
Citra membiarkan Meli untuk beristirahat sejenak di ruangannya. Citra kemudian menemui dokter Heru. Dokter yang menangani ibu mertuanya atau ibunya Hendra.
"Infeksinya semakin memburuk." kata dokter Heru.
"Apa kau tidak memberinya fentanyl?" tanya Citra kemudian.
"Kita memberinya dosis tinggi. Kita tidak bisa menambahkannya lagi. Jika kita melakukannya, jantungnya akan berhenti. Atau mungkin akan mengalami stroke" jawab dokter Heru menjelaskan.
"Apa tidak ada cara lain." tanya Citra sambil memikirkan hal yang terbaik untuk ibu mertuanya.
"Kau tahu, kita telah melakukan semua yang kita bisa." tambah dokter Heru.
"Baiklah. Kalau begitu saya akan menemui ibu mertua ku dulu." pamit Citra kemudian.
Citra menemui ibu mertuanya di ruang rawatnya.
"Hai Bu, gimana keadaan ibu sekarang?" tanya Citra lembut yang duduk di kursi samping ranjang di mana ibu mertuanya berbaring.
"Ya seperti yang kau lihat saat ini."jawab mertua Citra.
"Apa perlu aku mengabari Hendra agar besok dia menjengukmu?" kata Citra pelan.
"Tidak usah. Lagian jika dia kesini tidak ada yang akan dia lakukan." jawab ibu Mina. Citra kemudian diam. Mungkin Mina tahu kalau menantunya sedang dilanda kesedihan.
"Nak... Kau tahu. Kalau kamu dan Juan adalah segalanya bagi Hendra. Bersabarlah. Jika kau merangkulnya dengan pikiran yang luas, maka mereka akan kembali ke akalnya." nasehat Mina.
__ADS_1
"Apa maksud ibu?" tanya Citra mendekatkan tubuhnya ke ibu mertuanya.
"Jika aku meninggal nanti, tolong rawat anakku." pesan Mina sebelum akhirnya dia pingsan. Beruntung, suster jaga ada pada saat itu. Lalu memasang alat pernafasan untuk ny.Mina.
"Lebih baik Anda pulang dulu dok, biar saya yang menjaganya di sini." kata suster jaga itu. Citra kemudian keluar dari ruang rawat Mina.
Setelah keluar dari ruang rawat mertuanya, Citra kemudian melihat Meli.
"Ayo, ikutlah denganku." kata Citra ke Meli yang tengah duduk-duduk menikmati secangkir kopi yang hampir habis. Meli meletakkan cangkir kopinya di atas nakas. Lalu berdiri dan mengikuti kemanapun Citra pergi.
"Untuk malam ini dan beberapa hari kedepan, tinggalah di sini. Ini untuk keselamatanmu." kata Citra di depan meja resepsionis sebuah motel.
"Baiklah. Terimakasih atas bantuanmu Dok. Aku sangat berterimakasih padamu." tulus Meli ke Citra.
"Baiklah. Tidurlah. Aku akan pulang." kata Citra berlalu dan meninggalkan Meli dan segera pulang ke rumahnya.
Pukul 4 sore Citra mendapat telfon dari Juan, kalau dia sudah hampir tiba di sekolahnya. Bergegas Citra menjemput Juan karena jadwal di Rumah Sakit memang sedang kosong dan sudah waktunya pulang. Citra menunggu di depan sekolah Juan. Terlihat Juan keluar dari bus bersama papinya. Senyum lebar terpampang di kedua wajah lak-laki yang disayanginya itu. Citra melambaikan tangan ke Juan. Dan Juan berlari menghampiri maminya dan memeluknya.
"Selamat datang kembali. Gimana harimu di sana? tanya Citra sambil memeluk anak nya dengan erat tanda dia merindukannya.
"Sangat seru Mam. Iya kan Pap..." kata Juan menoleh ke papinya. Papinya mengangguk sambil tersenyum. Citra hanya tersenyum tipis ke suaminya itu.
"Ayo kita pulang." ajak Citra kemudian.
Sesampainya di rumah, Citra menyiapkan makan untuk makan malam. Kemudian mereka makan malam bersama. Juan dan Hendra sambil menceritakan kegiatan mereka selama mengikuti pertandingan sepak bola. Betapa seru apa yang sedang mereka bicarakan saat ini.
__ADS_1
"Papi tau gak, Aldo itu sebenarnya kemarin takut waktu mau menyerang pertahanan lawan. Makanya kemarin tim ku sempat kebobolan gol. Tapi untungnya aku bisa mencetak gol di menit akhir pertandingan." bangga Juan.
"Anak papi memang hebat. Jangan jadi pecundang. Seolah-olah kau hidup hanya sebagai topeng." kata Hendra kemudian. Kata-kata Hendra yang menyebutkan topeng mengingatkan kembali akan kata-kata Milka kemarin, yang menyebut bahwa pernikahan Hendra dan dirinya hanyalah sebuah topeng.
"Kamu minta ijin ke mami dulu gih. Boleh gak abis ini main PS. 2 jam saja." kata Hendra ke Juan.
"Aku takut Pap. Ini kan sudah malam. Takut mami gak ngasih ijin. Bagaimana kalau 1 jam saja?" bujuk Juan.
"Ok." Hendra menyetujuinya.
"Boleh ya Mam." mohon Juan. Citra kemudian mengangguk tanda setuju sambil tersenyum.
"Yeaaaayyyy." sorak Juan dan Hendra bersamaan sambil mengepalkan kedua tangannya ke udara. Mereka tertawa bersama, seolah-olah mereka keluarga utuh yang sangat berbahagia.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya...