Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
The New Beginning


__ADS_3

"Wah enaknya." Aku memuji diriku sendiri atas masakan pertama yang kuselesaikan. Meski sangat sederhana, tapi telur gulur sosis yang dibuat dengan tangan sendiri itu sangatlah enak. Aku jadi berpikir mengapa dulu aku tak memasak saja untuk menyambut ibu yang pulang dari bekerja? Pasti dia akan senang. Yah, masa itu telah berlalu jadi lupakan sejenak.


Satu minggu telah terlewati tanpa terasa. Semua hal yang perlu disiapkan untuk hidup mandiri juga telah siap. Maka tak ada alasan bagiku untuk menunda mencari pekerjaan. Lagi pula uang yang diberikan ayah dan ibu juga makin menipis. Sebenarnya aku tak tau akan bekerja di mana. Jadi aku hanya berkeliling kota dan mengamatinya saja. Barangkali aku dapat menemukan sesuatu.


Setelah mencari informasi tentang lowongan pekerjaan selama beberapa hari, akhirnya aku diberi kepercayaan untuk menjadi pelayan di sebuah restoran yang berada di kota tetangga ini. Aku menikmati hari demi hari meski terasa agak berat rasanya. Lagi pula, memulai sesuatu yang baru di tempat baru merupakan hal yang menantang.


Kini aku harus bangun sangat awal. Tak ada lagi yang akan membangunkan jika matahari telah nampak. Hanya ada aku sendirian saat ini. Namun, aku tidak akan merasa menyesal atas keputusan yang kubuat sendiri. Oleh karena itu, dari pada merenungi kesepian ini aku lebih memilih bergegas ke tempat kerja.


"Hei. Kau anak baru, ya. Siapa namamu?"


"Ah, saya Yuzu, Mbak."


"Namamu bagus, ya. Perkenalkan, aku Azra. Meski aku bukan pegawai pertama di tempat ini, tapi aku yang terbaik loh. Jadi kau bisa tanya apa pun padaku. Jangan sungkan-sungkan, ya!"


"Tentu Mbak Azra. Mohon bimbingannya," ini hari pertamaku bekerja. Aku memang belum mengenal tempat ini tapi kurasa orang yang bekerja bersamaku di sini semuanya baik.


"Heh ayo cepat. Restonya udah mau buka. Semua lantai udah dipel belum? Jangan lemot gini, dong," bentak seorang wanita berumur 27 tahunan yang berjalan sambil mengikat rambutnya. Sorot matanya yang tajam itu mengingatkanku pada burung pemakan bangkai yang terbang berputar di atas mangsa yang sekarat. Terlihat melebih-lebihkan memang. Namun dibanding Mbak Azra, dia terlihat puluhan kali lebih garang.


"Kamu anak baru kan. Udah kamu tata semua mejanya?"


"Iya. Sudah mbak."


"Suaramu kecil banget. Enggak makan dari kemaren apa? Pokoknya jangan sampai ada pelanggan yang komplen gara-gara tempatnya kurang bersih!"


Aku hanya menganggukkan kepala sambil tertunduk. Suaranya yang menggelegar itu membuat nyaliku menciut, ditambah semua pegawai hanya diam saat dia datang. 'Aku harus tenang,' ucapku memberi semangat pada diri sendiri.

__ADS_1


Baru beberapa menit dibuka, restoran ini sudah penuh saja. Mungkin karena tempat ini menjadi salah satu tempat makan tersohor di daerah ini. Para pelayannya pun terlihat gesit dan teratur. Seperti mesin saja! Bel kecil terus ditekan, sebagai tanda makanan telah matang dan siap disajikan. Para kokinya juga sangat serius saat memasak. Asap terus mengebul dan piring yang harus kucuci juga semakin menumpuk. Sedangkan para pegawai tak ada yang bicara, kecuali memberikan arahan pada yang lain. Menakjubkan!


Aku terpana dengan semua ini. Tak mau kalah. Aku mencuci semua peralatan kotor secepat yang kumampu. Namun aku malah ditegur oleh Mbak Azra.


"Kalau caramu begitu, para pelanggan akan kembali esok hari untuk menuntun tempat ini karena perut mereka sakit! Inilah yang tak kusuka. Menyepelekan pekerjaan. Mencuci itu memang terlihat sepele tapi sebenarnya tidak. Kau adalah bagian terpenting. Mengubah peralatan yang kotor menjadi bersih adalah tugasmu. Jadi lakukan dengan benar dan penuh tanggung jawab!"


Uh ... aku sangat malu setelah ditegur seperti itu. Sesuai ucapannya. Mencuci adalah seni tersulit saat ini karena aku harus mencuci dengan cepat tanpa meninggalkan setitik kecil noda. Baru tiga jam dan janganku sudah sangat pegal. Aku terus berdoa agar jam istirahat tiba.


***


Tanganku bisa patah jika terus begini


Aku terus menggerutu dalam hati karena memang baru kali ini aku melakukan sesuatu yang tak mudah.


Aku bermain kejar-kejaran dengan waktu hingga saat yang kunanti akhirnya tiba. Kami menghabiskan waktu istirahat untuk makan dan bercengkrama. Suasana dapur ini pun jadi berbeda. Meski jumlah orang berkurang tapi tempat ini menjadi lebih ramai.


"Kurasa tidak. Tadi mbak kan menegur saya."


"Jangan sakit hati. Aku hanya melakukan tugasku untuk mengawasi dan membenahi tugas kalian. Oh ya, umur kita sepertinya tak jauh beda. Jadi panggil saja aku Azra."


Jika diamati Azra merupakan wanita cantik yang ramah. Dia pun sering tersenyum sehingga aura yang dipancarkannya semakin terang. Mungkin akan kucoba lebih sering tersenyum seperti dirinya!


"Kenapa kau makan sendirian di sini? Yang lain berkumpul di depan."


"Gak papa kok. Lagi pula aku belum kenal siapapun jadi akan aneh bila aku langsung nibrung begitu."

__ADS_1


"Tenang saja. Sebentar lagi pasti kau akan akrab dengan semuanya. Termasuk Mbak Yana."


"Mbak Yana? Oh ... wanita yang tadi pagi itu ya?"


"Aku tak tau yang kau maksud. Tapi mungkin iya."


"Apa setiap hari tempat ini selalu ramai seperti ini?"


"Kuharap begitu. Hari ini adalah hari ulang tahun ke tiga restoran ini. Jadi ada potongan harga. Kurasa setelah istirahat, tempat ini akan lebih ramai dari tadi pagi. Kau tau lah, para pekerja kantor akan istirahat makan siang sebentar lagi. Kau yang semangat ya."


"Iya Mb ..., Azra!" Ditemani olehnya seperti ini membuat diriku lebih bersemangat. Kurasa aku akan segera terbiasa dengan keadaan ini.


Jam kerja telah berakhir. Restoran ditutup jam lima sore karena semua stok makanan hari ini telah habis lebih awal. Jika tidak, maka kami akan pulang jam sembilan malam.


Aku pulang dengan bahagia. Sesampainya di kontrakan, aku langsung mandi untuk menyejukkan diri. Lalu aku menata makanan yang diberikan pemilik restoran. Namun begitu membuka bungkusan dan menatanya di piring, ternyata makanannya banyak sekali. Aku tak bisa menghabiskan semuanya sendiri apalagi membuangnya. Jadi aku berinisiatif membagikannya kepada penghuni lain.


Tanpa pikir panjang, aku mengetuk pintu penghuni sebelah kamarku. Sudah beberapa kali kuketuk dan tidak ada jawaban. 'Hem, barang kali belum pulang.' Namun saat akan berbalik, terdengar suara pintu terbuka dan kulihat ada seorang wanita keluar dari dalam.


"Ngapain?"


"Saya baru pulang kerja, mbak. Tadi diberi bonus sama bos saya. Jadi saya ingin membaginya dengan embak."


"Oh ... makasih!"


'Brak,' pintunya ditutup begitu saja. Dan jelas iti bukan cara berterima kasih kepada orang baru yang memberikan bantuan. Namun ya sudah. Aku tak ada alasan untuk memperdebatkan hal tersebut. Lagi pula niatku dari awal hanya ingin berbagi saja.

__ADS_1


Aku kembali masuk ke kamarku dan melanjutkan makan malam yang tertunda. Setelah itu, aku menata hal yang perlu dipakai untuk besok lalu bergegas tidur. Sejenak kupandangi langit-langit kamarku sembari bergumam, 'apa ya yang sedang dilihat ibu sekarang ini? Lalu ayah sedang apa kira-kira?'


Tanpa kusadari, beberapa air mata menetes begitu saja. Mungkin karena aku merindukan mereka. Belum pernah aku menelfon ayah sejak tinggal di kontrakan, tapi jika kutelfon sekarang, bagaimana jika dia sedang tidur. Pasti aku akan mengganggunya. Jadi aku mengepalkan tangan dan berdoa kepada Tuhan agar keluargaku selalu bahagia dan sehat.


__ADS_2