
"Bosan," kata tersebut selalu saja tengiang di telingaku. Terkadang aku heran bagaimana dunia ini sibuk menaikkan harga pada tiap price tag barang yang terpajang. Kulihat dunia ini semakin menua dengan mentari yang naik turun secara berirama. Namun sangat jarang kujumpai kepedulian tumbuh di antara manusia di sekelilingku. Daripada meluangkan waktu untuk saling menolong, orang-orang ini lebih memilih larut dalam pekerjaan mereka yang tampak membosankan.
"Apa yang orang-orang berdasi itu lakukan dan apa yang dikejar para wanita karir dengan hak sepatu mereka yang begitu tinggi?" gumamku ketika duduk di depan supermarket pada penghujung hari sambil menggenggam sekaleng soda.
Pertanyaan itu juga mengganjal selama bertahun-tahun lamanya. Oh maaf, sibuk menggerutu membuatku lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan, aku Yuzuru Alviana tapi panggil saja aku Yuzu. Kebanyakan dari kalian pasti berpikir bahwa aku berasal dari Jepang dan memiliki wajah rupawan. Namun maaf mengecewakan, aku berasal dari Indonesia dan memang ya, aku rupawan.
Aku lahir di tengah kota Jakarta dengan bangunan tua yang tak kunjung runtuh. Aku menghabiskan seluruh hariku untuk memikirkan cara agar penghuni kota ini dapat saling memerhatikan. Bukan tanpa alasan, sejak rambutku masih dikepang dua dengan pita dan minum susu hangat dari botol, sudah sering kulihat nenek tua yang dijampret saat berjalan sendirian juga tetangga wanitaku yang dipukuli suaminya saat mabuk. Namun, memikirkan masalah orang lain adalah hal yang sia-sia.
"Aku harus jadi sesuatu dalam hidup agar orang lain mendengarkan perkataanku," ucapku dalam hati. Oleh karena itu aku rajin belajar supaya hal itu dapat terwujud. Aku menjadi lebih sering belajar bermain PC daripada berlarian bersama teman sebaya saat umurku delapan tahun. Dan bahkan hampir tak memiliki teman saat SD karena terlalu sibuk bercumbu dengan buku kesayanganku yang selalu kubaca saat jam istirahat.
Apa menurut kalian aku anak jenius? Hem ... Kurasa tidak. Aku hanya menyontoh sikap ibuku yang selalu membaca buku dan menggetikkan jarinya di keyboard. Seperti yang orang lain tahu, anak kecil lebih suka menyontoh orang dewasa tanpa tahu maksud sebenarnya. Begitu pula Yuzu kecil.
Ah ya, aku memiliki segudang cerita dalam hidupku. Dan yang akan kuceritakan ini bukanlah tentang diriku, tapi tentang perubahan yang mengejekku dengan keindahannya.
"Yuzu, segera bangun! Tidak dengarkah alarmmu berbunyi sejak tadi?"
Itulah kalimat pertama yang akan kudengar di tiap permulaan hari.
"Iya aku sudah bangun tadi tadi, Bu."
Dan itu adalah kebohongan yang membuat suara gaduh perlahan menenang.
"Kau itu bagaimana, bukankah ini hari pertamamu sekolah. Anak-anak lain sibuk mengurusi hari istimewa ini tapi lihat dirimu."
__ADS_1
"Oh ayolah, Bu. Ini bukan hal yang pertama. Dan apa istimewanya hari ini?"
"Tentu saja istimewa, kau akan menjadi mahasiswi setelah 12 tahun menjadi siswi."
"Lalu apa? Oh, apa ibu berencana mengantarku ke kampus untuk hari pertama yang istimewa ini?"
"Apa kau tak malu. Aku maklumi jika kau masih anak SD atau SMA, tapi apa ini."
"Ya. Mungkin aku akan malu meminta hal seperti ini jika Ibu pernah mengantarku saat aku masih SD dan ... "
"Cukup. Ibu sudah terlambat, segera selesaikan sarapanmu dan berangkat. Ibu akan pulang terlambat malam ini. Jangan buat keributan, oke."
Begitu saja malaikat itu berlalu. Sayangnya aku tidak terkejut tentang ungkapan barusan. Kalian tahu, ibuku yang seperti malaikat itu selalu saja sibuk dengan pekerjaannya dan hampir tak pernah pulang di bawah jam 10 malam.
Namun bukan itu yang kuinginkan. Aku ingin keluargaku lengkap dan utuh seperti dahulu lagi. Tunggu, dahulu? Sebenarnya keluargaku selalu berantakan sejak aku lahir. Untungnya hal tersebut tak membuatku depresi karena aku memiliki para sahabat yang selalu menemaniku.
****
"Ah Yuzu, kau mau masuk Universitas B. Itu berarti kami tak dapat bersamamu," ucap seorang teman yang telah bersamaku selama tiga tahun lamanya.
"Benar. Mengapa kau tak masuk Universitas Q saja bersama kami?"
"Maaf. Kurasa kepalaku akan mengeluarkan asap jika berdebat dengan Ibuku," jawabku dengan nada lirih sambil menahan rasa kecewa karena ibu memutuskan masa depanku tanpa persetujuan dari diriku ini.
__ADS_1
"Ya sudah tak apa. Semoga kau menemukan teman baru yang baik."
Harapanku juga seperti itu dan karena saat di SMA aku merupakan siswi teladan yang dikenal hampir oleh setiap warga sekolah, kurasa akan mudah beradaptasi di tempat baru.
***
Tara ... aku yang selalu benar saat menebak jawaban pilihan ganda dan mendapat nilai sempurna pada setiap ujian ternyata salah dalam menebak nasibku sendiri.
Ini sudah tujuh bulan sejak aku pertama kali masuk di Universitas B yang terkenal bergengsi itu. Selama masa itu pula, aku berusaha beradaptasi sebaik mungkin dengan lingkungan dan orang di sekitarku. Kini aku memiliki beberapa teman yang lebih akrab disebut sahabat. Sahabatku bernama Dara, Azka, Christi, Yesa, dan aku.
Kami semua adalah mahasiswa yang mendapat ipk tertinggi pada semester awal. Dan kami membuat siswa siswi lain iri akan kedekatan kami yang begitu harmonis. Namun, dengan semua itu kami tidak menjadi sombong sama sekali. Sebaliknya, aku dan para sahabatku mengikuti organisasi kemahasiswaan dan berusaha menolong mahasiswa lain.
Alhasil semua mahasiswa bersikap sangat baik padaku. Mereka mengikuti langkahku dan melakukan setiap hal yang kuucapkan. Hidupku terasa begitu sejuk seperti sepucuk daun muda yang tumbuh pada batang tertinggi.
Namun semua hal manis tersebut tak berlangsung selamanya. Pada awal semester keempat, aku berdebat kecil dengan Christi tentang hal sepele. Kami kemudian berpelukan dan kukira semuanya membaik.
Naasnya, aku salah. Aku jatuh sakit selama beberapa hari hingga tak mampu ke luar rumah. Saat aku masuk kembali, semua menjauhiku seolah aku hanyalah sejumput roh transparan yang tak dapat dilihat. Aku mengenal Christi dengan baik, meski aku tau perubahan ini pasti hasil dari ulah sahabatku itu. Namun aku lebih memilih tersisih daripada memulai perpecahan. Sejak itu, masa sulitku dimulai. Aku dikucilkan dan hidup menyendiri di antara ribuan orang di balik tembok perguruan tinggi.
Aku masih ingat, saat berjalan pulang sendirian aku selalu menatap kecambah yang diinjak sembari bergumam, "Kau dan aku sama. Kita adalah kehidupan yang berharga tapi kita berada di tempat yang salah."
Yah, pergantian tanggal membuat hidupku makin sulit. Ibuku masih saja mengejar kenaikan gaji sementara ayahku sibuk bermesraan dengan calon istri barunya. Tepat, aku benar-benar sendiri. Para dosen juga hanya masuk memberi materi kuliah dan keluar begitu saja. Ya sudahlah, aku tak suka menyalahkan orang lain dan bagaiku perasaan adalah sesuatu yang harus kutanggung sendiri.
Aku hidup seperti sampah yang tak diinginkan. Aku berhenti bicara pada ibuku dan luar biasanya dia sama sekali tak menyadari perubahan sikapku. Hingga kesedihan mengganjal di tenggorokan dan perlahan mencekikku. Akhirnya kuputuskan untuk berendam dalam bak air hangat lalu kuambil sebilah pisau dan memutus urat nadiku. Selama beberapa saat kulihat air bak berubah menjadi merah dan kubayangkan hal menyenangkan yang pernah berlalu sebelum aku kehilangan kesadaran.
__ADS_1