bersama kak Sakha dan yang lainnya" Rainun mengarahkan kamera ke wajah Sakha.
"Sakhaaaaaa selamat ulang tahun. Semua doa terbaik kakak panjatkan untukmu" kata Sofia. "Selamat ulang tahun bro" timpal Raihan.
"terima kasih banyak kak, bang sudah mengizinkan Rainun datang menemuiku" kata Sakha.
__ADS_1
"Hm. Kau cepatlah halalin Rainun agar abang tidak terus kepikiran saat Rainun berada jauh bersamamu" kata Raihan. Sakha terkekeh mendengarnya.
"Aku sih mau bang. Tapi adikmu ini sepertinya belum siap" ledek Sakha. Rainun memelototkan mata ke arah Sakha.
"apa kalian mengadakan pesta?" tanya Sofia.
"tidak kak, hanya makan malam biasa" jawab Rainun.
"Kapan kau pulang Rai?" tanya Sofia. Sakha merebut ponsel di tangan Rainun.
"Kak, dia bahkan belum dua belas jam ada di sini. Kenapa sudah bertanya kapan pulang? tolong mengertilah kak" ujar Sakha.
"hahaha baiklah baiklah maafkan aku" Sofia terkekeh.
"oke, nikmatilah waktu kalian. Aku titip Rainun ya bro, jangan kau apa - apakan anak perawan itu" ujar Raihan.
"Baiklah, percayakan padaku bang. Aku sangat andal menjaga Rainun" jawab Sakha.
"Jaga dirimu Rai" kata Sofia.
"Baiklah, kakak dan abang juga hati - hati yaa. Salam rindu untuk baby kesayangan aunty" kata Rainun. Ia lalu memutuskan panggilan vidionya.
"Kapan perkiraan kak Sofia akan melahirkan?" tanya Sakha.
"perkiraan dokter sekitar dua minggu lagi. Bisa lebih cepat atau lebih lambat" jelas Rainun.
"apa mereka sudah tau jenis kelaminnya?" Sakha penasaran.
"kak Sofia dan abang sepakat untuk merahasiakan jenis kelamin anaknya. Biar mereka tau nanti saat kak Sofia melahirkan" jawab Rainun.
"Baiklah, kalau begitu esok kita belanja pakaian dan perlengkapan untuk baby" kata Sakha.
"eh, kenapa tiba - tiba? Kak Sofia dan bang Ehan sudah membeli banyak barang untuk si baby" ujar Rainun.
"Aku juga ingin memberikan sesuatu untuk baby. Bukankah aku pamannya? Dia akan memanggilku uncle nanti" Sakha bersikeras.
"Baiklah - baiklah, sepertinya aunty ini tak bisa menahan keantusiasan si uncle" gurau Rainun. Mereka berdua tertawa.
Tepat pukul sembilan malam, mereka semua kembali ke kamar hotel masing - masing.
"Apa ada yang kau butuhkan?" kata Sakha yang mengantar Rainun ke kamarnya.
"Sepertinya tidak. Semua sudah di siapkan dengan baik" Rainun tersenyum.
"Masuk dan beristirahatlah. Esok aku akan mengajakmu jalan - jalan setelah meeting" ujar Sakha.
"Mmm kak, boleh aku ikut meeting besok? Sepertinya aku akan bosan jika hanya berdiam saja di hotel" pinta Rainun.
"Kau tidak lelah?" tanya Sakha. Rainun menggeleng.
"Baiklah kalau begitu kau bisa menemaniku besok" kata Sakha.
"Terima kasih kak" Rainun tersenyum. Sakha membelai kepala Rainun lembut lalu menyuruhnya untuk segera beristirahat. Sementara itu Sakha kembali ke kamarnya.
...****************...
Tuuut....
Tuuttt.....
"Iya bos?" seseorang di ujung telfon menjawab.
"Apa sudah kau pesankan permintaanku tadi?" tanya si bos.
"Tentu saja bos"
"Persiapkan semuanya dengan baik" pinta si bos.
__ADS_1
"Baik bos, dengan senang hati."