Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
41. Kebersamaan


__ADS_3

Selesai makan malam, mereka kembali berkumpul di tanah lapang yang ada di sana. Di tengah - tengah sudah di siapkan api unggun yang besar.


Disini mereka mengobrol bersama, saling memberi dukungan juga saran. Keceriaan terpancar jelas di raut wajah mereka. Di tempat ini tak ada jarak antara atasan dan bawahan di antara mereka, semuanya berbaur menjadi satu.


Tak lama datanglah orang - orang yang membawa kardus - kardus makanan ringan. Mas Surya yang menjadi ketua panitia itu sempat kebingungan dengan kedatangan orang - orang itu.


"Letakkan di sana" perintah Sakha. Orang - orang yang datang adalah anak buah yang di minta Sakha membeli makanan ringan.


"Waah terima kasih kak Sakha" seru Fitri. Semua orang lalu mengikuti mengucapkan terima kasih pada Sakha bersamaan. Sakha hanya mengangguk dan tersenyum.


Mereka lalu membagikan makanan ringan itu merata pada semua yang ada di sana.


"Kenapa kau repot - repot menyediakan makanan ringan sebanyak ini?" tanya Rainun yang tak mengetahui kejutan dari Sakha ini.


"Yah ini bentuk apresiasiku pada mereka semua" jawab Sakha. Sakha kemudian mengeluarkan coklat dari kantongnya dan memberikannya pada Rainun.


"Om, Lita juga mau coklat seperti ante" kata Lita yang menengadahkan kepala. Seperti sebelumnya, kini Lita berada di pangkuan Sakha. Ia begitu lengket dengan Sakha.


"Lita mau? Apakah boleh?" tanya Sakha.


"Ibu, boleh Lita makan coklat dari om kaka?" tanya Lita yang berjalan mendekati ibunya. Ibunya mengangguk memberikan persetujuan.


Sakha kemudian mengeluarkan sebuah coklat lagi dari kantungnya. Ia kemudian membuka coklat itu dan memberikan pada gadis kecil di pangkuannya.


"Lita mau di suap" katanya manja. Sakha terkekeh mendengarnya.


"Kau ini sangat menggemaskan" kata Sakha yang mencubit gemas pipi chubby Lita. Ia kemudian menyuapkan coklat kepada Lita.


"Wah sepertinya aku sudah memiliki saingan di sini" kata Rainun yang melihat kedekatan Lita dan Sakha.


"Apa kau cemburu? Sini ku suapi juga" kata Sakha tersenyum. Rainun kemudian membuka mulutnya menerima suapan dari Sakha. Sakha kemudian bergantian menyuapi Rainun dan Lita.


"Wah, sepertinya kau kerepotan mengurus dua bayi ini" gurau mbak Ani yang datang menghampiri. Sakha tersenyum mendengar gurauan itu.


"Lita, ini sudah malam. Ayo kita tidur, kau sudah mulai mengantuk" ajak mbak Ani. Ia kemudian menggendong anak perempuannya itu.


"Selamat malam om kaka, ante Inun" Lita melambaikan tangan pada ke duanya. Sakha dan Rainun membalas lambaian tangan Lita.


Mereka masih melanjutkan malam di dekat api unggun. Para pegawai sudah ada yang kembali ke tenda tetapi ada juga yang masih duduk - duduk mengobrol.


Sakha, Rainun, mas Surya, mas Adi, Bagas, Fitri dan Indah duduk sambil mengobrol santai bersama para pegawai yang tersisa. Kemudian Bara datang dengan membawa gitarnya.


"Kau membawa gitar?" tanya mas Surya.


"Iya, ku titipkan di mobil mas Adi tadi" jawab Bara.


"Baiklah kita lengkapi malam ini dengan nyanyian" ujar Bagas. Bagas kemudian mulai bernyanyi diiringi petikan gitar Bara.


Nyanyian itu merembet pada para pegawai yang mengikuti. Pada akhirnya mereka semua bernyanyi bersama. Mereka menyanyikan lagu nostalgia hingga lima buah lagu di pimpin oleh Bagas.


"Waah aku lelah, suaraku hampir habis" Seru Bagas.


"Silahkan kalian yang ingin bernyanyi dan bermain gitar" tawar Bara, ia lalu meletakkan gitar yang ia bawa.


"Kak, bernyanyilah" pinta Rainun. Ia kemudian mengambilkan gitar Bara yang di letakkan tak jauh dari tempatnya duduk.


"Kau ingin aku bernyanyi?" tanya Sakha meyakinkan. Rainun menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


"Kau bisa bermain gitar?" tanya mas Adi.


"Tentu saja" jawab Sakha. Ia kemudian mulai memetik gitar di tangannya. Sakha menunjukkan suaranya yang dalam dan lembut itu. Semua orang terkesima tak terkecuali Rainun yang sudah sering mendengar Sakha bernyanyi.


Hingga akhir lagu, tak ada orang yang bersuara. Semua terbuai dengan suara indah Sakha.


"Lagi, lagi, lagi" seru orang - orang yang di pimpin oleh Bagas. Mau tak mau Sakha kembali memainkan gitar dan bernyanyi sekali lagi.


Tepuk tangan meriah bergemuruh ketika Sakha meneyelesaikan lagu keduanya. Semua orang tampak kagum dengan kepiawaian Sakha bernyanyi dan bermain gitar.


"Waah kenapa kau tak jadi penyanyi saja kak? Kau pasti akan terkenal" kata Bara.


"Kau ini aneh. Lalu siapa yang akan mengurus HC jika kak Sakha menjadi musisi" timpal Fitri.


"Lihatlah bakatnya, itu sangat mengesankan" puji Bara.


"Ini hanya sekedar hobi" jawab Sakha.


"Waah aku sampai iri padamu kak. Kau memang paket lengkap" kata Bagas kemudian.


Tepat pukul dua belas malam mereka semua menghentikan aktifitas dan masuk ke tenda masing - masing.


Sakha menempati tenda berkapasitas dua orang di sebelah Rainun.


"Supir dan anak buahmu tidur di mana kak?" tanya Rainun. Mereka sedang berjalan bersama Indah menuju ke tenda.


"Mereka mengambil tenda kapasitas delapan orang di sana" Sakha menunjuk sebuah tenda yang berada sedikit di ujung.


"Kau tak takut tidur sendiri?" tanya Rainun.


"Memang kau mau tidur bersamaku?" gurau Sakha.


Sakha kemudian mengantarkan Indah dan Rainun ke tendanya terlebih dahulu. Ia menunggui kedua gadis itu masuk dan memastikan jika tendanya tertutup dengan baik.


Malam itu semua orang tidur dengan nyenyak. Pagi - pagi sekali mereka semua bangun dan berkumpul di tanah lapang.


Pagi ini mereka mulai dengan senam kemudian di lanjutkan dengan sarapan bersama.


"Kak Rai, di mana kak Sakha?" tanya Bara.


"Sepertinya masih di tendanya" jawab Rainun.


"Kau tak membangunkannya untuk sarapan?" tanya mbak Salma.


"Biarkan saja mbak, mungkin dia lelah karena perjalanan kemarin. Dia belum sempat beristirahat" jawab Rainun.


"Kak Sakha memang panutan kaum pria, rela jauh - jauh datang untuk menemani kak Rainun. Bayangkan dari Jerman langsung ke sini tanpa beristirahat" kata Fitri.


"Dia bucin sekali pada kak Rainun" timpal Bara. Mereka semua tertawa.


"Sudah - sudah dia nanti bisa terbangun karena telinganya berdengung" kata Rainun terkekeh.


Setelah sarapan, mereka membebaskan para pegawai untuk berkeliling atau sekedar bersantai.


"Aku ingin menambah satu malam lagi di sini" celetuk mas Surya. Para sepupu kini berkumpul di sebuah saung yang berada di tepi sungai.


"Aku juga. Besok kan tanggal merah" seru Bara bersemangat. Mereka lalu kompak melihat ke arah Rainun.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Rainun yang pura - pura tidak mengerti melihat tatapan mas Surya dan Bara.


"Kita tambah satu hari lagi ya? Pleaseeee" Bara mengeluarkan ekspresi memohon.


Rainun terkekeh "Baiklah. Siapa saja yang ingin menginap lagi?" tanya Rainun.


Mas Surya, Bara, Bagas, Fitri dan Indah langsung mengangkat tangan. Sedangkan yang sudah berkeluarga memutuskan untuk menyudahinya mengingat ada anak - anak yang harus beristirahat.


"Baiklah kalau begitu mas Surya bisa pesan dua tenda kapasitas empat orang" kata Rainun.


"Aaahhh terima kasih kak Rai, kau terbaik" seru Fitri yang memeluk Rainun.


"Rai" terdengar suara seseorang yang tak asing di telinganya.


"Kau sudah bangun kak?" tanya Rainun yang langsung menoleh ke arah pria yang tak lain adalah Sakha.


Sakha mengangguk. "Aku lapar" lanjutnya.


"Aku akan menemani kak Sakha sarapan dulu. Kalian bersenang - senanglah" kata Rainun. Ia kemudian beranjak bersama Sakha menuju restoran yang ada di sana.


"Kenapa tak membangunkanku?" Tanya Sakha yang sudah menghadap semangkuk soto.


"Aku sengaja membiarkanmu tidur, kau pasti lelah setelah perjalanan jauh kemarin" jawab Rainun. Sakha tersenyum mendengarnya.


"Kau sudah sarapan?" tanya Sakha. Rainun mengangguk.


"Kak, aku dan beberapa sepupu memutuskan untuk menginap semalam lagi" kata Rainun.


"Baiklah aku akan menemanimu" jawab Sakha enteng.


"Benarkah? Kau tidak sibuk?" tanya Rainun senang.


"Tak apa, aku bisa mengerjakannya di sini" jawab Sakha.


Ia menyelesaikan sarapannya lalu bersama Rainun pergi ke tempat di mana para sepupu berkumpul.


Triinggg....


Suara ponsel Sakha.


"Sebentar ya, aku mengangkat telefon dari Toni" kata Sakha. Ia kemudian sedikit menjauh. Tak lama ia sudah kembali lagi.


"Sayang, aku akan ke tenda. Aku harus zoom meeting dengan salah satu kolega" jelas Sakha. Rainun mengangguk.


"Bawa ini" Rainun memberikan sebotol minuman pada Sakha. Sakha menerimanya lalu berjalan kembali ke tendanya.


"Dia bahkan kerja di hari libur?" tanya mas Surya.


"Iya. Itu sudah biasa" jawab Rainun.


"Waah dia benar - benar pekerja keras. Tak salah jika cabang perusahaannya ada di mana - mana" kata mas Adi kagum.


"Kau tak keberatan jika Sakha bekerja saat sedang bersamamu?" tanya mbak Ani.


"Tentu saja tidak. Dia juga selalu meluangkan waktu untukku bahkan tanpa aku minta" Rainun tersenyum.


"Bagai mana cara dia mengatur waktu ya? Kalau aku jadi dia mungkin akan jomblo selamanya" kata Bara.

__ADS_1


"Iya benar, kau tak jadi kak Sakha aja jomblo apa lagi jadi seperti kak Sakha" celetuk Fitri yang memecah gelak tawa.


__ADS_2