
Malam ini suasana kediaman Rainun cukup ramai. Tiga puluh menit lalu mereka baru saja menggelar doa bersama untuk kelancaran pernikahan Rainun esok.
Beberapa keluarga yang rumahnya cukup jauh, memutuskan untuk menginap di rumah Rainun. Dekorasi kecil di ruang tamu juga sudah di selesaikan pihak WO.
"Apa masih ada yang kurang Rai?" tanya Raihan.
"Tidak bang, begini saja sudah cukup untuk acara besok. Lagi pula ini hanya tempat untuk kita berfoto" jawab Rainun yang melihat dekorasi di ruang tamunya.
"Kau ingin mengadakan resepsi di mana nanti?" tanya Raihan.
"Aku belum membicarakannya dengan kak Sakha" jawab Rainun.
"Kau tau, kau mendapat mahar yang luar biasa dari Sakha" Raihan memberi bocoran.
"Benarkah? Kau tau dari mana bang?" Rainun mulai penasaran.
"Saat mengurus surat nikah kalian, pihak KUA meminta untuk di cantumkan mahar apa saja yang akan di berikan mempelai pria" jawab Raihan.
"Memang apa maharnya? Kak Sakha juga belum memberi tauku" tanya Rainun.
"Sakha belum memberi taumu? Kalau begitu abang juga tak akan membocorkannya" Raihan terkekeh.
"Ooh jadi abang hanya ingin membuatku penasaran yaa" Rainun ikut terkekeh.
"Nanti setelah menikah, ingatlah bahwa seberat apapun ombak dan badai yang menerjang perahu kalian, jangan pernah sekalipun berfikir untuk lompat dari perahu. Kau mengerti maksudku?" tanya Raihan.
"Iya aku mengerti bang" Rainun memeluk tangan kekar abangnya. "Terima kasih sudah menjagaku selama ini bang" kata Rainun.
"Sama - sama, abang akan tetap terus menjagamu hingga ajal menjemput. Ingatlah walaupun kau sudah menikah, kau tetaplah adik kecil bagi abang. Jangan pernah berfikiran kalau kau sendirian, ceritakan semua masalahmu pada abang seperti biasanya" pinta Raihan.
"Iya bang, aku mengerti" jawab Rainun terharu.
"Kenapa kalian tak mengajakku?" Sofia langsung saja memeluk dua orang di depannya.
"Apa Lili sudah tidur?" tanya Raihan.
"Belum, dia sedang bersama Bude Sari dan yang lain" jawab Sofia. "Apa nanti malam kita akan tidur ber empat?" tanya Sofia.
"Aku mau" Rainun sumringah.
"Baiklah kita akan tidur ber empat malam ini. Hitung - hitung menemani tidur terakhir si gadis" Ledek Raihan yang membuat Rainun tersipu malu.
"Apa kau dan Sakha akan tinggal di sini bersama kami?" tanya Sofia.
"Aku belum tau kak. Mungkin akan tinggal di sini saat kalian masih di Singapura" jawab Rainun.
"Hm. Selebihnya biar Sakha yang memutuskan mereka akan tinggal di mana" timpal Raihan.
"Waktu begitu cepat berlalu ya. Aku masih tak menyangka kau akan menjadi istri bocah tengil itu" Sofia mengingat kebersamaannya dengan Sakha.
"Akupun tak menyangka akan mencintai CEO yang dingin itu. Jujur saja, awalnya dia itu menyebalkan bagiku" Rainun tersenyum mengingat awal kedekatannya dengan Sakha.
"Wanita mana yang tak jatuh cinta pada pria tampan dan kaya seperti dia. Terlebih jika mengetahui kalau Sakha itu the real bucin yang benar - benar meratukan wanitanya" Raihan terkekeh.
__ADS_1
"Akupun tak menyangka jika Sakha akan se bucin itu pada Rainun" Sofia ikut terkekeh. "Dia adalah orang yang jujur. Sepelik apapun kodisinya dia tak akan berbohong" lanjut Sofia.
"Kau benar kak. Dia adalah pria terjujur yang pernah ku temui apa lagi dalam hal percintaan" kata Rainun.
"Apa kalian berdua secara tak langsung menyindirku?" keluh Raihan yang beberapa kali ketauan berbohong pada Sofia.
"Tidak, aku tau kau tak sejujur Sakha. Tapi aku selalu percaya padamu kok sayang" Sofia tersenyum.
"Sepertinya Lili menangis. Aku akan menidurkannya" Sofia kemudian meninggalkan Raihan dan Rainun yang masih berdiri di tempat yang sama.
"Andai ayah dan bunda masih di sini" lirih Rainun.
"Jangan bersedih. Ayah dan bunda pasti bahagia melihat kita dari surga" Raihan mengusap - usap kepala adiknya.
"Kau tau bang? saat koma, kak Sakha bercerita kalau ia bertemu dengan ayah dan bunda" Rainun teringat cerita Sakha.
"Benarkah?" tanya Raihan. Rainun lalu menceritakan apa yang di ceritakan oleh Sakha di saat ia sedang koma.
"Syukurlah abang yakin seratus persen kalau keputusan abang tak salah. Ayah dan bunda juga pasti merestui kalian" Raihan tersenyum.
"Apa mereka orang kirimannya kak Sakha?" tanya Rainun melihat empat orang yang sedang berjaga di teras rumah.
"Iya, mereka bilang di tugaskan untuk berjaga di sini" jawab Raihan.
"Apa sudah ada makanan dan minuman untuk mereka?" tanya Rainun.
"Sudah, simbok sudah menyiapkan untuk mereka" kata Raihan. "Kau tidurlah bersama Lili dan Sofia, aku akan mengobrol sebentar dengan pakde Yusuf dan mas Khair" Rainun mengangguk. Ia kemudian masuk ke kamar Sofia. Disana ada Sofia dan Lili yang baru saja tertidur.
"Lili sudah tidur dari tadi kak?" tanya Rainun. Ia merebahkan diri di sebelah Lili.
"Cepat sekali kau tumbuh besar sayang" Rainun mengecup pipi Lili.
"Kak, apa menjadi istri itu sulit?" tanya Rainun.
"Saat menikah memang tak seperti ekspektasi kita waktu pacaran. Intinya kau harus sabar menghadapi pasanganmu, saling terbuka, dan yang paling penting adalah komunikasi yang baik" nasihat Sofia.
"Aku gugup kak" Rainun membuang nafas berat.
"Itulah yang di rasakan setiap calon pengantin" Sofia tersenyum.
...****************...
"Kau tak tidur?" tanya Toni yang melihat Sakha duduk di ruang tv.
"Aku tak mengantuk rasanya" jawab Sakha.
"Ada apa? Kau pasti gugup ya?" Toni menepuk bahu Sakha sembari terkekeh.
"Iya aku sangat gugup hingga tak bisa tidur" Sakha ikut terkekeh.
"Apa yang kau kerjakan?" Toni duduk di sebelah Sakha sembari meletakkan sebotol jus di meja.
"Aku sedang mengecek berkas yang dikirim sekretarisku tadi" jawab Sakha yang fokus pada laptopnya.
__ADS_1
"Kau ini, masih saja memikirkan pekerjaan" kata Toni.
"Kakak belum tidur juga pasti baru selesai mengecek pekerjaan" Sakha membela diri. Tak ayal hal itu membuat mereka berdua tertawa.
"Apa kau akan tinggal di apartemen setelah menikah?" tanya Toni.
"Mungkin akan tinggal di rumah Rainun dulu sementara hingga bang Raihan dan kak Sofia pulang dari Singapura" jawab Sakha.
"Setelahnya?" tanya Toni.
"Entah, aku belum memikirkannya" jawab Sakha.
"Kenapa tak kau tempati saja rumah yang belum lama kau beli?" ujar Toni.
"Ah iya, aku lupa kalau membeli rumah. Tapi rumah itu perlu renovasi disain interiornya" jawab Sakha.
"Kau tinggal bilang saja pada Raihan. Lagi pula menurutku rumah itu sudah bagus" kata Toni.
"Kalau begitu untukmu saja kalau kau suka. Aku akan mencari rumah lain bersama Rainun" Ujar Sakha.
"Kau ini, macam beli kacang rebus. Kenapa kau beli waktu itu jika tak suka disainnya? Rumah itu mewah, cukup besar bahkan ada kolam renangnya. Apa lagi yang masih kurang bos?" omel Toni.
"Karena di jual murah dan memliki nilai investasi yang tinggi. Lagi pula tanahnya luas dan berada di tengah kota. Aku juga menolong si pemilik dari lilitan hutang kan" jawab Sakha enteng. "Kak, menurutmu lebih baik aku renovasi atau kujual saja rumah itu?" tanya Sakha.
"Hancurkan saja" jawab Toni asal.
"Sepertinya ide bagus. Di hancurkan lalu di bangun ulang" ujar Sakha.
"Waah sepertinya otakmu konslet" Toni meraih kepala Sakha dan melihatnya.
"Kau juga, aku bertanya malah kau beri ide baru" Sakha terkekeh.
"Kau sudah mengecek seserahan yang di bawa mami?" tanya Toni.
"Sudah. Aku sudah mengecek semuanya" jawab Sakha.
"Apa masih ada yang kurang?" tanya Toni.
"Tidak, semuanya sudah cukup" jawab Sakha. "Mami dan papi tidur di apartemenmu?" tanya Sakha.
"Iya mereka tidur di apartemenku" jawab Toni.
"Kau tak memakai unit yang kosong di apartemenku?" tanya Sakha.
"Tidak, unit di apartemenku saja sudah cukup. Lagi pula anak pakpuh dan papa tidak bisa hadir karena sedang di luar kota" jawab Toni.
"Bagaimana kondisi rumah Rainun?" tanya Sakha.
"Semuanya aman, aku sudah mengirim empat orang body guard untuk berjaga di sana" jawab Toni.
"Terima kasih banyak kak, karena sudah membantuku menyiapkan semuanya" Sakha tersenyum.
"Iya. Ingatlah jangan pernah menyakiti istrimu semarah apapun kau padanya" pesan Toni.
__ADS_1
"Iya kak aku mengerti" jawab Sakha.