
"Assalamualaikum" seorang pria dan wanita paruh baya menyapa Sakha yang duduk di bawah pohon.
"Waalaikum salam" jawab Sakha. Ia memandang kedua orang itu.
"Apa yang kau lakukan di sini nak?" tanya si wanita.
"Sepertinya aku tersesat bu. Aku lelah, jadi aku duduk di sini" jawab Sakha yang masih terengah - engah.
"Kau haus?" tanya si bapak kini. Sakha menganggukkan kepalanya.
"minumlah ini" Bapak itu kemudian memberikan Sakha sebuah cawan perak yang memiliki tutup.
"Terima kasih banyak. Airnya seperti air zam - zam" ujar Sakha setelah meminumnya. Kedua orang itu hanya tersenyum, mereka kemudian ikut duduk bersama Sakha di bawah pohon.
"Makanlah ini nak" si ibu membuka bungkusan dari kain yang ia tenteng. Kain itu berisi berbagai macam buah - buahan yang sangat menggiurkan.
"Terima kasih banyak bu" Sakha mengambil sebuah apel.
"Bapak dan ibu dari mana?" tanya Sakha
"Ooh kami hanya sedang lewat dan melihatmu duduk di sini seperti orang yang bingung" jawab si bapak.
"Apa bapak tinggal di sini?" tanya Sakha. Bapak dan ibu itu tersenyum.
"Iya, kami tinggal di sini. Belum waktumu untuk berada di sini nak" si bapak menepuk - nepuk bahu Sakha.
"Maksudnya?" Sakha bingung.
"Tempatmu bukan di sini. Kembali lah" kata si Ibu. Sakha hanya terdiam karena tak mengerti maksud dari perkataan si bapak dan ibu.
"Kami memiliki sorang putra dan seorang putri. Putraku sudah menikah dan kami memiliki seorang cucu perempuan yang sangat cantik. Putri kami, dia gadis yang baik, sabar dan penurut. Bisakah aku memintamu untuk menjaganya?" si bapak tiba - tiba bercerita.
"Maaf pak, tetapi aku sudah memiliki calon istri" jawab Sakha.
"Jaga saja dia, dia akan menjadi istri yang baik" ujar si bapak.
"Tapi siapa putri bapak? dan apa aku mengenalnya?" tanya Sakha yang masih bingung.
"Kau akan mengenalnya dengan baik" jawab si bapak. "Kembalilah, kau susuri jalan ini. Jangan terlalu lama di sini" si bapak menjukkan Sakha sebuah jalan yang melalui hutan lebat.
"Terima kasih pak, bu. Kalau begitu aku pulang dulu" Sakha menyalami kedua orang yang membantunya.
"Aku titip putriku, tolong jaga dia baik - baik" si bapak dan ibu tersenyum. Sakha hanya mengangguk menanggapinya walau sebenarnya ia tak mengerti.
Ia kemudian berjalan di jalan yang di tunjukkan si bapak. Ia masuk ke hutan lebat. Terus berjalan tanpa lelah. Semakin masuk ke dalam hutan ia mendengar suara orang - orang terdekatnya memanggil - manggil namanya.
"Bukankah itu suara papi, mami, Rainun dan kak Toni?" Sakha menajamkan pendengarannya. Dan suara itu memanggilnya semakin kencang.
"Papi, Mami, kak Toni, Rainun, kalian di mana?" Sakha berlari mencari sumber suara yang ia dengar hingga akhirnya sebuah cahaya besar yang menyilaukan mata menabraknya
...****************...
__ADS_1
"Jo, tolong aku" pinta Sakha pada Jo, body guardnya.
"Ada apa bos" tanya Jo.
"Bantu aku duduk. Aku lelah berbaring, punggungku terasa panas" ujar Sakha.
"Memangnya boleh?" tanya Jo dan Rainun hampir bersamaan.
"Tapi punggungku sangat panas" keluh Sakha.
"Miring saja ya, aku akan mengipasi punggungmu" pinta Rainun. Sakha hanya mengangguk pasrah. Jo kemudian membantu untuk memiringkan tubuh Sakha, sementara Rainun mengganjal punggung Sakha dengan guling. Ia kemudian mengipasi punggung Sakha yang sedikit kemerahan itu.
"Ini sedikit lebih nyaman" ujar Sakha. "
Punggungmu merah kak. Aku akan memberikanmu bedak tabur" kata Rainun.
"Memang kau punya bedak tabur?" tanya Sakha.
"Ada di dalam tas ku. Tunggu sebentar" Rainun kemudian mengambil bedak dan mengusapkannya di punggung Sakha.
"Ahh nyaman sekali. Rasa panas dan gatalnya jauh berkurang. Terima kasih sayang." ujar Sakha.
"Iya sayang" Rainun kembali mengipasi punggung Sakha.
"kak, kenapa tidurmu lama sekali? Apa yang kau rasakan? Kau ingat?" tanya Rainun.
"Aku bermimpi bertemu dengan ayah dan bundamu" jawab Sakha.
"Hm. Mereka juga yang memintaku kembali, mereka menitipkanmu padaku" Sakha mengingat - ingat kejadian di alam bawah sadarnya.
"saat di sana aku tak ingat siapa mereka, tetapi setelah aku sadar, aku ingat bahwa mereka adalah ayah dan bundamu dari foto yang ada di rumahmu" ujar Sakha. Rainun terkesiap, ia tak menyangka jika Sakha akan bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Ayahmu bilang memiliki seorang putra dan seorang putri. Putranya sudah menikah dan memiliki seorang putri yang cantik. Putrinya adalah gadis baik, sabar dan penurut. Lalu ayahmu memintaku untuk menjaganya" Sakha menghela nafas panjang.
"Aku sudah bilang jika sudah memiliki calon istri. Pantas saja ayahmu tetap memaksa, ternyata yang ia titipkan padaku adalah calon istriku sendiri" Sakha tersenyum.
"Aku jadi rindu ayah dan bunda" Rainun tersenyum.
Sakha memejamkan mata sejenak, ia merasakan nyeri yang tiba - tiba datang di tubuhnya.
"Sayang, tubuhku terasa begitu nyeri. Sepertinya kejang otot" ujar Sakha yang masih terpejam.
"Apa? Di mana yang sakit?" Tanya Rainun khawatir. Ia langsung saja memencet bel untuk memanggil perawat yang berjaga.
"Aaaahhhhhh" Sakha mengerang merasakan nyeri begitu hebat di beberapa bagian tubuhnya. Ia menggenggam tangan Rainun dengan kuat.
"Kak, kak Sakha. Kenapa begini. Jo....." Rainun berteriak memanggil salah satu body guard yang bernama Jo.
"Ada apa nona?" tanya si body guard ketika Rainun meneriakinya.
"Tolong telfon kak Toni, kak Sakha kesakitan" pinta Rainun. Air matanya mulai bercucuran.
__ADS_1
Tak lama rombongan dokter datang untuk memeriksa Sakha.
"Ada apa dengan Sakha?" tanya Toni yang baru saja tiba. Nafasnya terengah - engah karena berlari menuju ruangan Sakha yang ada di lantai lima.
"Dia bilang merasakan nyeri di badannya kak. Sekarang dia sedang di periksa" jawab Rainun. Mereka menunggu dokter selesai memeriksa Sakha. Pemeriksaan berlangsung sekitar sepuluh menit, perawat kemudian membuka tirai, menandakan pemeriksaan telah selesai.
"Ada apa dengan adik saya dok?" tanya Toni.
"Pasien mengalami kejang otot. Ini pengaruh dari oprasi di kepalanya" jawab dokter. "tenang saja, pasien tak kenapa - kenapa. Sekarang kami sudah memberikan pereda nyeri dan obat penenang untuknya." jelas Dokter.
"Syukurlah kalau begitu" kata Toni.
"baiklah kalau begitu kami permisi dulu" dokter dan rombongannya berpamitan. Rainun dan Toni langsung melihat Sakha begitu dokter dan para perawat keluar dari ruangan Sakha.
"kak Sakha tidur?" lirih Rainun.
"Iya, mungkin karena obat penenangnya" kata Toni.
"Apa benar dia baik - baik saja?" tanya Rainun.
"Kau tenang saja, dia pasti baik - baik saja" jawab Toni. "Makanlah duluan aku sudah membeli beberapa makanan. Kita bergantian menjaga Sakha" ujar Toni.
"Baiklah terima kasih kak." Rainun kemudian pergi ke meja makan untuk makan terlebih dulu. Tak lupa dia memberikan makanan pada dua body guard yang berjaga di ruang tamu.
"Kau tak membelikan makanan untukku kak?" tanya Sakha yang matanya masih terpejam.
"Kau tidak tidur?" tanya Toni yang duduk di sebelahnya.
"Aku ingin tidur tetapi tak bisa karena masih menunggumu membawakan makanan. Aku Ingin membuka mata tetapi aku sangat mengantuk" keluh Sakha.
"Hm. Tidurlah, kau masih belum boleh makan" kata Toni.
"Baiklah" jawab Sakha singkat.
Toni memainkan ponselnya beberapa saat. Ia mengecek beberapa email pekerjaan yang masuk. Kini ia menghandle semua pekerjaan Sakha. Sebelumnya papinya sudah menawarkan bantuan untuk menghandle pekerjaan Sakha, namun Toni menolaknya. Ia bilang masih mampu untuk mengerjakan semuanya.
"Kak, aku sudah selesai makan. Apa kak Sakha tadi bangun?" tanya Rainun.
"Iya, dia bangun sebentar. Sepertinya sekarang tidur lagi" jawab Toni. Rainun mengangguk anggukan kepalanya.
"Baiklah aku akan makan" Toni kemudian beralih menuju ke meja makan.
Rainun kembali menatap kekasihnya yang sedang tertidur. Wajahnya memancarkan ketenangan, ia masih tak menyangka kalau pria tampan di sebelahnya adalah calon suaminya.
"Waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin aku tak sengaja bertemu dengan pria dingin yang menyebalkan ini. Ternyata dia juga yang berhasil menaklukkan hatiku" batin Rainun. Ia bernostalgia dalam fikirannya mulai dari saat ia tak sengaja menabrak Sakha di depan supermarket hingga waktu - waktu yang ia lalui bersama Sakha.
"Cepatlah pulih kak. Aku sudah rindu ingin kau ajak jalan - jalan, aku juga rindu menemanimu bertemu dengan kolegamu juga menemanimu meeting" lirih Rainun. Ia menggenggam tangan Sakha.
Rainun menyenderkan kepalanya di ranjang tempat Sakha tidur, rasa ngantuk mulai ia rasakan. Perlahan ia tertidur di sana sembari menggenggam tangan Sakha.
"Rai....."
__ADS_1