Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
48. Berbelanja


__ADS_3

Tepat pukul delapan pagi Sakha menjemput Rainun di kamarnya.


"Kau sudah siap? Kau terlihat cantik" puji Sakha.


"Terima kasih" Rainun tersenyum.


"Apa kau memang membawa baju formal kemari?" tanya Sakha yang melihat pakaian formal Rainun di balik mantel bulu yang ia kenakan.


"Tidak. Aku bahkan hanya membawa piyama. Semuanya sudah di sediakan di sini" jelas Rainun.


"Mm ternyata Toni begitu teliti" Sakha tersenyum.


"Ayo kita sarapan dulu" ajak Sakha. Mereka kemudian menuju ke restoran untuk sarapan bersama. Di sana sudah menunggu Toni dan sekretaris dan body guard.


"Loh di mana pak Eriko?" tanya Rainun.


"Dia sudah pulang ke Indonesia pukul enam tadi" jawab Sakha.


"Hah?" Rainun tercengang.


"Tak apa, itu sudah biasa untuknya. Lagi pula ia tak bisa meninggalkan Camp terlalu lama" jawab Sakha. "ayo habiskan sarapanmu. Kita akan meeting pukul sepuluh di kantor kolegaku" jelas Sakha.


Rainun segera menghabiskan makanannya sembari berbincang santai dengan Sakha, mengenai pekerjaan tentunya. Rainun banyak belajar dari Sakha untuk mengembangkan perusahaannya.


"Ngomong - ngomong kalian nanti akan berkomunikasi dengan bahasa apa?" tanya Rainun.


"Bahasa Jerman" jawab Sakha.


"Kenapa bahasa Jerman kan kita sedang di Perancis?" tanya Rainun penasaran.


"Aku belum begitu mahir berbahasa Perancis. Lagi pula kolegaku sebenarnya adalah orang asli Jerman" jawab Sakha.


"Ooh begitu" Rainun sedikit sedih.


"Kenapa? tak perlu khawatir sayang, sekretarisku akan menerjemahkannya untukmu nanti" kata Sakha yang mengerti raut wajah sedih kekasihnya.


"Benarkah? Waah terima kasih kak" Rainun seketika berubah menjadi bahagia.


"Kau tanyakan padanya berapa biaya pekerjaan barunya untuk menerjemahkan ke bahasa" Sakha meledek.


"Jadi aku harus membayar?" tanya Rainun. Sakha mengangguk.


"Baiklah, aku tak khawatir karena ada sugar daddyku di sini" kata Rainun sambil menunjuk Sakha. Sakha tersenyum mendengar jawaban Rainun


Mereka menghabiskan sarapan lalu berangkat menuju kantor milik kolega Sakha. Mereka meeting selama dua jam kemudian di tutup dengan makan siang bersama.


"Kita mau ke mana?" tanya Rainun yang berada di dalam mobil bersama Sakha.


"Aku akan bertemu dengan sahabatku di mall, kemudian kita akan berbelanja hadiah untuk baby" jelas Sakha.


Tak lama mereka sampai di sebuah mall besar. Sakha menemui sahabatnya semasa kuliah dulu yang tinggal di Paris.


"Ah Daniel, apa kau sudah lama menunggu?" tanya Sakha.


"Kenalkan ini kekasihku, Rainun. Sayang, ini sahabatku semasa kuliah dulu, Daniel" Sakha memperkenalkan. Rainun dan Daniel kemudian berkenalan.


"Apa kau sendiri?" tanya Sakha.

__ADS_1


"Ya, aku baru selesai meeting dengan klienku lalu ke sini untuk bertemu denganmu" jawab Daniel.


Mereka berbincang santai hingga satu jam lamanya. Setelah itu Daniel berpamitan karena harus menjemput kekasihnya yang akan sampai di Bandara.


"Kau mau makan?" tawar Sakha.


"Aku belum lapar kak. Kak Sakha sudah lapar lagi?" tanya Rainun.


"Belum, kalau begitu ayo kita ke toko perlengkapan bayi" Sakha menggandeng tangan Rainun. Mereka pergi berdua di kawal oleh seorang body guard, sementara Toni dan yang lain memutuskan untuk kembali ke hotel.


Sakha dan Rainun memasuki toko pakaian bayi brand ternama dan memilih pakaian juga aksesoris untuk calon keponakannya.


"Apa ini tak berlebihan kak? Dia masih bayi bahkan belum tau jika memakai pakaian mahal" ujar Rainun.


"Tak apa, aku ingin keponakanku bergaya seperti unclenya" jawab Sakha santai.


"Ahh tapi ini berlebihan kak" kata Rainun yang melihat Sakha memasukkan barang - barang yang terlihat lucu.


"Tak apa sayang. Lihatlah betapa menggemaskan pakaian - pakaian ini" Sakha begitu antusias. Rainun hanya tersenyum melihat kekasihnya itu.


"Apa kau memang suka belanja seperti ini?" tanya Rainun


"Aku jarang berbelanja pakaian seperti ini. Biasanya butik langgananku yang datang dengan pakaian - pakaian ke apartemen atau ke rumah" jawab Sakha.


"Pantas saja kau sangat menikmati berbelanja seperti ini" Rainun terkekeh.


"Iya kau benar" Sakha tersenyum.


"Cukup kak. Ini sudah hampir penuh" Rainun menunjuk troly yang di bawa Sakha. Ia lalu menggeret Sakha ke kasir sebelum nanti Sakha khilaf lagi.


"Tentu saja. Nanti kita cari souvenir untuk mereka" jawab Sakha. "Ah iya, kita harus membelikan Kak Sofia dan bang Raihan oleh - oleh juga. Aku tak mau di tendang kak Sofia karena hanya membelikan hadiah untuk baby" kata Sakha. Rainun terkekeh mendengarnya.


Mereka masuk ke sebuah toko tas. Memilih tas untuk Sofia.


"Yang itu bagai mana?" tanya Sakha saat pelayan toko menunjukkan tas keluaran terbaru.


"Mm itu terlihat bagus" jawab Rainun.


"Baiklah kita ambil itu saja untuk kak Sofia" Sakha memutuskan.


"Kau mau beli tas?" tawar Sakha. Rainun menggeleng. Mereka kemudian beralih menuju ke toko sepatu. Rainun memilih sepatu yang sesuai dengan selera Raihan.


"Apakah ini bagus?" Rainun meminta pendapat Sakha.


"Sepertinya kurang. Coba cari yang lain" jawab Sakha. Rainun kemudian kembali mencari hingga netranya tertuju pada sepatu sport berwarna coklat.


"Ini bagaimana?" Rainun kembali meminta pendapat.


"Itu bagus. Ambil saja yang itu" jawab Sakha. Rainun melihat harga dan terbelalak ketika mengetahuinya.


"Hah seribu lima ratus euro? Tidak tidak ini terlalu mahal. Aku bisa membeli motor baru di Indonesia." batin Rainun. Ia kemudian meletakkan kembali sepatu yang ia ambil.


"Kenapa?" tanya Sakha.


"Tidak. Sepertinya kurang cocok untuk bang Ehan" jawab Rainun. Sakha menaikkan alisnya.


"Baiklah kalau begitu cari lagi yang lain" ujar Sakha. Rainun akhirnya memutuskan mengambil sepatu berwarna putih yang cukup trendy saat di coba.

__ADS_1


"Ini saja kak" kata Rainun.


"hm. Baiklah ayo kita bayar" jawab Sakha. Mereka kemudian pergi ke kasir untuk membayar sepatu.


"Kak, pengeluaranmu sudah banyak sekali untuk hadiah ini. Sudah lebih dari empat ribu euro" kata Rainun memperingatkan.


"Tak apa. Aku senang" jawab Sakha cuek.


"Ahh kita terlalu boros! Kita bisa beli motor dengan uang itu" Rainun mengomel.


"Sudah lah sayang, ini hanya sesekali. Kau tau kan uang itu bisa di cari. Kebahagiaan itu lebih penting" Sakha membelai kepala Rainun. "Ayo kita cari oleh - oleh untuk sepupu - sepupumu" ajak Sakha.


Rainun dan Sakha berjalan bergandengan memasuki satu per satu toko yang ada. Mereka akhirnya berhenti pada toko yang khusus menjual oleh - oleh. Rainun memilih Souvenir juga jajanan.


"Sudah cukup?" tanya Sakha


"iya ini sudah banyak" jawab Rainun. Sakha mengangguk dan berjalan bersama Rainun menuju kasir.


"Aku saja yang bayar kak" Rainun mencegah saat Sakha mengeluarkan kartu kreditnya.


"Tak usah, aku saja." Sakha memaksa.


"Jangan, biar aku saja kali ini. Ayolah kak biar aku saja" Rainun memohon, ia merasa tak enak.


"Baiklah baiklah, kali ini aku izinkan. Hanya kali ini, selanjutnya aku tak mengizinkan kau membayar apapun saat pergi bersamaku" tegas Sakha. Rainun tersenyum mendengarnya.


Mereka menyelesaikan perjalanan belanja yang cukup melelahkan ini. Kini mereka berada di dalam mobil.


"Apa kau senang?" tanya Sakha.


"Iya, tapi tampaknya kau yang lebih senang" jawab Rainun.


"Iya aku begitu senang bisa berbelanja denganmu. Perjalananku kali ini terasa lebih berwarna" kata Sakha.


"Memangnya saat kau ke luar negri kau tak pernah berbelanja kak?" tanya Rainun.


"Tidak. Lagi pula aku juga tidak sempat. Biasanya aku hanya mengurus pekerjaan lalu segera kembali ke Indonesia" jawab Sakha. "Sesekali hanya berkunjung ke tempat wisata yang terkenal" lanjutnya.


"Sendirian?" tanya Rainun lagi.


"Terkadang sendiri, terkadang dengan Toni. Tergantung moodku" kata Sakha.


"Apa kau tidak stres dengan begitu banyak pekerjaan? Aku saja sering kali stres" ujar Rainun.


"Nikmati saja. Pekerjaan bukanlah beban, karena aku mencintai pekerjaanku. Lagi pula aku tak sendiri. Ada Toni, sekretarisku, juga beberapa asistenku yang membantu" jelas Sakha. "Kau tau? Saat kau benar - benar mencintai pekerjaan yang kau tekuni, akan muncul banyak inovasi - inovasi baru dan hal itu akan membuatmu berkembang. Jangan takut gagal, kalau gagal ya tinggal di coba lagi"


Rainun tersenyum mendengar kata - kata Sakha. Itu seperti sebuah cambukan semangat untuknya.


"Terima kasih kak" Rainun menyenderkan kepalanya di pundak Sakha.


"Kita seharian hanya berbelanja, apa kau tidak ada pekerjaan?" tanya Rainun.


"Esok aku akan seharian bekerja" jawab Sakha tersenyum.


"Baiklah, aku akan menemanimu juga besok" kata Rainun.


Supir yang merangkap body guard itu lalu melajukan mobil yang ia bawa ke sebuah tempat. Tempat yang menjadi Icon kota Paris.

__ADS_1


__ADS_2