Dunia Pernikahan

Dunia Pernikahan
BAB 21


__ADS_3

Tampak Hendra menangis dengan hebatnya tatkala ia mendapati tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa lagi. Hendra memeluk tubuh ibunya itu penuh penyesalan. Bagaimana tidak menyesal, disaat-saat terakhir ibunya tiada, Hendra tidak pernah sekalipun menemani ibunya. Dia sadar, Citra lah selama ini yang sudah mengurus ibunya dengan sangat baik. Citra juga sangat sedih, melihat Hendra menangis dengan derasnya.


Ruang duka di Rumah Sakit sudah disiapkan sedemikian rupa. Besok rencananya jenazah akan dimakamkan, mengingat hari ini sudah malam. Hendra masih tampak sedih. Tampak berantakan. Wajahnya kusut. Matanya merah dan bengkak, tanda ia tak mampu menahan air matanya untuk tetap mengalir.


"Kenakan pakaianmu dengan benar Mas. Ada banyak tamu. Berilah contoh yang baik pada Juan." kata Citra mengusap lembut pundak Hendra dan membenarkan baju Hendra dengan telaten.


Di tempat para berkumpul para tamu, mereka semua memperhatikan keadaan Hendra sekeluarga.


"Kasihan ya Citra. Selama ini dia sudah mengabdikan diri ke ibu mertuanya."


"Iya, Dia sangat sabar. Selama ini kan dia yang membiayai kehidupan mereka."


"Benar tuh. Beruntungnya Hendra memiliki istri yang sangat baik. Cantik pula."


Tio mendengar teman-temannya membicarakan Citra, lantas memandang wajah cantik Citra. Dia iba dengan nasib Citra yang diselingkuhi oleh Hendra. Di sisi lain dia juga mengagumi sosok Citra yang sabar, penyayang, lemah lembut, mandiri, dan cantik tentunya.


"Sudahlah. Jangan bicara seperti itu. Bagaimanapun Hendra adalah putra Bu Mina. Bicarakanlah yang baik-baik tentangnya agar almarhum Bu Mina juga tenang." ujar Tio tiba-tiba.

__ADS_1


Semua pandangan tertuju ke Tio. Dewi pun membenarkan apa yang suaminya itu ucapkan.


Tak lama setelah itu Pak Yahya beserta istri datang. Tampak Hendra memberi salam ke mereka. Citra tersenyum sinis melihat perlakuan Hendra yang berlebihan itu. Juan pun tampak tak senang saat papinya tersenyum kepada Pak Yahya. Bertolak belakang dengan situasi saat ini.


Bu Yahya menyalami Citra, lalu memeluknya memberi ketabahan. Citra hanya tersenyum. Lalu Hendra mempersilahkan Pak Yahya untuk duduk di tempat jamuan. Semua tamu berdiri memberi hormat atas kedatangan orang besar di kota ini.


"Sudahlah. Silahkan duduk." kata Pak Yahya kepada para tamu. Citra dibuat muak dengan ulah Hendra itu. Para tamu pun ikut duduk. Hendra mengambilkan makanan dan meladeni Pak Yahya dengan sangat baik. Mereka berbincang bersama sambil tertawa.


"Sayang, Mami mau keluar dulu ya. Mami merasa sesak di sini." pamit Citra ke Juan. Juan mengangguk menyutujui permintaan Citra itu. Citra lalu keluar dari tempat itu untuk mencari udara segar.


Citra duduk di bawah pohon. Dia memandangi langit gelap berhiaskan bintang-bintang. Dina tiba-tiba datang menghampiri Citra yang duduk termenung sendiri..


"Bagaimana harimu? Pasti melelahkan ya."


"Ya begitulah Din. Di dalam ada Pak Yahya. Dan Hendra memperlakukan nya dengan sangat terhormat seakan dia lupa kalo ibunya sudah meninggal." kata Citra mengusap lembut langannya.


"Hhhmmmm. Yang sabar aja ya. Pasti sesak sekali ya menyaksikan itu."

__ADS_1


"Apa kau yakin, akan bercerai dengan Hendra?" tanya Dina tiba-tiba.


"Aku rasanya sudah nggak tahan lagi Din akan semua ini." jawab Citra sendu.


Di tempat parkir ada sebuah mobil berwarna putih yang berhenti di depan pos parkir. Tampak dia bimbang untuk memasuki area parkir. Dipikirnya berulang kali. Dan akhirnya dia memutuskan melajukan mobilnya untuk memasuki pelataran parkir rumah duka di Rumah Sakit itu.


Milka.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya...


Selamat menjalankan ibadah puasa....


__ADS_2