Dicintai CEO Dingin

Dicintai CEO Dingin
64. titik terang


__ADS_3

"Hey!!! Apa yang kau lakukan!!" seorang penjaga memergoki Rainun yang sedang memanjat meja untuk membuka tirai.


"Aku hanya ingin mendapat cahaya matahari, di sini terlalu pengap" Rainun berkilah.


"Bohong!" bentaknya. Pria itu kemudian menarik Rainun kembali ke tempat tidurnya. Kali ini ia mengikat tangan dan kaki Rainun untuk berjaga - jaga agar Rainun tak mencoba untuk kabur. Setelah itu ia keluar dan kembali mengunci kamar Rainun.


Rainun kembali mencoba menghubungi Sakha dengan jam tangannya setelah situasi ia rasa aman. Setelah berkali - kali mencoba akhirnya ia kembali bisa terhubung dengan Sakha.


"Sayang, apa kau baik - baik saja?" tanya Sakha. Ia begitu khawatir dengan kekasihnya itu.


"Aku baik - baik saja kak. Hanya sekarang orang itu mengikat tangan dan kakiku" keluh Rainun.


"Apa ada sesuatu yang bisa kau lihat dari sana?" tanya Sakha lagi. Rainun celingukan, ia berhasil melihat sesuatu dari tirai yang sedikit terbuka karena tarikannya tadi.


"Aku melihat sebuah rumah tingkat dengan genting berwarna hijau, di dindingnya ada ukiran berbentuk kuda" kata Rainun.


"Baiklah, kau tenang ya sayang aku akan secepatnya menemukanmu" ujar Sakha. Rainun sedikit lega karena berhasil memberikan sedikit gambaran dimana ia berada.


"Aku percaya kau pasti akan menemukanku kak" lirih Rainun. Air mata kembali meluncur dari sudut matanya.


...****************...


"Sudah sampai mana?" tanya Sakha pada Eriko. Ia langsung menghubungi Eriko ketika berhasil berkomunikasi dengan Rainun.


"Sepuluh menit lagi kami akan sampai di lokasimu bos" jawab Eriko. Eriko meminta body guardnya menambah kecepatan agar bisa lebih cepat tiba di tempat Sakha berada saat ini.


Sakha mencoba berkeliling dengan berjalan kaki sendiri untuk mencari rumah dengan ciri - ciri yang di sebut Rainun. Pencarian sedikit sulit pasalnya hampir enam puluh persen rumah di sana adalah bangunan tingkat dan memiliki cat genting berwarna hijau.


Ia kembali ke mobilnya setelah berkeliling beberapa saat. Kondisi perumahan itu nampak sepi. Hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang di sana.


"Bos!" Sapa Eriko ketika sampai di sana.


"Tim yang sudah di siapkan langsung berpencar, sisanya tetap di sini. Jangan sampai menimbulkan kecurigaan jika kita sedang mencari Rainun" perintah Sakha.


Sebelumnya Sakha sudah menjelaskan semuanya pada Eriko dan tentu saja Eriko juga sudah memberikan pengarahan pada semua body guard.


Eriko memilih sepuluh orang body guard untuk mencari keberadaan Rainun.


"Lebih baik kau di sini saja bos. Kau belum istirahat sedari malam, kau juga pasti belum makan. Makanlah ini" Eriko memberikan sebuah kotak berisi makanan.


"Aku akan ikut mencari" Sakha memaksa.

__ADS_1


"Tetaplah di sini dan beristirahat sebentar. Kami akan mengabarimu jika sudah menemukan lokasinya. Tolong dengarkan aku" Eriko kali ini menempatkan diri sebagai sahabat Sakha, bukan bawahannya.


"Baiklah, tapi cepat kabari aku jika sudah menemukan target" ujar Sakha. Ia mengerti kekhawatiran Eriko, bagaimanapun Eriko adalah sahabat juga orang kepercayaan yang sudah membersamainya lebih dari sepuluh tahun.


"Baiklah. Pastikan untuk memakan makananmu" pinta Eriko. Sakha mengangguk.


Eriko kemudian ikut menyebar bersama sepuluh body guard. Mereka benar - benar tak membuat orang - orang yang ada di sana curiga. Setelah berkeliling selama dua puluh menit, salah satu body guard akhirnya menemukan target yang di maksud.


"Masuk! Masuk! C7 berhasil menemukan target" ujar si body guard melalui saluran khusus yang terhubung pada semua body guard, juga terhubung dengan Sakha dan Eriko pastinya.


"Dimana perkiraan posisis rumah?" tanya Sakha.


"Target adalah blok H nomor tiga belas. Rumah berada di sebelah kiri target karena ukiran kuda hanya berada di sebelah kiri tepatnya blok H nomor dua belas." jelas si body guard.


"Bagaimana kondisi di sana" tanya Eriko


"Kondisi sangat sepi, hanya ada tiga penjaga terlihat yang berjaga di depan rumah" jawabnya.


"Baiklah, pasang alat yang ku bawakan pada tembok yang bisa menjangkau area rumah. Hati - hati, jangan sampai ketahuan." perintah Eriko


"Siap bos!" jawab si body guard.


"Siap bos!" jawab sibody guard.


Eriko dan yang lainnya kemudian kembali ke tempat Sakha untuk menyusun rencana penyelamatan Rainun.


"Kita akan memantau situasi" kata Eriko begitu tiba di tempat Sakha. Mereka semua berada di halaman belakang bekas sebuah cafe. Eriko dengan cepat membuka laptopnya dan melihat suasana di sana melalui alat yang sudah di pasang oleh body guardnya.


"Tampak sepi. Apa dia tak punya banyak penjaga?" ujar Eriko saat melihat lingkungan rumah.


"Mungkin ada banyak di dalam" kata Sakha.


"Siapa sebenarnya orang yang menculik Rainun? Apa kau sudah tau?" tanya Eriko lagi.


"Tidak. Aku belum menanyakan masalah itu pada Rainun" jawab Sakha.


"Aku rasa ini orang lain. Jika musuh kita, akan ku pastikan dia memiliki penjagaan ketat di luar rumah" kata Eriko. Sakha mengangguk menyetujuinya.


Eriko kemudian menerbangkan drone yang sangat kecil, untuk masuk dan melihat suasana di dalam. Hal yang utama adalah mencari keberadaan Rainun di sana.


"Di dalam juga tak banyak orang" kata Sakha saat melihat vidio hasil dari drone itu. Eriko mengarahkan drone masuk ke setiap ruangan, hingga akhirnya menemukan Rainun di sebuah kamar.

__ADS_1


"Ini nona bos" Seru Eriko saat menemukannya. Wajah Sakha merah padam saat melihat kekasih yang tangan dan kakinya terikat.


"Dekatkan, aku ingin melihat kondisinya lebih dekat" pinta Sakha. Sakha melihat kekasihnya yang tertidur itu nampak baik - baik saja hingga kamera menangkap pipi Rainun yang sedikit lebam dan ada bekas darah di sudut bibirnya.


"Sial!!!! Siapa yang berani melukai Rainun seperti itu" Sakha menggeram. Tubuhnya bergetar menahan emosi dan kepiluan melihat kondisi kekasihnya.


"Tenanglah bos. Tenangkan dirimu" Eriko mencoba menenangkan pria di sebelahnya.


"Apa kau mengenal pria ini? Sepertinya dia bosnya" tanya Eriko. Sakha melihat seorang pria masuk bersama anak buahnya yang membawa nampan berisi makanan.


"Tidak, aku tak pernah melihat pria itu" jawabnya. Matanya masih fokus ke layar yang menampilkan betapa kerasnya Rainun melawan pria itu agar tak di sentuhnya.


"Lihatlah betapa berani nona bos melawannya" puji Eriko saat melihat Rainun.


"Sampai kapan kita akan menunggu? Aku sudah tak tahan melihat Rainun seperti itu" Sakha mengepal tangannya kuat - kuat.


"Bersabarlah, kita harus menunggu semuanya lengah. Bukankah kau mau kita tak hanya menyelamatkan nona bos, kita juga harus menghukum mereka semua terutama otak dari penculikan ini" ujar Eriko mencoba menenangkan Sakha. Untung saja kali ini Sakha mengangguk mengerti.


"Baiklah, nanti kita akan masuk dengan sepuluh orang body guard. Sementara yang lain bersiaga di luar rumah" perintah Sakha.


"Sayang" Sakha mencoba menghubungi Rainun.


"Iya kak" jawab Rainun, suaranya sedikit lemah.


"Makanlah makanan yang tadi mereka bawa, kau harus kuat. Aku akan datang tak lama lagi" pinta Sakha.


"Dari mana kau tau ada yang membawakan makanan?" Tanya Rainun.


"Lihatlah, ada benda yang terbang di sebelahmu. Itu adalah kamera pengintai milikku" jelas Sakha.


Rainun kemudian melihat sebuah benda kecil yang terbang di sebelahnya.


"Makanlah, dan tunggu aku mengeluarkanmu dari sana" ujar Sakha. Rainun mengangguk ke arah kamera air matanya kembali menetes, cepat - cepat ia menghapusnya agar Sakha tak semakin khawatir. Ia kemudian makan makanan yang diantarkan tadi dengan kondisi tangan masih terikat.


"Bagai mana bisa dia memberikan makan seseorang tanpa melepas ikatan tangannya" Eriko geram saat melihat Rainun makan dengan kedua tangan terikat.


"Aku akan mengarahkan kamera ke luar" ujar Eriko. Ia kemudian membawa drone keluar untuk melihat situasi di sana.


"Sepertinya sudah masuk jam rawan. Mereka banyak yang mengantuk setelah makan" Eriko sangat senang.


"Baiklah, kita bersiap. Beri kabar pada body guard yang berjaga di sana untuk bersiap" perintah Sakha. Eriko mengangguk dan langsung menjalankan perintah dari Sakha itu.

__ADS_1


__ADS_2